tentang guru yang ilmu

Posted on September 18, 2008. Filed under: islam indie |

(dibagi yaa..)

terilhami oleh sebuah buku, saya hanya sekilas membacanya di gramedia.
buku tentang Guru. bersetting tanah jawa, berabad lampau.

kurleb katanya begini..

ketika sang murid dalam pengembaraannya, menjalani kehidupan nyata, mencapai apa yang dinamakan pencerahan ilmu. sang guru menyimpan suka dalam jiwanya. rasa lega tak terkira. maka dirasa, ajalnya pun kelak kan tiba.

maka dipanggillah sang murid, menghadapnya. rasa rindu bergetar, mengingat betapa waktu telah lama berlalu dan memisahkan sang murid dari pandang sang guru.
dengan takzim, sang murid memberi salam..
tapi siapa sangka, hari itu sang guru malah terlihat sejajar. seolah dia bukanlah guru lagi.

tentu sang murid tak terbiasa.
– wahai guru, jangan begitu. aku muridmu, jangan kau rendahkan diri sejajar denganku.
– mengapa tidak anakku?
– guru.. aku tak pantas.
– tentu kau pantas. kau telah mencapai inti ilmu. mengapa aku tak boleh menghormatimu?
– semua ini karena guru. aku tak akan begini jika tanpa guru..
– aku bukan apa-apa, kaulah pelita itu dan kau bisa karena dirimu, anakku..
– guru, aku malu. walau aku tak akan mampu menolak apapun yang akan guru lakukan, termasuk jika itu tuk sejajar denganku. tapi tolong jangan begitu. karena tentu tak enak dilihat oleh murid yang lain.

sang guru tersenyum.
dalam hatinya, inilah yang membedakanmu dari mereka, nak..

tak sampai di situ, sang guru berkata lagi..
– terangkan padaku nak, tentang sejatinya ilmu itu.
– beribu maaf guru, aku tak tahu apa-apa. guru tentu lebih paham dariku.
– katakan saja. aku rindu diterangkan tentang ilmu. selama ini aku disebut guru, aku selalu memberi ilmu, maka aku ingin sekali di isi oleh ilmu darimu.

sang murid kebingungan. rasanya tak ada satupun dari yang ia mengerti akan melebihi ilmu gurunya. maka apakah yang harus disampaikannya?
tapi, demi tak bisa menolak sang guru, maka mengalirlah kata-kata berilmu itu dari bibirnya..

– guru, haturkan sembah untukmu. maafkan aku, aku merasa harus melakukan sesuatu. di zamanku ini, ada banyak hal yang harus kuremajakan dan yang tetap kupelihara. aku harus merubah tatanan yang sudah guru bangun tuk menjadi sesuai dengan zamanku. tentu untuk menjadikannya lebih baik. bukan berarti tatanan guru tidak baik, tapi untuk lebih sesuai dengan zamanku. beribu maaf ya, guru. aku belum mau melakukannya, aku hanya sadar tertuntut untuk itu.

– lalu bagaimana tentang kesejatian itu..?
– kesejatian itu bukan lagi padaku sehingga aku harus menjadi seperti guru. kesejatian itu milik semua manusia sepertiku. tak ada yang membedakan. hanya takwa dan keinginan yang kuat tuk terus berbuat kebaikanlah yang membedakan. semua unik, semua istimewa. semua orang harus bisa menemukan kesejatiannya sendiri-sendiri. maka setiap orang berbeda tuk unik dan saling mengisi.

– lalu bagaimana mencapai keistimewaan perorangan itu?
– hanya seperti bercermin pada diri sendiri, menemukan semua kelebihan dan kekurangan diri, lalu menatanya dan merapikannya.
– sulitkah itu?
– tidak guru. hanya harus selalu percaya dan tak kenal lelah. selalu ingat dan waspada.

– tentu kau tahu, kalau merubah itu berat anakku?
– iya guru. sebagian orang akan mempertahankan rasa keguruan yang sudah nyaman itu. menjelma pengkultusan dan menjadi jalan tuk kelangsungan hidup.
– tapi kau tidak merendahkan arti guru toh?
– o.. tentu tidak, guru. guru sejati tetaplah guru. tak akan berkurang satupun ilmu dari seorang guru. hanya di zamanku, guru tak lagi guru yang dipuja dan disembah. dia akan menjadi guru yang mendorong, mengilhami dan memerdekakan. bukan guru yang memenjarakan. sekali lagi, maafkan aku guru, bukan maksudku mengoreksi guru selama ini, aku sendiri telah dimerdekakan oleh guru.
– hahahaha.. betul nak. aku senang mendengarnya. setiap masa ada kebutuhannya. ketika masa masih seperti bayi, maka dia butuh yang selalu disampingnya, menuntunnya bahkan menyuapinya. dan ketika masa sudah sampai pada kesadaran diri, maka yang dibutuhkan adalah dorongan dan penyemangat tuk terus meyakinkan setiap diri adalah istimewa dan bisa mencapai kesejatiannya.

– maafkan aku wahai, guru.. aku meminta izinmu tuk melakukan hal yang berbeda darimu.
– hahaha, itulah kebutuhan zamanmu. lakukanlah. walau aku tahu itu sangat berat untukmu..
– mohon doa dari guru.
– tentu nak..
– guru.., sesungguhnya ingin sekali kuabadikan semua tentangmu. tapi tak bisa kupungkiri aku harus melakukan apa yang harus kulakukan tuk zamanku. maka aku abadikanmu dalam jiwa dan semangatku. aku ingin membantumu, mengurangi bebanmu..
– anakku, dengan kau lakukan apa yang menjadi kebutuhan zamanmu, itu berarti kau talah menolongku. karena tentu aku sangat terbatas tuk mengikuti langkah zamanmu, dan ketahuilah anakku. dulu, aku juga merombak tatanan guruku sendiri tuk kebutuhan zamanku. inilah kesinambungan itu.
– terimakasih tuk memahami hal ini. mohon restu dari guru..

takzim..

saya terpesona oleh kisah itu.
walau tentu di sini sudah saya modifikasi dalam logika saya.

tapi adalah dibuku itu, seorang guru yang memerdekakan muridnya, sebagaimana dulu ia dimerdekakan. seorang guru yang memberikan estafet keilmuan yang penuh rasa hormat pada zaman berikutnya. seorang guru yang rendah hati, yang relakan karyanya tuk terus di perbaiki menjadi sempurna tuk setiap masanya. seorang guru yang mengerti kesejatian ilmu, tak mejelma kekuasaan malah merayakan kemerdekaan..

idealnya guru yang demikian di masa kini hanyalah sebagai seorang fasilitator. meyakinkan muridnya bahwa setiap pribadi adalah istimewa, dan memerdekakan sang murid dalam mencapai keistimewaan itu. guru yang mampu mengatasi nafsunya. guru yang percaya pada muridnya.

demikianlah ilmu ketika mencapai rasa sejati
maka dia tidak membawa diri kepada sang guru
melainkan kepada sang ilmu itu sendiri
guru dan ilmu yang telah lebur jadi satu

maka bolehlah kita belajar menuntut ilmu kemana saja
tapi tetaplah mengolahnya sampai mampu memberdayakan jiwa kita
bukan malah taklid dan sekedar mengikuti begitu saja
hilangkan semua pesona, selain pada ilmu itu semata

selamat menuntut ilmu
selamat menempuh kesejatian itu

ps. kisah ini mengingatkan saya pada para nabi dan muridnya. para nabi dan sahabatnya. para nabi dan umatnya. para nabi yang guru yang ilmu… para nabi yang memerdekakan. πŸ˜€

salam
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

5 Tanggapan to “tentang guru yang ilmu”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

kesejatian ilmu ada di malam kemuliaan (lailatul qadr)
temukan

BOM di MALA LAILATUL QADR

http://trendibandung.wordpress.com/2008/09/18/bom-di-malam-lailatul-qadr/

PLEASE VISIT MY BLOG..

@trend di bandung
kang, saya ga harfiah loh di sini.. hehehe πŸ˜€

@alisina1989
salam kenal..
boleh tahu alamat blognya?

hilangkan pula pesona kepada ilmu, beralihlah kepada Sang Sumber Ilmu. *halah sok tau* :mrgreen:

@siti jenang
wah, bener mas..
lebih mendalami lagi nih,
makasih di ingetkan yaa
senengnya punya banyak guru di sini, hehehe.. πŸ˜€


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: