tulus

Posted on September 12, 2008. Filed under: islam indie |

(dibagi yaa… ini cuma ingin bisa seadanya..)

masihkah kita percaya ada ketulusan dalam hidup ini?

pusing deh rasanya kalau habis menerima email tentang bagaimana sistematiknya program kristensisasi di indonesia. dari tujuan, cara, sampai pertemanan dan pernikahan yang dijadikan jalan tuk kristenisasi..

sama rasa pusingnya dengan membaca bagaimana berislam dan berjihad itu seharusnya. bagaimana perang pemikiran dilakukan dsbnya. termasuk siapa sajalah yang harus diperangi dalam hidup ini.

rasanya capeeeeee deh 😦

bahkan seorang teman bercerita pada saya begini :
– dulu pernah ada cowok kristen yang mendekati saya. wah, orangnya baik. halus tutur kata, dan sikap yang penuh tanggungjawab. rasanya ga ada deh cowok sebaik dia, dalam sejarah saya mengenal cowok. lalu dia menyatakan suka pada saya. dan buntutnya lagi dia mau saya jadi pacarnya. karena katanya berteman dengan saya menyenangkan. ga sampai di situ, dia bahkan rela tuh mengunjungi ibu saya yang jauh di kampung. dan ujungnya nih, dia mau saya seiman dengannya. misionaris sekali kan?? itu kristenisasi!

hmm…

begini yaa..
sebagai seorang yang pernah menjalani pindah agama,
sejujurnya pindah agama itu tidak mudah.
termasuk secara internal dalam diri kita loh. kalau eksternal sih klise pasti mendapat penolakan. itu biasalah.

nah, secara internal tuuh.. disatu sisi saya harus beradaptasi dengan agama baru saya, dan di lain sisi saya juga harus meninggalkan kebiasaan2 saya di agama sebelumnya. ini tuh yang ga mudah..

cerita yaa.. saya nih termasuk yang sangat cepat beradaptasi dengan kebiasaan muslim loh. sebut saja saya jadi jarang abring-abringan dengan cowok atau saya mudah menggunakan jilbab dan busana muslimah. bahkan saya juga termasuk mudah menjalani ibadah dalam islam yang banyak. sholatnya 5 waktu, puasanya, halal haramnya, dsbnya.

seorang teman yang muslim saja sempat salut melihat kecepatan saya beradaptasi dalam islam. dia yang dari kecil muslim saja, mengaku sulit. tapi dia juga ga kaget saya bisa ‘in’ dengan kebiasaan yang kadang terasa super ketat kaya gitu. karena dia tahu, sebelumnya saya ini juga dijaga sangat ketat oleh ibu saya. saya bukan anak yang boleh bergaul sembarangan, saya terbiasa dengan tata krama yang lumayan ketat, saya juga harus sangat sopan dalam berpakaian, kalau ga mau disebut relatif sederhana saja. tidak yang terlalu trendy deh.

dalam hal ibadahpun, sama. sebelumnya saya sendiri adalah anak yang terbiasa di bawa oleh ibu saya ke rumah-rumah ibadah. saya relatif dekat dengan hal-hal berbau ketuhanan. maka kalau saya pernah tidur di masjid itu ga mengherankan buatnya. wong saya suka menghabiskan waktu di rumah ibadah karena nungguin ibu saya melaksanakan peribadatannya.

jadi.. semua keberhasilan saya jadi muslim secara formal itu juga tertolong oleh kebiasaan saya sebelum jadi muslim..

tapi saya akui kok, meski relatif mudah beradaptasi, saya tetap agak kesulitan beradaptasi dengan pemikiran kebanyakan muslim. contoh : saya yang terbiasa melihat tuhan dalam keberagaman agama dalam keluarga saya, sebut saja kristen dan budha, membuat saya -meski mengimani laa ilaha ilallah muhammadar rasulullah-, saya tetap tidak bisa memungkiri kalau saya tahu ada tata cara beragama selain islam. saya menjadi lebih terbuka dari kebanyakan muslim yang dari kecil.

meski di awal keislaman, saya pernah bersama kelompok yang militan dalam islam, itupun tidak bisa merubah sikap saya yang toleran pada keberagaman agama itu. ok, saya sempat mengalami kesulitan menghadapi keluarga saya karena terbawa militan, tapi itu membuat saya merasa kesakitan. rasanya seperti mengkhianati nurani saja. dan sejauh saya memahami islam dalam kapasitas saya, islam itu agama yang toleran kok. ga tahu saya salah memahaminya yaa, entahlah..

maka.. pindah agama itu sungguh tidak mudah..

mungkin seseorang itu bisa merubah fisik keberagamaannya, tapi bagaimana dengan hatinya?
kalau saja hati bisa dibeli? bahkan dalam berumah tanggapun, hati kadang tidak bisa dimiliki seutuhnya.. dia tetap (boleh) memiliki pengembaraannya tersendiri. bahkan dalam kesetiaan, hati tetap berjalan dengan caranya sendiri.. ya ga?

karena manusia adalah makhluk yang tumbuh dan berkembang. bukan makhluk statis

begitu pula dalam beragama..

tante teman saya ada yang masuk katolik karena menikah dengan suaminya yang katolik. tapi ternyata, bertahun berlalu tetap aja tuh selalu berucap : astaghfirullah.. alhamdulillah.. masyaAllah… insyaAllah. bahkan menurut cerita teman, ketika tantenya salah mengambil sesuatu di gereja, yang terceplos : astaghfirullah..
hehehe..

saya mungkin ga sebegitunya ya ketika pindah agama, karena dulu di katolik saya hanya kenal doa bapa kami dan salam maria. di kristen tidak banyak formalitas. sehingga mudah menghilang kebiasaan itu, begitu saya masuk islam. tapi saya menyimpan kenangan ttg sinterklaus, itu iya. atau ketika pertama memiliki tasbih, yang saya inget ya rosario. atau ketika saya pakai jilbab, yang terbayang oleh saya adalah suster-suster saya ketika di katolik. hehehe… πŸ˜€

maka nih.. beragama kadang terasa bukan cuma soal kepercayaan. bukan cuma soal olah raga dalam pengerjaan ibadah. tapi juga soal olah rasa.
ini loh yang tidak semudah membalikkan telapak tangan..

sehingga di mana sih tuhan jika dalam olah rasa ini, manusia kadang sudah terlanjur terbiasa dengan apa yang dilakukannya?
menurut saya sih, tuhan ada di ketulusan..

ketika saya tulus memilih agama ini sebagai agama saya, ya dalam banyak keterbatasan -termasuk olah rasa itu- saya akan berusaha menjalankannya, dari yang terbaik yang saya bisa.
dan maka jika saya pun memilih suami beragama islam, ya saya jalani terbaik yang saya bisa.

sehingga apalah arti dari semua yang berbau ‘misionaris’ itu?
karena pada akhirnya, dalam sejenak terbuai baik oleh kata cinta dan -bahkan katanya- oleh indomie, toh harus tetap ada ketulusan dari mereka yang memang menginginkan agama itu. karena beragama ga sekedar percaya di mulut saja, tapi juga soal percaya dalam rasa.

selebihnya dari ketulusan datanglah totalitas itu dan lahirlah kebaikan itu.

gitu ga sih?

maka temui saya, sangat menghormati setiap insan yang memilih berpindah agama dengan apapun alasannya. dan saya tidak merasa harus terkendala oleh begitu banyak usaha manusia lain dalam menyebarkan kebenaran yang diyakininya selama itu tidak dilakukan dengan pemaksaan dan penganiayaan. selebihnya, saya memilih memberi kesempatan pada setiap manusia tuk belajar mandiri dalam keyakinan dan agamanya masing-masing. dan jika itu adalah yang terbaik bagi kehidupannya, tentu semoga kedepan kita bisa tetap bersama dan banyak berbuat baik dalam keberagaman ini.

ketulusan saya menjalani agama saya adalah juga ketulusan saya tuk semua manusia menjalani agama dan keyakinannya masing-masing.. πŸ˜€

sungguh, saya percaya pada rasa
rasa saya tentang tuhan saya
dan percaya pada rasa tuhan siapapun
termasuk saudara saya yang berbeda agama
karena tuhan ada di rasa
dia tak pernah mampu dibeli dengan harta
bahkan tak pula ditebus dengan nyawa
mungkin dia bisa dibeli di raga
tapi tak akan pernah bisa dipaksa di jiwa
tuhan ada di ketulusan
tuhan ada di kebaikan

salam indie!
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

4 Tanggapan to “tulus”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

OLAH RASA untuk meyakini suatu Agama tertentu sangat2 begitu murahnya kadar keimanan seseorang.Sebab hanya “RASA” yang bekerja didalam hatinya.Nanti untuk melakukan Ibadahnya pun hanya dikendalikan oleh “Rasa”.Rasanya saya mau sholat, Rasanya saya mau Puasa, Rasanya saya mau naik haji, Rasanya saya mau tahajud, Rasanya saya mau Ziarah, Rasanya saya mau berbuat baik.Dan masih banyak Rasa2 yang lain.Lalu gimana Kalo ada seseorang yang minta bantuan kita, Untuk menolongnya??? berarti :”Rasanya saya mau menolong” tapi…. (1 detik kemudian)”Rasanya saya males ah menolong”

wah… subhanallah.. hari Jum’at saya diberkahi ternyata πŸ˜€

Nggak tau kenapa,setelah saya baca postingan Mbak Anis yang ini, kok saya malah iri sama Mbak Anis ya?

Saya iri karena Mbak Anis bisa merasakan nikmatnya menjalankan agama barunya, nikmatnya mengenalnya dan sepertinya (semoga saya gak salah nangkep) antusiasnya gak ilang-ilang πŸ™‚

Saya pingin kayak Mbak Anis. Saya pingin antusiasme saya dalam beribadah gak naik turun. Mbak, jangan bosen2 bagi2 cerita tentang indahnya beribadah sama kami ya…

Syukron, Mbak πŸ™‚

@refly
hehehe, karena saya beragama tidak sekedar dengan dalil-dalil kali ya mas refly. saya membutuhkan sesuatu dalam jiwa saya tuk bener-bener meresapi apa-apa yang saya yakini. yang kemudian melahirkan sebuah dorongan atau -sebut saja- itu : rasa. dari sanalah, saya menjalani pengembaraan keimanan. membuat iman saya ga statis..

sulit menjelaskannya ya, hehehe. ya jelas bukan sekedar rasa-rasa yang di permukaan, seperti rasa lapar, rasa haus dan rasa ingin ini dan itu. sebagaimana bukan sekedar formalitas dan bukan sekedar arogansi. mungkin sebuah hasrat yang dalam dalam berketuhanan kali yaa.. dan ini internal saya. πŸ˜€

@darnia
wah, masa sih mbak? saya biasa saja kok. kadang saya malas, kadang saya rajin. mengalir aja. justru nih, di tengah begitu banyak benturan perbedaan dalam agama, saya menjadi lebih santai. ga seantusias ketika pertama saya pindah agama. hehehe.. sekarang saya seadanya dan semampunya.

malah ada teman yang bilang, dulu saya militan, sekarang saya abangan. hehehe.. saya setuju tuh.
maka mari kita nikmati dan isilah hidup ini sesuai kapasitas kita.. πŸ™‚

Menarik, saya simpan dulu.


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: