kutipan : Benteng Terakhir Intelektual Republik

Posted on September 17, 2008. Filed under: islam indie |

meski saya bukan sarjana, karena saya putus kuliah demi mencari makan atas boikot ekonomi setelah masuk islam, hehehe.. sejujurnya -dalam keterbatasan akal saya-, saya kok suka ya tulisan ini. πŸ™‚

sungguh, saya memang sudah lama prihatin pada tingkah laku para intelektual kita yang bergelar panjang dan bahkan yang duduk di elite politik negeri ini. yang tetap saja belum mampu membawakan negeri ini menuju kemajuan, setidaknya sesuai dengan kapasitas keilmuan mereka. padahal, saya tahu persis, –sebut saja– teman-teman saya yang S1 sampai Doktor adalah orang-orang yang luarbiasa terdidik dan terlatih. ilmiah dan sangat canggih. saya sangat kacau balau dibandingkan mereka. hehehe.. πŸ˜€

saya pribadi sangat mengagumi ilmu pengetahuan, walau saya tidak mendewakannya. saya tidak bermaksud tuk memenjarakan para intelektual di bangku universitas, tapi saya ingin melihatnya membangun negeri ini dengan prinsip-prinsip pengetahuan yang berorientasi sebesar-besarnya tuk kemashlahatan bersama. terserah gimana lakonnya, saya hanya ingin tuk tetap boleh menaruh harap pada para intelektual kita.

maka semoga tulisan ini, mengkayakan atau tepatnya mengingatkan kembali deh. tuk tetap merdeka demi definisi intelektual itu sendiri.

selamat menikmati..

****

Benteng Terakhir Intelektual Republik
Oleh Donny Gahral Adian – Rabu, 17 September 2008
http://cetak.kompas.com

Dalam kurun serba uang dan kedudukan seperti sekarang, ada pertanyaan yang mendesak diajukan. Di manakah benteng terakhir asketisme intelektual kita?

Ketika para intelektual merayap keluar dari ruang-ruang akademik dan mengabdi pada uang dan kedudukan, di manakah semangat artes liberal yang diabdikan pada kebaruan dan wawasan? Saat kepentingan intelektual sebangun dengan kepentingan pemodal dan politikus, di manakah integritas akademik bercokol?

Surplus

Satu hal yang patut menjadi kebanggaan kita, republik ini tak pernah kekurangan intelektual. Dalam satu tahun saja, ribuan master dan doktor dihasilkan. Sebagian melalui jalur universitas, sebagian lain melalui jalur partikelir. Berbagai lembaga donor asing berlomba membiayai para calon intelektual republik. Ada yang jelas-jelas berkepentingan, ada juga yang bersembunyi di balik agenda peradaban. Apa pun, kita patut bersyukur.

Masalahnya, di manakah para intelektual mengabdi setelahnya. Universitas terbatas, sementara pasokan intelektual muda terus bertambah. Belum lagi birokrasi perekrutan yang formalistik dan konservatisme berdosis tinggi di universitas. Kementerian pun demikian. Doktor-doktor baru pulang untuk mendapati pekerjaan administrasi belaka. Tak ada laboratorium canggih untuk mereka mengembangkan ilmu.

Yang tinggal adalah lembaga- lembaga penelitian partikelir yang tersebar di pelosok republik. Sebagian didanai pemodal dan sebagian lain politikus. Lembaga- lembaga ini menarik. Sebab selain gaji yang memadai, para intelektual juga mendapat prestise tersendiri. Mengapa demikian? Sebab lembaga-lembaga penelitian adalah tangki pemikir (think- tank) yang mendekatkan intelektual pada yang kuasa.

Para akademisi pun kini menjadi agen ganda. Universitas yang tidak menjanjikan secara ekonomi membuat mereka cari makan di luar. Masalahnya, mereka tidak mau melepaskan status sivitas akademika-nya. Bagi mereka, apa yang mereka lakukan adalah satu dari tiga darma perguruan tinggi: pengabdian masyarakat. Namun, apa jadinya saat pengabdian masyarakat menumpulkan dua darma lain. Riset pun menyurut dan pengajaran menjadi ala kadarnya. Di mana letak tanggung jawab mereka sebagai sivitas akademika, komunitas akademik yang beralas pada kreasi bukan komodifikasi pengetahuan.

Intelektualitas dan kekuasaan

Ribuan tahun lalu Plato mengingatkan, intelektualitas sebangun dengan kekuasaan. Sebab, intelektualitas adalah kebijakan tertinggi yang akan mengatur nafsu-nafsu rendah. Namun apa jadinya saat intelektualitas menyatu baku dengan nafsu-nafsu rendah itu? Alih-alih menjadi komando bagi nafsu uang dan kedudukan, para intelektual mengabdi pada keduanya.

Alibi para intelektual tukang saat ini mungkin masuk akal. Kami bergabung untuk memberi warna humanis pada uang dan kedudukan. Berkat kami, kini uang dan kedudukan menjadi santun dan berperikemanusiaan. Naif dan mudah dibatalkan. Apa yang kita saksikan kini adalah intelektual yang memberi justifikasi ilmiah pada kejahatan yang dilakukan pemodal. Saksi-saksi ahli adalah intelektual bermuka tebal. Mereka rela mengorbankan integritas keilmuan demi ketebalan kantong belaka.

Saya tiba-tiba terkenang filsuf Perancis, Michel Foucault. Dia mengingatkan, jangan terlalu naif memandang pengetahuan. Alih- alih berhadapan, pengetahuan dewasa ini berkelindan dengan kekuasaan. Pengetahuan adalah kekuasaan. Putusan pengadilan pun memihak saat sang intelektual berfatwa, ”itu adalah kejadian alam bukan kelalaian!”. Artinya, pengetahuan bukan muatan kepala orang per orang. Itu sudah menjadi institusi yang mendikte perilaku, perasaan, dan kesadaran semua orang.

Universitas

Universitas adalah universum ilmu-ilmu, sebuah artes liberal yang membaktikan diri pada kreasi dan transfer pengetahuan. Para intelektual universitas adalah hulubalang tri darma perguruan tinggi. Pertama, meneliti untuk mencipta pengetahuan. Kedua, mengajarkan pengetahuan itu. Ketiga, memanfaatkan pengetahuan baru untuk kemaslahatan bersama.

Sekelompok peneliti IPB yang meneliti adanya bakteri pada susu kaleng tahu persis darma mereka. Mereka tidak menghamba pabrik susu atau Departemen Kesehatan. Mereka menghamba pada kebenaran dan integritas akademik. Mereka tahu, apa yang mereka temukan harus dibagikan untuk kepentingan publik, juga saat mereka menjadi bulan-bulanan kekuasaan.

Universitas bukan pemasok tukang, tetapi pengetahuan. Seorang sahabat mengatakan, pengetahuan bukan komoditas. Pengetahuan bertambah saat dibagikan. Pengetahuan berkembang lewat persentuhan. Saat pengetahuan dijual demi uang dan kedudukan, watak pengetahuan semacam itu pupus. Pengetahuan tak ubahnya barang dagangan di toko kelontong.

Watak nontransaksi dari pengetahuan harus dirawat universitas sebagai semesta ilmu-ilmu. Para intelektual universitas bekerja dua puluh empat jam setiap hari untuk menemukan pengetahuan dan membagikannya. Untuk itu mereka layak dibayar tinggi sehingga mereka tidak lagi membuka warung pengetahuan di luar. Mereka tidak lagi tergiur uang dan kedudukan. Mereka bangga dengan statusnya sebagai warga sebuah sivitas akademika.

Universitas adalah benteng terakhir asketisme intelektual. Saat tangki-tangki pemikir bernoda uang dan kedudukan bertumbuhan di sana sini, universitas harus menumbuhkan tangki-tangki pemikir yang mengabdi kemaslahatan bersama, bukan pribadi atau golongan. Infiltrasi kepentingan harus dibersihkan dari tiap pojok akademik universitas.

Untuk itu, universitas harus membuka pintu lebar-lebar bagi intelektual independen, mereka yang beraspirasi pada integritas ilmu pengetahuan dan kemaslahatan bersama. Sebab, merekalah para penjaga benteng sebenarnya. Namun, sekali lagi, intelektual yang tidak mudah dibeli justru mahal harganya. Karena itu, segalanya harus dimulai dari elitisme. Para intelektual independen ditampung dalam aneka kelompok peneliti khusus. Tugas mereka ada tiga: meneliti, mengajar, dan mengabdi pada kemaslahatan bersama. Tak lebih.

Kecendekiawanan adalah sebuah panggilan, sebuah laku suci untuk menapak di tanah tak bertuan. Membuka rahasia semesta dan membocorkannya secara sederhana demi kemaslahatan bersama. Karena itu, bagi mereka yang berpisah jalan hanya ada satu pesan. Kembalilah ke jalan yang benar, jalan kecendekiawanan, jalan artes liberal.
Universitas, benteng kita bersama.

Donny Gahral Adian Dosen Filsafat UI; Pendapat Pribadi

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

13 Tanggapan to “kutipan : Benteng Terakhir Intelektual Republik”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

memuliakan ilmu, itu yang hilang dari negeri ini. pragmatisme telah menyeret sense kemuliaan dari bangsa ini sehingga memang mengkebiri fungsi pusat ilmu. akhirnya yang muncul menjadi trend negeri ini adalah hiburan, omong kosong, bercanda, tampilan seronok, ya begitu begitu deh…
mba anis, saya merindukan lagi seorang yang tinggi ilmunya dihargai lebih baik dari seorang artis. seorang anak yang logika berpikirnya kuat lebih terkenal dari bocah yang cuma bisa ngomong nyeletuk dan bikin ketawa. seorang yang mengajarkan kedewasaan dalam bersikap lebih dihargai daripada seorang yang menunjukkan sikap arogan dan pengen dirinya no.1.
bagaimana kita bisa kembali ke mata air seperti itu…???

Belum mampu membawa kepada kemajuan kali. Bukan berarti orang-orang pintar ngga berusaha membawa kemajuan. Tapi kemajuan perlu uang dari pengusaha. Karena itu, lebih baik mencetak banyak pengusaha yang pintar. Insya Allah akan maju.
Negara seperti Amerika, China, Jepang, itu bisa maju karena banyak pengusahanya. Yang membuat penemuan-penemuan orang pintar menjadi bernilai ekonomi dan terus bisa menghidupi pekerjaan orang pintar.

saya sepakat sama pendapat kang Iwan Awaludin. pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh maraknya perdagangan yang sehat dan tumbuh, dengan sendirinya mengangkat dunia ilmu semakin ke atas dan berharga. sekolah gratis berkualitas bisa sangat mungkin terjadi ketika dunia industri memiliki kebutuhan tinggi akan hasil dari pusat ilmu pengetahuan, baik berupa sdm atau penemuan.
sayangnya dinegeri, daripada masuk ke dunia dagang, lebih seneng jadi pegawai negeri, polisi, politisi, dsb. wilayah2 yang sesungguhnya bukan tempat untuk produktif menciptakan nilai tambah dan margin. saya denger saudara saya masuk ke kepolisian sampai bayar 100juta. padahal itu sangat cukup untuk masuk ke dunia bisnis, berdagang, menciptakan manfaat, dan sukses…

@tren di bandung
katanya jika kau bercita-cita dan berkeinginan, maka buatlah dirimu demikian. karena kita tak bisa hanya mengharapkan sesuatu itu bak turun dari langit.
gimana?
ayo.. kang tren di bandung juga bisa deh bersikap seperti mata air itu.
pelan-pelan tapi pasti. nyata bukan angan-angan. karena setiap pribadi bisa saling mengisi dan melengkapi. maka marilah mulai dari diri sendiri, lalu bekerjasama dan berbagi dengan siapa saja. gitu ga sih? πŸ˜€

@k’iwal
naaaah.. nih dia. ada intelektual muda yang komen. maka saya mau beradu komen juga ah. hehehe isengg.. πŸ˜€

sebelum bisa spt amerika, china dstnya.. tuk indonesia seperti intelektualnya juga belum mampu meyakinkan para pengusaha tuk bersinergi positif demi negeri ini. padahal jelas, sbg intelektual dia memiliki perspektif yang jauh ke depan, berlandasan keilmuannya. kedua pihak, baik intelektual dan pengusaha harusnya bisa berdiri sejajar, jangan melulu kalah bahkan menyembah pada kepentingan pemodal dan penguasa.

kasus super toy misalnya. itu pelecehan intelektual ga sih?
mbok ada suara dari institusi intelektual independen tuk soal itu, dengan bahasa sederhana yang dimengerti rakyatnya, agar rakyat tidak selalu dijadikan mainan dan diping-pong oleh pengusaha dan penguasa. kasus lapindo juga. dengan dinyatakan sebagai kejadian alam, itu juga pelecehan intelektual ga sih? kok para intelektual kita diam saja. lagi-lagi rakyat yang harus menelan pahitnya.

maka negeri ini selalu dirundung malang. para orang pintarnya berlindung entah dibalik apa deh. karena siapa lagi yang bisa memperjuangkan kepentingan rakyatnya? gitu ga sih?

padahal sejarah membuktikan, kalau perjuangan kemerdekaan indonesia, di mulai ketika kaum intelektualnya menggugat keadaan, memperjuangkan kepentingan bangsanya. kaum intelektual menjadi memiliki nilai tawar terhadap kekuasaan atau penjajah waktu itu, bahkan memiliki nilai tawar juga bagi lawan-lawan politik yang mendominasi masa itu. sebut saja ketika itu perang dingin antara kutub barat dan komunis. indonesia menjadi memiliki nilai tawar bagi lawan imperalisme barat.

lah, kok sekarang kaum intelektual malah saling menyelamatkan diri dan kantungnya sendiri? padahal lawannya hanya pemerintah dan pemodal. tapi, emang seperti melawan bangsa sendiri juga sih.. hehehe, masa mau perang saudara ya? πŸ™‚

dan maaf ya, kok bisa-bisanya pula kaum intelektual ini berlindung di balik jubah agama? mbok sebagei intelektual bersikap netral toh?? “amar ma’ruf nahi mungkarnya” para intelektual itu harusnya bebas kepentingan, selain tuk kebenaran itu sendiri. gitu ga sih? hehehe πŸ˜€
ayo, bangun dong dg obyektif para intelektual muda indonesia.. ciee..

teuing ah. cuma isengg.. hihihi πŸ˜€

saya kira tulisannya donny ini bagus sekali, sebuah oto-kritik yang manis. Dana penelitian memang tidak selalu ada,sering kali dana penelitian memang datang dari sumber yang tidak diharapkan.

tapi janganlah kita selalu terjebak dengan generalisasi tabloid, tidak smua hasil pengetahuan hasil rekayasa, tidak semua intelektual hanya bermental uang. ilmu seperti yang kita tau adalah netral, dan oleh karenanya harus dihargai. Kenapa netral? karena selalu ada pembanding/pengkritisi, ada metodologi dan ada bukti empirik. Jika seorang ahli geologi bilang A tentang lapindo, maka hadirkan lah ahli lain, yang berbeda paparkan bukti empiriknya. Putuskan berdasarkan keduanya. Hasilnya mesti diterima karena itu adalah konsensus.

Tentang supertoy, saya kira cuma jadi “cemilan murah” politikus cap teri, buat legitimasi kuasa 2009. Justru pengebirian atas hasil yang gagal,adalah juga pelecehan intelektual,ilmu adalah proses,pengetahuan adalah hasilnya. perkembangan bibit di thailand/vietnam tentu memakan proses panjang, gak ujug2 tiba tiba “cespleng”. Pasti banyak supertoy2 lainnya di vietnam dan thailand sebelumnya.

itulah kebiasaan yang saya sedang coba renungi,mari kurangi prespektif kita pada jadi telunjuk ketika menunjuk,dan lebih ke 4 jari lainnnya yang menunjuk diri sendiri.

trims mbak kutipannya, gak nemu kmaren kmaren di kompas. (curhat nih : jujur lagi males baca kompas, capek banyak tulisan ga enak dibaca :D)

@rajawalimuda
nah, ini dia juga nih… intelektual muda yang sedang bertapa.. hehehe πŸ˜‰
sama-sama mas rajawali, semoga bermanfaat ya.

santai aja deh, nikmati dulu empat jari yang menunjuk diri sendiri itu. maka kenapa kita sebagai manusia biasa hanya bisa saling menginspirasi dan saling mengingatkan. sehingga diantara ilmu dan kebenaran itu adalah akhlaq. gitu ga sih? hehehe… silakan teruskan tapa-nya πŸ˜€

mba anis, setelah mba nulis begitu, saya jadi ingat, bahwa saya sudah memulainya walaupun baru kecil2an. mohon do’anya saja supaya bisa istiqomah, semakin baik dan tetap ikhlas…

emang layak di kutip artikelnya bu anis.
bagus.

saya juga melihat begitu. sekarang ini intelektual sering dikalahkan oleh kebutuhan ekonomi. belum lagi universitas yang disebut sebagai semesta ilmu-ilmu. sekarang gak ada bedanya dengan korporasi yang mengutamakan profit ketimbang idealisme. jadilah intelektual produk dagang yang hanya orang2 mampu yang bisa membeli.

Intelektual bukannya diam K Anis. Seperti juga Ulama atau K Anis juga, apakah diam? Kan ngga. Semua bekerja untuk membangun di bidang yang dia bisa dan cukup signifikan peranannya.
Contoh masalah Lapindo, di milis-milis dan acara akademis bukannya sepi lho orang yang menawarkan solusi. Tapi solusi itu perlu dana juga untuk dilaksanakan.
Darimana lagi dananya?
Makanya, Indonesia banyakin pengusaha dulu deh. Keburu ketilep sama Malaysia. Mungpung produk Indonesia masih banyak keserap sama Malaysia nih. Saya aja kesulitan nyari Miee Sedaap Rasa Soto. Udah sebulan habis dipasaran, laku keras.
Jangan sampai produk Malaysia melulu yang sampe di Indonesia. Udah banyak tuh MLM Malaysia di Indonesia. Baru CNI aja MLM Indonesia yang sampe di Malaysia. Perlu ditambah lagi, misalnya MLM berbasis Mie Sedaap, Saos Sambel, dan Kecap Bango yang belum bisa ditandingi sedapnya oleh produk sejenis dari Malaysia.

@iwal
@iwal
jujur ya. saya pernah bermimpi, melihat indonesia ibarat sebuah bangunan. dan bangunan itu berfondasi yang dalam mimpi itu diwakili oleh karakter-karakter, yang saya tahu adalah teman-teman saya dari kalangan profesional juga kalangan usaha.

maka pada akhirnya saya juga meyakini, indonesia harus di topang oleh para pengusahanya.

persoalannya kemudian, adalah ketika saya menyadari sekali kalau dunia usaha indonesia ini telah lama dirajai oleh saudara-saudara saya dari etnis tionghoa. etnis saya juga πŸ™‚
saya pikir ini akibat kebijakan pemerintah soeharto membatasi saudara2 dari etnis tionghoa tuk hanya berekspresi di dunia usaha. mereka pada akhirnya manjadi ‘militan’ di dunia usaha. sejujurnya saya melihat pada akhirnya kita -indonesia- berhutang pada saudara-saduara dari etnis tionghoa dalam persoalan dunia usaha.

okelah, dalam dunia usaha kita temui banyak permainan yang kadang tidak legal dan sangat kotor. saya pikir ini bisa menjebak siapa saja dari etnis apa saja.

seperti sering saya ungkap ke k’iwal kalau persoalan bisnis tionghoa juga tak lepas dari ‘kewajiban’ upeti tuk para jararan birokratnya yang notabene asli indonesia. ini dosa rezim soeharto deh, hehehe.. tionghoa itu tidak eksis di bisnis kalau bukan oleh izin dari etnis asli indonesia. itu fakta. jangan diingkari, lalu dikesankan tionghoa itu hanya menguras harta kekayaan indonesia secara sepihak. saya pikir tidak sesederhana itu. πŸ™‚

nah, kedepannya saya rasa yang paling mungkin ya pemberdayaan seluruh manusia indonesia, termasuk etnis tionghoanya. ini adalah bagian dari kita dalam usaha tuk indonesia bangkit. meninggalkan ini atau sebut saja masih diskriminatif dalam hal etnis ini, jelas akan menghambat kebangkitan kita juga. kita harus berani bersama siapa saja tanpa merasa terkendala apa-apa tuk membangun kembali indonesia.

kapan-kapan saya cerita ya, sudut pandang saya tuk persoalan ekonomi ini. hehehe πŸ˜€

mba anis sejak 1998-2004 saya terus bareng sama pengusaha2 chinese. dari mereka saya belajar ngelola bisnis. hasilnya 2004-sekarang saya kelola bisnis seorang pribumi-muslim, alhamdulillah atas izin ALLAH & berkat ilmu dari mereka kita bisa maju pesat. temen2 saya chinese ini skrg masih kontak2. mudah2an sy & mereka, temen2 & guru chinese sy tetep bisa bersinergi membangun bisnis indonesia smakin diperhitungkan dunia & membawa kesejahteraan

oiya ditunggu tulisan tentang ekonomi indonesia yang berimbang dan bijak

@tren di bandung
hehehe, kang.. saya tuh menulis cuma isengg olah pikir loh. jadi jangan terlalu diharapkan tuk bijaksana. itu tergantung yang bacanya deh. kadang saya pikir, para pembaca di sinilah yang membaca dengan bijaksana.. maka terkesan semua jadi bijaksana.. hehehe πŸ˜€
gitu ga sih?


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: