handphonemu – “handphoneku”

Posted on September 16, 2008. Filed under: islam indie |

(masih mau melanjutkan cerita dari teman relawan itu..)

ditanah garapan teman-teman relawan itu, ada seorang warga desa setempat yang dipekerjakan sebagai tukang arit dan memberi makanan domba ternak di sana. ketika domba sudah besar dan bisa dijual, maka tukang arit itu mendapat bagi hasil dari hasil penjualan domba tersebut. sebut saja dapat 1,5 juta.

nah, sebetulnya sudah diarahkan oleh teman-teman relawan agar akang tukang arit ini, menggunakan uang itu tuk membeli bibit anak domba atau sapi. agar kelak bisa menjadi “harta” buat sang tukang arit.

lah, oleh sang tukang arit, uang keuntungan itu malah digunakan buat beli handphone!

teman saya langsung geleng-geleng kepala..

padahal sebelumnya sudah diterangkan, kalau sinyal tuk komunikasi di desa terebut masih sangat terbatas. teman saya itu saja sulit tuk berhubungan dengan dunia luar. baru akhir-akhir ini, dia bisa mengaktifkan internet dari sana, itupun terbatas dan lamban sekali.

dan bener saja..

selang beberapa waktu, sang tukang arit datang dan mengeluhkan handphonenya. sudahkah sulit dipakainya, ternyata punya handphone juga harus beli pulsa..
hehehe…

kata teman saya, wajar kalau jadi mudah sekali dibodohi baik oleh iklan maupun oleh manusia yang berhati jahat. mereka begitu terbatas akalnya..

higs..

***

teringat pada ibu saya yang dulu suka mengantarkan pembantu-pembantunya pulang kampung ke desa transmigrasi di lampung. semua hasil kerja para pembantu itu, oleh ibu saya dibayarkan dalam bentuk emas. perhiasan dan tak tanggung-tanggung, rata-rata dibelikan emas 24 karat. bukan sekedar perhiasan dari emas muda. dan soal emas ini, mudah tuk ibu saya. mengingat paman-paman saya memiliki toko emas.

ibu saya selalu bilang, biar jadi simpenan. siapa tahu kalau suatu hari butuh bisa jadi modal.

dan tentunya buat para pembantu ibu saya yang masih berusia muda, genduk-genduk gitu. pulang dari kota dengan badan penuh perhiasan emas serasa berharga sekali. orangtuanya bangga, ibu saya yang jadi majikannya juga bangga.

beneran loh, ibu saya tuh bangga kalau bisa memuat para pembantunya itu layak dan sejahtera.

maka pernah suatu hari, kami kedatangan pembantu yang dulu lama bekerja di kami. dari dia berusia 12 tahun sampai 18 tahun dan berhenti karena nikah. usianya 3-4 tahun di atas saya.
nah, hari itu dia datang, membawa bayinya dalam keadaan prihatin. miskin dan nelangsa..
ibu saya menangis tuh melihatnya…

konon oleh suaminya, semua emas hasil dia menabung selama kerja di ibu saya dulu, dibuat judi. lalu dia dipukulin ketika emas itu sudah habis. disuruh cari emas lagi, kerja lagi. padahal bayinya masih usia 6 bulan. ibunya sendiri miskin, ga bisa dititipi cucu kalau dia bekerja lagi di kota.

huahhhh… ibu saya marah-marah!

katanya
– tahu gitu dinikahin di sini saja, sama si anu karyawan paman saya yang toko kelontongan. jelas penghasilannya dan jelas hidupnya.
hehehe, ibu saya sewot tuh.

saya hanya bisa terdiam melihat si genduk yang dulunya adalah teman saya main. dulu dia bersih dan makanya dia boleh menemani saya bermain. lalu menjadi kusam, kurus, ingus anaknya kemana-mana, aduh… saya merasa ada yang salah deh. tapi ga tahu apa.

umur segitu, saya pacaran saja belum boleh, dia malah sudah punya anak. umur segitu, saya masih asyik sekolah, dia sudah harus ngurus bayi dan ditelantarkan suami. umur segitu, saya sedang ceria-cerianya anak ABG, dia sudah kuyu dan seolah layu oleh parasit yang menghisap hidupnya.

saya ga lupa hari itu. ketika dia datang, dan oleh ibu saya, saya diminta menyiapkan makan untuk si genduk. disuruh beliin nasi padang pake rendang, kesukaan si genduk. padahal dulu genduk itu malah yang menyiapkan makanan tuk saya. inget deh, bisik ibu saya gini..
– kasian kan? kali ini anis yang siapin makan ya tuk si genduk. biar dia istirahat di sini.
saya ya nurut saja. saya juga kasian melihatnya..

lalu sesuatu yang lucu dan terdengar asing di telinga saya. yakni ketika ibu saya bilang gini pada si genduk itu, ketika membekalinya sejumah uang tuk pulang dan beberapa bingkisan tuk anaknya.
– ya udah. sabar dan rajin berdoa aja. rajin sembahyang 5 waktu, semoga berubah adat suami lu, nduk. tetap jadi perempuan jangan lari dari rumah dan masalah, selesaikan baik-baik, bla-bla-bla..

saya kaget!
pertama, kaget karena ibu saya kok bisa-bisanya nyuruh sembahyang 5 waktu segala, sesuatu yang saat itu aja aneh rasanya buat saya. maklum, kamikan non muslim.
kedua, saya keget kalau ternyata si genduk itu ke rumah kami karena lari dari rumahnya..
wah, sepertinya parah…

sepulang si genduk, ibu saya cuek saja melewati saya yang dengan mata penasaran, kali-kali di ceritakan sesuatu. e, bukan ibu saya namanya kalau tidak cueknya ampun deh. kata singkat..
– itulah hidup, non. perhatikan saja baik-baik ya!
sudah deh gitu aja.. 😦

****

handphonemu wahai saudaraku
adalah “handphoneku” juga
peringatan untukmu saudaraku
adalah peringatan untukku juga
maka yuk, kita sama-sama belajar
janganlah kita saling seperti yang kurang diajar
mari kita bangun dan berdiri sejajar

maukah?

salam
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

2 Tanggapan to “handphonemu – “handphoneku””

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

untuk ku juga handphone itu mba? saya mencoba menjalankan apa yang ibu mba anis jalankan ke pembantunya untuk karyawan di pabrik. kita kelolain uangnya lewat koperasi produktif. bukan simpan pinjem. tapi produktif, rencananya kita ingin bikin toko bareng2. doakan yang mba… yang terpenting pola pikir mereka berubah

@trend di bandung
wah, sippp kang.. setuju, semoga tetap kaya akan pembelajaran sikap ya.
saya doakan selalu. amin.


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: