thanks god, i’m a human

Posted on September 6, 2008. Filed under: islam indie |

(sebelum melanjutkan tulisan, mau cerita sedikit ttg yang terjadi kemarin..)

seperti semua tahu, saya ini manusia merdeka.
yang suka berpikir ini dan itu lalu menuangkannya di sini. kadang hanya seperti curahan hati saja. blak-blakan dan cenderung iseng. saya sadar kok, kadang saya hanya menggunakan ‘logika kebo’ alias sesederhana otak sambil lalu saja. walau kadang saya juga suka sok kepinter-pinteran dan itu tidak harus dibenarkan apalagi diyakini. jika ada kebenaran ya syukur, kalaupun tidak ya itu adalah proses belajar saya, proses belajar kita..

tapi ibaratnya, tiba-tiba saja proses belajar ini harus seperti disekolahkan dan diukur dengan standar tertentu. sah-sah saja sih, saya juga suka banget jika dikoreksi dan diberi masukan. seperti di sini, saya suka jika dikomentarin termasuk disalah-salahin. tapi bukan dengan dipaksakan tuk sama dan sederajat dengan standar tertentu itu. kasarnya, jangan jadikan seperti harga mati dong.. 😦

standar penilaian itu perlu dan dibutuhkan.
yang tidak perlu adalah sikap pemaksaannya atas standar itu.
karena hidup bukan seperti pendidikan formal. belum lagi kita sering memiliki beda persepsi.
duh, saya ini polos atau bodoh yaa?? hehehe.. saya yang tadinya sangat ingin mencapai standar penilaian terbaik, disikapi dengan pemaksaan malah akan membuat saya seperti kehilangan orientasi. haduhhh.. saya nih suka pingsan, maka titik keseimbangan saya sangat peka terhadap perubahan gravitasi.. naonnn?? 😀 kalau kata teman, saya nih seperti anak ADHD… 😉

walhasil, saya tersiksa.. dan sakit.

tiba-tiba terasa berpikir itu harus selalu benar
tiba-tiba terasa kalau salah berarti gagal
tiba-tiba terasa harus titik. tidak boleh koma apalagi titik koma.
tiba-tiba terasa kalau hidup hanya hitam dan putih
aaaarggh, sedih.. bukan saya inginnya abu-abu mulu, saya ingin warna-warni.. 😀

padahal kata nabi, ijtihad atau olah pikir itu jika benar dapat dua pahala, jika salah tetap dapat 1 pahala. bukan pada materi pahalanya yaa. perkataan itu merupakan sebuah pesan dan himbauan, bahwa berpikir itu tidak selalu harus benar. dalam salahpun masih ada kesempatan tuk memperbaikinya.
itu menurut saya..

maka buat saya, kemerdekaan berpikir itu mendasar dan disupport sekali dalam islam. sehingga karenanya saya tidak takut salah, karena dalam salah sayapun akan belajar tuk lebih baik lagi.

seorang selalu bilang kalau belajar agama itu harus jelas perowinya, gurunya, rujukannya, ininya, itunya, dsbnya. iya sih. saya sepakat. tapi bukan berarti kita tidak boleh berpikir dan mengkritisinya kan?? bukankah katanya beragama tidak boleh taklid?

maka sederhananya buat saya, saya ini hanya manusia biasa. bukan malaikat. bukan berarti setiap saat saya boleh salah. tentu saya harus hati-hati dan waspada jangan sampai salah dan bahwa kesalahan tidak boleh diulang dua kali. tapi bahwa sebagai manusia, saya reflek berpikir, bertanya lalu mengolah data atau penjelasan yang saya terima itu proses yang alami. jangan khianati.

dan jika dalam mengkritisi itu saya masih terdapat kesalahan, tentu bukan berarti saya gagal dan saya salah seumur hidup saya kan? saya toh tidak sedang mengakhiri hidup orang lain dengan proses berpikir ini. maka saya mengerti mengapa sebutan sesat pada proses belajar -terutama- dalam beragama- sangat tidak dianjurkan. sesat menjadi seperti menafikan kemungkinan manusia itu menemukan cahayanya kembali. sesat menjadi seperti mengkhianati “proses” belajar itu sendiri.

dan saya salut dengan negeri kita tercinta ini, yang dalam UUD 45 nya pasal 28, memberi kebebasan berpikir, menyatakan pendapat dan berserikat bagi warganegaranya. wah, indonesia hebat!

indonesia manusiawi deh.. hihihi 😀

lah, iya dong. itu manusiawi banget loh. karena dengan dianugerahkan akal, maka manusia itu refleks berpikir dan mengolah semua rangsangan yang diterima oleh indera fisik dan rasanya. membuat manusia itu hidup, merasa dan ada.

kemudian mengapa kita memerlukan orang lain, atau yang disebut oleh UUD dg berserikat alias bersama-sama dengan yang lain? ya agar kita bisa saling mengukur diri. agar kita menemukan titik temu dalam kebersamaan kita yang bisa menghasilkan banyak manfaat bagi kita juga. bukan cuma maunya mengukur tapi ga mau diukur.

menyadari hadirnya banyak pesan kehidupan lewat siapa dan apa saja, tentu sangat indah tuk mengkayakan tumbuh kembang kita. karena kita manusia biasa..

maka dikatakan demi waktu, jangan merugi ah. mari kita saling mengingatkan dalam kesabaran dan dalam menemukan kebenaran. mari terus berlomba dalam kebaikan dan mengisi kehidupan dengan banyak manfaat. katanya, pikir melahirkan cipta. rasa menghasilkan karsa. itulah cara manusia menata hidupnya.

gitu deh.
dan akhirnya setelah bungkam, saya nyerah. saya tidak bisa tidak berpikir merdeka, hahahaha 😀
eeits, tentu merdeka yang penuh tanggungjawab loh.

oya, kenapa kemerdekaan itu harus bertanggungjawab? buat saya juga sederhana, karena kita ini sebagai manusia -secara pribadi dan sosial- memiliki banyak keterbatasan. maka kita akan reflek membangun tanggungjawab pada batasan-batasan itu.
see..???
duh, hidup saya nih rasanya natural aja deh.
berpikirnya natural, salahnya natural, benarnya lebih natural, termasuk ngambek dan ngototnya juga natural.. hahaha 😀

karena saya manusia
karena kita manusia

thanks God, i’am a human
kebayang capenya jadi iblis atau malaikat itu yaa? yang satu kerjanya jahat aja, yang satu kerjanya baik aja. kita yang manusia mah boleh berwarna-warni… hahaha 😀

apalagi di indonesia??
wuihhhh…. saya suka indonesia!

terimakasih tuk mau mengoreksi dan mengkayakan saya yaa..
dalam ngotot dan ngambek, saya belajar kok. cewek banget yaa?? hihihi maaf 😀
maka bersyukur tuh yang diciptakan jadi lelaki, karena wanita diciptakan begini indahnya.. hahaha, maksa 😀

salam manis
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

10 Tanggapan to “thanks god, i’m a human”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

hehehe baca postingan yang ini, kok saya mbayanginnya Mbak Anis ini kayak gak pernah sedih 🙂

Saya jadi ingat buku yang saya baca kemarin, judulnya “The Sky is not The Limit” yang ngarang mualaf juga, hanya dia orang Australia..namanya Amarullah Amstrong.

Waktu saya baca itu kok inget Mbak Anis 😉

Jika saya boleh bilang… di dunia ini kita bagaikan hidup dalam bola kaca… kita gak tahu mana atas, mana bawah, mana kanan dan mana kiri… sedangkan orang-orang diluar bola kaca itu mengajukan persepsdi masing-masing untuk kita pakai.
Lucu… mereka juga pada saling ngotot dan berusaha memperngaruhi kita pakai presepsi mereka ya…
Ya sudah.. memang sebaiknya kita “ngelakoni” saja hidup ini… dan gak bingung dengan terlalu banyak standrat… Kecuali StandratNYA..(Al-Qur’an dan Hadist) tempat kita bergantung satu-satunya…

Eh… kok komentarnya gak nyambung sih… walah…
maaf ya… lagi kepikiran yang lain….

@mbak darnia
wah, dituliskan dong resume dari buku itu, mbak. tulis ya di blognya, biar ntar saya kutip tuk semua teman-teman di sini juga. gimana?

@mbak yanti
terimakasih mbak yanti.
saya selalu merasa, saya harus bisa berjalan “tegak” di atas muka bumi. tegak dengan keyakinan jiwa saya. mandiri. saya tidak mau diombang-ambing oleh banyak perbedaan persepsi ttg agama – baik itu itu qur’an dan hadist. karena pada akhirnya sayalah yang harus bisa menyimpulkan diri saya sendiri. bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa..

ikuti terus celoteh saya disini yaa, semoga kita bisa selalu saling mengingatkan 😀

wah, kayaknya keyen nie.
sebenernya pengin baca sih, sayangnyaa…… bloger juga manusia… alias musti balik smoga bisa buka di rumah. daah….

@mas JM
met pulang yaa.. salam buat keluarga.
hati-hati di jalan dan jangan berbuka sebelum waktunya, hehehe 😀

thanks god, i’m a human…

sy pun pengen bisa mengucapkannya dengan penuh rasa syukur.

untuk sementara ini belum berani, mengingat dan menimbang “ayat suci” berikut.

selalu mudah bagi api menjadi panas. semudah bagi air untuk menjadi basah. tapi alangkah sulitnya bagi manusia untuk menjadi manusia

saya kekna masih mualaf, mualaf menjadi manusia. atw jangan2, mualaf pun belum?

😀 Nice post, as always in this home of beautiful mind.

Selalu mudah bagi api menjadi panas,semudah bagi air untuk menjadi basah…..dst.Sebuah kata yang sungguh bijak.

Nesia,yth.Betul sekali kata – kata ini.Sulit sekali manusia menjadi manusia.Yang terkadang selalu tidak sesuai dgn yang diucapkannya.Kadang kita menyebut “Ya namanya Manusia”.Apakah kita bisa Memanusiakan kemanusiawian Manusia???yang terkadang kebobrokan,kedengkilan,kejahatan,kecurangan,kefanaan
kemunafikan yang semuanya dapat terjadi pada diri manusia. Tapi hanya kita sebut “Ya namanya Manusia” jika kita telah melakukan hal -hal buruk diatas.Lalu pantas dan dapatkah kita mencapai Surga???dengan cara Rajin Beribadah???Lalu lebih baik mana Rajin Beribadah atau Rajin Berbuat Baik???
( Orang yang Rajin Beribadah belum tentu bisa berbuat baik, tetapi Orang yang Rajin Berbuat Baik sudah pasti orang tersebut sudah beribadah)Apa Gunanya Manusia Beribadah 1.000.000.000 kali sedangkan untuk Berbuat Baik sebanyak 1 kali saja Manusia TIDAK DAPAT MELAKUKAN.

@nesia
@refly
setuju…
nyaris sepanjang hidup kita belajar menjadi manusia yang manusia.
saya menuliskan ini, ketika terasa sudah begitu keletihan tuk menjadi manusia.. bahkan ketika tidak ingin kehilangan naluri kemanusiaan itu. hehehe.

spt sy bilang 2 hr lalu, ini menarik, so sy balik.

tiba-tiba terasa harus begini pintar, gak boleh salah, etc. etc..

Itulah, banyak orang yakin lebih benar dr segala umat padahal justru dr dulu mrk berada di kesesatan itu sendiri. Sementara orang2 yg takut tersesat sebenarnya selalu waspada dan tak pernah melewati jalan sesat, kalopun melintasinya maka buru2 nyadar dan bertanya kepada orang2 yg ditemuinya, entah orang itu kenal apa tidak, entah bego ato pinter, entah jahat ato baik, entah makan halal ato haram, dst.

Jadi, binatang apa yang paling haram?
http://id.wikipedia.org/wiki/Kesesatan


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: