politik-politik-an

Posted on September 10, 2008. Filed under: islam indie |

(dilepas yaa..)

ini cuma itung-itungan ala logika kebo saya ya. sesederhana saya memahami keadaan yang akan saya tulis kali ini. dan tentu ini lahir dari rasa saya yang sangat nasionalis. dalam arti, saya menilai ini dalam kerangka saya. silakan semua di sini pertimbangkan dalam kerangkanya masing-masing.

mari kita belajar berdemokrasi.

sebelumnya,
mari kita lihat rumus dasar negeri kita. bahwa negeri kita ini terbagi atas dua kekuatan besar. kekuatan islam indonesia -karena mayoritas penduduk indonesia beragama islam serta mungkin yang bersimpati pada islam- dan kekuatan nasionalis – yang jelas lebih bisa menampung semua pihak di indonesia- ini sebuah kewajaran loh. idealnya ini bersatu dan bersama-sama membangun indonesia dalam rasa dan bahasa indonesia. seperti ketika indonesia berjuang dan merdeka 17 agustus 1945 dulu..

sehingga nih.. kalau saat ini ada manuver tuk menguasai bahkan menghancurkan indonesia, atau mempertahankan kekuasaannya atas indonesia, ya harus di set tuk menaklukan kedua kekuatan besar ini.

sebut saja, satu tuk menekan islam yang pro nasionalis, ya diciptakan kekuatan islam tandingannya. dalam hal ini jelas islam yang tidak benar-benar berpihak pada kebhinnekaan indonesia. isunya ya pemurnian agama. sementara satu lagi tuk menekan kubu nasionalis, ya dengan segala sesuatu yang bisa mengelabui dan mengurangi rasa nasionalisme kita.

manuver seperti ini akan dan sudah menguat bahkan jauh sebelum jelang pemilu 2009.

sebut saja, gempuran tuk kubu islam pro nasionalis seperti pada kubu GD. maaf ya, kubu GD itu sudah dipeloroti habis-habisan oleh -sebut saja- pemerintah. bahkan dari dalam tubuh kubu GD sendiri. perpecahan yang terjadi sudah menelan banyak kerugian tuk kubu GD.
sementara, ga sampai di situ, islam pro nasionalis seperti muhammadyiah juga harus melawan gempuran dari islam transnasional, yaitu gerakan islam yang selama ini tampil sangat afdhol, militan dan keras. muhammadyiah juga sudah kehilangan orientasi tuh, kalau ga mau dibilang akhirnya terbawa arus juga.

di kubu nasionalis, kita tidak bisa bener-bener melihat mana yang pro rakyat dan pro kepentingannya sendiri. yang pasti, ada kekuatan dan kekuasaan masih ingin abadi menguasai indonesia.

dalam politik, dinamika seperti ini adalah sebuah kewajaran. jadi jangan phobi dengan politik deh. ok? πŸ™‚

dan maaf ya, saya paling tidak suka menyalahkan pihak asing dan mencari kambing hitam.
ini penyakit yang disebarkan di rakyat indonesia deh. sukanya mengkambing hitamkan oranglain, bukan menjawab tantangan yang ada. saya membenci penyakit ini. πŸ˜€

maka ga usahlah menuduh ini ulah amerikalah, inilah, itulah dsbnya. buat saya, mau amerika, mau arab atau mau siapa saja, tidak akan ada yang bisa menguasai indonesia, jika kita – rakyat indonesia ini punya sikap sendiri. dalam kesantunan, kita tetap harus punya jati diri.

jadi ini persoalan internal rakyat indonesia. ini persoalan internal kita sendiri. kita mau menjadi indonesia sejati atau tidak? kita mau bersatu atau dipecah belah?

percaya sama saya, yang menjajah kita selama ini ya bangsa indonesia sendiri. bukan amerika. bukan siapa-siapa. yakni sebagian bangsa indonesia yang —maaf— mau-maunya tunduk pada pihak asing.
saya tidak sepenuhnya menyalahkan mereka loh, ini memang penyakit kurang percaya diri yang bisa menyerang siapa saja sih. hehehe.. πŸ˜€

sebagai pebisnis, pihak asing itu punya kepentingan dg indonesia, itu wajar. dan sebagai pebisnis mereka juga akan melakukan apa saja agar bisnisnya lancar, itu juga wajar. ini berlaku hukum permintaan. berlaku prinsip ekonomi pada umumnya. tapi bukan berarti kita harus terus menerus menuruti kemauan mereka. ya berlakulah sebagai sesama pebinis. nego dan segala sesuatunya, ga perlu ditakuti. semua persoalan bisnis, harus dilihat konteksnya. dan jika ingin diperbaharui, ga mesti main menyalahkan yang sebelumnya.

saya paling tidak suka menghukum sejarah.
kita ga akan maju dengan kebiasaan itu. orde baru itu salahnya banyak, tapi lihat saja. kita melulu menghabiskan energi menghukum orde baru, padahal kebiasaan yang masih ada hingga kini adalah kebiasaan orde baru. maka ga usahlah menghukum sejarah, biar orde baru dengan ordenya, kita dengan orde kita. mana yang harus diperbaiki, bukan melulu dijadikan dosa sejarah, apalagi tuk menjatuhkan lawan politik.

kembali ke topik..

perhatikan, bagaimana habis-habisannya kubu islam pro kebhinekaan indonesia melawan kubu islam tandingannya yang membawa misi pemurnian agama.
saya sangat berempati sekali pada perjuangan saudara-saudara muslim saya yang pro kebhinekaan indonesia. karena saya adalah seorang nasionalis. saya ini beragama tidak dengan mengkhianati keindonesiaan saya. saya mengakui dan menerima sepenuh hati kebhinekaan di indonesia.

dan saya secara pribadi tidak meyakini kalau bentuk negara dan syariat islam adalah yang terbaik tuk indonesia. saya pro pancasila.

tapi karena saya sangat tidak memadai dan tidak diberi kesempatan secara frontal tuk ikut serta membantu saudara-saudara muslim saya yang berjuang melawan gempuran terhadap islam pro kebhinnekaan indonesia, maka yang memungkinkan bagi saya hanyalah memperkuat kesadaran nasionalisme saya saja.

saya tidak akan mengorbankan indonesia kita ini tuk keinginan segelitir orang akan negara islam dan syariat islam. saya ingin indonesia adalah indonesia.

maka saat ini, buat saya bukanlah waktunya berpikir mana yang baik tuk indonesia. atau mana yang terbaik diantara yang buruk tuk indonesia. saat ini semua keadaan dan pilihan adalah buruk tuk indonesia. terancam dis integrasi dari persoalan krisis yang panjang seolah tak ada ujungnya.

maka yang paling mungkin adalah : selamatkan indonesia!
hanya rasa nasionalime kitalah yang bisa menyelamatkan indonesia. selebihnya, perbedaaan bisa dibicarakan dalam kerangka demokrasi.

tuk saya pribadi, sederhananya.. sebagai yang menyadari islam pro indonesia tengah ngos-ngosan saat ini, maka saya tidak akan memilih islam sebagai jalan keluar. biarlah islam itu dengan persoalannya sendiri. saya tidak bisa ikut dalam pusaran konflik islam di indonesia, meski saya beragama islam. biarlah itu sudah ditanggapi oleh jajaran islam pro nasionalis yang memadai ilmu dan kapasitasnya.

kalau saya ingin indonesia berubah, ya sederhananya saya harus inget tuk tidak mengawetkan yang ada. bahkan maaf ya, saya pikir semua ini hanya ulah satu pihak saja. islam telah ditunggangi terlalu jauh tuk melanggengkan kekuasaan di indonesia. karena aslinya islam adalah agama yang damai-damai saja. terbukti toh dalam sejarahnya, kalau islam pernah bisa damai di indonesia, maka menjadikan negeri ini berpenduduk mayoritas muslim. maka yukk kita kembali ke islam yang damai di indonesia dulu itu deh.

ini menurut saya loh.
saya yang nasionalis

saya hanya merasa
mari selamatkan indonesia
jangan masuk dalam konflik agama
yang semakin memecah belah indonesia
mari jaga indonesia
tetap utuh
tetap satu

sekali lagi, ini hanya menurut itung-itungan sederhana saya
saya toh tetap tidak bisa mencegah apa yang ingin di coba jika itu masih diyakini yang terbaik menurut sebagian atau semua di sini. bahkan saya tidak bisa mencegah apa yang semestinya terjadi. ini hanya dari seorang saya..
selebihnya, mari kita belajar berdemokrasi yang sehat di indonesia..

lalu membicarakannya dengan santai,
sambil main catur dan makan kacang kulit
πŸ˜‰

demi indonesia kita bersama!

salam demokrasi!
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

2 Tanggapan to “politik-politik-an”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

Sejatinya, cieee, agama datang membawa kebenaran.
tapi pada prakteknya, justru jadi alasan permusuhan.
padahal korban pertama setiap permusuhan pastilah kebenaran.

binun.co.nr jadinya.

@bang toga
bang.. katanya nih, kita harus sabar memanggul kebenaran, agar tidak jatuh menjadi ego yang mengalahkan kebaikan.

kebenaran sejati adalah misteri yang menjadi milik kala depan, bukan kala sekarang. Karena hakikat beragama adalah kebaikan. Maka, kebenaran tak perlu dipaksakan. Ia boleh tertunda esok hari nanti, asalkan kebaikan memenuhi hari ini..


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: