ketika tuhan mengambil alih

Posted on September 16, 2008. Filed under: islam indie |

(dibagi yaa..)

ketika usia bayi 3 hari. kata ibu saya, saya tidak bisa minum asi. bahkan saya dirawat di rs karena hampir mati. dokter menyerah dan keluargapun pasrah. lalu saya diakui anak oleh seorang “pinter”, di ruwat dan di bersihkan setiap malam jumat. hehehe.. di sana saya diminumi air tajin. konon maka saya hidup.

saya hanya tahu berterimakasih pada mak piyah, begitu nama wanita tua yang sudah bersedia merawat saya ketika bayi dan hampir mati. selebihnya, saya ga ngerti deh. saya anak modern dan terlalu rasional tuk soal kepinterannya. 🙂

saya selalu pingsan setiap upacara senin pagi, seolah matahari itu menghisap air dari tubuh saya dan saya kehilangan cairan hidup. mata berkunang dan brukk.. ambruk. begitupun sama, saya selalu pingsan di gereja. cahaya matahari yang menghangati ruang lewat kaca mozaik yang indah di gereja, malah terasa membunuh saya. walau saya sudah duduk di tempat yang relatif gelap. bahkan pernah saya pingsan hanya sedang beli mie ayam. untung ada tukang kue langganan ibu yang menolong dan menggotong saya pulang kembali ke rumah.

maka rasanya saya memang tidak boleh memiliki apa-apa yang banyak dimiliki anak-anak sebaya saya. saya banyak di rumah dan dijaga mati-matian oleh ibu saya.

saya remaja melangkah ke kehidupan yang beragam, yang seru namun kadang semu. saya yang cina dan kafir pernah dijadikan “masalah” hanya karena pertanyaan – apa tidak ada cewek lain saja?

hehehe.. sampai di situ, tuhan memang terasa membatasi ruang hidup saya, bahkan ruang bermain itu. walau saya memilih tidak perdulikannya.

hingga di suatu pagi menjelang subuh, di udara sangat dingin dan hening, sebuah mimpi dari gelap yang berganti cahaya besar dan mendengarkan adzan memanggil-manggil, maka kata pertama yang terucap oleh mulut saya pada orang pertama yang saya temui hari itu, adalah – aku mau masuk islam.
huahhh.. teman saya mengila-gilai saya. maksudnya, menuduh saya gila! pindah agama??? jangan gila, nis! dan sayapun berpindah agama..

sejak itu semua milik menjadi bukan lagi milik. semua cita-cita bukan lagi cita-cita. semua cinta bukan lagi cinta. mereka tetap ada, tapi mereka tiada. atau tepatnya tak lagi terjangkau. saya sendiri dalam menjalani keputusan saya.

lalu saya bersama muslim kebanyakan bahkan pernah menumpang diri bersama mereka, ternyata saya selalu terkendala baik oleh keadaan obyektif diri saya maupun secara pikiran dan perasaan saya. membuat saya lebih banyak berhati-hati dan menahan diri. juga pernah saya harus merendahkan diri, mengakui kebodohan saya dalam beragama yang tidak serta merta bisa seperti kebanyakan mereka.

ah, kadang saya pikir saya sendiri keras hati, lalu tidak bisa tuk tidak menjadi diri saya sendiri. maka mengapa saya paksakan orang menerima saya? jadi lebih baik saling memaafkan sajalah, terutama maafkan keterbatasan saya..

nah, di sisi lain, ketika perjalanan usia menyampaikan saya pada pernikahan. saya pikir, saat itu saya akhirnya memiliki sesuatu dalam hidup saya. tapi demi hari yang berlalu, saya sadari kalau ibu mertua lebih merasa memiliki anaknya, yang suami saya, dari diri saya sendiri – yang istrinya. saya memakluminya. sejak kecil, suami memilih tinggal bersama neneknya, terpisah dari ibunya. sehingga wajar jika ibunya selalu merindukannya. maka ringan saja buat saya harus berbagi suami saya demi berbakti pada ibunya.

dan ketika memiliki anak menyempurnakan perasaan kewanitaan saya. maka kadang saya merasa cukuplah sudah hidup saya ini. sampai suatu ketika bapak mertua berkata bahwa keluarganyalah yang lebih berhak atas anak-anak saya. mengingat suami saya adalah anak lelakinya satu-satunya.

hehehe, orang tua memang kadang suka tetap pada pemikirannya sendiri. dan saya lagi-lagi hanya bisa memakluminya.

semua perjalanan hidup yang kurang lebih demikian itu, sebut saja terbedakan, terpinggirkan bahkan tersingkirkan, telah membuat saya berteman dengan tuhan lebih dari yang saya kira. sampai saya nyaris merasa tidak menginginkan sesuatu selain yang tuhan inginkan untuk saya.

seseorang tua yang baik hati sampai bilang gini:
– anis, jangan-jangan ga makanpun kamu ga papa kalau selalu begitu. tapi kamu harus tetap makan tuk hidup!

hehehe, mungkin.

saya memang menjadi sangat sungkan sama manusia.
kasarnya sampai saya menjadi tidak berani makan sebelum yang lainnya makan dan tidak berani tidur sebelum yang lainnya tidur. rasanya letih kalau ego harus terus dihadapi dengan ego lagi. saya suka egois, dan itu membuat saya kesakitan merasakannya.

sampai pernah bermimpi, ketika semua orang berebut masuk ke dalam pintu surga, saya malah memilih di bagian terbelakang. saya menjadi selalu mempersilakan saja jika ada yang menginginkan giliran saya, daripada berebutan. saya malah asyik menikmati pemandangan yang ada, danau tenang, dan udara dingin, seperti berkabut. sementara orang lain sibuk memasuki pintu, yang saya juga tidak tahu ada apa gerangan di dalamnya.
hehehe 😀

bahkan sayapun pernah merasa terdiam di begitu sibuknya manusia berkejaran, simpang siur dan hiruk pikuk. saya merasa terdiam, ditengah cahaya yang melesat kesana kemari ga karuan. alih-alih ingin ikut mengejar dan menjadi selayak cahaya itu, saya malah memilih berjalan kaki perlahan, di sisi-sisi jalanan. menikmati udara basah sehabis hujan dan rimbun dedaunan.

ah, tuhan memang sudah mengambil alih banyak dari yang saya duga.

eeeittttss.. jangan berpikir saya ini baik hati setelah semua pengalaman itu. saya tetap saya yang keras kepala dan jahil. itu fakta. saya masih saja sukanya gangguin anak-anak dan suami saya. bahkan sering gangguin teman-teman saya. pengennya juga isengin semua di sini.

membuat mengantri masuk pintu surga tidak terasa membosankan deh.
ya ga?

hahahaha.. 😀

salam
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

6 Tanggapan to “ketika tuhan mengambil alih”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

semoga kita semua dikehendaki masuk surga ya.. :)) Aamiin..

@siska
emang surga itu dimana yaa k’siska?? hehehe 😀

saya kok lebih berharap surga itu bisa nyata di indonesia, agar semua rakyat indonesia bahagia karenanya. sungguh, saya rindu surga yang itu.
amin… aminn… aminnn..

mbak anis, surga itu dekat.. :))

@k’siska
wah, saya sangat duniawi ya. saya kok inginnya surga yang nyata di indonesia. hehehe 😀
semoga itu cermin surga yang ada di dalam hati.. gitu ga sih? 😉

mmm… gimana kalo ternyata surga itu tak abadi, kita hanya bisa bertahan sekian milyar tahun saja disana?? hehehe…

@CY
mungkin… akhirnya, surga bukanlah sebuah ‘kata benda’ dan ‘harga mati’ bahwa surga adalah begini dan begitu. walau pengambarannya meminjam sebuah ‘kata benda’ dan ‘tempat’ yang indah tak terbayangkan, tuk membangkitkan rasa akan sesuatu bernama surga tersebut. rasa surga menjadi sebuah ‘kata kerja’. maka karenanya dia ‘abadi’, selama dia disadari sebagai sesuatu yang harus selalu diupayakan dan senantiasa dipelihara..

dan sangat mungkin tercapai, mengingat manusia pada dasarnya alami bertumbuh dan terus berkembang tuk mencapai kehakikiannya. maka pencarian akan tuhan atau kehakikian itu ga pernah selesai hingga hari ini. gitu ga sih?
hehehe… isengg.. 😀


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: