tragedi

Posted on September 16, 2008. Filed under: islam indie |

(higs.. dari yang akhirnya dinamai tragedi zakat.. )

saya berduka teramat dalam
hening sudah tak mampu hadirkan diam
tapi juga bukan untuk menjadi geram
selain mari perbaiki pelan-pelan
jangan lagi pernah mengabaikan
mari bersama mengingatkan

….

teringat saya
ketika kecil dituntun
menuju sebuah rumah tua
tempat pengolahan karet
di sekitar lampung tengah

saya tak ingat siapa dia
orangtua saya hanya bilang
mari antarkan haknya
jangan dia yang datang pada kita
lebih baik kita yang mengunjunginya

maka beribu jarak orangtua saya menempuhnya
hanya tuk hantarkan apa yang menjadi haknya
yang sesungguhnya hanya sekian rupiah
bahkan tak lebih dari biaya saya sekolah

saya tidak tahu persis siapa dia
tapi dia yang tua itu tertawa bersama orangtua saya
saya diciumi dan diajak melihat ini itu
seolah saya adalah seseorang yang perlu di jamu

lalu kami diantarnya berkeliling di sekitarnya
orangtua saya membagikan beberapa amplop
angpau dalam tradisi kami
yang intinya hanya berbagi

sederhana dan rapi
sunyi tak banyak pamrih
jauh dari kerumunan
malah akrab berdekatan

padahal sungguh saya tak tahu menahu
selain sebut saja dia dan mereka adalah masih famili jauh
yang berhak tuk turut bahagia menyambut tahun baru
meski mereka tak akan pernah sampai ke tempatmu

begitu kata orangtua saya

dan mereka bahagia melebihi jumlah rupiahnya
tuk kehadiran yang melebihi pemberian

ah..
pilu..
ngilu..
malu..


anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

11 Tanggapan to “tragedi”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

ya olloh barusan daku posting tragedi yg menimpa diriku, kok kesasar ke posting beginian πŸ˜₯

Musibah ini memang memilukan, tapi saya lebih ngilu lagi kalo baca komentar2 saudara sebangsa seperti di kompas online/detik. Apa yang terjadi dengan bangsa kita ya, sekarang jadi sekumpulan Hakim,jaksa,bahkan berlaku seperti Tuhan. Mencela, memaki dan merasa paling benar.
itu alasan saya tutup blog saya mbak, saya sudah lelah, saya gak mau ambil bagian lagi. Bangsa ini mungkin gak akan bangkit lagi. Saya berusaha kembali ke titik nol berpuasa sebentar tapi,sekarang terpuruk ke arah negatif.

Musibah pasuruan itu menurut saya ayat Allah yang tersirat, untuk mengingatkan kita akan sesuatu yang lebih besar.Orang yang mencela haji soikhon dengan kata kata tak pantas di kompas itu tidak ingat bahwa sehari hari banyak diantaranya yang berjubel jubel, menginjak dan menyikut teman sendiri di kehidupan nyata? Demi jabatan, demi kekuasaan, demi prestise, demi prestasi? Apa orang orang itu tak lagi punya hati? kini ditunjukan Tuhan kejadian seperti ini, tak bisa juga mengerti, dan memohon tobat.

duh..lelah sekali kalo mikirin kelakuan teman2 ini.

kasihan..

sebagian besar korban adalah ibu-ibu. niat dari rumah sekedar ingin mendapat tambahan untuk lebaran, tambahan beras.. demi keluarga.. demi anak-anak..

tapi yang di dapat..?
duuhh.. sedih..
😦

@mas JM
napa mas? duh, saya bikin makin sedih ya? maaf. itu krn saya baru melihat foto-foto tragedi pasuruan, jadi aja nulis yang sedih. maaf. pissss.. jgn sedih lagi ya. yg lalu biarlah berlalu.. naonn?? πŸ˜€

@mas rajawalimuda
loh, kok gitu? jgn menyerah dong. mas rajawali ga sendirian kok..

hmm, gini mas. titik nol adalah titik dimana kita bisa mengosongkan diri kita. bukan sekedar kosong yg kosong. tapi kosong yg penuh keikhlasan dan keberserahan. bahwa semua dlm hidup ini adalah sebab akibat. kita tdk diminta lebih dari yg kita bisa, kita tdk bertanggungjawab lebih dari yg kita perbuat, kita jg tidak mendapat lebih dari yg kita kerjakan.

lalu dlm hidup ini, ada yang dinamakan masa perhitungan. dimana sebab yg tak akan bisa lari dari akibatnya, dan akibat yg tak akan bisa jauh dari sebabnya. ini hukum alam. hukum tuhan sejati.
maka biarkan mereka yg ingkar malah mencaci maki atau mereka yg diam malah tak mau tahu.

mari kita doakan sodara-sodara kita yg harus menanggung sebab akibat pahit ini. tapi percayalah, keikhlasan mereka adalah pemicu tuk kita sadar, bangkit dan perbaiki keadaan ini. kalau hari ini mereka kehilangan sanak keluarganya dlm banyak musibah akibat keteledoran selama ini, semoga besok kita bisa wujudkan sejahtera dan sentosa tuk anak cucunya.

nah, manusia yg sudah sampai pd titik nol dlm hidup dan perenungannya, adalah manusia yang sadar, paham, mengerti, dan siap tuk segera bertindak positif begitu ada cela tuk berbuat.

hmm.. saya tahu loh, mas rajawali sudah jauh menuntut ilmu, di titik nol ini coba endapkan semua ilmu itu mas. lalu coba mas terjemahkan dan bahasakan kembali sesuai kebutuhan bangsa indonesia. lepaskan semua struktur yang sudah ada, tanpa kehilangan prinsip2 dasarnya. kali-kali ada ide yang bisa diakomodasi. katanya nih, orang pinter itu bukan org yang berbicara sesuai kapasitas ilmunya, tapi org yang bisa membicarakan ilmunya sesuai kapasitas pendengarnya. atau kerennya, ini adalah yg maksud dg “sampaikanlah dalam bahasa kaumnya”..

ayo, ilmunya dibumikan di indonesia. indonesia butuh loh anak bangsanya yang ga kalah pinter bersaing dg orang asing, tapi tetap mengerti keindonesiaannya. butuh anak bangsa yang bisa menjadi jembatan bagi negerinya berdiri sejajar dg bangsa lain di dunia, tanpa kehilangan tanggungjawab tuk menjawab persoalan intern negerinya sendiri. cieee..

nah, itu pastinya ya mas rajawali muda dkk di sini.. ya ga? yukk sama-sama, mau ga?
hehehe, nikmati puasanya ya. nikmati lelahnya. besok lahir fitri kembali dg kesadaran dan semangat baru. gimana?

hmm, kalau mas rajawali ada di dekat saya, sudah saya timpuk dg bantal deh. biar nyadar.. hahaha becanda, maaf.. πŸ˜€ saya dah sok kaya motivator gini nih. salah alamat deh kayanya nih. hehehe.. πŸ™‚

Tragedi selalu menaungi negeri ini…
Dosa apakah???

setiap hari saya selalu lewat tempat kejadian,
pas ada musibah itu memang ramai sekali, cuma
nggak mudheng ada ramai ramai apa..
bagi bagi zakat memang tradisi lama di Pasuruan.
cuma kalau yang lalu lalu orang miskinnya
msih sedikit jadi gak ada kejadian yang seperti
ini. Pernah ada memang tapi gak banyak.
kalo sekarang orang susah tambah buanyak..
sedih banget ya…

ya,itu menjadi pertanyaan buat kita semua?Masih pantas kah kita disebut Negara yang Religius?

Sungguh suatu tragedi kemanusiaan yang sangat tidak kita duga.Pada saat rekan2 kita yang lain yang kurang beruntung berupaya mendapat rezeki, ternyata hanya berujung pada Maut.Miris,sedih, air mata ini sudah kering untuk manangisi bangsa ini yang terus dilanda musibah.Dihari Raya yang penuh sukacita yang seharusnya dirayakan seluruh masyarakat bangsa ini, ternyata sebagian dari kita harus mengalami nasib yang sangat Tragis. Dosa apakah Bangsa kita?Kebejatan apa yang dilakukan bangsa ini sehingga kita sehingga kita mendapatkan balasannya saat ini.

mba anis saya terenyuh dengan pengalaman bersama orang tua mba. saya kenal seorang katholik-chinese, sebelum saya posting comment ini ia lagi terbang ke semarang untuk ke salatiga membagikan zakat. sebelumnya ia juga cerita berbuka puasa bersama anak panti dimana ia menjadi donaturnya. apa yang bisa mba anis ajarkan kepada saudara2 kita yang muslim, tentang berusaha menjadi pembayar zakat yang baik dan sederhana. bahkan tentang perjuangan menjadi pembayar zakat daripada penerima zakat…???

saya juga kutip sebuah tulisan
http://trendibandung.wordpress.com/2008/09/17/bocah-misterius/

@mas wahyu
sedih emang.. serasa tusukkan belati di bulan suci.

@mas In
hidup sebab akibat mas..

@mas datyo
yup, mas. cermin kemiskinan semakin menjadi-jadi..

@refly
ikhlas saja kali ya mas. dengan ikhlas semoga kita bisa jernih memperbaiki permasalahan yang ada. takutnya jika hanya marah dan kecewa, kita malah turut memperburuk suasana.

@trend di bandung
sama saja kang. saya mengenal seseorang ibu -muslim-, yang saya baru tahu ketika saya pamit mohon restu padanya ketika akan menikah, bahwa ternyata beliau selalu membayarkan zakat fitrah atas nama saya, karena beliau tahu saya seorang mualaf. sayakan menikah setelah 7 tahun beragama islam. selama itu saya sendirian.

ah, luarbiasa. diam-diam ada yang membayarkan kewajiban atas nama saya. beliau bilang selama anis belum menikah, ibu merasa wajib membayarkan zakat fitrah atas nama anis. walau beliau juga tahu, kalau saya berusaha tuk bisa membayar sendiri kewajiban zakat fitrah itu, meski saya belum menikah. katanya, memberi lebih itu menyempurnakan daripada kurang. saya sangat menghargainya..

sederhananya, begitulah jika manusia sudah menjadi sejatinya manusia. empatinya ada tuk siapa saja, kapan saja, dimana saja.. bahkan atas nama siapa saja πŸ˜€


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: