dis-orientasi

Posted on Agustus 26, 2008. Filed under: coretan |

(e, mau iseng mikir nih.. kalau salah, tolong dikoreksi yaa..)

berkaca dari banyak kasus disorientasi sexual di sekitar kita, saya jadi mikir nih.
sebelumnya terimakasih tuk seorang teman yang sangat inspiratif. saya tidak bisa menyebut namanya, khawatir dia ge-er sehingga rontoklah semua amal baiknya pada saya. hihihi, maksa πŸ˜€

sederhananya, sebelum adanya agama-agama besar ini, manusia sudah memiliki kealamiannya dalam hidup. sebut saja, adalah manusia itu merupakan ruh yang ditiupkan pada jasad dan wadah bernama jasad ini memiliki instrumennya tersendiri. dalam bahasa agama, disebut memiliki nafsu dan syahwat tuk kelanjutan/keberlangsungan wadah/jasad itu sendiri. komplektisitas jasad ini sampai diperumpamakan sebagai dari tanah. tanah itukan bisa subur, bisa tidak. ada yang gembur, ada yang keras. bisa tumbuh, bisa hancur dstnya.

seperti tuk tumbuh kembang, jasad butuh asupan. maka dia merasa lapar dan kemudian dia makan. selanjutnya, makanan ada yang diserap ada pula yang harus dikeluarkan karena tidak bermanfaat. maka dia merasa mules lalu membuang kotoran. sehingga jasad manusia ini dikatakan memiliki instrumen yang luar biasa.

demikianpun tuk berbiak. maka manusia membutuhkan pasangan, lalu merasa terangsang dan dengan alami bisa melakukan hubungan sexual. selanjutnya dia hamil, lalu melahirkan. dengan hadirnya keturunan membuat manusia belajar bertanggungjawab. ada rasa “inilah anakku”. maka manusia kemudian menjalankan peran bapak dan ibu. dari tanggungjawab itu pula, seperti memberi makan anak dan istri, manusia belajar “setia”. disini, kecenderungan manusia tuk berpoligami berhadapan dengan rasa keadilan dalam tanggungjawab. bahkan sebagian melarang perceraian demi tanggungjawab ini.

total general, dari semua itulah kemudian kita mengenal apa yang dinamakan “konsep pernikahan”

oya, di sini pula, pernikahan terasa membahagiakan, maka ada yang namanya “resepsi pernikahan” itu. manusia merayakan rasa bahagianya. dan karenanya manusia juga belajar mensimbolkan pernikahan menjadi suatu yang sakral dan agung. dst-dstnya

semua itu natural.. alami-alami aja.

kemudian, manusia ini juga memiliki beberapa “penyimpangan” – ini dalam kerangka kita loh, karena mayoritas yang “normal” adalah yang seperti kita.
padahal, manusia itu diciptakan banyak dan beragam. ada yang kerdil, ada yang raksasa, ada yang macam-macam… sampai… ada yang homo. kelompok ini, jumlahnya sedikit atau sebut saja ini kelompok “minor”.

seperti waktu kita belajar biologi di sma, ttg gen itu loh. sederhananya, kelompok “minor” ini adalah kelompok gen “resesif” itu deh. ga banyak tapi ada.

perhatikan contoh tuk kelompok manusia berukuran kerdil. pada saat mereka menikah dan berketurunan. ada kemungkinan gennya (kembali) melahirkan yang normal seperti kita. ya kan?artinya ini ya kewajaran hidup, tidak harus dikucilkan.

tapi tuk kelompok homo, jelas ini tidak bisa berketurunan. maka jumlah ini ya dikiiittttt atau bahkan cenderung musnah deh.

sehingga, tudingan salah pola asuh itu hanya “trigger”.. pemicu dari sesuatu yang memang sudah ada dari bawaannya. artinya, kelompok resesif ini (bisa) ada di setiap keturunan, jika memang sudah sampai pada kemungkinan gen resesifnya menguat.

sekali lagi, ini natural.

simple toh? hihihi, ini pake kesederhanaan logika saya aja.. maaf ya kalau salah.

kemudian, perlakuan terhadap kelompok resesif ini tidak bisa menggunakan kerangka mayoritas kita itu. sulit. mereka punya kebutuhan tersendiri, sebagaimana kita aja. secara pararel : kita dan mereka itu eksis dengan ciri khas masing-masing.

nahhhhhh…
hadirnya agama-agama tuh, ketika yang natural ini tidak berjalan sebagaimana mestinya. tepatnya ketika peradaban yang tinggi menguasai yang lemah. dan tepatnya ketika manusia berlebih-lebihan dengan instrumen jasadinya itu alias terlalu bernafsu, “mentuhankan” nafsu dan bahkan manusia menjadi tuhan tuk manusia yang lainnya.

agama dititipkan lewat manusia yang tercerahkan/terpilih/utusan yang dinamakan nabi itu. tuk memberi petunjuk pada segala penyimpangan saat itu dan tuk menginspirasi buat generasi kedepannya, agar ga melawan kealamian alias fitroh hidup tea. sederhananya, ga untuk mengulang kesalahan yang sama.

dalam islam, manusia diberi visi dan misi, menjadi khalifah dan mewujudkan rahmatan lil alamin. maka buat saya, konteksnya ya untuk mengembalikan semua itu kepada naturenya. sehingga dalam menghadapi persoalan dis orientasi dari gen resesif ini ya harusnya islam juga bisa bersikap “bijaksana”.

terhadap hadist : menikah adalah sunnahku, … tuk berketurunan, kemudian disebut jika tidak demikian bukanlah termasuk golonganku..
plis deh, jangan dikit2 itu diartikan bukan golongan itu adalah bukan kelompok islam.
dalam konteks agama fitroh (dalam pengertian fitroh yang selama ini terbangun), maka semua itu –termasuk kelompok minor tersebut– ya fitroh.
maka saya melihat, yang dimaksud “bukan golonganku” itu ya bukan kelompok heterosexual dan bukan kelompok gen sebagaimana Muhammad yang normal seperti kita. kemudian nikah menjadi sunnah, karena akhirnya tuk kelompok tertentu itu tidak bisa diwajibkan menikah dalam kerangka kita yang hetero ini.

memaksakan kelompok homo ini menikah “normal” seperti kita, memungkinkan mereka berketurunan. di satu sisi, secara gen memang memiliki kemungkinan kembali menjadi “normal”, tapi di lain sisi, persoalan prilakulah yang berkembang. lewat imitasi dari dan pada keturunannya.
bahkan kemudian banyak persoalan prilaku ini lebih menjadi gejala “pemberontakan” tuk eksistensi mereka, akibat dari pemaksaaan kerangka itu tadi. membuat mereka melakukan banyak penyelewengan, seperti malah mensodomi yang normal dsbnya dan menjadikan ke”resesif”an mereka sebagai life style.
nah, ini yang salah.. ini bablas, ga lagi fitroh.
inilah yang dilaknat di kaum nabi luth tea.. – menurut saya loh-

logika saya gini..
kalau tuhan menciptakan semua “normal” -sesuai kerangka kita- ya seharusnya tuhan tidak mengilhami penyimpangan berupa prilaku homo. tapi karena tuhan tidak mencipta sesuai kerangka kita saja, maka kalau ada “penyimpangan” berupa prilaku homo, sesunggguhnya itu bukan “penyimpangan”. itu hanya kondisi dimana seperti gen resesif yang menguat.
ini tentang keadilan tuhan yaa.
sehingga ketika prilaku menyimpang ini dijadikan life style, artinya yang “normal” ikut-ikutan menjadi seperti demikian atau mencoba-coba dan keenakan, jelas ini salah. ini menjadi sesuatu yang sengaja disimpangkan.

ini yang harus diluruskan, ini sudah bukan semata soal keberadaan kaum homo itu sendiri..

kembali ke visi misi manusia dalam islam.
maka dalam terminologi sufidoo-fidoo, dikatakan tingkat tertinggi sufi tuh adalah yang bisa menempatkan segala sesuatu sesuai tempatnya dan memenuhi segala sesuatu sesuai haknya.

ga dikatakan tingkat tertinggi itu yang banyak ibadah mahdohnya loh, hehehe (becanda) πŸ˜€
di sini kita juga melihat kalau berislam atau beragama itu bisa berjalan beriringan dengan ilmu pengetahuan deh. ga melulu melawan sunatullah atau kenyataan, cieee..

ini menurut saya loh, dari iseng-iseng berpikir.
saya hanya berharap, jika kita tahu makna penciptaan, visi dan misi, lalu kita mengenal dengan baik siapa diri kita dan kapasitas kita, maka semoga kita bisa mengisi kehidupan kita sesuai jalan yang diamanahkan pada kita. dan sebesar-besarnya diarahkan tuk menjadikan kebaikan nyata dalam hidup ini.

bukan melulu malah memperumit keadaan.
benang hidup yang tengah kusut ini, harus mau kita urai satu demi satu. saya tidak berharap kita main potong kompas, meminta tuhan memusnahkan suatu kaum.
halahhh.. udah ga zamannya kali yaa. πŸ™‚

justru tantangan kita di zaman sekarang adalah bagaimana kita bisa berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dan menyelesaikan persoalan secara bersama-sama, persahabatan, kekeluargaan dan penuh semangat saling membantu demi kebaikan kehidupan kita bersama pula.

selebihnya, pesoalan hidup kita ga melulu pada persoalan ini.

gitu deh. salah ga saya berpikir gini?
makasih tuk dikoreksinya yaa..
saya tunggu nih, dengan harap-harap cemas..
hihihi, kaya nunggu siapa aja yaa..?? πŸ˜€

ini hanya lahir dari sebuah keprihatinan jika kita merasa jenuh dan merasa tak pernah bisa menyelesaikan banyak permasalahan di sekitar kita,yang kemudian membuat kita apatis pada hidup ini. jangan gitu donggg, mari kita coba. break the limit kalau kata mbak darnia mah.. πŸ˜€

dan muara semua persoalan kehidupan ini adalah cinta. ini sangat menonjol di nabi isa. ttg mampukah kita mencintai mereka sebagaimana kita mencintai diri kita sendiri?. kalau kita mampu, tentu kita bisa mencari banyak jawaban tuk persoalan saat ini. karena dengan empatilah kita bisa bersama siapa saja..

salam merdeka
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

9 Tanggapan to “dis-orientasi”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

pertamax nih..

baru baca sekilas. yang jadi pertanyaan saya. apakah betul homo itu karena kelainan gen??
apakah kaum homo itu sejak lahir memang sudah homo??

@wahyu
ini ga valid ya. di beberapa yang demikian, memiliki bentuk tubuh yang khas.
saya bilang “seperti”, bisa jadi ini masalah “kejiwaan”. dan masalah kejiwaan, beberapa konon juga “diturunkan”..

tapi selebihnya ini sudah menjalar menjadi “penyakit sosialita”, bahkan menjadi life style. artinya yang penampilan biasa saja, bisa jadi menyukai sesama jenis. dan yang begini, tentu menjadi seperti bisexual tea, maka sebaiknya ke psikolog dan psikiater. πŸ˜€

saya di sini, hanya menyoroti bahwa agama jangan malah mendogmakan penolakan terhadap kaum demikian. ini persoalan yang harus bisa dijawab, bukan ditiadakan. hehehe, namanya juga isengg.. ga tahu ahhh.. πŸ˜›

saya paham maksudnya sampeyan bu,
cuma kalau misalnya gen, pengaruhnya masih bisa
dikurangi dengan hormon dsbnya kan ?
jadi tetap paling utama adalah pola salah asuh.
artinya gen tidak cukup kuat dijadikan kambing
hitam.
selain pola salah asuh juga pengaruh
lingkungan sehingga terbentuk life style ini tadi.
Jadi menurut saya bisa dimulai dari
ketika si kecil baru lahir atau pada usia tertetnu untuk diperiksa muatan gennya lebih cenderung kemana.
apabila mengarah ke homo maka, ortu diberikan
suatu pelatihan atau pegangan mengasuh anak
yang mempunyai kecenderungan homo tsb( tugas siapa ini ya ? LSM ? pemerintah ?). Mungkin dinegara kaya, pemerintahnya bisa melakukan cara ini.

tapi apa mungkin ya begitu ?

Jangan salahkan genetik… salahkan pergaulan, traumatis dan hal-hal yang membuat manusia maerasa terkucil. Namanya juga penyimpangan dan manusia bereaksi dari suatu tindakan. Nggak ada manusia yang mau menderita. Mungkin para traumater2 tersebut menderita dan menemukan “kenyamanan” dalam lingkup kaum yang tersisihkan tersebut, bisa kan?

Heheheh… sok tau lagi. Maaf ya Mbak Anis, hanya sekedar membandingkan pandangan dengan Mbak Anis saja

Salam
~darnia~

Setuju dengan Darnia. jangan salahkan gen. nanti ujung2nya malah menyalahkan tuhan kenapa menciptakan manusia dg kelainan gen yang mendorong perbuatan menyimpang. Lg pula saya blm denger tuh ada penelitian yang menyebutkan homo/bisex itu bawaan genetik.
Mungkin lebih dominan pengaruh lingkungan dan didikan kali ya. Seandainya didikan (agama)nya bagus, kalo sudah ada kecenderungan seperti itu dan tau itu menyimpang, kan tinggal kuat2an antara iman dan hawa nafsu..

he..he.. sok tau nih..!!

yang pertama harus duduk persoalannya adalah manusia itu? bagaimana ketika ia lahir ke dunia, apakah mereka dalam keadaan yang sama tuk setiap orang atau berbeda?. Ternyata yang namanya manusia bukanlah hanya sekedar jasad yang tercipta dari tanah tapi adapula unsur Tuhan didalamnya. Jasad itu dari tanah maka ia akan kembali ke tanah,dan sudah barang tentu ia akan menyukai dan mencintai segala sesuatu yang berasal dari tanah, sex, makanan, kendaraan,adalah unsur bumi.semuanya itu fana. Jasad hanyalah kendaraan buat manusia di bumi ini…jadi siapa pengendaranya ? ialah yang nanti diminta pertanggungjawaban oleh tuhan, “Siapa yang di dunia buta maka diakhirat akan lebih buta”. Nah mengenai disorentasi sex itu bukanlah masalah gen, melainkan sahwat/hawa nafsu manusia, makanya Allah menghukumi orang yang menyimpang.Sebab hukum dasarnya pasangan lelaki adalah wanita.Lalu kenapa ada yang Homo,lesbi dll
Setiap manusia lahir kedunia ia membawa bekal yang sama yaitu kesucian jiwa, yang pada fitrahnya mencintai kesucian dan Yang Maha Suci,terlepas apakah jasadnya cacad,idiot dllnya. Sang jiwa inilah yang sebenarnya diri kita, kesatria penunggang kuda jasad,ia lah yang seharusnya menjadi imam buat jasad,tapi lacur ketika ia sudah turun kedunia banyak dari kita yang lupa untuk memberinya makanan,makanan jiwa tentunya segala sesuatu yang berasal dari alamnya,segala sesuatu yang menuju Tuhan.
wah kayaknya kepanjangan nih komentarnya…pokoknya maksud saya disorentasi sex itu bukan masalah gen. Nanti lah dilanjutkan…Ok k’Anis

@mas datyo
@mbak darnia
@wahyu

seneng deh dikayakan begini. saya paling takut kalau pendapat saya hanya diterima sepihak. kalau gini, saya jadi mikir lebih baik lagi.. ini rangsangan yang positif. πŸ™‚

hmm, so far masalah dis orientasi ini sudah kompleks ya. saya hanya berempati pada kesulitan saudara-saudara yang demikian, tuk kembali normal sebagaimana kita.

seperti pernah saya tulis disini, saya pernah menerima pengakuan teman yang demikian. saya sadari dia adalah korban dari perlakuan demikian juga. nah, ini loh yang saya soroti. ketika ini dilarang, maka ini disalurkan pada “bukan” tempatnya. dan menelan korban.

setiap anak mungkin punya “kecenderungan” dan itu sudah nampak di waktu kecil. lebih feminim atau maskulin. nah, salah perlakuan akan semakin memperburuk ini. artinya kecenderung itu mendapatkan penyalurannya atau malah tersakiti. di banyak pengakuan yang saya baca, dari kecil sebagian mereka lebih suka bermain boneka dari mobilan, dstnya. bahkan yang feminim marasa sakit hati ketika ibunya memaksakan dia jadi lelaki tulen.

ini berbeda dengan pengakuan yang diakibatkan patah hati dsbnya.

tapi sudahlah..
kadang ingin deh bisa membantu persoalan ini agar menjadi lebih jernih dan tidak semakin merejalela. bukan malah membuat kisruh. ini memang sangat kompleks. serahkan pada ahlinya saja deh. tapi lumayanlah, buat kita tuk lebih berhati-hati dan lebih empati πŸ˜€

@yoni
wah, ini tamu agung nih.. jauh-jauh bisa sampai ke sini. makasih..
apa kabar k’yoni?

setuju, kalau ini terkait pada kefanaan.
bahkan semua ini fana…
tapi jauuuh sebelum bisa masuk ke alam spiritual sebagaimana ditulis k’yoni, jiwa itu berlapis-lapis. harus bisa membuka satu demi satu lapisan itu. ga bisa ujug-ujug.. gitu ga sih?
pengalaman saya berhadapan dengan yang demikian, wah.. meletihkan tuh tuk membuka kesadarannya. bolak balik bahkan seperti terbelah-belah kepribadiannya.

selebihnya sih mungkin karena bukan kapasitas saya membantu masalah ini. saya hanya berempati..
salam buat istri dan anak2 ya k’yoni. semoga sehat..

@semua
perkenalkan.. k’yoni -teman saya, saat ini terlibat dalam usaha mengentaskan sebuah desa tertinggal di pedalaman garut loh.. maka saya menyebutnya tamu agung.
sukses selalu yaa k’yoni.. πŸ˜€


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: