solusi : mari bercinta..

Posted on September 15, 2008. Filed under: islam indie |

(hah? bercinta? siang-siang gini? puasa-puasa gini? hihihi 😉 )

pokoknya, saya ngotot mau bercinta nih.. saat ini juga!
saya pikir inilah solusi buat kita di indonesia saat ini.
eittts, baca dulu.. 😛

begini,
sering kita dengar, seseorang yang mencinta itu begitu ingin memiliki apa dan siapa gerangan yang dicintainya. lazim toh?
itu cinta manusiawi. tidak salah dan sangat benar.

lalu kemudian, adalah mereka yang mencinta dengan kesadaran tuk merelakan apapun kebahagiaan bagi yang dicintainya.
ck-ck-ck.. ini luarbiasa dan nyata loh. sebagian bisa kok demikian.

tapi tunggu dulu, bukan berarti begitulah cinta yang mulia atau cinta sejati itu. kalau itulah kesejatian, kesannya cinta yang demikian jadi terlalu tinggi dan tak terjangkau oleh saya, hehehe -sebut saja- si manusia biasa ini.
maka saya lebih suka menyebutnya mencinta dengan kedewasaan. cieee. demi terjangkau oleh kemampuan saya. lah, kalau dewasa, cepat atau lambat, saya – si manusia biasa ini- akan bisa mencapainya kan seiring dengan banyak waktu dan ujian hidup tuk menjadi dewasa itu. ya ga?

tapi bahwa cinta yang dewasa itu pastinya bukan mustahil dan bukan tidak mungkin, terutama bagi saya -si manusia biasa-biasa saja ini- tuk bisa melakoninya bahkan memberikannya. itu iya kan???

memberikan cinta tanpa ingin memilikinya bahkan tanpa menginginkannya kembali sebagai cinta..

***

sebut saja, teman saya yang relawan itu.
dia itu memiliki semangat tak kenal letih karena tuhan ada dalam visi dan misi hidupnya. tak cuma dia, yang sebut saja berlatar belakang muslim. teman saya yang lain, bercerita ttg temannya melakukan hal yang sama – menjadi relawan- di sebuah kota terpencil dan dibawah miskin, yang mayoritas non muslim dan teman itu adalah seorang pendeta.

saya mau bilang, selalu ada tuhan dalam setiap misi kemanusiaan.

tapi sering yang menjadi persoalan, apakah kemudian misi kemanusiaan itu harus menjadi sasaran dakwah dan misionaris? yang -maaf ya- hingga saat ini, masih saja dijadikan alat tuk saling serang menyerang dan memecah belah keberagaman -terutama agama- di indonesia?

tadi pagi saya habis asyik berselancar..
ke blog yang mengupas siasat penipuan pada umat islam berkedok mualaf. mereka -non muslim- pura-pura masuk islam tuk mendapatkan simpati dan berjualan ayat-ayat pada umat islam. bahkan ditemukan kekhasan modus operandinya.
lalu juga menemukan blog yang bercerita bagaimana sebuah organisasi/partai islam, masuk ke kelompok non muslim, mencari simpati dan perlahan mengislamkan wilayah tersebut. seperti dengan melarang menjual makanan dari babi, karena di islam babi itu haram. perlahan tapi pasti, islamisasi terjadi di sana. statuspun menjadi waspada bagi kelompok islam itu.

walahhhh.. berseteru melulu. keburu indonesia semua idiot deh.. gitu ga sih? hehehe.

gambaran “indonesia sekarat” yang ditemukan teman saya dan saya yakin banyak juga semua di sini ketahui, seperti oleh mas JM, dan bahkan juga banyak di tayangan televisi, adalah sebuah potret ironi bagi bangsa ini. kemiskinan terstruktur -kata bang toga-, telah di semai dan dibiarkan berlarut-larut di negeri kita.
pemimpin bahkan membiarkan perseteruan atas nama agama tumbuh kembang sepanjang masa hanya tuk bisa mempertahankan status quo, berupa kebodohan bangsa ini, demi rupaih-rupiah di kantungnya.

haruskah kita diam saja?

tentu tidak bisa. -seperti kata mbak darnia- kita harus bisa mengatasi ini dan saya optimis bisa kalau kita dewasa!
dewasa, itulah syaratnya. dewasa tidak menyoal umur ya, tapi menyoal sikap.

saya ga merasa kita perlu syarat dari langit tuk membangun negeri kita tercinta ini. ttg cinta sejati yang konon hanya tuhanlah itu artinya. haduhhh.. kelamaan deh manusia tuk mencapai itu. walau saya tidak memungkirinya, dan saya yakin bisa. tapi saya ga mau kesadaran kesejatian malah terbentur oleh seteru berbau agama, hanya karena tuhanlah yang dibawa-bawa.

maka temukan saya membumi saja deh.
ga usah terlalu sok bawa-bawa tuhan. tapi biarlah tuhan berkarya dengan sendirinya lewat kesadaran kita. dan itu yang dinamakan bersikap dewasa. hehehe.. sederhanakan saja. 😀

karena indonesia tidak lagi bisa menunggu terlalu lama. kebodohan ini sudah terjangkit di banyak daerah dan sudah perlu ditolong dengan nyata. kalaupun tidak perlu ditolong tapi minimal di biasakan dan dibangun kesadaran tuk kemudian bisa menjadi sikap nyata deh. ya ga?

maka pemberdayaan seluruh manusia indonesia, harus diawali dengan mau menerima kebhinnekaan ini dengan nyata juga.

bahwa misalnya kalau saya menolong manusia lainnya, ya itu karena dia manusia spt saya. bukan berharap dia jadi muslim atau jadi seagama dengan saya. dakwah atau misionaris itu jangan lagi dijadikan kendala bagi kita membangun indonesia secara bersama-sama.

saya salut tuk sebagian besar teman yang akhirnya memiliki pemahaman pluralis, yang bahkan sampai menyatakan semua agama sama. saya terima pandangan itu, bahkan saya juga sangat mendalaminya. tapi saya tidak suka membicarakannya di level yang bukan kapasitas tuk itu. pemahaman seperti itu akan menimbulkan pertanyaan yang terlalu banyak, dan ujung-ujungnya menghabiskan energi juga dan menciptakan polemik di satu sisinya. saya pribadi lebih suka memulainya dari dan sampai ke skala sikap. bukan cuma wacana saja.

saya lebih suka bersikap dewasa.
bahkan saya lebih suka bersikap asli indonesia.
apa sih sikap asli indonesia itu?

bhinneka tunggal ika, tan hana dharma wangrwa.
berbeda-beda tetap satu juga dan tidak ada kebenaran yang mendua.

lah, iyalah..

sebut saja, berbuat kebaikan itu kebenaran kan?
semua agama mengajarkan kebaikan.
nah, karenanya jangan didualismekan. bahwa, kalau bukan pada yang seagama maka kita tidak akan berbuat baik misalnya. atau kalau bukan kelompok kita maka kita akan pilih kasih. ya tidak bisa begitu. itu namanya masih menduakan kebenaran yang satu. itu sekelas memberhalakan kebenaran, loh. hehehe.. 🙂

kalau berbuat baik itu benar, ya sudah. sama siapa saja, bersikap baiklah.. santai toh?

atau sebut saja, damai itu benar kan?
semua agama mengajarkan kedamaian. iya toh?
lah, apakah karena bukan seagama maka kita lebih memilih tuk mencari alasan demi terus menerus berseteru? mencari-cari ayat tuk saling menyalahkan dan menyerang satu sama lain? padahal apapun realitas di zaman nabi2nya, damai itu ajaran dasar semua agama toh?
hehehe, maka ya jangan bersikap mendua gitu deh. satu saja : damai. ga pandang bulu, siapa dan apapun dia, yuk kita biasakan damai dalam banyak kebersamaan kita. titik!

maka itulah yang memungkinkan dalam perbedaan dan keberagaman kita bersatu padu. tak pandang bulu, apalagi agama dan suku.

merdekalah tuk bersama di indonesia!

jadi ini loh, yang menurut saya harus kita biasakan kembali di kebersamaan kita. berbeda jangan jadikan kendala. dan jangan bersikap mendua pada kebenaran. nanti malah jadi pribadi yang hipokrit/munafik terus deh bangsa kita. ya ga?

indonesia sudah punya landasan tuk semua kehidupannya. dan sangat manusiawi, tidak terlalu tinggi dan sangat nyata membumi. dan tidak bertentangan dengan satupun agama yang ada di muka bumi.
masihkah diingkari?

nah, itulah cinta ala indonesia.
yang mencinta negerinya dengan dewasa
bukan angan-angan belaka
karena tuhan ada
dan kebaikannya nyata
tuhan adalah kebenaran yang tidak diduakan
maka surga tuhan dibangun dengan kesadaran
akan perbedaan yang bukan halangan
dan kejayaan yang bukan lagi impian
asal semua mau
maka semua mampu

mari mensederhanakan diri
mari merdeka sekali lagi!

nah, gimana?
mau kan bercinta yang begini,
meski puasa dan di siang hari?
hihihi 😀
cinta saya,
cinta asli indonesia..

salam
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

12 Tanggapan to “solusi : mari bercinta..”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

@tren di bandung
wah, dari hanya baca judulnya, saya kok merasa bingung dan janggal yaa.
saya bukan orang yang suka memaksa sih kang. maaf. saya hanya tahu tuhan memerdekaan dan saya pun merdeka. dan ketika saya merdeka, maka saya bisa memerdekaan semua di sekitar saya. memaksa adalah satu dari banyak jalan tuk menjajah. saya tidak suka demikian..

sebisa mungkin tidak demikian.. dinget-inget deh.
salam kenal 😀

mba anis titip pesen buat yang lewat sini, dukung BLOGER SELAMATKAN BAKSIL

http://trendibandung.wordpress.com/2008/09/15/bloger-jangan-kalah-dua-kali/

Rasulullah pernah mengancam ALLAH pada saat Perang Badar. apakah kita pernah sampai pada kondisi sesulit itu dan kemudian berhubungan dengan ALLAH sedekat itu?

mba anis salam kenal lagi. saat ini saya memang lagi ada yang terus menyerang saya dan berbeda agama. saya merasa mba anis bisa menetralisir perasaan saya. jzk 🙂

@tren di bandung
sebentar kang.. saya tadi sudah main ke blognya, tapi saya nih kok ga ngeh ya siapa dan apa sih yang menjadi misi akang tren di bandung ini. ga fokus, atau sayanya yang ga ngeh yaa?? maaf, bacanya buru-buru dan jadi bingung. hehehe.. maklum disambi bikin bukaan puasa bareng anak-anak.

soal diserang, menurut saya sih endapkan sajalah. hidup ini sebab akibat. bisa jadi sikap kita sendiri yang memancing kericuhan. walau kita punya banyak alasan, tapi yang pasti kita kan tidak selalu benar. ya ga? saya juga pernah panik dan merasa di serang, tapi selebihnya itu pendewasaan tuk saya deh. bahkan di titik tertentu saya memilih yang minta maaf duluan tuh. biar damai hati saya dan hati yang menyerang.

hidup dibuat indah saja kang. mari membuka hati deh, bukan malah mengukungnya dan membuatnya terasa sempit. maafkan kalau saya ga bisa banyak membantu yaa.
sukses selalu.. 😀

oya, soal mengancam tuhan..
saya ga pernah berpikir kalau tuhan itu sesuatu yang dimana gitu, sehingga harus diancam demi mengerti kita. kalau menggugat tuhan itu memang pernah saya lakukan, tapi itu lebih pada “menggugat diri saya sendiri”. saya merasa kok ga ngerti tuhan, maka saya terdorong tuk mencari dengan jernih dan lebih jernih lagi. itu saja.
saya rasa jangan leterlek kali yaa menterjemahkan semua hal seputar rasulullah sehingga kitapun merasa layak berlaku demikian. saya melihat rasulullah bukan mengancam seperti yang kita bayangkan deh. sangat jauh dari imajinasi kita ttg saat itu, terutama saat perang badar. konteksnya harus bisa dipahami dengan lebih jernih.
gitu ga sih??

dooh… gimana ya?? yaah… karena udah diajak (bercinta) ya saya coba ladenin (sebisanya ya…)

bisa jd saya nya yg GR aja, lama2 blog ini serasa sama or at least miriplah dg blog saya ya. Jelas dong, bukan segi konten, kalo yg ini sih konten saya dah tenggelam dr dulu kala, sementara konten blog ini meroket terus.

Tapi itu lho gayanya (agar gak nyebut kata2: misi, visi, tujuan, etc.), misalnya:
– bukan mau jadi superstar or cari popularitas sbg tujuan utama ngeblog, tapiii…… (ada deeh…)
– latihan konsisten & fokus, terlepas ada yg baca apa nggak tetep posting terus n terus
– belajar memahami keanekaragaman indonesia apa adanya tanpa merasa wajib mencela sana-sini, pa lagi pake mencla-mencle, bahkan membela keanekaragaman tsb
– memberitahu orang2 selain ada fanatik dg “genre” favoritnya dan sebel betul dg “irama”-2 lain, masih ada bloger yg coba menampung berbagai selera termasuk seleranya dan yg disebelinnya itu.

apa lagi yaa? ah, tau sendiri khan?! Mau diajak ato gak diajak bercinta pun, kalo udah jodoh (saya suka menyebutnya spektrum hidayahnya) ya nggak bakal bisa jauh2 lah

@mas JM
haduhh.. giliran dijawab ajakannya (bercinta), saya malah jadi bingung nih.. hihihi 😀

mas JM, ketika saya dibuatkan blog ini akhir tahun 2007, saya ga kepikir akan begini dan begitu. pokoknya saya menulis. sudah. mengisi waktu luang mengingat mofa -anak yang terkecil- sudah sekolah. maka sayapun tidak memasang ini itu di blog ini. biarlah tetap begini, karena tujuannya juga cuma menuliskan pikiran dan perasaan. berbagi apa saja yang mau saya bagi.

saya suka menulis, itu memang iya. pernah menulis pesanan buku dongeng tuk anak2 dari mizan. bahkan sudah diterbitkan 2 buku di tahun 96. tapi saya kok merasa, saya ga bisa membohongi anak-anak, memaksakan mereka ttg sesuatu yang islami. bahkan tentu tidak lepas dari pesanan pihak penerbit. jadi aja saya enggan menulis yang demikian lagi. maka ngeblog menjadi wadah kemerdekaan buat jiwa saya. hehehe.

lah, kalau jadi berjodoh dengan mas JM dan semua di sini, itu bonus buat saya. jadi punya banyak saudara dan saya suka sekali. sampai-sampai, walau saya nih relatif anak rumahan, tapi saya merasa kaya sekali. terkayakan oleh semua disini. jadi, apa ya tujuannya semua ini?
mengalir saja yukk mas..

dan bukankah bercinta sendiri enaknya yang mengalir-mengalir aja?? 😉

OK deh mba anis, rasanya lebih adem dengan baca tulisan mba. saya mungkin mesti banyak belajar. termasuk belajar kelola blog ini (maklum baru jalan 3 bulan, he he he)

@anis
Oooo… gitu to, trimakasih atas penjelasannya & kisahnya.

hmmm… (rasanya aneh yaa…..) kita punya sifat bertolak belakang tp kok bisa2nya ketemu (di blog) hi hi…
Yg jelas kalo anis rumahan, saya relatip jalanan, bahkan dulu kluarga pun mungkin lupa kalo masih ada anggota kluarga lainnya krn gak pernah di rumah he he…
Kalo anis rajin sekali, saya mah dr dulu super malas (sampe sekarang, ngetik blog aja ogah, cuman kopi paste dan “contekan” doang).
kalo anis rendah hati, saya mah dr dulu narsis abis he he…

Nie sekilas bukti, waktu sidang TA dr materi, hardware, program sampe yg ngetik, bahkan yg bikin presentasi pun orang lain. Min. 2 halaman buat nyantumin nama2 di ucapan terimakasihnya. Saya sih tinggal ngomong doang. Apa lagi namanya kalo bukan super males n narsis? ha ha….
Begitu juga SMA, temen2ku pada bikin cerpen2 trus dimuat di Kawanku (kl ga salah, Anita Cemerlang) atas nama saya. Ha ha ha…
Waktu SMP pun udah mulai, temen2 bikin puisi trus dikrim ke Si Kuncung, ya atas nama saya juga.
Waktu SD pun, temen yg gambarin trus dikirim ke Pak Tino Sidin hampir tiap bulan nama saya yg dipuji di TV: “baguuus…” (padahal jangankan nggambar, coret2 pun saya ndak bisa)
Ha ha… itulah skelumit kisahku yg mantan anak jalanan, super males tp nuarsis habis hueh he he…

Salam kenal

@mas JM
maaf ya, dari pengalaman nih. maklum akhirnya saya juga pernah hidup di “jalanan” karena pilihan pindah agama. hmm.. orang narsis itu agak aneh deh kalau merendahkan hati. jadinya ya seperti perkenalan ala mas JM ini.. hehehe.. kagok gitu loh. 😀

mbok ngaku saja tho mas.. kalau mas memang narsis sesuai keadaan dan kemampuan. saya ga papa kok. janji, saya ga akan iri. cuma bolehlah sekali-sekali dibuatkan cerpen khusus tuk saya. ayo mas JM.. nulis dong. sempetin deh. hehehe..

e, kemarin saya menikmati amayadori di blognya. haduhhh.. jadul tapi indah ya lagu itu. suka deh.

@mas JM
maaf ya mas JM. saya bercanda loh di komen sebelum ini.
saya hanya percaya, aktualisasi diri mas JM ya sesuai dengan kapasitas mas JM.
maaf kalau becandanya ga pada tempatnya yaa.. 😦
sukses terus.. 😀


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: