mahal

Posted on September 10, 2008. Filed under: islam indie |

(di bagi nih..)

* dulu, alm. ibu saya pernah bercerita. beliau yang peranakan cina jawa, pernah bersekolah di sebuah sekolah cina di kawasan bandung, yang sekarang jadi SMAN 2 cihampelas tea. hehehe, saya masih inget fotonya, ibu saya berkulit hitam diantara teman-temannya yang asli keturunan cina. ibu saya kelahiran th 1944. beliau lebih mirip nenek yang asli jawa, dari kakek yang asli cina.

beliau lumayan pinter, maka dulu pernah bercita-cita masuk kedokteran UI. beliau sempat sekolah lagi SMA negeri tuk bisa menjawab test-test dalam bahasa indonesia. nah, di tahun itu konon meledaknya peritiwa G30S/PKI itu. walahhh… masih cerita beliau tuh. meski nenek saya jawa, beliau kan menikah dg cina, maka semua atribut cina di rumahnya di hilangkan. apalagi kalau menyangkut sertifikat atau bukti-bukti hubungan dengan pemerintah cina, termasuk sekolah cina. konon demi menghindari razia anti PKI saat itu. nahhh.., semua ijazah ibu saya dan kakak-kakaknya, dimasukan ke dalam bak mandi berisi air demi menghilangkan jejak kecinaan itu.

padahal, konon Soekarno saat itu memang main api, demi menahan laju neo kolonialisme barat maka doi dengan berdekatan dg cina. tapi siapa sangka ada efek domino yang tak bisa selalu dikendalikan olehnya.

maka pupuslah sudah semua cita-cita ibu saya, berganti trauma pada gerakan anti cina

indonesia pun berdarah, entah mengapa persisnya?
maka kekuasaan pun berganti…

* peristiwa kerusuhan mei tahun 1998, saya baru memiliki anak pertama usia 4 bulan. waktu saya menemani suami mengontrak paviliun di seorang ketua RT, dekat kantornya. suami saya bekerja di perusahaan jepang, di kawasan sunter.

ketika peristiwa itu terjadi, saya sedang suka-sukanya mendengarkan radio Trijaya FM. yang beneran dekat semanggi, tempat malam tembak-tembakan terjadi yang menelan korban -elang?- lupa deh persisnya. tapi di radio itu, semua diberitakan live gitu, jadi terdengar tuh teriak-teriakkan di malam naas itu. haduhhh.. ga kebayang deh saya. esok harinya, di hari kerusuhan masal itu, suami saya terpaksa pulang kantor berjalan kaki.

dan saya, di rumah pak RT, hanya mampu melihat orang-orang lalu-lalang membawa hasil jarahan. ga tanggung-tanggung tuh, ada yang menjarah kulkas pake becak! sebagian malah ditawar-tawari ke kami yang hanya bisa melihat saja. bahkan nih, ada yang menawarkan sekardus balsem hasil jarahan. duh, buat apa balsem sebanyak itu?? di langit terlihat beberapa asap mengepul. entah apa deh yang terbakar, saya banyak istighfar aja tuh.. belum lagi anak pak RT ada yang masih mahasiswa dan ikutan demo waktu itu. wah, bu RT ketar-ketir, takut anaknya ketembak. saya malah jadi sibuk menghibur beliau. πŸ˜€

esok hari setelah kerusuhan, suami dan saya, sambil membawa bayi kami, langsung menuju stasiun gambir tuk segera pulang ke bandung. waduhh… dijalan menuju gambir banyak toko dan kendaraan yang terbakar. ga sampai di situ, begitu kami dapet tiket KA parahiyangan terpagi dari jkt menuju bdg, tiba-tiba ada aparat yang menutup gambir. jegrengg!! pintu-pintu besi gambir terdengar di tutup dengan sangar. halahh… sambil membawa bayi saya segera berlari menuju kereta. konon hari itu jkt kota ditutup sementara demi tidak ada kerusuhan lagi, hehehe.. biasa aparat suka datang terlambat. stasiun hanya dibuka sampai jatinegara aja.

kamipun bisa sampai di bandung dan kemudian ketika kembali ke jkt, indonesia sudah ganti presiden. hmm, agak aneh juga pak Harto mau mundur dengan baik-baik. hehehe.. πŸ˜€

lagi-lagi indonesia berdarah, entah mengapa persisnya ?
maka kekuasaanpun berganti..

begitulah kekuasaan.
dia selalu meminta harga tuk dibayarkan
semahal apapun itu, dia nyaris tak perduli
selalu ada pihak yang dikorbankan

maka nih.. kalau melihat lagak dan lagu sebagian kita, sebut saja seperti FPI dan sejenisnya, bahkan dengung jihad ada dimana-mana bahkan sampai ke desa-desa terpencil. saya rada-rada nyebut nih. hehehe.. bukan apa-apa. ini sudah berbau kekuasaan. saya menyadari sekali, kekuasaan selalu meminta harga tuk dibayar. bahkan terlalu mahal.

hmm, haruskah islam yang kelak dipertaruhkan? seperti yang sebelum-sebelumnya itu? islam yang di satu sisi adalah institusi agama? kok miris ya membayangkannya. rasanya terlalu mahal tuk dipertaruhkan. tapi sudah mulai nyata di lapangan.. hehehe πŸ˜€

saya tidak sedang berbicara soal kebenaran.
di sini, kebenaran telah menjadi begitu nisbi.
karena sudah saya sadari dan temui,
kebenaran tidak mampu berdiri diantara ego dan pamrih duniawi.

mungkin ini hanya kekhawatiran biasa
di tengah begitu terasa gelora penuh amarah
dari keadaan serba tak jelas arah
dari kekuasaan tanpa kesungguhan rasa
padahal hanya perlu tulus menerima
arti kebersamaan yang apa adanya
dan mari menata dengan lebih nyata
demi masa depan yang jaya

mampukah?

saya hanya berbagi
tak lebih.. πŸ˜€

salam
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

2 Tanggapan to “mahal”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

Duh..Mbak Anis, kayaknya suasana pas kerusuhan Mei itu serem yak? Saya masih SMU pas itu dan di Malang, jadi nggak begitu merhatiin berita (heheheh..abege sok gaul ngakunya :p)

Kebanyakan penguasa itu lupa kalo pada hakikatnya rakyatlah yang benar-benar berkuasa. Dan kalo seseorang sudah memegang sesuatu yang bernama “kekuasaan” jadi lupa kalo sebenernya dia bekerja untuk rakyat, bukan ngeruk keuntungan pribadi.

Minimal, mindset itu yang kudu bener-bener diterapkan dan dihayati oleh para calon pemimpin. Jangan salahkan rakyat kalo nanti ada kudeta karena rakyat nganggep pemimpinnya lupa ngurusin mereka :p

Salam kembali

@darnia
wah.. berarti kita beda jauh nih umurnya ya mbak darnia.. hehehe.
semoga saya ketularan awet muda deh, selalu bersama mbak darnia πŸ˜€

setuju, pemimpin harusnya terbiasa melayani rakyat. dan rasanya itulah kebahagiaan sejati dari seorang pemimpin : membahagiakan rakyatnya. tapi saat ini, kebanyakan kita susah tuk membahagiakan orang lain, apalagi “orang kecil”. entahlah mbak..
yang pasti, memang selalu ada harga yang harus dibayar dan terkadang terlalu mahal.. πŸ™‚


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: