ketika 1 + 1 tidak serta merta = 2

Posted on September 5, 2008. Filed under: islam indie |

(main itung-itungan yukk.. πŸ˜€ )

1 + 1 = 2
ketika TK kita sudah mengenalnya. ya kan?

sebuah teori –bahkan sekelas dalil— yang begitu saja ada dan kita mempelajarinya lalu bahkan menelannya bulat. tidak ada yang salah dari dalil itu. itu benar dan itu basic berhitung kita.

nah, beragama melulu dengan dalil, bagi saya kadang terasa seperti belajar 1 + 1 = 2. tidak salah dan sah-sah saja. bahkan itu adalah basic referensi keberagamaan kita.
tapi…
maaf ya. kadang saya temui, beragama dengan dalil membuat kita hanya berputar-putar di seputar dalil. bayangkan, “berputar-putar di seputar”.. sudah deh, kaya gasing aja deh rasanya. ya ga? hehehe πŸ˜€

contohnya, kita mempelajari dalil dari asbabunuzulnya, lalu ayat rujukannya, lalu hadist pendukungnya, lalu pula menurut tafsir ulama A dan ulama B, bahkan tak kalah juga.. menurut kata guru kita. wis.. pol deh. πŸ™‚

sekali lagi ga ada yang salah belajar dalil.
saya juga belajar dalil.
tentu saya tidak tahu -sebut saja- banyak, kalau tidak -sedikit-nya pernah belajar dalil-dalil. walau saya nih susah menghafal. 😦
gini-gini saya pernah belajar dengan militan di tarbiyah, awal keislaman dulu selama 4 tahun. ga tanggung-tanggung saya tinggal bersama mereka. kehidupan keseharian saya sangat afdhol –sebut saja demikian. tapi ternyata saya tidak tahan. bertahan sekuat tenaga dan jiwa raga di sana, saya harus jujur saya ga bisa.. rasanya selalu ada friksi, ciee.. gesekan gitu loh.. πŸ™‚

kenapa bisa begitu?

maka mari yukk kita lihat ke kehidupan nyata

sebut saja, ada 1 pohon mangga dan 1 pohon kelapa di sebuah kebun.
maka, 1 pohon mangga + 1 pohon kelapa = ?

lah, sederhana toh. 1 + 1 = 2. ya ga?
eeitsss… perhatikan dengan teliti dong πŸ™‚

1 pohon mangga + 1 pohon mangga = 2…?
apakah jadi ada 2 pohon mangga dan 2 pohon kelapa…?
tidak toh??

1 pohon mangga + 1 pohon kelapa = tetap 1 pohon mangga dan tetap 1 pohon kelapa.

atau sebut saja lengkapnya..
1 pohon mangga + 1 pohon kelapa = 2 pohon terdiri dari 1 pohon mangga dan 1 pohon kelapa.
pohon mangga-nya tetap 1, pohon kelapa-nya juga tetap 1.

sehingga sederhananya dalam hidup,
1 + 1tidak serta merta= 2
ya kan?

artinya : menjadi tidak bisa sekaku teori atau dalil-dalil itu..

lah, kalau di kehidupan dalil dan teori tidak selalu bisa persis sama dan sebangun begitu. bagaimana dong dengan dalil-dalil agama itu?
ya ga papa… πŸ˜€
dalil-dalil dan teori itu tetap kita perlukan kok.

seperti saya pernah tulis dulu, kitab suci itu seperti basic referensi bagi saya.
di kehidupan nyata yang sebagaimana zaman saya ini, tetap memerlukan pembawaan sikap atau aktualisasi yang baik dari pemahaman saya atas dalil itu yang sesuai dengan kebutuhannya, atau tepatnya yang bisa menjawab kenyataan yang ada. saya ga bisa saklak.

maka kita temui diperbolehkannya ijtihad dalam islam.
sederhananya ijtihad adalah olah pikir. manusia islam boleh berpikir. di sini, banyak yang berpendapat ijtihad ini hanya diperkenankan oleh ulama-ulama dan pihak-pihak yang dipercaya atau yang mumpuni.
saya sepakat.
tapi saya merasa, sebagai manusia islam yang awam pun, kita tetap diperkenankan tuk berolah pikir, mengembangkan nalar kita sendiri. dan itu fitroh atau kealamian atas akal yang dianugerahkan. maka manusia itu reflek tuk berpikir dan membangun persepsi. walau tentu derajat kejernihan nalar setiap manusia ini berbeda-beda. inilah yang dinamakan kritis.

bahkan, saya temui di titik yang benar-benar membingungkan, nabi pernah berpesan : tanyakan pada hatimu, hatimu dan hatimu. “tanyakan pada hatimu” yang disebut 3 kali. terasa sekali nabi mengutamakan dan mempercayai kata hati kita.

mengapa?

ya sederhana.
sebuah peristiwa, di suatu masa, di sesuatu tempat, tentu pelakunya lah yang lebih memahami apa saja yang tengah terjadi di peristiwa itu, di masa itu dan di tempat itu. semua hal itu harus terintegrasikan.

maka kita temui, dalam sebuah pemeriksaan terdakwa suatu perkara, ada yang namanya olah TKP dan rekontruksi kejadian. tujuannya jelas tuk membangun konteks keseluruhan dari apa-apa dan siapa-siapa bahkan sekiranya apa yang menyebabkan terjadinya suatu perkara itu.

sehingga kontekstual itu adalah sebuah keniscayaan.

itulah kehidupan dan itulah kenyataan

lalu bagaimana dengan samina wa atona?
itupun sama, ada konteksnya. ada hal-hal yang memang hanya butuh iman. percaya dan ikuti. maka mengapa mereka yang bernama nabi dan yang tercerahkan itu sedikit jumlahnya. ya untuk mengajari manusia, maka diseru pada kebaikan dengan cara yang baik pula kemudian secara nalar layak diikuti.
dan saya tetap lebih setuju, manusia harus kritis demi daya pikir dan daya saingnya dalam mengatasi kebutuhan zamannya sendiri dengan nyata.

di sini saya hanya ingin mengajak semua, tuk menyadari betapa beragama itu –meski di sebut agama langit– tetap membutuhkan konteksnya. tetap harus terintegrasi oleh keseluruhan kebutuhan di masanya dan pelakunya.

beragama itu harus membumi.

bahkan itulah yang menurut saya, dalam qur’an sering disebut bahwa janganlah beragama hanya dengan mengikuti angan-anganmu saja. atau fantasimu saja.
itu sebuah himbauan tuk kita mau menyadari kenyataan di sekitar kita deh. sekali lagi ini menurut saya.
gitu ga sih?

yukk, belajar membumi
hentikan semua fantasi
lihatlah kenyataan dengan jernih
mulai hari ini.. πŸ˜€

salam
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

6 Tanggapan to “ketika 1 + 1 tidak serta merta = 2”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

cool…
keren. “islam indie”.. bisa -bisa menandingini islib dan FPI nih, he hehehe…
anyway, welcome kak anis.
let’s walk together.. and keep walking!.. thats important.. :))

Lho trus 1+1 berapa aja kemungkinannya????

@k’siska
makasih buat supportnya beberapa hari ini ya k’siska. sudah membantu saya bertapa tea.
semua berkat k’siska dan semua di sini juga. yukk, sama-sama..:D

@hidayat
tergantung konteksnya mas.. πŸ˜€
kalau kita hanya menginginkan jumlah, 1 + 1 ya pasti = 2.
tapi kalau kita tidak menginginkan sekedar jumlah, maka sebanyak apapun yang kita menginginkan darinya, bisa selalu ada kemungkinan..

cerita yaa..
saya terpikir 1 + 1 tidak sertamerta = 2 ini beberapa hari lalu. lalu saya men-sket ide saya ttg hitungan itu. sesaat setelah itu, saya baca opini Budiarto Sambazy di koran Kompas. terkait keputusan Mc Cain memilih Sarah Palin sebagai pasangan wapresnya di pemilu Amerika melawan Obama. keputusan yang cukup mengejutkan dan diluar dugaan banyak pihak. maka kata Budiarto Sambazy, Indonesia butuh politikus senior sekelas Mc Cain, yang bisa membuat banyak kemungkinan.. karena dalam dunia politik 2 + 2 tidak selalu = 4.

hehehe, saya merasa sama saja. bahwa hidup tidak sekaku hitungan matematis.. hidup selalu memiliki banyak kemungkinan. selama kita tidak merigidkan dan menutup kemungkinan dari hidup itu sendiri.

1+1=10 dalam sistem bilangan biner.
1+1=4 dalam sistem keluarga saya :))

Wah..kalimat yang ini : janganlah beragama hanya dengan mengikuti angan-anganmu saja.. saya juga baru dapatkan dua minggu yang lalu dari salah seorang teman Kristen saya. Kok klop ya πŸ˜€

kemudian, saat saya setuju dengan beberapa poin di kutipan Mbak Anis tentang Agama Masa Depan, saya hampir dibilang penganut Atheist πŸ˜€

Kita nggak mungkin menjalankan agama tanpa arahan, dan kadang arahan-arahan tersebut datangnya dari para ahli-ahli agama, yang kadang kala satu sama lain, ngomongnya simpang siur. Kita diciptakan dengan akal dan pikiran, salah satunya untuk menyortir hal-hal yang masuk ke otak kita, bukan?

Well..saya jadi ingat salah satu ucapan guru bgaji saya: LAKUKAN SAJA YANG MENURUTMU PALING BENAR (tapi bukan kebenaran yang membabi buta…harus dengan dasar yang kuat juga, seperti kata Mbak Anis: dengan hati). Jadi sekali lagi… saya setuju dengan istilah: Belajar beragama dengan membumi πŸ™‚

Terima kasih banyak petunjuknya, Mbak Anis dan maaf saya sok tau lagi :p

Salam

h h h…. maksudnya: wis.. pol deh, dimana pol=politik ya? wah, konon kl pol yg ini emang hobinya maen dolal-dalil n berdolah-dalih ria. Jadi: 1 + 1 kumaha anis wae lah….


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: