kutipan : tawaran bilangan fu

Posted on Agustus 28, 2008. Filed under: 1 |

Bilangan Fu karya Ayu Utami. saya juga baca novel itu loh. alhamdulillah, ada mas daniel yang kreatif merefleksikannya, sehingga saya tinggal mengutipnya. hehehe.. 😀

saya menyukai novel ini. sebagai seseorang yang pernah melakoni pindah agama, saya merasakan dengan persis, memang hanya kekritisanlah yang lebih dibutuhkan dari apapun agama dan keyakinan itu. tuk kemudian menjadi lebih “bijaksana” dalam membawakan diri di kehidupan nyata. itu yang terpenting.

saya mualaf dan saya sangat menghormati semua agama. lalu saya ingin -secara bersama- membangun kehidupan yang lebih baik tuk alam sekitar dan generasi muda kita. untuk anak-anak saya dan anak-anak kita semua..

tawaran seperti ini tidak hanya ada di novel bilangan fu. banyak dalam beberapa buku sufi di gambarkan tawaran yang sama. hanya uniknya di novel bilangan fu, dia beranjak dari realitas yang nyata di sekitar kita, tepatnya realitas di indonesia. sebagaimana kata persembahan dari ayu utami di novel tersebut…

“untuk indonesia yang dengan sedih aku cinta..”

selamat menikmati..

***

Tawaran Bilangan Fu
[Intisari kreatif dari novel “Bilangan Fu” karya Ayu Utami]
Posted by DANIEL!
http://binajaya.blogspot.com

Monoteisme — bertuhan satu — lahir sebelum konsep bilangan nol ditemukan manusia. Maka barangkali satu itu juga mengandung pengertian dan properti nol. Nol yang berawal dari konsep shunya, ketiadaan, kekosongan, arupa, purna, utuh, tak berbatas, serta kafi. Bilangan satu — atau nol — yang dihayati dengan mentalitas metaforis, tak sekedar matematis.

Namun kesadaran yang diwariskan mengurungnya menjadi sekedar logika. Yang dipelajari seperti memahami ilmu pasti; tanpa perlu hati. Serba matematis; bukan filosofis. Maka kebenaran — dan juga Tuhan — tak lagi menjadi misteri. Ia ditumpahkan ke tanah menjadi kekuasaan dan kecongkakan. Yang membuat penganutnya merasa lebih tinggi derajatnya dari sang liyan. Yang memaksa para pengikut tunduk taat tak menghargai proses pribadi mencari pencerahan. Seperti menancapkan infus ke dalam tubuh-tubuh para pesakitan untuk memaksa metabolisme instan dan seragam. Dunia akan menjadi tampak teratur, namun kering.

Bilangan Fu memberi tawaran. Sebuah agama baru. Agama dengan tata cara beribadah yang sama persis dengan masing-masing agama yang dianut sebelumnya. Hanya ditambah dengan laku baru: laku kritis. Kritis berarti tidak membabi buta. Tapi ia juga sama sekali tidak anti, apalagi membenci. Kritis terhadap ajaran-ajaran lain, mampu melihat nilai-nilai luhur pada agama bumi maupun agama liyan. Kritis terhadap agama diri sendiri untuk mencegah kesombongan dan memonopoli kebenaran.

Laku kritis memberi kesadaran untuk tidak hanya memandang ke langit dan hidup demi akhirat. Karena manusia hari ini – dan kelak anak keturunannya – tinggal di dunia. Maka yang utama adalah memelihara alam lingkungan. Demi kelangsungan hidup bumi. Demi kelangsungan hidup anak-anak generasi nanti. Agama-agama nenek moyang yang meyakini bahwa ada penunggu dalam pepohonan, ada penjaga gaib di gunung-gunung, ada penguasa di dasar samudera, harus mampu dilihat lagi secara kritis, bahwa ada nilai kebijaksanaan untuk berhati-hati mengolah alam. Untuk senantiasa menjaga kelestarian dan keseimbangan.

Laku kritis mendakwahkan diri. Namun dengan cara satria dan wigati. Berdialog dengan sopan dan tidak memegahkan diri. Sabar menanggung segala sesuatu. Tidak dengan memaksa dan merusak, seperti cara-cara orang-orang tak beragama yang dikuasai sifat tamak dan sewenang-wenang.

Laku kritis juga menuntut untuk selalu sabar memanggul kebenaran, agar tidak jatuh menjadi ego yang mengalahkan kebaikan. Kritis untuk tidak menanggap kepercayaan orang lain sekedar dongeng dan kemusrikan . Dan sadar bahwa iman diri sendiri juga bisa berarti tak lebih dari tahyul bagi orang lain. Karena kebenaran sejati adalah misteri yang menjadi milik kala depan, bukan kala sekarang. Karena hakikat beragama adalah kebaikan. Maka, kebenaran tak perlu dipaksakan. Ia boleh tertunda esok hari nanti, asalkan kebaikan memenuhi hari ini.

Bilangan Fu menawarkan agama baru. Sanggupkah saya menjadi mualaf?

….

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

4 Tanggapan to “kutipan : tawaran bilangan fu”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

Iya nih, pembahasan yang bagus dari sebuah novel.

@mas dana
maka saya mengutipnya mas.., hehehe. 😀

sepertinya.. artikelnya lebih bagus dari novelnya.. hehehehe.. kidding :))..bagus memang inti dari novel ini kalau memang seperti yang dibilang daniel.. semangat untuk memperbaharui keyakinan, pengertian dan pemahaman memang harus terus ada.. kalau enggak ntar berkubang di keangkuhan.. dan perasaan bener sendiri.. :))..

Om daniel,
Diskusi kita tentang : manungaling kawulo gusti
bisa dilajutkan donk..sambil “nuthuk” lagi di
driving range halim..ojo alesan lagi..!
Salut..!…tak tunggu.


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: