agama dan kebebasan berpikir

Posted on Agustus 21, 2008. Filed under: coretan |

(refleksi tuk banyak pemikiran ttg agama di luar diri saya..)

sedikit mengingatkan yaa..
saya katolik abangan, masuk islam tahun 90.
tahun 90-94 ikutan tarbiyah dan aktif di salman
tahun 94-97 memutuskan berhenti kuliah dan kerja freelance, sana-sini.
tahun 97 menikah
tahun 98 punya anak dan praktis sibuk dengan keluarga saja sampai hari ini, asyik ngeblog..

saya nih islamnya abangan.. 😀

tapi basic pertama saya mengenal islam ya dari kelompok yang sangat militan. di satu sisi saya memang tidak survive dengan tata cara yang militan, tapi di satu sisi lainnya saya belajar kebiasaan islam yang afdhol sekali.

selebihnya, sebagaimana saya masuk islam yang hanya seperti mengikuti dorongan hati saja, maka beragamanya saya sampai hari ini ya masih sama seperti mengikuti dorongan dari dalam hati saja. termasuk kesetiaan saya pada islam hingga hari ini –lepas dari begitu banyak kendala saya dalam islam– ya juga atas dorongan hati dan naluri saja.

saya nih tidak ikutan pengajian apa-apa atau forum2 tertentu. semua hanya sekilas selintas, bukan yang saya tekuni benar-benar. saya hanya mengikuti hati saja. mengapa saya berani mengikuti hati begitu saja? hmm, ga tahu yaa. kebiasaan kali. tentu hati itu bukan hati tok, tapi dengan pemikiran sekapasitas saya.

kata teman saya, saya nih indie label. 🙂
saya setuju dengannya. saya lebih suka beragama dengan mandiri. pengalaman mengajari saya bahwa kemandirian itu mahal, lebih mahal dari apapun di dunia ini.

menanggapi kebiasaan saya tidak menggunakan ayat, sesungguhnya itu juga naluriah saja. saya nih bukan tidak membaca kitab suci, hanya saja.. saya tidak bisa membacanya dengan harfiah. sekalipun saya belajar tafsirnya, saya tetap masih melihat bahwa tafsir itu dilakukan olah ulama yang tidak terlepas dari konteks zamannya. sementara saya adalah manusia dengan naluri sesuai zaman saya juga. saya kontekstual dengan keadaan dan keberadaan saya.

saya memang menjadi bukan beragama dengan ideal. saya nih beragama dengan sangat kondisional. seusai zaman saya.

samalah ketika saya berkata kepada seorang teman, kalau saya nih bukan cewek ideal, tapi saya cewek kondisional. menghadapi suami pun saya sangat kondisional. walau tanpa mengurangi nilai diri bahkan kebiasaan saya yang sudah tertanam sejak kecil. positif dan negatif saya selalu tumbuh dan berkembang sesuai kondisi sekitar saya..

hidup buat saya bukan sebuah kemutlakan..
hidup itu tumbuh dan berkembang..

kebebasan berpikir dan berekspresi saya di batasi oleh tanggungjawab pada sekitar saya saat ini. menjadi selayaknya tuk sekitar, selayaknya tuk diri saya sendiri, termasuk selayaknya tuk beragamanya saya.

seperti ekspresi beragama saya di tengah kebutuhan akan kelangsungan integrasi indonesia, pastinya saya harus bisa membawakannya sebaik mungkin agar serasi dengan yang lainnya. dan itu tidak bertentangan dengan islam yang saya pahami. keserasian bukan menanggalkan identitas tapi bagaimana menjadikannya sebagai prilaku yang berkualitas bersama yang lainnya.

maka kadang saya berpikir, kejernihan beragama kita sangat menentukan kualitas kita bersama lingkungan kita.

di sini, saya tidak melarang mereka yang beragama dengan selalu menjaga eksistensi berupa formalitas beragama yang ketat. itu kemerdekaan. hanya saja, saya tidak demikian.

bahkan sampai hari ini, sulit bagi saya tuk mendefinisikan islam saya. saya menjalani syariat Muhammad, saya jarang menggunakan ayat, saya menghargai perbedaan, saya mau bersama siapa saja, saya pluralis, saya humanis, saya nasionalis, saya anis.. hehehe, entah deh tepatnya apa selain.. saya nih abangan kali yaa.

dan saya ga gusar dengan itu, semua itu naluri kok.
naluriah tuk saya menjalankan ibadah sebagai rasa respek pada tuhan. naluriah tuk saya menghargai perbedaan dan keberagaman, karena itu memang kenyataan yang ada. naluriah tuk saya menjujungi tinggi rasa kemanusiaan dan keadilan, karena saya manusia. naluriah tuk saya bergaul bersama siapa saja, karena memang indahnya hidup dengan kebersamaan. naluriah tuk saya mencintai negeri saya karena saya makan, minum dan mencintai semua di sini.. dstnya, naluriah deh..
temasuk berpikir itu yang juga naluriah. gitu ga sih?

saya nih naluriah tuk menghormati dan sangat menjaga tradisi, saya juga menghargai modernsasi. saya sangat nyaman dengan demokrasi dan saya juga suka sambel terasi… hahaha, isenggg.. 😀

sebaliknya, ketika saya di ajari mengkhianati apa yang saya lihat, rasa dan alami, atau mengkhianati naluri, saya malah kesakitan.

termasuk naluri tuk indie label. hehehe 😀
saya ga bisa termasuk dalam kelompok tertentu. saya ga bisa bawa label. label adalah bentuk keterjajahan. karena bisa jadi, saya harus menjadi sebagaimana mau kelompok tsb. saya nih makhluk merdeka..

lah, bagaimana jika naluri itu salah?
ya ga papa. itu juga proses bagi saya tuk tumbuh kembang sempurna. sempurna itukan bukan berarti tanpa kesalahan. justru sempurna itu setelah melalui banyak kesalahan. justru sempurna itu termenej baik dalam ketidaksempurnaan.

maka beragama dan kebebasan berpikir saya itu alami dan biasa-biasa saja..

dan kalau suatu saat nanti saya harus berlabel, saya pikir itu tuk kepentingan yang besar deh.
yang mau ga mau harus demikian caranya. menjadi jelas, saya mengenakannya tidak untuk saya..

tulisan2 saya di sini, tak untuk diyakini. tapi cukup tuk diketahui, di nikmati, dan semoga menginpirasi. termasuk mungkin sekedar diketahui saja kalau ada saya yang masih begini, hihihi..:D

salam
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

15 Tanggapan to “agama dan kebebasan berpikir”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

Wah, Mbak Anis… sekali lagi saya salut dengan pemikiran ini. Saya sendiri mungkin bisa juga dikategorikan Muslim yang indie label. Saya punya banyak teman-teman baik yang berbeda keyakinan dengan saya, bahkan yang Atheist sekalipun.

Sama seperti Mbak Anis, saya juga menikmati kondisi saya yang seperti ini. Masih berusaha menempatkan Tuhan dalam urutan pertama dari apa yang saya cintai, namun saya juga berusaha menyeimbangkan dengan sosialisasi dengan orang lain.

Mungkin akan ada beberapa yang “mengutuk” saya dengan habitus macam ini, namun saya hanya meyakini bahwa hanya Dia yang akan memberikan last judgement, bukan manusia lain.

Well, while we’re free to choose our actions, we aren’t free to choose the consequences of it (Stephen R. Covey)

Tetep berjuang dengan idealisme yang seimbang ya, Mbak 🙂

Salam

(Maaf kalau ada kesok-tahuan saya yang menyinggung, saya nggak bermaksud begitu sebenernya)

@darnia
wah, ga papa mbak. jangan sungkan di sini yaa.. di sini boleh bicara apa aja. sebagaimana saya sendiri aja. suka loh ada mbak darnia di sini.. kerennnn.:D

Sekedar mengingatkan bukan indie, tapi islam prasmanan…hehehe sorry ..

@mas budi
indie label itu juga nama dari teman saya loh, mas budi. sebagaimana mas budi menamakan islam saya islam prasmanan. dan semua ok kok, santai aja. yang penting saya mandiri, apapun namanya dari yang mencoba mendefisikannya.

tidak ada statement resmi dari saya ttg islam saya kan?? hahaha, apa itu perlu? 😀

@Budi
Islam prasmanan…?
wah baru lagi neh…
lagi mikir mikir apa itu ya Islam prasmanan..
tuing tuing..drrreeettttt..
waduh malah hang…gak ketemu…

Kalo ada Islam prasmanan ada Islam jatahan dong 😮

Hahahah… what’s the name, action’s matter :p

seperti biasa, tulisan2 mb anis selalu menginspirasi saya. btw, kalo mengikuti definisi mb anis brarti saya juga islam indie label 😉

@dat,
maksudnya seperti halnya kita kebanyakan jika ajaran itu terasa enak buat kita ya kita ambil jika ngga enak yang ga diambil, persis makan prasmanan terus dibikin deh alesan yang sepertinya logis, humanis, pluralis dll ga sesuai nurani lah, tidak sesuai jaman de el el .
sebenarnya ini kan bukan hal baru, bani israil dulu juga ketika diselamatkan dari laut firaun ya senang, dikasih makan manna dan salwa senang tapi ketika diperintah perang malah nyuruh nabi Musa As perang sendiri mereka duduk-duduk …
podo ae toh

Islam yang hidup. Itu kalo saya diperkenankan memberi label mbak. 😀

Wah salut deh, tahun 90 masuk Islam tapi pemikirannya bisa prasmanan… hehehe 😀
orang sperti mbak Anis ini “nyentrik” dan menarik pasti suami juga suka ngelirik (dijotossss,..) 😀

@mas datyo
kaya ke nikahan deh mas, ada makanan prasmanan.. 😀

@darnia
yup mbak, action.. action.. 🙂

@mas budi baik
sejujurnya, saya memilih menjadi mandiri dalam beragama, itu karena tidak ingin merepotkan orang lain, terutama merepotkan (yang seperti) mas budi. apapun namanya, saya hanya ingin bisa melakukannya sendiri dengan sadar dan sesuai kapasitas saya, kemudian bisa mempertanggungjawabkannya sendirian pula. tidak merugikan siapa2, malah inginnya berkontribusi positif di kehidupan. sederhana!

bayangkan kalau saya cuma ikut-ikutan, wah.. kalau dimintai pertanggungjawaban sama tuhan, tentu saya akan “ngeles”. saya akan bilang sama tuhan..
– gini ya tuhan, itu tuh karena diajarinnya begitu sama mas budi.
lah, kalau tuhan tanya lagi – kok anis mau-maunya ikut-ikutan mas budi?
saya jawab lagi aja – abisss, mas budi maksa sih tuhan.. 😛

walhasil, saya kok merasa ga mau menyalahkan mas budi. kalau saya masuk surga, mas budi boleh ikut. tapi kalau saya masuk nereka, halahhh.. masa sih saya tarik-tarik mas budi?? jangan ikut-ikutan deh mas.

bahkan nih kalau di tanya sama tuhan,
– anis, islammu islam apaan?
saya akan jawab, – kata X, islam saya, indie label. kata mas budi islam saya, islam prasmanan..
– lah, menurut anis sendiri islamnya islam apaan?
– kalau saya kasih tahu, tuhan jangan marah ya..?!!
– siiippp..
– gini tuhan, islam saya itu ya Engkau sendiri.. bukankah Engkau yang menciptakannya?!
hahaha… biar tuhan tersenyum dan jangan terlalu serius.
maaf ya, becanda… mas budi tersenyum juga deh. ok? 😀

@mas dana
yup, dan rasanya itu deh inti dari semua tulisan di sini.
islam adalah perbuatan.. e, maaphh, itu mah kampanyenya sutrisno bachir yaa?? hehehe 😀

@kurt
suami memang suka ngeliatin saya diam-diam sih. dengan mimik seolah berkata “kok ada ya makhluk kaya gini?? jadi istriku lagi..”
bikin saya melotot dan melempar bantal ke mukanya! hahaha.. 😀

@semua
mari beragama dengan bahagia.. 😀

Artikel di blog Anda bagus-bagus. Agar lebih bermanfaat lagi, Anda bisa lebih mempromosikan dan mempopulerkan artikel Anda di infoGue.com ke semua pembaca di seluruh Indonesia. Telah tersedia plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!
http://www.infogue.com
http://agama.infogue.com/agama_dan_kebebasan_berpikir

@an1ko3a
makasih yaa mbak/mas.. nanti saya cobain deh 😀
tapi maaf, saya emang ga kepikiran kemana-mana selain di sini. hehehe.. 🙂

Mbak Anis, nulis jago
Bermain kata sudah bukan ayam lagi
Rasa tulisannya juga renyah seperti ayam goreng fast food.

Kepikiran gak sih, kalau bikin cerpen ala gue yang menarik kaya gini.. atau kalau perlu novel2an /beneran ya critanya gak usah jauh2 dari cara berislam yang enjoy aja! 😀

@kurt
teman saya sudah merayu-rayu dengan materi seperti mas kurtubi. hmm, saya masih bingung, mas. apa saya bisa ya?? hehehe 😀


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: