mandiri dalam bersyariat

Posted on September 8, 2008. Filed under: islam indie |

(di lepas yaa..menyoal perda syariat nih)

sebagaimana kita tahu, di awalnya muhammad menyampaikan islam di tataran akidah dan keimanan. atau yang kita kenal dengan periode mekkah. sementara di periode madinah, muhammad sudah mulai membiasakan syariat, sebagai konsekuensi dari kebersamaan umat yang sudah ada saat itu. bahkan disana, lebih jauh muhammad sudah menempatkan diri sebagai pemimpin politik.

sebelumnya, maaf. saya bukan orang yang suka memplot sejarah ke kondisi saat ini. sejarah adalah sejarah, biarlah sejarah berdiri sendiri sebagai sebuah sejarah. saya hanya harus memperlajarinya untuk menjadikan zaman saya lebih baik dalam menuliskan sejarahnya sendiri.

maka, dimata saya. turunnya perintah syariat ini sudah lebih terkait pada kebersamaan. seperti kita para blogger, kita punya semangat sebagai sesama blogger indonesia. punya logo dsbnya. atau seperti kita bernegara, maka kita punya bendera, lagu kebangsaan, ceremoni kemerdekaan, bahkan kita punya baju kebanggaan bangsa, yakni batik dsbnya.

begitu pula dengan beragama, ketika itu sudah menjadi sebuah kebersamaan..

sebut saja, ada perintah sholat. maka dikatakan sholat berjamaah itu pahalanya lebih banyak. atau puasa, maka memberi berbuka pada yang berpuasa, mengandung makna kebersamaan. zakat jelas, dan haji lebih sarat makna kebersamaan atau makna sosialnya.

tapi perhatikan pula, syariat ada demi kebersamaan bukan berarti harus serba sama.

sebut saja, dalam sholat. tuk jika berhalangan secara individu, maka diberi keringanan. dari jika sakit, maka sholatlah dengan duduk. jika tak bisa duduk, maka berbaringlah. tidak bisa dalam berbaringpun, cukup dengan isyarat. atau jika di perjalanan, maka boleh di jama’ (disatukan). atau lebih jauh, bahkan boleh di qoshor (digabung). puasa pun demikian, dari boleh di ganti dengan harta (fidyah) sampai boleh digenapi di waktu luang (qodo’). haji lebih lagi, sampai bahkan jika ada tetangga yang kelaparan, maka sahabat yang memutuskan tidak berangkat haji dan menolong yang membbutuhkan itu, disederajatkan dengan haji mabrur. begitu banyak dikisahkan dari riwayat seorang muhammad.

artinya, syariat memang lebih bermakna sosial, buah yang lahir dari kesadaran akan sebuah kebersamaan.

kalau ditarik ke kondisi nyata indonesia yang beragam, maka kesadaran bersyariat sebagai konsekuensi dari kebersamaan yang ada, ya harus dirumuskan dalam konteks indonesia.
itulah sikap yang islami, yang lahir dari pemahaman substansial akan makna bersyariat. – menurut saya. bukan pada formalitasnya yaa.

dan rasanya para bapak pendiri bangsa ini sudah merumuskan bagaimana cara hidup bersama di indonesia tercinta yang bhinneka ini. yakni dengan demokrasi. kalau dalam knyataan hari ini, demokrasi di indonesia mengalami kegagalan yang parah, bukan berarti indonesia harus digantikan dengan sistem lain. harus tetap mau kembali membawakan indonesia pada cita-cita awal dia didirikan.

maka adalah salah, jika penerapan syariat malah menjadi memecah belah umat atau merusak kebersamaan rakyat indonesia. ini sangat menyalahi cita-cita bangsa dan negara ini. ini berpotensi dis-integrasi.

karenanya di sini, saya ingin mengajak semua mandiri dalam beragama dan bersyariat sesuai agama masing-masing, demi tidak mengganggu keutuhan perahu kita bersama ini, yang bernama negara indonesia.

bagaimana sih mandiri dalam bersyariat itu?

sebut saja soal perintah sholat 5 waktu. menjadi independen, bukan berarti bisa mengurangi sholat jadi 3 atau 1 waktu saja. sholat tetap wajib 5 waktu. selebihnya adalah sunnah, artinya jika tidak bisa lebih ya cukup 5 waktu saja. kalau tidak sempat bahkan malas, maka hanya mau melakukan sholat semampunya, ya itu ukur dan tanggungjawab sendiri. tapi kalau lapang dan mampu, ya silakan coba lakukan 5 waktu, sesuai wajibnya. jadi merdeka, atur sendiri dan ukur sendiri. tapi bukan dengan memaksa. misal, kalau tidak sholat sunnah tahajud maka disebut tidak sholeh, atau kalau masih bolong sholatnya jadi ga islam. ya ga gitu.

izinkanlah manusia mengatur kemampuannya dalam beragama dengan kapasitas terukur dari dirinya sendiri. agar segala kemajuan bahkan kemunduran sikap, disadarinya dengan benar dan menjadikannya lebih bertanggungjawab dalam beragama. bukan paksaan, bukan pula ikut-ikutan.

maka pernah ada anekdot -sebut saja begitu-, seseorang ditanya, duluan mana nolong orang yang sudah sekarat atau sholat karena waktu sholatnya sudah mepet? hehehe. ini sebuah sindiran, karena syariat itu sebenarnya kaya makna sosial.

termasuk soal menutup aurat atau perintah berjilbab. saya lebih melihatnya sebagai makna agar tidak mengumbar tubuh di tempat umum. bentuk jilbab hanya terkait oleh kebiasaan masyarakat arab. walau sah-sah saja mau berjilbab dengan lebih modis ala indonesia. tapi esensinya adalah tuk sebaiknya tidak mengumbar tubuh terbuka di tempat umum, agar kebersamaan ini menjadi enak dan nyaman bagi semua pihak. seperti juga tuk anak-anak misalnya. selebihnya ya tempatkan lah segala sesuatu pada tempatnya deh. pakai bikini di tempatnya, jangan di pasar tradisional.. hihihi. πŸ™‚

tapi jelas, bukan dengan memaksakan jilbab pada semua perempuan indonesia di wilayah berperda syariat. terkesan kita tidak bisa ya mempercayai bangsa kita ini bisa menjadi bangsa yang terhormat. kesadaran akan kemandirian baik sikap dan nilai diri tentu akan membuat kita bisa saling mensikapi keberagaman dengan bijaksana deh. semua itu hanya perlu di tata sesuai tempatnya, bukan ditiadakan sama sekali. sederhananya gitu.

inilah islam indie.. buat saya πŸ˜€
selebihnya, saya terdorong dengan sebanyak-banyaknya bersama yang lain, mewujudkan kehidupan yang lebih baik dalam kebersamaan kita di indonesia.

maka berislam dan beragama apa saja secara independen, adalah sebuah sikap penuh kemandirian dan tanggungjawab penuh dari individu beragama itu, tanpa mengurangi keterlibatannya secara aktif dalam kebersamaan di kehidupan sosial kita di indonesia yang bhinneka ini.

jadi, menurut saya penerapan perda syariat di beberapa wilayah indonesia, adalah cermin dari ketidak pahaman akan substansi bersyariat itu sendiri. mengutamakan kebersamaan tidak sama dengan membuatnya serba sama loh. itu malah berpotensi memecah belah, karena secara personal tidak ada paksaan dalam beragama. islam sendiri yang menyatakan demikian toh? laa ikra ha fiddiin. halahh… saya pake ayat. maaf.. kalau saya ga kapasitas di sini yaa. πŸ˜€

negara kita memang sedang gagal mengurus dirinya. tapi itu bukan berarti kita juga jadi gagal mengurus diri kita dalam bersyariat secara mandiri. negara boleh gagal, tapi rakyat tidak boleh ikutan gagal.

mari mandiri..
mari belajar menata diri..
mari saling menghormati..
mari saling menghargai..
mari saling mengukur diri..
dan mari mendahulukan kepentingan bersama sejati di indonesia ini
cermin kita tahu bagaimana berbangsa dan bernegara
cermin kita tahu bagaimana seharusnya hidup bersama-sama

dan sebagai indonesia, siapapun kita dan apapun agama kita
kita tahu bagaimana bersama dalam kebhinnekaan ini.
gitu ga sih??

salam indie! πŸ˜€
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

4 Tanggapan to “mandiri dalam bersyariat”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

ga nis, kalo ingin mandiri dalam syariat ya bikin sendiri aja gampang kan.
Menyoal perda syariat, entah kenapa di negara seperti India yang mayoritas Hindu atau jepang ada gerbong khusus wanita nanti suatu saat mungkin di INdonesia pun dilakukan hal yang sama, jadi para feminist anti segregasi pun menyetujui pemisahan gerbong perempuan dan laki-laki yang sangat “Islam” itu. Nah mungkin manfaat nya belum kerasa sama kita sekarang tapi jika berfikir panjang mungkin anak cucu kita yang merasakan manfaatnya seperti kakus gerbong khusus wanita tadi

@mas budi
minimal kita tidak terburu-buru menerapkan demikian memang jika bangsa kita masih belum siap tuk itu, mas..

daripada kaya di arab saudi misalnya. teman saya ada yang tinggal di jeddah. dia membeli underwear wanita yang di label harganya ada tawaran tuk kenalan berikut no hp. komentarnya sih, gimana bisa sampai rajin menuliskan no hp dan salam kenal di bandrol harga underwear gitu coba?? hehehe, bikin sulit juga toh?
atau kabarnya, di sana semua situs porno dibredel dari internet, tapi tivi satelit yang lebih parah bisa dinikmati dengan bebas. semua rumah punya. atau bahkan tidak boleh pasang gambar2, tapi foto raja dimana-mana. halahh.. kontradiktif banget mas.

kita jangan membentuk masyarakat yang hipokrit deh, menurut saya. alami saja sesuai kebutuhannya. atau kerennya : proposional aja deh mas budi.

hidup bukan tuk dipersulit, maka kata nabi “permudahlah jangan dipersulit”. kata nabi loh, bukan kata anis. hehehe πŸ˜€ maaf ya mas budi, kalau saya salah.. tapi demikianlah pendapat saya pribadi. piss.

Iya bener mbak Anis
Indonesia yang beragama
adalah Indoensia yang mandiri dalam syaraiat lah kalau mau dipaksaarabkan, ya gak konek.

Semeangat Islamnya dari sana, nuansanya Indonensia.

dan mari berbenah diri
di saat menjelang hari
dimana menjadi fitri

@mas kurtubi
salam indie mas.. salam indonesia! πŸ˜€


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: