“sex and the city”

Posted on September 19, 2008. Filed under: islam indie |

(hehehe, nyambung ga nyambung dengan judulnya, saya mau merefleksi ke soal RUU APP nih.. :D)

cerita yaa..

sebagai anak rumahan, saya lebih banyak menghabiskan waktu dengan buku. tambah lagi punya ibu yang galak, meski kadang ingin mencoba banyak hal, sepertinya malah jadi cari penyakit. nyoba pacaran cinta monyet ala anak smp, malah pusing dan kesulitan sendiri. maka seminggu saya nyerah. hehehe :D.

dalam soal buku, saya kenal novel roman pertama kali adalah dari Jendela SMP nya Mira W. ada teman yang ngajakin belajar baca roman karya Maria A. Sarjono sampai Barbara Cartland. saya terlanjur mengenal roman dalam estetika seorang Mira W. maka saya ga gitu suka pada hal yang terlalu vulgar. saya lebih mengemari cerita misteri, Agatha Cristie sampai Mara GD. saya tidak pernah nonton BF dan tidak pernah ada yang ngajak. hehehe šŸ˜€

kemudian saya juga dikenakan jam malam. maghrib harus sudah di rumah, kalau ada acara sekolah, jam 9 harus sudah di rumah. titik tidak pake koma. soal tayangan tivi, dulu cuma ada TVRI. trus SMA, saya pindah ke bandung, saya juga relatif asyik dikamar saja, berteman radio dan buku-buku pinjaman di taman bacaan hendra dekat jalan aceh tempat kost-an saya. jarang deh saya ikutan nonton tivi di rumah ibu kost. walhasil, ketika awal marak RCTI, saya tidak menikmatinya! saya ga tahu dan ga mau tahu. maka jangankan soal iklan, ketika teman-teman suka membicarakan acara parodinya p-project dulu, saya diem saja. doraemon-pun saya ga tahu. hehehe šŸ˜€

lalu masuk islam, saya tinggal dengan teman-teman tarbiyah yang militan. tanpa tivi dan hanya nasyid plus ngaji. ya, saya bisa dengan mudah beradaptasi, karena saya terbiasa kok di rumah jadi anak alim. saya tidak punya banyak tuntutan tuk ini itu. relatif lurus yaa?? hehehe, jangan ditanya deh. saya juga ga tahu kenapa? buat saya sih, semua itu karena ala bisa karena biasa..

itu saya..

nah, saya punya teman karib dari kecil.
dua orang dan mereka manusia merdeka. mereka pernah nonton BF, pernah coba rokok. yang satu malah suka ganti-ganti pacar dan yang satu lagi sangat oportunis dengan lelaki. asyik deh saling berbagi dengan mereka. tapi herannya nih…, saya juga tidak terlalu ingin mencoba sebagaimana mereka. haduhhh.. saya di bilang kuper, alim, sampai dinginnnn… hehehe :D. ga tahu ya. saya emang gitu. tapi suka kok berteman dengan mereka. saya banyak mendapat cerita justru dari mereka.

lah, yang penting : saya dan mereka tetap bisa saling menyeimbangkan diri. secara umum, prinsip moral kami sama, bahkan dalam prinsip berumah tanggapun relatif sama. walau kami berbeda ekspresi, bahkan berbeda agama. kenapa? karena kami sama-sama ga munafik melihat hidup.

seperti soal film BF. buat saya, ga pernah liat juga ga papa. buat mereka, cukup sekedar tahu. saya tidak menafikan, mereka tidak memaksakan. soal busana minim, meski saya yang berjilbab, saya menerima aneka model busana, walau mungkin saya tidak tertarik menggunakannya. teman-teman saya, meski lebih mudah berekspresi dalam berbusana, juga tetap ga sembarangan baju. ada etika sesuai waktu dan tempatnya.

soal bacaan dan tontonan lainnya, kami tetap punya selera yang ga asal-asalan deh. soal tampilan dewi persik misalnya, buat saya itu berlebihan, buat mereka itu norak. atau gambar anjasmara yang dulu disensor itu. tuk saya itu malah bikin saya malu, buat mereka itu ya disebut ga estetis aja bahkan ada yang jadi ga respek sama anjasmara. kita juga bukan pengkonsumsi tabloid murahan. walau tetap tahu sedikitnya gosip selebritis kita deh.

tapi sama.
baik saya dan mereka, kami adalah tiga cewek ‘jadul’ yang sangat menjaga berat badan. meski kami sudah punya anak, masing-masing 2. kami bukan wanita yang jadi asal-asalan juga sama penampilan. kami tetap wanita yang butuh inspirasi tentang rasa cantik dan menarik. walau saya cenderung asyik dengan jeans, yang satu asyik dengan trend dan yang satu lagi tetap asyik dengan aneka t-shirt. merdeka yang bertanggungjawab deh.

demikian contoh nyata tuk pengantarnya ya..

sehingga… kalau ditarik ke persoalan ekspresi pornografi dan pornoaksi yang ada saat ini. maka maulah kita sama-sama jujur sama hidup kita ini. maulah sama-sama mengemukakan prinsip moral kita secara bersama dengan penuh tanggungjawab. ga bisa asal maksa, juga ga bisa asal bebaskan saja.

meski saya berjilbab, saya bukan orang yang mendadak suci loh. saya ya tetap produk dari sebuah peradaban yang saya terdidik di dalamnya. begitupun teman-teman saya yang berbeda ekspresi -meski muslim tapi tidak berjilbab- dan bahkan yang berbeda agama.

laju kebobrokan moral yang ada saat ini, saya pikir ya akibat terlalu dibiarkannya negeri ini dari -apa yang dinamakan- peradaban. terlalu lama ga diurus.. manusia indonesia kehilangan rasa beradabnya. maka semua seolah seperti lepas kontrol. semua seperti kehilangan rasa estetika dan nilainya.

nah… untuk mengembalikan nilai dan rasa beradab di negeri ini, jelas tidak bisa instan. agama juga tidak serta merta bisa mensucikan manusianya. perlu apa yang dinamakan proses peremajaan atau penyemaian kembali.

nilai-nilai atau prinsip moral ini harus bisa dibiasakan kembali. sederhananya ya jangan lagi mengkonsumsi ekspresi pornoaksi dan pornografi yang berlebihan. percuma dibatasi bahkan dilarang, kalo konsumsi dan kebutuhan untuk itu terus berlangsung dan tinggi.

harus diberi ventilasinya, bukan sekedar dibatasi.

agar kemudian dicapai nilai dan prinsip moral yang diinginkan, -atau sebut saja- dengan sendirinya persoalan ekspresi pornoaksi dan pornografi ini akan menemukan titik seimbangnya.

dan kalau itu terjadi, ya sebagaimana saya dan teman-teman saya yang berbeda itu, yang ada adalah rasa saling menghargai, menghormati tanpa kehilangan kebutuhan akan ekspresi itu sendiri, tapi tentu dalam kemasan yang lebih estetis.

saya kira itu deh goal idealnya.
yang dengan itu juga, semua budaya dan tradisi indonesia ini ga lantas punah dengan berbagi larangan ini-itu. sederhananya saya mau bilang kalau persoalan nilai atau moralitas bukanlah persoalan asal jadi. ini proses pembudayaan. yang juga ga lepas dari segala problematika di dalamnya. kemiskinan dan pendidikan turut melemahkan proses tumbuh kembang kita dalam berbudaya loh.

dan saya meyakini sex itu indah. tuhan menciptakannya dalam rangka keindahan. kalau tidak indah, tentu sudah musnah deh seluruh kehidupan ini. maka tuk menjaganya tetap indah ya bukan dengan asal membatasi dan meniadakannya. tapi tempatkan kembali dia pada keindahan yang sesuai tempatnya. sehingga ekspresinya pun akan lebih baik dari yang selama ini ada.

indah di sini bukan semata soal penataan gaya dan artistik dari segi fisiknya ya, tapi indah sampai di rasa dan di jiwa estetis kita. maka kemudian semoga bisa menjadi nilai yang tinggi dalam peradaban bangsa kita ke depan, terutama tuk juga bersanding sejajar dengan peradaban dari belahan dunia yang lainnya.

ya gitu deh… šŸ™‚

persoalan ini ga bisa asal-asalan. para wakil rakyat itu harus mau sama-sama jujur dalam melihat kehidupan nyata tuk memutuskan soal ini. karena ini menyangkut ekspresi kebersamaan kita yang ga sejenak dua jenak :D. tapi panjang dan sangat menyangkut banyak hal, termasuk menyangkut bagaimana kita berbudaya.

gitu ga sih?

ps : ini secara prinsip ya, soal detail sih sebenarnya mudah jika prinsipnya disepakati. justru jangan melulu terjebak pada detail. yang malah akan bikin makin ruwet deh. hehehe, ga tahu ah. ini cuma iseng asah otak… šŸ˜€

salam
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

4 Tanggapan to ““sex and the city””

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

betul mba, pendapat itu memang sangat bisa berbeda-beda. ada yang nyebut itu tergesa-gesa. sementara yang lain menyebut ini harus segera. antara tergesa-gesa dan segera ini memang sulit ketemu. masing2 membawa sudut pandang sendiri. tapi kayanya kita semua mesti sabar melalui tahapan belajar ini. sehingga semua orang sudah mengerucut memegang hal-hal inti dan tidak sibuk bila berbeda di hal detail. detail itu ruwetkan, apalagi kalau berbeda di hal detail, ruwet banget ya mba…

jadi selama ini polisi merazia gambar/ vcd porno gak ada dasar hukumnya ya?
dan kalo ruu app belum disahkan, berarti mengeksploitasi seksual anak-anak tidak melanggar hukum?

hehehe.. kalo mau jujur, yang baru dari ruu app hanyalah definisi tentang pornografi yg bisa ditafsir seenaknya sendiri, dan peluang kelompok massa untuk menjadi polisi sipil bagi masyarakat lain.

jadi, siap2 liat patung pancoran pake jaket dan gereja2 memajang salib yesus pake sarung! hahaha..

@tren di bandung
saya sudah baca kemarin tapi ga meninggalkan jejak di blognya. asyik juga bacanya, tulisannya keren deh.

@neo
saya ga ngerti soal perundangan ya. saya bukan anak hukum.. hehehe šŸ˜€
tapi saya rasa persoalan moralitas sulit deh ditegakkan lewat perangkap hukum semata. bisa-bisa jadi malah kaku. maka perlu pandangan menyeluruh dari banyak pihak dalam masyarakat kita tuk persoalan ini.

yang saya tangkap sekilas dari persoalan RUU APP ini memang berpotensi multitafsir. takutnya alih-alih merapikan persoalan yang memang dibutuhkan, e.. malah merembet ke hal-hal yang tidak semestinya juga.

saya lebih setuju, jika persoalan ini di dekati oleh pendekatan budaya dan pendidikan deh. pemerintah dan tokoh-tokoh masyarakat harus bisa mensugesti hal-hal yang positif, membangun moralitas yang baik dan peradaban tangguh. tuk hal yang jelas berbau kriminal, memang harus dikenakan hukuman ya.

ah, ga ngerti deh mas. hehehe.. šŸ˜›


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: