indonesia idiot??

Posted on September 14, 2008. Filed under: islam indie |

(dibagi yaa…prihatin tapi nyata nih. yuk, kita lihat.. )

kemarin setelah posting tulisan dekap, saya kedatangan tamu agung. teman waktu masih aktif di pembinaan anak Salman yang menjadi relawan di sebuah desa tertinggal, sebut saja desa X ; Y Selatan – Jawa Barat. maaf tidak disebut nama desanya karena mau saya bahas, hehehe. takut salah paham.

pengen nangis loh mendengarnya..

begini..
desa itu desa tertinggal, hanya memiliki pendidikan sampai SD. maka teman saya dan kelompoknya melakukan survey tuk mencoba memberdayakan kehidupan di sana. ada pertanian, peternakan termasuk tambang rakyat. kelompok teman saya ini ada yang lulusan ITB, dokter dsbnya. meski mereka terpelajar dan lulusan institusi yang luarbiasa tuk sekelas kota, tapi di sana sungguh tidak berlaku.

contoh : pembicaraan dg penduduk setempat, yang sudah diterjemahkan, karena pastinya dalam bahasa sunda πŸ™‚
– bapak ini sekolahnya lulusan mana?
– saya dari ITB, institut teknologi bandung.
– wah, lebih bagus uninus atuh yaa.. universitas nusantara. nusantara kan lebih besar dari bandung.
hehehehe…

yang ITB ini memang agak lucu, tapi tidak dengan ini..
ada penjual bandros (panganan rakyat khas sunda). satu bandros harganya 100 rupiah. maka seribu rupiah dapat 10 bandros. dan dua ribu rupiah dapat 20 bandros.
lalu teman saya membeli seharga 5000 rupiah, maka dapat berapa buah bandros?
penjual bandros malah memberi seadanya.
– loh? kok seadanya..? bukankah 5000 rupiah maka dapat 50 bandros?
ternyata lepas dari hitungan 20, sang penjual bandrosnya sudah tidak ngerti. sudah tidak bisa menghitungnya!
haduhhhh… logikanya mentok sampai hitungan 20.. dan bisa jadi karena rezekinya disana mentok di angka 2000 rupiah. tidak pernah ada yang membeli lebih dari angka itu.

lalu yang lainnya, tuk anak usia smp yang dibimbingnya..
– kalau teteh lahir tahun sekian, maka berapakah umur teteh sekarang?
mereka tidak bisa menjawab… 😦

atau ketika belajar mengukur. hanya tinggal membaca alat ukur tuh. jika 1 meter = 100cm, berapakah tinggimu?
– 8 cm..
hah? kebayang ga sih 8 cm itu semana tingginya?? 😦

atau ketika baru saja mereka mengadakan upacara 17 agustus di lokasi sekolah buatan teman2 para relawan itu, lalu anak-anak desa itupun ditanya..
– nah, tanggal berapakah indonesia merdeka?
iiih.., mereka tidak juga bisa menjawab. padahal barusan kan upacara untuk merayakan kemerdekaan indonesia, kok ga ngeh??

walah, parah yaa…??

katanya.. kalau sekilas, di sekolah terbuka buatan teman-teman relawan itu, anak-anak desa antusias dan tertib melipat tangan di meja. sepertinya siap menerima pelajaran. bikin teman saya merasa bangga melihatnya. tapi konon….., apa yang baru saja diajarkan, trus ditanyakan kembali, mereka tidak bisa menjawab. seolah tidak ada yang nyangkut di otak mereka!

kok bisa sih??

dan akhirnya, teman saya itu mengundang teman lainnya yang psikolog. setelah diadakan tes IQ secara random di wilayah kecamatan itu, hasilnya adalah : 60% dungu cenderung idiot!!
penyebabnya : – kemiskinan, – kurang gizi, – kurang stimulus.

aaarghhh, pengen jerit deh saya mendengarnya.. 😦

trus, sebagaimana di desa, mereka memiliki tokoh agama yang disegani. nah, mereka hanya hafal ayat-ayat qur’an karena dibacakan oleh ajengan atau kyai desanya. tapi tanpa mengolah apa-apa, hanya dituturkan lalu ditiru. asli hanya menerima dan tak bisa mengolah. orang tua mereka juga bukan orang tua yang rajin berbicara dengan anaknya. rata-rata hanya buruh tani dan pengrajin gula aren. pendapatan mereka minim sekali. di potensi tambang rakyatnyapun, mereka hanya mencari emas muda dan timah hitam. tapi itupun minim dan malah menyebabkan kerusakan lingkungan yang sulit tuk diarahkan.

di desa sana, listrik sudah masuk. tapi setiap rumah hanya memiliki satu lampu ukuran 5 watt! karena katanya mereka takut tak mampu membayar listrik. mereka miskin..

trus secara tata krama, juga cenderung buruk. ga ngerti adab!
contoh : mereka diajari tuk meminta izin dulu jika ingin mengambil buah-buahan yang ditanam di wilayah tanah garapan teman2 saya itu. e.. penduduk setempat itu lebih memilih mencuri daripada bilang dulu. karena katanya malu.
loh?

kemudian seperti diajari pamit cium tangan pada ortu sebelum berangkat sekolah, e.. ortunya malah ga pada mau di cium tangannya atau anaknya pamit sekolah, katanya – malu-maluin.
atau kalau lagi panen, maka anak-anak itu tidak diizinkan sekolah oleh ortunya, malah disuruh membantu di sawah. atau kalaupun boleh sekolah, sambil membawa dan mengasuh adiknya karena ibunya bantu panen di sawah. kata teman saya kadang adiknya pup di sekolah dsbnya, maka kapan belajarnya??

halahh.. mereka bodoh sekali, begitu kata teman saya. cape deh ngajarinnya. makan ati.

saya sempat heran, bukankah masyarakat desa cenderung masih mengerti unggah-ungguh atau tata krama? jawab teman saya, ada nilai-nilai yang hilang dan berganti kebiasaan buruk sejak banyak dari mereka ber-urbanisasi ke kota. di kota mereka mentok hanya jadi pedagang asongan. bergaul di terminal dan bersama preman. maka ketika pulang kampung, para urban ini membawa pengaruh kota yang sebatas pergaulan terminal itu ke desanya. sementara buat saudara mereka di desa, yang pulang dari kota itu adalah keren. belum lagi pengaruh televisi. mereka itu telan bulat-bulat saja.
maka jauh deh dari pikiran kita ttg desa indonesia yang indah dan baik hati.

trus mereka nikah di usia lulus SD. kawin cerai marak. seorang wanita bahkan kawin cerai hingga 4-5 kali. sampai lupa, ini anak dari bapaknya yang mana yaa??
bahkan ada satu desa yang perempuan semua. itu biasanya, adalah para istri yang ditinggal suaminya menjadi pedagang asongan di kota. lalu ada desa yang lelaki semua. ini desa yang berisi para suami yang istrinya jadi TKW. dan banyak TKW yang pulang lalu jadi gila di kampung itu. bayangkan, pulang-pulang dari negeri sebrang, yang didapatkan anaknya busung lapar dan suami sudah beristri lagi. uang yang dikirimi dari hasil kerja nun jauh di sana, habis tak ada bekasnya. jadilah stress dan sakit jiwa.

oya, kata teman saya, adalah wajar kalau para TKI kita dianiaya di negeri sebrang. mereka memang bodoh dan bebal. bisa jadi para majikannya juga kesal ga karuan. wong, teman saya itu saja mengaku makan ati.

aduh.. 😦

lalu istri teman saya cerita, dia mengajari mata pelajaran kesenian. wah, penduduk desa itu memang penggemar dangdut ya. tapi masa sih nyanyi lagu Indonesia Raya terdengar seperti lagunya evi tamala.. cengkoknya dangdut! jadi mau lagu apapun, jadinya mendadak dangdut semua! pusingggg…

halahhh..??

belum lagi persoalan korupsi. di desa lebih gila-gilaan!
sebut saja gaji guru PNS disana 1,5 jt kok sebulan. tapi jauh dari dedikasi pada dunia pendidikan. bahkan tak jarang gedung kelas terkunci dan gurunya tidak ada ditempat. sehingga anak-anak tidak bisa belajar dalam kelas. belum lagi dana bantuan spt dana BOS yang dipotong oleh aparat desa setempat. PNS yang nota bene sarjana loh yang korup. itu waktu teman saya masih membantu ngajar honorer di SD setempat. gaji dia sebagai guru honorer 600 ribu, se-ta-hun! itupun masih dipotong ini itu tuk birokrasi. 😦

sesudah teman saya itu membuat smp terbuka dan menginduk pada Depag, harusnya mereka mendapat dana bantuan dari pemerintah, sebut saja sejumlah 15 jt tuk mesin jahit demi pemberdayaan anak-anak. lah, dipotong oleh birokrat desa hanya jadi 10 jt. wah, banyak banget ditilepnya??
itu masih mending katanya. ketika tahun berikutnya teman2 saya itu lupa meminta, e… ga dikasih sama sekali dana yang harusnya ada setiap tahun itu. alias dimakan sendirian oleh oknum. bahkan nih, kalau ada tes UN atau persamaan yang diminta oleh diknas setingkat bupati, para oknum ini asal ambil orang tuk ikut tes. asal demi terselenggara saja tes persamaan dan yang penting : dananya turun.

haduhhh.. buruk banget ya mentalnya??

pemilihan kades pun banyak yang berbau politik uang. ceritanya, karena sering berbenturan dengan birokrasi, demi perubahan teman saya dan kelompoknya, mendukung salah seorang dari mereka tuk masuk birokrasi desa itu. mereka dijegal dengan alasan bukan penduduk asli setempat. merekapun mendekati ulama setempatpun, e.. ulamapun bisa dibeli hanya dg satu buah handphone oleh saingannya!
komentar teman saya : yeeey, kita2 kan juga urang sunda. Dede Yusuf dan Heriyawan itu juga bisa jadi bisa gubernur Jabar dengan KTPnya jakarta loh? ah, sedih deh katanya.

tuk yang setingkat lebih tinggi lagi, teman saya dan kelompoknya itu mencoba ikutan mendukung seseorang yang dirasa bagus deh. tapi calon ini ga punya banyak uang. maka datanglah teman saya itu ke sebuah partai islam yang selama ini terkenal sholeh, bersih dan visi islamnya bagus banget. eee.. kata ketua DPC partai itu, – kami bersedia, asal ada uang 6 M!!
hah?? komentar teman saya, padahal… padahal… padahal.. partai itukan terkesan bagus islamnya. tapi apa????

hehehe, kalau soal partai itu, dari dulu saya mah sudah say : NO! πŸ˜€

berat yaa…
dan idiot..??
saya tertegun loh, idiotkah bangsa kita ini?

teman saya sampai bilang, kalau kita mau maju, harus hilang dulu deh satu generasi ini. mereka sudah terlanjur rusak.

wah, masa sih kita mendoakan bangsa kita seperti itu yaa?? saya ga tega. 😦

tapi ini memang nyata. saya tahu teman saya tidak mungkin berbohong. ini kenyataan mereka di desa itu. si mbak yang kerja di rumah juga pernah cerita ttg desanya, yang ah.. remajanya mulai cenderung bodoh. maka saya berusaha memacu si mbak tuk belajar ini itu. dan catat ya, desa si mbak, masih di pulau Jawa. desa yang digarap teman saya itu, di Jawa Barat, ga jauh dari Jakarta, ibukota negara ini. nah, itu saja sudah begitu buruknya. bagaimana di daerah lain di indonesia yang luas ini???

hmm, ini ga lagi a child called it deh..
tapi a nation called it!

bangsa ini telah lama dibiarkan begitu saja, tidak diurus dan hanya di indentikkan dengan segala yang buruk-buruk saja. mari kita berpikir positif deh ttg bangsa kita, agar kita tidak turut terus memburuk keadaan, tapi agar termotivasi minimal mempositifkan energi di sekitar kita.

nah, seperti di tulisan saya ‘dekap’. pendampingan dari teman saya dan kelompoknya di desa itu, bersifat perorangan dan parsial. dan itu tuh sulit sekali mengingat sering terbentur oleh birokrasi setempat dan pendanaan yang seadanya. karena selama ini, mereka hanya berawal dari kesadaran bersama-sama saja. harus sudah dilawan setara lembaga deh. pendampingannya harus sekelas lembaga dan langsung pada murid-murid di sana. harus ditulari kebiasaan baik dan itu berkesinambungan.

lalu di setiap karakter desa, pendidikan harus sarat muatan lokal dari keseharian mereka. agar pendidikan menjadi solusi hidup mereka. sebut saja desa dengan budaya pertanian ya lebih banyak materi yang dikembangkan lewat pertanian. begitu juga desa nelayan, desa pengrajin batik, dst-dstnya. kembali ke alamnya deh, indonesia jangan meninggalkan keaslian budaya rakyatnya. trus mungkin saja ada satu atau lima anak yang memang cerdas sehingga bisa melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih baik, bahkan ikut berkompetisi di kota. teman saya menemukan satu anak yang pinter di kecamatan itu, dalam tiga bulan di bimbing sudah bisa menang juara lomba matematika tingkat kabupaten.

dan selebihnya, kembali ke agraris dan maritim ini juga tuk nilai jual baru tuk Indonesia. jangan cuma mengandalkan sektor minyak, industri, properti dan yang selama ini aja deh. ya ga?

oya, bayangkan. teman saya itu dari desa terpencil itu ke bandung bahkan lalu dilanjutkan ke bogor, hanya dengan motor. itupun membawa istri dan dua anaknya. disatu sisi saya salut dan bangga, sangat penuh apresiasi deh atas kegigihan dan perjuangannya. tapi di satu sisi, saya realistis- ingin juga melihat kehidupan teman saya itu membaik secara materi.

huahhhh!!
dimana presidenmu wahai negeriku??
betapa para pemimpin itu telah memberi contoh sangat buruk selama ini!
kalian mengaku pinter hanya tuk korupsi??
higs.. indonesiaku sayang, indonesiaku malang
😦

dan teman saya setuju dengan saya, bukan agama solusi dari keadaan buruk ini, tapi NASIONALISME!!

dan masihkah harus dipertanyakan??

tuhan, tolong bangsa dan negaraku dong.. plisss..
aku berlutut dan sujud padaMu, aku mohon.. plisss.. higs 😦

salam
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

33 Tanggapan to “indonesia idiot??”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

Duh, saya kok jadi nelangsa baca ini ya mbak? Sudah seburuk inikah kondisinya?

hey kakak…

kakak dulu aktif di PAS kah??
hey..heyy aku juga…
aku aktif di semester 41…
(FYI, sekarang semster 48 maybe..)
salam kenal, peluk dan sayang yah

kakakku…

aku, blogrolling yah??
-btw, aku print tulisan ini,,, nanti aku komengnya—

@mas dana
sulit percaya yaa?? selama mendengarkannya saya juga percaya ga percaya, kalau ga inget teman saya itu adalah orang yang sudah 8 tahun ini berjuang di sana. terlebih setelah memilih menetap selama 4 tahun belakangan ini, sehingga mengetahui sekali warna kehidupan di sana.
tega ga tega juga tuh..

oya, pesannya malah : hati-hati – banyak proyek fiktif dari beberapa LSM yang minta dana ke pusat atau swasta. padahal tidak ada bentuk rupanya di lapangan. duh, bener-bener hancur deh rasanya hati ini 😦

teman saya itu saja, akhirnya mengalah dan memilih menitipkan anaknya sekolah di bogor, di neneknya. mengingat anaknya hanya bisa sekolah ke SD terdekat di kecamatan itu 2-3 kali seminggu. saking jauhnya dan buruknya jalan yang ada. selebihnya, mereka menerapkan home schooling tuk anaknya. tapi lama-lama kasian, anaknya sendiri butuh sosialisasi.

saya sendiri pernah membantu teman yang psikolog, mengambil data termasuk tes kecerdasan tuk penjurusan anak SMA PGRI -sekian- di kota bogor. aduhhh, hasilnya minim sekali mas dana, walau ya kita tahu sendiri deh yang namanya bukan SMA unggulan. tapi bogor kan masih kota…

ada yang harus serius dibenahi deh dari negara kita ini. semoga bisa.. πŸ™‚

@tanteangga
wah, aktif semester 41? saya semester 16. berarti kita bedanya 25 semester alias 12,5 tahun?? jauh yaaa.. salam kenal kak, peluk sayang juga. terimakasih dah mampir ke sini πŸ˜€

Hmm, sama dengan kata misuaku, negara ini baru bisa bagus kalo hilang satu generasi. Ekstrimnya, ditembakin aja katanya yang korup-korup, hahaha, ekstrimis yah, hehe….

Mungkin pendapat saya akan terkesan bermimpi yak? Tapi, kayaknya hal-hal yang ditulis Mbak Anis itu memang sudah kenyataannya seperti itu. Mencoba memperbaiki/ mengobati jauh lebih susah daripada mencegah. Memperbaiki mental bangsa yang SEKARANG sudah bobrok ini juga (dengan cerminan kondisi yang digambarkan Mbak Anis di atas)ibarat menanam rumput di padang pasir. Tapi oase pasti masih tersedia, Mbak…

Ada generasi setelah ini, yang masih mampu dibina (tuh kan kayak orang mimpi). Mereka mungkin masih bisa diarahkan untuk jadi gak terlalu “idiot”. Banyak juga kan generasi muda kita yang masih mau mikir dan mau care soal pendidikan di negara ini.

Niat dan doa memang fondasi yang kuat, tapi lebih baik lagi klo kita take action πŸ˜‰ Benahi mental and go….!!!!

parah banget..

Istilah ‘polos’ dan ‘lugu’ pada rakyat desa sudah berubah negatif. ‘Bodoh’ dan ‘Idiot’. Sementara pemimpin yang sedikit pinter sibuk korup mengambil untung dari ‘kepolosan’ mereka.

Salut buat temennya bu Anis. Bisa betah bertahan disana. Orang2 seperti beliaulah yang bisa merubah bangsa ini. Doa saya untuk mereka..

ya emang begitu

saya tau krn pernah ngalamin ama temen2 nginap bbrp hari ke desa2 yg jauuuuh…. pisan dr bandung (pokoknya, motor pun gak bisa nyampe deh), ya… kisahnya gak jauh2 dr itu. Ini masih di seputaran Bandung yg banyak PT top, lhah bisa dibayangin gimana idiotnya sodara2 kita di luar jawa sana? aaaargh……….

seburuk2-nya kualitas dan perilaku orang2 kampung itu, toh mereka “dipaksa” jadi begitu. kemiskinan yang diwariskan turun-temurun, keterbelakangan yang tak pernah dipikirkan (apalagi dibenahi) oleh negaranya dsb…

kacaunya, kita temukan pula perilaku yang lebih buruk lagi di kalangan atas, termasuk para pejabat yang semestinya bertanggung jawab terhadap keterbelakangan tadi.

hidup mereka jadi serba kekurangan, karena hak-haknya dirampas oleh saudaranya sendiri, yang lantas hidup serba berlebihan.

sebenarnya yang di kota (pinggir sih) juga ngga kalah parah. setiap tes masuk kerja (sekarang mungkin sudah diatas 3000an yang dites), saya selalu instruksikan untuk tes baca AlQur’an. ternyata di atas 50% buruk dan tidak bisa mengaji. bahkan ada yang nyerah sebelum di suruh. bahkan yang lebih parah lagi ada yang jawab salah satu rukun iman itu iman kepada kedua orang tua…???
eh belok sedikit, bloger di bandung butuh dukungan
http://trendibandung.wordpress.com/2008/09/15/bloger-jangan-kalah-dua-kali/

Artikel anda:

http://pemerintahan-indonesia.infogue.com/
http://pemerintahan-indonesia.infogue.com/indonesia_idiot_

promosikan artikel anda di infoGue.com. Telah tersedia widget shareGue dan pilihan widget lainnya serta nikmati fitur info cinema untuk para netter Indonesia. Salam!

wah, masih mending komunis ternyata…
hehehe

@tito
wah,jangan komunis ah mas..
terbukti komunis juga tidak menjawab permasalahan kok. china dan rusia saja -mau tak mau- harus mereformasi diri.

saya justru masih merasa tertantang dengan Pancasila. masih perlu pembuktian sekali lagi, setelah pancasila pernah di manipulasi rezim soeharto. saya masih optimis dengan pancasila deh. hehehe πŸ˜€

jadi pengen nangis.. saya prihatin banget jadinya. parah banget kondisinya, ga nyangka yang negara yang seluas ini pun pikiran masyarakatnya sempit banget.

@Izma
iya mbak, memang miris nih..
yukk, kita sama-sama perbaiki negeri kita, dalam kapasitas kita.. πŸ˜€

duh..miris sekali membaca tulisannya..
sayangnya yang ditulis itu negeri kita..
tugas kita bukan mendengarkan sebenarnya,
tapi berbuat sesuatu!

kuncinya: kemiskinan

kasihan yah ternyata mereka nyata adanya dan bagian dari bangsa ini.

eh, harusnya bangga (karena kan jarang2 ada ‘species’ seperti mereka, mesti dilestarikan?!) atau malah harus senang (karena saya bukan termasuk ‘species’ mereka?!)

@mbak wyd
hahaha, kita ihat nih… katanya gaji guru PNS naik, bahkan minimal 2 jt. apakah bisa mendongkrak kinerja guru PNS di desa-desa tertinggal? pada akhirnya, guru adalah ujung tombak persoalan pendidikan ini. ya ga?

elemen negeri ini butuh pendampingan. butuh supervisi.. dari mereka yang terbukti handal dan berdedikasi tinggi. dalam bahasa agamanya mah, bangsa ini butuh uswatun hasanah. butuh contoh yang baik.. hehehe πŸ™‚
dan ini terus menerus dan harus telaten. istiqomah atau berkonsistensi tinggi. ciee..
kayanya mbak wyd yang guru nih yang lebih bisa menjawabnya dari saya, gitu ga sih? πŸ˜€

kalau anak2 sekolah tuh cuma ngelihat gurunya dan cuma berada di lingkungannya saban hari, mungkin saya setuju kalau tanggung jawab pendidikan bangsa ini dilimpahkan sepenuhnya di pundak guru. masalahnya… sehari ada 24 jam, dikurangi tidur 7-8 jam dan kegiatan belajar 6 jam (atau sampai 8 jam buat sekolah tertentu)dan sisanya… sekitar 8-10 jam?
jadi semua dari kita yang ngerasa bisa memberi contoh meski dalam bentuk amat sangat kecil, baiknya kita lakukan. sebagai bentuk tanggung jawab thd anak2 muda yang bakalan mengambil tongkat estafet kita kan, mbak?

di desa2 tertinggal jarang banget ada sma atau guru pns. mungkin karena agak sulit bagi pemerintah mengatur pembayaran gaji bulanannya.

@wyd
gini-gini saya pernah jadi guru tembak di salman al farisi bandung ketika yayasannya mengalami masalah mbak. saya merasa guru bisa merupakan figur tertentu pula, selama guru itu asyik..
kadang ketika anak dan ortu “bermasalah”.. apalagi di daerah tertinggal gitu, dimana ortu mereka hanya sekedar tani dan bahkan buta huruf maka figur guru bisa turut memberikan inspirasi. walau tentu tidak untuk melecehkan keadaan ortunya yaa..

tapi memberi dorongan bagi murid tuk menyukai pendidikan.
saya pernah cerita deh di sini, ada seorang murid kelas 1 SD yang dekat dengan saya, malah meminta saya menjadi istri pamannya. hehehe, semata agar bisa bersaudara dan sering bertemu.. ada-ada saja.

bukan ge-er tapi justru saya merasa kalau guru bisa deh memberi inspirasi. walau waktu pertemuan itu sedikit sekali. saya pribadi juga merasa lebih terbangun pribadinya oleh guru dan sekolah saya, terutama SD. karena saat itu ortu saya sedang mengalami banyak benturan di dalam kehidupannya. selebihnya tuk kondisi kita yang di perkotaan sih, bentuk kemitraan guru /sekolah dan ortu banyak diselenggarakan tuk menunjang program pendidikan. seperti bukom, POMG dsbnya.

dan secara umum, bangsa kita memang tengah kehilangan figur-figur terpercaya yang mampu menginspirasi sampai ke skala berbangsa dan bernegara kok mbak wyd. ya ga?

setuju. saya amati memang banyak kendala soal guru di daerah tertinggal ini. ga cuma masalah pembayaran gaji, termasuk soal sederhana yakni transportasi. kondisi jalan yang rusak, sulit dijangkau membuat guru ‘malas’ atau terkendala tuk ke desa tertinggal. sistem ini harusnya bisa dipikirkan lebih dalam oleh pemerintah dengan lebih terintegrasi deh.

doo.. ga tahu ah. hehehe.. cuma selintas pikiran..

aduch ekstrim banget dech menyebut idiot, bukankah masih ada kategori lain : moron atau debil. kalau idiot nggak bisa cari uang dong akh.
saya kira agama masih merupakan solusi yang tepat untuk mengatasi masalah ini. nasionalisme tanpa didasari nilai-nilai agama hanyalah idealis buta,
bagi saya yang merusak intelektual bangsa ini adalah kepentingan politik. yang hanya mewujudkan platform-platform partainya. ingat vox populi vox dei. ya khan mbak anis , kepentingan rakyat adalah yang utama. Apa mereka sudah lupa kalau sudah disinggasana ?

Hwa…

Gmana nasib bgsa kta 20 thun lgi ya…

Bsakah indonesia berubah jdi bgsa takut akan Allah …

Mari sama2 mendoakan bgsa kta, mdoakan para pemimpin dan generasi berikutnya…

Saya mau nanya mank mreka lbih milih bli tv dri pada lampu ya…
Kan tdi ktana mreka telan bulat2 dri tv

@sa3
yup, demikianlah.. meski tv tidak berwarna, tuk orang desa tv itu hiburan dan teknologi. mengalahkan dongeng tua dari budaya tutur kita ttg timun mas, si kancil dan buaya dsbnya. karena alih-alih tuk mendongeng, membacapun mereka tak terpikirkan.. taunya yang dilihat aja deh.

semua telah dibuai kebendaan..

kemarin saya mampir ke blognya Gus Mus, isengg. di sana ada tulisan beliau yang bilang gini : dulu pak karno itu suka membaca, maka rakyatnya juga suka membaca. concern soekarno pada pendidikan tinggi sekali.

tapi diejek oleh komen yang bilang : wah, gus.. soeharto gila harta dan korupsi, maka semua rakyatnya jadi gila harta dan korupsi yaa???

lah sekarang sby sukanya jaga imej kaya seleb, maka wajar kali dimana-mana rakyatnya jadi lebih milih jaga imej, pasang foto dimana-mana dan kaya seleb. hehehe..
ada-ada aja deh.

bangsa kita emang masih di level guru kencing berdiri murid kencing berlari. belum menjadi bangsa yang kritis, mandiri dan berani menjadi diri sendiri. belum berjati diri sejati. ciee.. πŸ™‚

Kebodohan dan kemiskinan, itulah potret negeri ini. Herannya, fpi diam saja melihat kejadian seperti ini. kenapa mereka gak bantu tkw yang diperkosa, dihamili, dianiaya dan diperlakukan seperti binatang itu. apa mereka bisu dan tuli kalau pelaku kejahatan itu adalah kaum mereka sendiri.

@Priyadi Soeprapto
salam kenal mas Priyadi.
memang masih demikianlah wajah indonesia kita..
beragama hanya angan-angan ttg kejayaan, bukan kenyataan tentang kebaikan.. πŸ˜€

jadi kalo ada random sampling prang indonesia yg idiot, maka yg dijadikan sample itu pasti anda salah satunya, karena berbahasa Indonesia tapi anda berpikir indonesia idiot? jadi anda pasti orang yg idiot? betul? he he he

but anyway, saya setuju dengan anda.. “bukan agama solusi dari keadaan buruk ini, tapi NASIONALISME!!”

Tribas
http://tribas.wordpress.com

@Tri Basoeki Soelisvichyanto
wah, ga teliti tuh..
di tulisannya kan saya bilang, hasil randomnya DUNGGU – cenderung idiot..
ya sudah, “Indonesia Dunggu” aja gitu judulnya? πŸ˜€

apalah arti sebuah judul atau nama mbak?
yang jelas, saya prihatin sekali
dan kalau saya dinilai idiot, maka apakah harus si idiot lagi yang peduli soal ini?

maka jadi bener dong, banyak manusianya yang bergelar tapi tak maju-maju negeri ini.
ga ada empati sih.. hehehehe πŸ˜›

sudahlah, mari perkuat nasionalisme kita yang tanpa embel-embel. ya ga?

Tidak harus dipandang dikotomi antara Agama
(Islam) dengan nasionalisme. Saya percaya, bangsa Indonesia masih harus banyak berbenah, terutama masalah pendidikan. Seberapapun potensi kita mari ikhtiar buat pendidikan yang murah untuk bangsa ini. Jangan ikut-ikutan standar internasional, buat apa kalo hanya menyengsarakan rakyat? Masalahnya bukan internasionalnya, namun kesejahteraan rakyat adalah hal utama. Semoga semkin banyak sarjana yang peduli dengan pendidikan umat/rakyat. Mari fastabiqulkhoirot dalam masalah pendidikan murah berkualitas. Selamat berjuang

@anwar tribowo
beragama sampai level refleksi itu butuh waktu mas. kebanyakan orang memang terjebak di bentuknya.
maka kadang sejarah seperti berulang, padahal manusianya yang mengulang sejarah. keterbatasan atau kemalasan? ketidaksempurnaan atau kesengajaan? manusia memang kadang pelupa.. dan ngotot sendiri.

soal standar internasional memang perlu di cermati dengan hati-hati, jangan melulu sok luar negeri padahal kemampuan masih kelas teri. salah-salah malah jadi senjata makan tuan sendiri. padahal ini bisa menyangkut nasib banyak produk dalam negeri kita. lebih indah jika pelan-pelan tapi pasti kali yaa mas.. πŸ˜€

nama domain saya mirip dengan ini, idiotnesia.

The Scoolboyz – Indonesian Idiot

“Indonesian Idiot”

Don’t want to be an Indonesian idiot.

Don’t want a nation under the new media

And can you hear the sound of hysteria?

The subliminal mind fuck indonesian.

Welcome to a new kind of tension.

All across the alien nation.

Where everything isn’t meant to be okay.

Television dreams of tomorrow.

We’re not the ones who’re meant to follow.

For that’s enough to argue.

Well maybe I’m the faggot Indonesia.

I’m not a part of a redneck agenda.

Now everybody do the propaganda.

And sing along to the age of paranoia.

Welcome to a new kind of tension.

All across the alien nation.

Where everything isn’t meant to be okay.

Television dreams of tomorrow.

We’re not the ones who’re meant to follow.

For that’s enough to argue.

Don’t want to be an Indonesian idiot.

One nation controlled by the media.

Information age of hysteria.

It’s calling out to idiot indonesian.

Welcome to a new kind of tension.

All across the alien nation.

Where everything isn’t meant to be okay.

Television dreams of tomorrow.

We’re not the ones who’re meant to follow.

For that’s enough to argue.

hmmmmmm…….?????

indonesia oh indonesia…

Sudah kuduga, tapi lihat sisi positifnya, makin banyak orng seperti ini maka Indonesia lebih gampang diatur, dan yg paling penting kondisi seperti ini akan menarik investor asing karena mereka tau mereka bisa mendapatkan calon pekerja dengan harga murah yang gampang diatur dan setia, karena dalam mencari karyawan kita butuh 3 kualitas: integritas, kecerdasan, dan energi yg paling penting adalah integritas karena jika tidak memiliki integritas yg lainnya bisa membunuh anda


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: