pulitik sadar diri

Posted on September 17, 2008. Filed under: islam indie |

(ngomongin pulitik yukk.. biar rada gemes dan jangan sedih lagi, hehehe.. maka pembicaraan ga akan jauh dari niatnya.. 😀 )

beberapa hari lalu, seorang teman saya sambil chatting ngomel-ngomel. soal sebuah partai islam kuda hitam, yang sekonyong-konyong sesumbar mau bergandengan tangan dengan sebuah partai nasionalis besar, dan selama ini diidentikan dengan partai preman.

hehehe, teman saya hanya seorang simpatisan, bukan orang dalem. maka dia masih bisa bergaul dengan saya yang begini. hehehe 😀

saya ya jadi bertanya.
– emang kenapa?
jawabnya,
– yaa.. singkatnya apa ga salah tuh?? itukan akan seperti malaikat yang mau temenan sama preman?? apa bisa??
– hahahaha… malaikat ni yee..
– kan selama ini memang sangat terjaga toh, islami gitu. preman mana ada yang islami?
– hahahaha..
– jangan ketawa mulu dongg.. serius. gimana menurut anis?
– ok-ok. serius. berhubung saya manusia, jadi saya sih biasa saja dengernya.
– itu jawaban apa nyindirrr??
– lah, iya toh. dimana-mana partai di kita emang masih oportunis, biasa toh? harusnya ga heranlah. jadi ya biasa sajalah.
– tapi inikan bawa-bawa islam, nisss..
– makanya saya indie.. hehehe..
– seriusss… gimana pendapat anis?? sebagei yang selama ini menolak partai islam kuda hitam itu, anis bahagia ya mendenger begitu?
– ya ga dongg. saya menolak bukan berarti saya menginginkannya keburukan. saya memang dari awal merasa riskan jika terlalu bawa agama ke ruang publik. bukan menafikan partai islam ya, saya terima keberadaan partai islam di indonesia. yang saya ga setuju kalau agama terlalu di politisir. itu aja. partai islam selama bisa berfungsi sebagai wadah menyalurkan idealisme tuk kebersamaan di indonesia, ya why not? tapi partai islam sebagai ideologi tunggal, saya menolak tegas.

– trus tuk soal tiba-tiba mau bergandengan dengan partai nasionalis itu gimana?
– trend.
– trend?
– ya iyalah. kesininya, orang sadar kok kalau indonesia butuh nasionalisme bukan agama. belum lagi dengan banyak ekspresi beragama yang memecah belah. islam kehilangan pamornya.
– tapi kan.. selama ini ada pembinaannya loh. dan itu ya cukup militan.
– ya resiko. resiko ditinggalkan konstituennya. lihat aja kasus keceplosanya kemarin, ketika petingginya sesumbar melakukan pendataan berupa kader yang sarjana. itu juga kebawa trend. kesannya hanya yang pinter yang layak ngurus negeri ini. itu juga sikap melupakan konstituennya. sederhananya itu mengkhianati kadernya yang lain.
– hmm..
– karena demokrasikan tidak boleh meninggalkan demos.. tidak boleh meninggalkan rakyat. ciee.. walhasil, hemat menurut saya sih, partai kuda hitam itu samasaja dengan yang lainnya. yang masih meninggalkan rakyat dalam berdemokrasi di indonesia. masih muda juga kali mau main politik-politikan. doo… hihihi. komentator selalu lebih pinter kan??.. 😛

– menyakitkan dongg??
– nah, lebih menyakitkannya lagi karena konstituennya dibina bahkan militan. sebagian malah berekspresi yang seolah diri dan partainya lebih baik dari segalanya dalam hidup ini.
– aargh, kasian ya..
– itulah resiko ketika agama terlalu di politisir.
– jadi gimana dong? sekuler?
– ya ga lah. kalau beragama sampai pada substansinya, ya sebenarnya nasionalisme itu wajib kali hukumnya. hehehe, maaf asal. maksudnya, ya nasionalisme itu adalah sikap dari tanggungjawab dalam beragama itu. beragama itu kan tuk mengenali dirinya sendiri lalu berdamai dengan nafsu dan diri sendiri. tuk kemudian bisa bersama siapa saja, maka dikatakan kita diciptakan tuk saling mengenal dan kita sama dimata tuhan. damai deh semuanya..

sebut saja, beragama secara individu yang memiliki refleksi tuk kebersamaan. ini jadi bernama kesadaran tuk bersama dan damai dg siapa saja. bukan sebaliknya, di buat kebersamaan yang memiliki refleksi tuk individu. wah, itu bisa jadi pemaksaan. ngerti ga maksudnya?

– ngerti ga ngerti..
– hahaha.. ya gitu deh. pikir ndiri aja ya.
– trus, gimana dong dengan kasus ini? suamiku say no tuh kalau partai kuda hitam ini bergabung dengan partai nasionalis itu. dia anti ibu itu..
– ya terserah. merdeka saja.. yang jelas, ga ada ruginya tuk partai nasionalis itu deh. sebagai nasionalis dia lebih mudah kemana saja, dan ya lumayan tuk mendapat pemilih yang lebih banyak.
– ada positifnya ga sih?
– idealnya ya harus ada. islam dan nasionalis bersatu itu harusnya bisa saling mengisi dan sinergi. tapi kembali, niat bergandengannya untuk apa? kalau hanya tuk kesesaatan, trus kemudian saling meninggalkan, dan menjalankan -sebut saja- hidden agenda masing-masing ya tetap aja akan mengundang polemik.

– jadi.. gimana dong?
– hmm, saya tidak mengkhawatirkan jika partai itu mau bergandengan dengan partai nasionalis besar itu loh. saya justru mengkhawatirkan sistem yang telah membesarkan partai kuda hitam ini. apakah sistem itu bisa menerima “pengkhianatan” partai kuda hitam ini? hehehe..
– maksudnya??
– realitis saja..
– maksudnya apa sih??
– eittss.. jangan serius. ini hanya dari saya yang suka main catur, tahu main catur kan?? jadi jangan dipikirin. itu cuma perhitungan langkah bidak catur di mata saya. itupun jika memang ini seperti catur.. hahaha.. sudah ah. lupakan saja yaa. daaa…

***

beragama sekiranya memang harus sampai pada substansinya. bersikap fanatik apalagi di ruang publik, sangat beresiko me-rigid. dan jika sudah me-rigid, agama tidak lagi mampu mengakomodasi perkembangan yang ada. dia menjadi statis, bahkan akan mempertahankan status quonya mati-matian. menghalalkan segala caranya.

beragama yang mencapai titik substansi, tentu dengan jernih, semoga bisa membuat beragama menjadi lentur dan terus bisa mengikuti perkembangan yang ada. maka kenapa agama itu -dan banyak agama lain- disebut universal. harus tetap ada benang merah, yang bisa di pegang dan tak kehilangan arah, tapi bukan rigid dan pebeulit.

dan tentu ketika beragama itu bisa sampai pada titik lenturnya, sekuler tidak akan bisa menyusup. karena sejatinya beragama menjadi nyata terjawantah, satu kata dan perbuatan, satu pikir dan perkataan, satu rasa dan perbuatan. satu realitas. sekuler hanya menyusup di sikap yang mendua. maka kemudian banyak tragedi yang terjadi karenanya..

entahlah..

selalu ada waktu
tuk sejenak terpaku
tentang hidup yang tak baku
tentang hidup bukan batu
hanya perlu menyatu
kesadaran berpadu
pribadi yang utuh

indonesiaku bhinneka,
indonesiaku tunggal ika..!

salam
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

3 Tanggapan to “pulitik sadar diri”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

“Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.
Kemudian mereka (pengikut-pengikut Rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing).”
(QS. al-Mu’minun (23) : 52-53)

Mungkin jawabannya satu aja, Mba Anis… iqra 😦

@mbak darnia
wah.. ilmunya tinggi nih mbak darnia. makasih di ingatkan yaa.. 😀
memang iqra’ jawabannya..
membaca fenomena,
membaca tanda-tanda
dan membaca pesan kehidupan.

Tuh, temennya mungkin karena terlalu berharap banyak ama kuda hitam. Coba kalo sama kuda putih. 😀


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: