kutipan : takbir

Posted on September 16, 2008. Filed under: islam indie |

ini email dari seorang teman, forward dari tulisan seseorang.

saya melihatnya hanya sebagai sebuah pendapat loh. yang sungguh-sungguh lahir dari suatu yang sangat nyata di sekitar kita. mari melihat dari sisi yang lain. yang mungkin berbeda dari kita, atau mungkin demikianlah juga diri kita. merdekakan saja diri kita dalam membacanya. πŸ™‚

selamat menikmati… semoga menginspirasi..

****

Di bulan puasa ini takbir Allahuakbar berkumandang tak hanya di masdjid, di dalam demo anti Yahudi dan anti Amerika sebagaimana galibnya, tapi juga mulai merambah ke wilayah publik lain termasuk sidang pengadilan, forum seminar maupun dialog di media televisi.

Itulah yang saya saksikan malam ini. Untuk kesekian kalinya saya menonton diskusi di televisi yang dipenuhi oleh orang berjubah putih, berjenggot dan memakai sorban, yang seperti dikomando memekikkan takbir Allahuakbar, Alluakbar. Takbir itu diucapkan seperti dikomando, sangat teratur. Apabila takbir diucapkan sambil duduk dan suaranya agak pelan, tandanya sebagai dukungan pada pembicara, tapi bila diucapkan sambil berdiri, mengacungkan tangan keatas sambil mengepalkan tinju, dengan tatapan tajam kepada pembicara, artinya tak sependapat dengan apa yang dikatan sang pembicara.

Saya ingin menyebut gejala ini sebagai bangkitnya atau munculnya suatu gerakan baru Islam Indonesia yaitu Islam takbir. Suatu gerakan yang bercirikan kelompok berjubah putih, berjenggot, bersorban dan berlandaskan pada takbir sebagai ciri gerakannya. Saya kira Ini merupakan tradisi baru Islam kini. Tradisi yang membuat saya heran. Bagaimana tidak.

Inikan forum diskusi, sebuah forum dimana orang bebas berbicara mengemukakan pendapatnya masing masing. Silang pendapat dalam diskusi adalah lazim dan lumrah. Lalu, mengapa etika yang lumrah ini kini harus dibunuh melalui takbir..?Mengapa harus teriak teriak dan bersikap seperti dalam suasana perang, padahal diskusi memerlukan suasana tenang, supaya satu sama lain bisa mendengarkan dengan baik. Mengapa takbir harus dikumandangkan untuk membunuh perbedaan, padahal semangat utama dalam dialog adalah kesediaan untuk mendengarkan pendapat yang berbeda dengan lapang dada. Saya sangat heran dengan tradisi yang sedang tumbuh ini.

Dalam acara debat parlemen malam ini tentang UU pornografi, Ali Moctar Ngabalin mewakili kelompok penndukung UU ini berhadapan dengan Eva Sundari Dari PDIP yang menolak UU. Saya tak menyimak substansi debatnya, karena debat ini bagi saya lagu lama yang sudah usang. UU ini bagi saya tak lebih dari proyek anggota dewan untuk mencari rezeki tambahan menjelang lebaran. Saya tak percaya ada anggota dengan yang bersungguh sungguh mengangggap proyek UU ini sebagai tugas mulia.

Setiap kali Ali Mochtar Ngabalin bicara pekik takbir dari kelompok berjubah dbelakangnya menggema ke seluruh ruang yang kecil itu. Jika Eva sundari yang berbicara mereka bertakbir tak cukup hanya duduk tapi sambil berdiri, mengacungkan kepalan tinju ke atas sambil mengeluarkan ejekan kepadanya.

Sekitar tiga minggu lalu saya menyaksikan Islam takbir yang lebih konyol ketika TvOne menyelenggarakan debat Ahmadiyah. Kelompok anti Ahmadiyah yang semuanya berjubah putih, berteriak gaduh sepanjang diskusi mengejek dan mengintimidasi pembicara Thamrin Amal Tamagola. Padahal Thamrin hanya meminta mereka mengikuti aturan hukum yang berlaku, dia tak membela Ahmadiyah dan dia bukan Ahmadiyah. Yang gaduh tak hanya kelompok berjubah putih itu, tapi juga pembicaranya yang anti Ahmadiyah yaitu Mahendrata dan Al-Khatat, yang duduk angkuh dengan jubah kebesarannya.

Mereka sangat arogan, tak punya sopan santun. Terutama si Al-Khatat ini, ia memotong setiap Thamrin berbicara, mengeluarkan telunjuk kiri dengan nada menghina dan merendahkan, seolah olah dialah pembela Islam sejati dan Thamrin adalah musuh Islam. Mereka bersorak bergemuruh setiap kali Thamrin mulai bicara sehingga suasana mirip sepakbola tarkam.
Kini, Islam takbir ini juga juga mulai merambah dunia pengadilan. Pada sidang yang menghadirkan rizieg shihab dan Munarman, setiap kali sidang mereka menunjukkan sikap ekslusif dan rajin melakukan intimadisi kepada yang bukan kelompok mereka. Para saksi yang dihadirkan diteror. Seorang saksi sempat kaget ketika pengacara memulai pertanyaan pertama kali “apakah anda seorang Muslim? Munarman sempat menolak seorang saksi yang Ahmadiyah bersumpah demi Al-Qur’an karena menurutnya mereka Ahmadiyah bukan Islam.

Saya bukan anti takbir. Setiap hari saya mengucapkan takbir. Dari pagi, siang dan malam saya mengucapkan takbir. Tapi takbir diucapkan pada suasana dan waktu yang tepat. Takbir diucapkan dalam suasana cinta kasih untuk memperluas jaringan persaudaraan sesama manusia dan memuji keagungan ilahi. Takbir tidak diucapkan untuk mengejek dan menghina orang apalagi diucapkan untuk membuat jarak dengan orang. Takbir diucapkan untuk merangkul manusia dalam persaudaraan sejati.

Di malam idhul fitri, dari sore sampai pagi sepanjang malam orang mengumandangkan takbir. Dan banyak orang, seperti saya, amat menikmatinya. Kadang saya terenyuh menitikkan airmata mendengarnya. Suara mendayu dayu mendengar takbir, Alllahuakbar, Alllhuakbar seakan memberi kekuatan pada saya untuk lebih kuat menghadapi hidup yang keras dan menimbulkan rasa empati kepada sesama…

Di malam idul fitri nanti saya ingin berkeliling mengumandangkan takbir, bukan takbir yang mengancam tapi takbir yang merangkul, bukan takbir yang ekslusif tapi takbir yang inklusif, bukan takbir yang mengajak perang tapi takbir yang mengajak damai karena semua manusia hakekatnya bersaudara. Itulah saya kira hakekat yang sesungguhnya dari takbir….

Salam
EPT

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

5 Tanggapan to “kutipan : takbir”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

takbir, kdg2 juga berarti Tabrak Bibir. Jadi bibirnya harus ditabrak, biar diem.

wah komentarnya ke sulut juga nih. tenang ah… kalau bloger mah mainnya alam pikiran yang jernih dan damai seperti yang diajarkan mba anis.
saya juga melihat semangat yang kebablasan dan terlalu memepet akal sehat untuk berpikir cepat dan terlalu tergesa-gesa berkomentar. sesungguhnya takbir sendiri tanda kebesaran ALLAH. dan hanya ALLAH yang boleh memilikinya. manusia harus dijauhkan dari rasa takabur itu.
bahkan sebagai manusia selayaknya kita merasa tempatnya salah sehingga lebih layak introspeksi ke dalam. apakah kita sudah cukup baik dan selamat dengan ‘amal dan keyakinan kita. sehingga takbir itu untuk merundukkan hati kita dan sikap merasa besar yang ada pada diri kita.
gitu kali mba ya…

@bang toga
hehehe, abang bisa saja.. setuju tuk kiasannya.

@tren di bandung
kang, jangan tersulut oleh bang toga ya. bang toga itu teman saya dan saya suka bersama dengannya.
mainlah ke blognya, seru dan ndalem banget loh. saya suka merasa nyaman dan diingetkan. kadang juga lucu dan bikin saya senyum-senyum sendiri.

mau saya kutip satu tulisannya di sini? ntar saya minta izin dulu yaa.. ada satu yang saya pikir indah dan bagus tuk dibaca semua di sini, terutama juga oleh kang tren di bandung. ntar saya kutipin yaa..

tak kenal maka tak sayang..
mari saling mengenal keberagaman indonesia kita lebih dekat deh. gitu ga sih? πŸ˜€

Islam tetap Islam. Allah Tuhannya, Muhammad Rosulnya, Ka’bah kitabnya…

Salam kenal

@jay
salam kenal mas jay..
maaf nih, jadi mau tanya.
bukankah qur’an kitabnya?
dan ka’bah kiblatnya kali yaa?
hehehe.. πŸ˜€

syariatnya memang demikian mas, sepakat sekali.
tapi hakikatnya saya rasa sangat dalam deh. gitu ga sih?
selamat berpuasa mas jay πŸ™‚


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: