terawehku – terawehmu

Posted on September 11, 2008. Filed under: islam indie |

(demi mengenang-ngenang.. )

di tahun-tahun awal keislaman, saya pernah melewatinya dengan ditinggal sendirian di sebuah rumah mungil di kawasan belakang PT. Telkom bandung. kota sejuk yang saya suka hingga hari ini. di dekatnya ada sebuah masjid dan saya suka berteraweh di sana. bahkan itulah pelajaran pertama saya teraweh di masjid..

tak banyak yang kenal saya, selain pasangan sepuh induk semang sang empunya kontrakkan itu. saya suka diajaknya bersama-sama teraweh.

segar, itu kesan saya ketika melihat orang berduyun-duyun ke masjid. wajah penuh wudhu’ dan sajadah bergoyang-goyang dibawah berlari. terutama oleh anak-anak yang berlarian berlomba menandai tempat sholatnya. kemudian ibu sepuh itu akan berjumpa dengan kawan-kawannya, dan saya pun akan memisahkan diri. maklum, terlalu sepuh deh gank beliau tuk saya. hehehe 😀

tapi karena saya merasa ketitipan pulang bersama ibu sepuh itu, maka saya suka memilih sholat tak jauh darinya tapi di bagian terbelakang. agar dapat tetap memperhatikan beliau jika sudah selesai sholat, tuk tidak bingung mencari beliau di kerumunan orang banyak selepas waktu teraweh. dan saya suka tuh shaft terbelakang itu. saya jadi dekat dengan shaftnya anak-anak. rasanya itulah yang lebih menarik perhatian saya dari sholat terawihnya sendiri.

bayangkan..
anak-anak itu akan berlomba keras-kerasan teriak : Amiiiiiiiiinnnnnnnn..
setiap al fatihah selesai dibacakan..
lalu seorang akan pura-pura telat mengucapkannya,
sehingga ketika sudah senyap, akan terdengar aminnnn yang tertinggal..
bikin saya senyum-senyum sendiri dalam sholat saya.. 😀

ga cuma itu, berlalu beberapa rakaat, sebelum usai, akan ada adegan tiba-tiba salah seorang memiringkan tubuh ke samping, dan brukkkkkk….!!!
ramai-ramai anak-anak itu terjatuh ketika ruku’.
lagi-lagi saya akan senyum-senyum sendiri dalam ruku’ saya.. 🙂

pastinya akan terdengar peringatan dari siapa saja dan mana saja..
– sttt…stttt… anak-anak jangan ribut!

hehehe, saya suka tersenyum melihat anak-anak itu tiba-tiba kembali serius. ehm-ehm-ehm.
dan apesnya buat saya, suka ada anak yang melihat saya tersenyum dan berkata gini :
– ih.. teteh suka tertawa juga ya..
atau,
– iiiihhhh, teteh juga senyum-senyum nih sholatnya..
hahahaha..

jauh deh dari rasa khusyuk jika khusyuk harus selalu berarti tenang dan tentram.. atau syahdu dsbnya. ah, ga pernah deh rasanya saya terlalu serius. kecuali sedang sholat sendirian. itupun kalau lagi ada maunya. hehehe.. maaf. sama Allah kan ga papa apa adanya toh? 🙂

maka teraweh buat saya lebih banyak makna sosialnya. berinteraksi dan bersama yang lain-lainnya. entah deh kenapa gitu? ga tahu juga. mungkin karena pelajaran pertama saya ttg teraweh di masjid ya melihat anak-anak itu kali yaa? tapi itu berkesan sekali dan membuat saya rajin teraweh ke masjid.

teringat masa kecil, ketika saya berlari-lari ke gereja dekat rumah saya. hehehe, saya dan teman-teman juga suka duduk di belakang. cekikian, cerita ini-itu dan nyaris ga tahu deh apa kutbahnya. kalaupun diingetkan oleh yang duduk terdekat tuk tidak ribut saja, kitapun hanya tahan sebentar. banyak kasak-kusuknya deh. sehingga rasanya saya ke gereja memang bukan tuk ibadah, tapi tuk bahagia. selebihnya ya belajar agamanya di sekolah minggu. 🙂

atau memang begitulah khasnya anak-anak yaa?
dimana saja sama..

maka waktu melihat anak-anak teraweh itu
perasaan saya suka merasa melayang..
seandainya beragama bisa selalu indah seperti anak-anak ya?
alangkah bahagianya..
karena kadang kita yang dewasa ini
tanpa sadar mengecilkan makna ibadah
membuatnya hampa tanpa rasa
hanya kewajiban dan kewajiban belaka

teringat ketika saya membawa mofa teraweh beberapa waktu lalu.
waktu itu papinya belum pulang kantor, sehingga mofa ikut di shaft wanita dekat saya. si mbak dan mbak adhin-nya ya asyik bersama-sama teman-teman dan kelompoknya. mofa kecil ikut-ikutan sholat di samping saya. lalu datanglah seorang anak perempuan mungil yang usianya lebih kecil dari mofa. masih tetangga dekat rumah juga, jadi dia kenal mofa. perlahan, dengan melewati ibu-ibu yang sholat, si mungil mendekati mofa yang sedang serius sok sholat itu.
tiba-tiba di elusnya pipi mofa sambil berkata gini :
– mofa ganteng yaaa…
hehehe, suaranya keras!
ditengah ibu-ibu yang sedang serius mengikuti bacaan alfatihah.
saya ya tersenyum, hehehe 😀
sebagian ibu-ibu malah cekikikan.
– haduhhh… kecil-kecil kok sudah tahu yang ganteng nih..
begitu ujar ibu-ibu selesai rakaat itu.

ah, tuhan..
kau paling pandai membuat manusia tersenyum
kau paling pandai membuat manusia bahagia
sederhana dan penuh canda
buat semua berseri tanpa pamrih

maukah Kau selalu begitu?

tapi sementara di sudut yang lain,
manusia lebih suka membuat manusia yang lain menangis
bahkan ulah itu mengatas namakanMu

maafkan aku..
jika akupun masih manusia yang demikian
kadang aku tak sengaja dan tak benar-benar bisa mengatasi diriku
padahal kutahu bahagia itu lebih indah dari segalanya dalah hidupku
maka maukah kau selalu bahagiakanku?
agar aku bisa selalu bahagiakan sekelilingku?

dan tuhan..
yang paling membuatku menangis
adalah jika aku masih membuatmu sedih..
maafkan aku..

salam
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

2 Tanggapan to “terawehku – terawehmu”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

punten baru ikutan komment lagi sekarang ceu anis…

indah memang kalau kita berhasil mengemas agama sebagai pakaian yang menyejukkan kita, pakaian yang membuat kita dibuat riang mengenakannya…
tentu pakaian yang cocok dengan tubuh kita, yang bisa kita pakai sampai kapan pun juga…

dan yang jelas, bukan pakaian yang membuat orang lain malah jadi membenci kita, entah karena kita embel-embeli pakaian itu dengan hiasan-hiasan kesombongan, hiasan kedengkian, hiasan kebangga dirian, merasa pakaiannya paling bagus, yang lain pasti jelek semua… dapat minjam pula…

dan yang paling indah lagi… hanya anak kecil yang paling suka berpakaian apapun tanpa rasa canggung, tanpa rasa malu, tanpa rasa bangga pula…

dihadapan-Nya, kita menjadi anak kecil… wah saya juga pengen tuh.. ceu anis…
dihadapan-Nya, kita menjadi anak yang patuh, terserah Dia memakaikan kita pakaian jenis apapun, yang penting itu semua akan mengantarkan kita pada sebuah kenyamanan mengenakannya… wah itu yang saya rindukan pula…

dan tentu buat saya akan berat kalau pakaian yang kita pakai, ditambah dengan puluhan embel-embel hiasan yang sebenarnya bukan milik kita.. bukan hak kita…. semisal embel-embel hiasan kedengkian, hiasan kesombongan, hiasan bangga dengan pendapat sendiri, hiasan perdebatan kusir, hiasan keangkuhan.. orang lain harus sepemahaman dengan kita…

wah, pakaian kesederhanaan itu emang mahal ya ceu anis…
kecuali Dia yang ngasih, Dia yang menjualnya…eh, mestinya gratis deng,…!

kita cari yu… pakaian itu..
eh, jangan2 ceu anis udah punya yah…
selamat atuh…
semoga saya jg dapat pakaian semestinya…
amin…

@kang dani
apa kabar kang?
mangga atuh.. kapan saja silakan main ke sini. diantosan.. 🙂

hmm, iya kali yaa.. saya memang seadanya. soalnya ketika saya sok pinter, saya malah salah melulu. apalagi kalau sok sholeh dan orang lain harus seperti saya, wah.. saya malah jadi aneh. atau ketika saya sok dewasa, aduhhhh… gatel, ga tahan mau iseng. saya memang ga kuat pada suatu yang monoton. ga kuat serius terus, juga ga kuat main terus. balance ajalah. kalau lagi mau serius ya serius. kalau lagi mau main, ya main. sesuaikan dan selaraskan diri saja.

maka ya, sudahlah.. seadanya saja. walau belajar mah terus, mikir mah terus, ngambek juga terus, hehehe… terus tumbuh dan berkembang deh.
semoga sehat ya kang dani
dan sehat juga tuk keluarga.. 😀


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: