apa kata dunia?

Posted on September 23, 2008. Filed under: islam indie |

(cuma olah pikir yaa..)

hmmm.. saya tertarik nih dengan rencana pembahasan UU Zakat oleh DPR. hehehehe, maaf ya, kurang kerjaan ga sih tuh? dan buang-buang duit lagi ga bikin UU mulu? πŸ˜€

boleh berpendapat yang keluar dari pakem ya. jadi tolong jangan interupsi dulu, coba pahami substansinya. ciee..

begini..
terbayang oleh saya ketika Umar bin Khattab menyelenggarakan dan mewajibkan zakat secara struktural. konon di zaman Umar lah, persoalan zakat ini memiliki kekuatan hukum dari institusi penyelenggara negara. banyak penerapan syariat yang dibakukan secara struktural di zaman Umar. konon demikian yang saya baca dan yang diceritakan pada saya. bukan berarti di zaman Rasul belum ada, tapi di zaman Rasul tidak terstruktur dan memiliki kekuatan hukum sebesar di zaman Umar, intinya gitu. gitu ga sih?

nah.. dimata saya, ketika zakat ini memiliki kekuataan struktural demikian, maka zakat itu identik dengan pajak di masa sekarang. maka buat saya, simpel.. zakat adalah pajak.
persoalan mendasarnya kemudian adalah cukuplah dioptimalkan persoalan setoran pajak ini. dan digunakan sebesar-besarnya tuk kesejahteraan bersama.

indonesia bukan negara islam toh?
maka mengapa rumit mengurus UU tentang zakat?

toh, jujur.. permasalahan negara ini sudah berbelit, jangan lagi diperumit. cukup optimalkan lagi persoalan yang ada. saya pikir itu akan lebih bijaksana.

lah, tuk pajak saja, negara ini sudah banyak ga konsistennya dalam hal pembayaran maupun pemanfaatannya. banyak dari kita, terlebih pengusaha dan pejabat negara yang tidak menyetorkan kewajiban pajak ini. apalagi nanti dengan persoalan zakat? belum lagi –maaf ya– saya suka pusing dengan masalah hitungan zakat ini. seperti tunggu mengendap satu tahun dulu dsbnya. maka pada prakteknya, zakat ini juga berpotensi memiliki persoalan yang sama dengan pajak, yakni persoalan di pembayarannya. kemudian tentu seperti lazimnya ya masalah di pemanfaatannya mengingat indonesia minim pendataan penduduk miskin, ditambah kalau kudu yang muslim.

maka yukk, kita sederhanakan hidup ini..

kasian rakyat kecil yang sudah merintih tuk di perbaiki nasibnya. saya mengerti sekali kalau zakat ini berpotensi tuk turut mengentaskan kemiskinan. tapi jauuuuuh dari hal itu, apa bener kita bisa konsiten membayar zakat ini? dan bener-bener disalurkan kepada yang berhak? pajak saja masih penuh perlakuan manipulasi. ya ga?

saya bukan anti syariat ya, ini semata karena saya melihat secara substansi ini sama. maka yang utama adalah bagaimana mengoptimalkan prakteknya. ini deh rasanya yang utama bagi kita dalam beragama dan bernegara. kita tidak sedang beragama dan bernegara sebatas wacana saja kan? saya pikir, kita ini harus nyata dalam beragama dan bernegara, agar maju niih negara dan kehidupan kita.:D

belum lagi nih, buat saya, pajak ini sudah menyentuh seluruh lapisan masyarakat. bukan hanya muslim tok. kasarnya, pajak ini universal. hehehe πŸ˜€ tidak lagi terkesan sebagai produk agama islam. ini produk zaman yang selaras dan sebangun dengan produk pemikiran islam. maka kalau saja pajak ini bisa diselenggarakan dengan baik dan dimanfaatkan sebesar-besarnya tuk kesejahteraan rakyat, ya tentu akan banyak persoalan bisa terjawab.

selebihnya, baik dalam islam dan agama lain, jika ada yang masih ingin lebih banyak beramal itu sudah termasuk infak, sodakoh atau derma. ini sudah perorangan. maka kita lihat di berbagai daerah, ada budaya memberi ‘zakat’ dalam banyak model dan ragamnya, termasuk yang diselenggarakan oleh haji Shoikon itu. musibah zakat maut yang terjadi itu lebih karena angka kemiskinan yang semakin meningkat. itu sudah keadaan yang diluar kontrol haji Shoikon. ini menurut saya loh. πŸ˜›

sederhanakan deh.

dan semua tentu tahu, kalau di indonesia ini, ada sebuah kesadaran yang tak tertulis, bahwa peraturan itu dibuat tuk dilanggar. hehehe. ini memang penyakit bangsa indonesia.

maka jauh sebelum segala sesuatunya diperundang-undangkan atau dijadikan peraturan formal, coba dipelajari lagi deh sampai di tingkat implementasinya.

jangan hanya seperti tergiur oleh wacana yang ada atau trend saja. seperti sekarang sedang marak yang berbau islam, sehingga semua produk islam mau di patenkan pula di ruang publik. saya pikir, lebih baik masuk dalam substansinya. selain ini bisa lebih menyentuh banyak kalangan, indonesia juga bukan negara islam. kita tetap harus mau menyadari kondisi real masyarakat kita deh.

terutama jangan sampai semua produk perundang-undangan kita, nantinya hanya jadi sekedar pajangan.

dan kalau saya perhatikan lalu renungi dalam-dalam, indonesia ini unik.
budaya yang ada tidak semata budaya leterlek. di beberapa bagian indonesia, budaya tutur masih lebih digemari dan dihayati. bahkan nilai-nilai hidup itu lebih terimplemetasi di budaya tutur. terbukti indonesia ini sarat dengan kearifan lokal. sehingga jelas, indonesia bukan produk sekali jadi. sebagaimana indonesia sendiri adalah sebuah produk kebersamaan yang telan begitu lama tumbuh berkembang dengan alamiah.

ehmm.. maka kadang saya merasa mbok bijaksanalah mengenali keindonesiaan ini, jika memang ingin menyentuh semua kalangan di indonesia. terutama, kalau tidak berpikir indonesia ini hanya miliknya atau milik kelompoknya sendiri.

dan maaf ya… saya tuh ingin sekali mentertawakan persoalan zakat ini.
sebut saja, ketika saya masuk islam. sebagai mualaf diawal keislaman itu, saya tidak pernah menerima zakat kok. malah ditagih zakat fitrah! padahal mualaf konon termasuk yang disebut berhak atas zakat dalam qur’an. catat: ada di qur’an!
lalu saya nih masuk islam di masjid, memiliki sertifikasi sah jadi muslim πŸ˜€ kemudian beraktivitas juga di masjid diantara mereka yang paham agama. apa lantas ada yang sadar tuk memberikan zakat tuk saya yang mualaf ketika awal itu? atau minimal membantu saya memperoleh hak saya? padahal banyak teman yang tahu saya berpuasa daud. apa tidak terpikir kalau itu karena saya sehari bisa makan sehari ga? bahwa secara umum sebagai mualaf, saya akan mengalami banyak cobaan tuk mempertahankan keimanan ini, termasuk soal finansial? atau hanya karena saya tidak seperti peminta-minta yang compang-camping? hehehehe..
begitulah beragama kalau hanya formalitas doang. orang miskin juga dilihatnya dari pakaiannya. ya ga? πŸ˜›

eitttts.. saya menggugat bukan tuk kepentingan saya pribadi ya. alhamdulillah, saya bisa menyelesaikan persoalan saya sendiri. saya lebih melihat ini jauh ke depan. saya sadar tidak meminta zakat karena saya ini tidak masuk islam di negara islam. saya tahu tuk tidak mengenakan kewajiban zakat tuk mualaf itu kepada teman-teman yang paham agama, karena saya sadar bahwa beragama itu persoalan kesadaran pribadi. dan kemudian pastinya karena saya tidak pernah diajarkan oleh ortu saya tuk jadi peminta-minta. maka meski saya masuk islam, itu bukan tuk jadikan saya peminta-minta.

nah, diminimnya kesadaran zakat kaya gitu, tiba-tiba mau di buat undang-undangnya???

temui pendapat saya ini beranjak dari kondisi real loh.. maaf ya, nyatanya memang begitu kok. πŸ™‚

sehingga jangan anget-anget tahi ayam deh.. kasian nih agama, jangan dipermalukan dalam skala yang lebih besar. agama ini bahkan mengatakan laa ikra ha fiddin. tidak ada paksaan dalam beragama. maka segala wacana dalam agama ini tidak bersifat memaksa. jangan dualisme deh. sungguh, beragama adalah kesadaran. maka bernegara adalah refleksinya.

sehingga kalau negara hanya menganut sistem pajak, sadari saja kalau itu adalah tuk refleksi dari ajaran berzakat dan berderma yang ada di semua agama. pada prakteknya kita hanya perlu berkomitmen tinggi dan konsisten, baik dalam pembayarannya dan pemanfaatannya yang sebaik-baiknya tuk kesejahteraan hidup kita bersama. dahulukan kewajiban pajak karena semoga pemanfaatannya bisa lebih dalam skala besar. lalu selebihnya, silakan berzakat/bersodakoh dan berderma lainnya menurut kesadaran masing-masing..

atau jangan-jangan…. gimana setelah zakat diundang-undangkan, maka muslim indonesia boleh hanya merasa wajib mendahulukan zakat dari pajak? lah, apa ga jadi problem lagi tuh buat negara? sekali lagi, karena bangsa indonesia ini unik. hehehe πŸ˜€

duh, maaf yaa. jujur deh…. saya jadi suka geli sendiri πŸ˜€
melihat manusia berlomba-lomba begitu formalnya dalam beragama, seolah tuhan melihat yang formal itu. padahal tuhan menghitung jauh di kedalamannya.
gitu ga sih?

maka saya lebih suka berjalan kaki
pelan-pelan meniti di tepi jalan
tersenyum memandang kehidupan
belajar menembus yang hakiki
tentang tuhan yang sederhana
dan tak banyak aturan
selain nurani yang tinggi
dan nilai yang membumi
tentang hidup penuh bakti
dan kebersamaan yang serasi

salam
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

21 Tanggapan to “apa kata dunia?”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

Assalamu alaikum warahmatullah, membaca tulisan saudaraku mengenai zakat, maka ketahuilah bahwa zakat itu adalah salah satu rukun islam. Menunaikannya adalah suatu kewajiban yang tidak boleh tidak harus ditunaikan sesuai dengan kriteriannya masing-masing. Zakat tidak bisa digantikan oleh pajak sebab pajak hakekatnya dibuat oleh pemerintah dan sebagai warga negara harus pula ditunaikan sedangkan zakat pengaturannya sesuai dengan tuntunan Agama Islam. La ikraha fid Diin berkenaan tentang hak seseorang untuk memilih agama, sedangkan jika seseorang telah masuk islam maka wajib baginya untuk mengikuti semua aturan yang diperintahkan oleh Allah dan rasulNya… maka hendaknya anda harus bisa membedakan dan berhati-hati dalam berpikir…seorang muallaf memang mendapatkan zakat sebagaimana yang anda katakan… hanya saja apa yang anda alami memang suatu kesalahan yang mungkin saja terjadi karena satu dan lain hal , mungkin anda yg lebih mengetahuinya. Mengenai kejadian di pasuruan itu mungkin merupakan zakat harta atau sedekah yang dikeluarkan dan bukan zakat fitri. Untuk perkataan anda lainnya di artikel anda (Maaf) saya hanya bisa mengatakan , bahwa anda dan teman -teman muallaf lainnya kiranya masih harus banyak belajar tentang islam ini dengan benar dan memahaminya dengan benar shingga anda bisa memulai keislaman dengan jalan keislaman yang benar yang diridho-Nya. Wassalamu alaikum warahmatullah

[…] Lalu hiasilah ketaatan kepada Allah Ta’ala dengan ilmu, kesabaran dan pemahaman. Lalu jauhkanlah d… […]

Sebagai tambahan … dari pernyataan anda tentang Indonesia ini bukan negara Islam … disisi lain benar tapi karena Indonesia ini mayoritas Islam maka kenapa harus dipertanyakan kalo ada kewajiban mereka terhadap PenciptaNya, pemberi Rizqinya itu diatur oleh negara? sebagai contoh lain masalah pornografi, mereka yang paham betul dengan agama ini menuntut dihapuskannya pornografi karena mereka sadar akan kewajiban mereka, bukan sekedar melindungi mereka dari melihat hal-hal yang terlarang juga untuk menjaga ummat islam dan keturunan mereka, anak-anak mereka, cucu mereka dari kebejatan moral, kerusakan akhlak, hilangnya rasa malu, dikalangan ummat islam DAN ITU ADALAH TANGGUNG JAWAB MEREKA YANG HIDUP SEKARANG. karena yang perlu anda ketahui bahwa Islam itu bukan simbolik semata, maka ummat islam menuntut itu karena merupakan kewajiban mereka kepada RabNya yang dengan tersekenggaranya kewajiban-kewajiban itu maka Allah Ta’ala insya Allah memberikan keberkahan kepada mereka dan untuk seluruh bangsa ini … sekali lagi maaf anda masih harus belajar bagaimana Islam memandang suatu masalah. Islam ini bersifat universal lebih dari yang anda bayangkan … dari saudaramu.

saya nyumbang tulisan yang sederhana dari mana sebaiknya kita mulai memandang hubungan antar manusia itu… (mudah2an nyambung mba…) mungkin kultur masyarakat kita harus ditopang dulu oleh pribadi2 yang luas dan berani.

http://trendibandung.wordpress.com/2008/09/23/belajar-berani-dari-yusuf-mansyur/

oiya ada satu lagi mba, saya ambil di laci blog saya yah…

http://trendibandung.wordpress.com/2008/09/13/just-do-up/

gua bengong baca nie komen2 disini, nggak nyampe otakku.

ini mo bahas, hikmah, fiqh, ato campur2 kayak magelangan ya? barangkali gara2 pergaulan gw gak luas ama orang2 model ginian, gw masih belom ngatri kalo fiqh mau dibawa2 ke negara, dg alesan mayoritas, kenapa nggak mulai yg jelas2 dulu misalnya riba di bank2, fatwa haram peuyem/tape yg kadar alkoholnya jauuuh… lebih tinggi drpd bir yg konon diharamkan oleh sebagian umat, dlsb. dlsb. Terlalu luas dibahas lewat tulisan2 spt ini. Artinya tugas dakwah, yg menurut sy adalah “memberi tahu” sudah seolah-olah “memaksakan kehendak” spt peraturan wajib guru agama islam di sekolah non-muslim dahulu. Kenapa nggak sekolah2 muslim yg berikhtiar agar skulnya sebagus dan semurah mungkin shg orang2 non muslim jauuuh… lebih tertarik ke skul islami, dan anak2 muslim nggak tertarik sama sekali ke skul non muslim ato negeri, jika perlu krn skul islam is the best in this country. Why not? Emang kita gak yakin bisa, shg harus pake pemaksaan2 kehendak via peraturan2 gicuan kah??

Wueleh, kok malah jd sok teu gw ye?! Naudzubillahimindzalick selick liiiicknya deee….

@islamy
makasih mbak/mas.. saya jawab yaa πŸ™‚
– pertama, jika mas/mbak (tuk kemudian saya sebut : anda) keberatan dan sangat tidak setuju dengan pendapat saya di blog ini, saya kira adalah bijaksana jika anda tidak perlu membawa dan mengidentikannya dengan mualaf2 yang lain.

saya pribadi bertanggungjawab sepenuhnya atas semua pikiran dan perkataan saya di blog ini dan dimana saja. saya tidak mewakili siapa-siapa selain diri saya sendiri. saya : independen.

– kedua, ketika membicarakan negara tercinta ini, sebagai muslim/mualaf/bahkan sbg sebuah pribadi, saya tidak bisa melihat permasalahan hanya dari sisi saya pribadi. saya harus turut mau tahu bagaimana yang lain melihat dan merasakannya, yang notabene bukan muslim.
meski saya tahu islam memiliki banyak syariat yang berpotensi menyelesaikan banyak permasalahan umat manusia, tetap saya tidak bisa melihatnya secara sepihak. saya harus mau dan harus bisa berdiri dalam konteks indonesia. meski mayoritas penduduk di indonesia adalah muslim atau bahkan ‘jika’ parlemen indonesia banyak diduduki muslimpun, tentu tidak lantas menjadikannya harus menguasai semua aturan di indonesia toh? saya sendiri di sini hanya memberi komentar dan mengkritisi dengan tidak mengurangi rasa hormat pada mekanisme wakil rakyat itu. ya ga?

– ketiga, seperti saya katakan saya melihat permasalahan ini pada substansinya. bahkan melihat nyata pada implementasinya.
kalau anda katakan kelalaian/kesalahan permasalahan zakat dalam pengalaman saya pribadi itu adalah hanya saya yang lebih mengetahuinya, saya pikir itu pernyataan yang sangat egois.

saya inikan baru islam saat itu. apa yang saya ketahui ttg islam? zakat kan itu wacana dari semua yang muslim, yang lebih memahaminya. maka seharusnya yang muslimlah yang wajib memberitahu saya akan hak saya dan bagaimana mendapatkannya -jika memang ada kepedulian terhadap nasib saya sbg mualaf saat itu. lah, kalau pada kenyataannya tidak ada kepedulian, ya itu sih harusnya jadi introspeksi buat muslim indonesia seluruhnya, termasuk anda (juga saya -yg saat ini sudah hidup layak). terlebih ini mau di buatkan UU-nya. mayoritas muslim toh negeri ini?

– keempat, justru karena memiliki tanggungjawab yang besar pada kehidupan bahkan tak hanya kehidupan hari ini, maka saya merasa harus bisa mempelajari islam mendalam pada substansinya, demi bisa tuk terus menjawab tantangannya secara nyata. kalau memang anda katakan islam bukan simbolik semata, sekiranya islam bisa tuk tidak selalu terpaku pada istilah2 dari dirinya saja/yang islami menurutnya saja. sejatinya universal deh.

nah, kalau menurut anda, islam jauh universal dari yang saya kira, boleh tahu bagaimana?

– kelima, maafkan keterbatasan akal saya ya. dalam konteks indonesia, saya merasa perlu tuk selalu bisa mengajak semua pihak di indonesia tuk bahu membahu membangun indonesia dengan tulus tanpa embel-embel.

negara indonesia ini juga dimerdekakan olah soekarno dan hatta yang notabene muslim, bahkan melandasinya dengan dasar negara yang sangat universal cermin substansi keberagamaan mereka. saya sangat mengagumi mereka, para pahlawan dan pendiri negeri ini. sejujurnya mereka yang lebih menginspirasi saya dalam beragama dan bernegara di negeri ini. mencintai indonesia dalam kemajemukannya dan sungguh-sungguh mewujudkannya rasa cinta itu dalam setiap pikiran dan prilaku saya di kebersamaan ini.

itulah beragama dan berkeyakinan yang telah sampai pada ‘skala sikap’ – menurut saya loh πŸ™‚
gitu ga sih?

sekali lagi, makasih yaa mas/mbak
senang sekali dikayakan begini..
hidup adalah pembelajaran,
termasuk di dalamnya belajar ‘agama’ islam.. πŸ˜€

@tren di bandung
makasih kang.
nanti saya baca yaa.. πŸ˜€

@mas JM
cariin lagunya Dewi -dee- Lestari dongg..
yang judulnya Malaikatpun Tahu.
saya suka tuh.. dan kayanya itu bisa menjawab kebingungan mas JM deh, hehehe πŸ˜›

ntar saya main ke blognya ya. semoga udah ada.

e, mas.. katanya nih, ada yang berpendapat kalau mendengarkan musik itu haram. aduuuuuuh…. masa’ mas JM haram sih?? ga rela deh saya.. – loh?
hehehe, becanda mas.. πŸ˜€

jazakallah atas tanggapannya… saya mau luruskan sedikit, tulisan saya mengenai “seorang muallaf memang mendapatkan zakat sebagaimana yang anda katakan… hanya saja apa yang anda alami memang suatu kesalahan yang mungkin saja terjadi karena satu dan lain hal , mungkin anda yg lebih mengetahuinya” , yang saya maksudkan adalah anda mengetahui hak muallaf itu mendapatkan zakat setelah belajar islam tentunya dan kenapa waktu itu tdk diberi tentu mungkin saja anda mengetahui permasalahannya dibanding saya …, Islam ini universal karena mengatur segala permasalahan kehidupan manusia di dunia … tidak ada permasalahan yang tidak diatur yang kecil sampai yang besar mulai masuk wc sampai pemilihan kepala negara dari zaman dahulu sampai zaman yangakan datang, beda dengan uu / hukum buatan manusia terkadang berlaku disatu masa dan tidak berlaku dimasa yang lain, berlaku di satu tempat tidak berlaku ditempat lainnya…dan uu diubah dan direvisi sesuai tuntutan keadaan, tapi aturan islam tidak demikian.
dan saya mengatakan muallaf lainnya karena kenyataan berbicara demikian, mereka baru masuk islam tapi sudah berani berbicara atas nama islam yang tidak ada ilmu itu padanya. Islam itu bukan agama akal sehingga semua orang yang merasa pandai melakukan pemahaman terhadap islam ini sesuai dengan pendapatnya, pemahamannya. Islam ini adalah ketundukan terhadap perintah Allah dan RasulNya sekalipun akal tidak mampu menjangkau hikmah dibalik perintah-perintah itu dan memang akal ini terbatas kemampuannya. Saya menasehati anda bukan bermaksud menyalahkan anda… kalo memang anda masuk islam dengan keikhlasan maka jangan nodai dengan pola pikir anda. Islam ini sudah ada pendahulunya Setelah Rasulullah ada Sahabat Nabi sesudah itu ada murid-murid mereka dan ilmu mereka mengalir terus menerus sampai saat sekarang ini, mereka lebih mengerti tentang islam kehidupan mereka mereka sumbangkan untuk Agama Islam ini, maka anda sebaiknya bercermin kepada mereka untuk mengeluarkan pendapat terhadap islam dan malu serta takut untuk mengeluarkan pendapat yang bertentangan dengan mereka … karena bertentangan dengan mereka para imam kaum muslimin ibarat anda membuka pintu selain pintu yang mereka buka kalau sudah demikian islam mana yang akan anda ambil, sedangkan ilmu islam itu ada pada mereka… merekalah pewaris para Nabi…kalo anda mau menerima bahwa angka nol itu berbentuk 0 tanpa sedikit protes, maka kenapa aturan hukum Allah yang juga sifatnya tidak bisa diganggu gugat anda protes. sekali lagi ini hanya nasehat sebagaimana diperintahkan Allah Ta’ala untuk saling nasehat-menasehati dalam kebenaran dan kesabaran (Q.S. Al-Ashri: 1-3)

untuk jiwa musik juga demikian, anda sepertinnya mengatakan aturan itu pemaksaan, dalam tanggapan saya sebelumnya bahwa jika seoran muslim maka wajib baginay mentaati tuntunan agamanya… dan dibuat aturan itu agar orang orang yang mau memelihara dirinya terbentengi dari pengaruh-pengaruh kerusakan dan itu adalah tanggung jawab penguasa untuk membuat aturan itu dalam negara kita ini karena merekapun punya kewajiban sebagai pemimpin negara dan akan dimintai tanggungjawabnya itu dihadapan Allah Ta’ala. Dalam Islam tidak dipisahkan konteks pemerintahan dengan Islam itu sendiri, sebab islam itu sekali lagi universal. Tidak bisa anda katakan itu maslah fiqh koq dibawa ke pemerintahan, seorang muslim tetaplah muslim apakah ia sebagai rakyat biasa ataupun sebagai kepala pemerintahan. Dia berkewajiban melaksanakan ketaatannya kepada Allah Ta’ala.

@ JM
Wah sama ya…saya kok telmi gak mudheng..
susah memang jadi orang bodoh begini…
oleh karena itu saya lebih suka belajar
islam dimulai dari hati nurani terdalam.
Kalo baca tulisan yang butuh pemikiran
mendalam begini malah pusing dan bingung.

Aduh jadi malu neeh ketahuan gobloknya.

Substansi apanya ya yang sama? Dari sisi pembayarnya: Pajak dari semua yang mendapatkan penghasilan dari sumber daya Indonesia. Sedangkan zakat hanya dari WNI yang beragama Islam saja. Besarnya pajak juga beda dengan zakat.
Dari sisi penggunaan: Zakat itu hanya diberikan kepada orang-orang tertentu saja. Pajak dipakai buat jalan, bayar saya, dan juga bayar Presiden.
Keselarasannya tidak ada, kecuali zakat memang diakomodasi sebagai pengurang pajak oleh pemerintah Indonesia. Saya bayar zakat dan juga bayar pajak. Jadi dua kali dong? Iya dua kali, tapi alhamdulillah masih cukup untuk hidp.
Mengenai kekonsistenan membayar zakat, maka sama pertanyaannya dengan kekonsistenan menjaga syahadat, mengerjakan sholat, dan mengerjakan puasa.
Peraturan dibuat untuk mempermudah urusan dengan prosedur yang standar. Tapi tentu saja ada kekurangan sana sini yang perlu diperbaiki setiap saat, mungkin itulah sebab munculnya peninjauan ulang UU Zakat.

@islamy
anda menuntup pintu ijtihad yaa??
padahal Rasul itu mengatakan boleh, bahkan salah pun masih dapet satu pahala.
wow… saya impresif sekali nih..

ok deh, sebagai muslim yang merasa sangat paham islam bahkan sangat terasa yang memiliki islam, silakan deh anda mengatakan apa saja.

saya hanya mempertanggungjawabkan keimanan ini pada Allah, bukan pada anda. dan tidak akan berkurang sedikitpun kemuliaan agamaNya, hanya karena keterbatasan akal dan prilaku saya, juga sahabat-sahabat saya disini.

maafkan ya, terlebih jika saya tidak bisa beragama seperti anda, kerena dalam selemah-lemah iman, saya tetap berhak memiliki diri saya sendiri.(tentu termasuk diri masing-masing sahabat-sahabat saya disini)

pisss.. πŸ˜€
sekali lagi makasih ya mas/mbak
temui saja bahwa kami di sini : merdeka!

@mas datyo
sama mas datyo.
tolong pegangin saya ya. – loh? hehehe.. πŸ˜€
kok seperti jet lag nih.

@k’iwal
ok, bahwa itu dijadikan area private saja. saya juga hanya merasa ada substansi yang sama, dan dari awal saya sudah mengajak keluar dari pakem yang ada. semata agar kita bias melihat lebih luas. kalau memang tidak bersedia dan tetap terpaku pada bentuk islamisasinya, ya ga papa. baca di tulisan mata-mata deh. walau mungkin tidak juga menjawab πŸ˜€

dan kalau sampai negara yang harus mengurusi persoalan keberagamaan terlalu jauuh, duh.. saya merasa ada yang berlebihan deh di sini. walau entah apa. hehehe πŸ˜€

@k’iwal
nambah ya
saya pikir, kalau islam universal maka produknya selayaknya bisa diakomodir oleh semua kalangan termasuk non islam. maka dalam logika sederhana saya ya gitu. hehehe, maaf. saya mengajak keluar dari pakem. pamali ya? πŸ˜›

seperti kisah dari para petani kita zaman dulu. mereka itu terbiasa memberikan sebagian hasil panen hingga 5-10% loh, tentu pada yang yang berhak. jumlah yang lebih besar dari rumusan zakat 2,5% itu ya. dan konon, mereka begitu ya wujud syukur pada Allah atas panennya juga wujud mengamalkan keluhuran rasa beragama.

ke sini-sininya saya memang lebih suka dengan ekspresi jiwa beragama yang sederhana.. hihihi, piss πŸ˜€

Nah disini terlihat juga dari tulisan anda yang mengatakan saya menutup pintu ijtihad … tidak sama sekali … hanya saja tidak semua orang diambil ijtihadnya … orang yang berijtihad harus memiliki ilmu yang mendalam tentang Al-quran, hadits, pendapat-pendapat shahabat, sehingga bisa melakukan ijtihad, sebab ijtihad dilakukan jika tidak ada nash yang jelas yang membahas tentang itu sehingga dibutuhkan pengetahuan yang cukup untuk melakukan ijtihad. Sepertinya saya tidak tertarik untuk melanjutkan diskusi ini dengan anda…karena hanya menghasilkan debat kusir. Belajarlah, masih banyak yang anda belum ketahui tentang kesempurnaan Islam ini di segala aspeknya. Mudah-mudahan Allah Ta’ala memberikan hidayah kebaikan untuk saya dan juga untuk anda.

oya sebelum saya tinggalkan artikel ini saya melihat anda banyak memakai logika (akal).. berhati-hatilah dengan akal anda.

emang rancangan UU nya kayak gimana ???posting juga donk pingin tau
Emang perlu sih selama ini dah bayar pph yang banyak itu dan zakat jadi dobel deh…
coba ada aturan yang mengatur ga kena dobel
emang sih ada restitusi taun depan tapi harus lembaga yang bikinan pemerintah yang biasanya ehmm (korup)

Mengenai berpikir keluar pakem, ngga ada larangan mikir macem-macem. Yang dilarang itu berprasangka buruk dan melakukan pikiran yang ngga bener, hehehe.
Dari tulisan K Anis kayaknya K Anis belum mengerti banyak tentang zakat. Misalnya tentang petani yang memberikan sebagian hasil panennya dan dihubungkan dengan besarnya zakat. Mungkin kalo ada pertanyaan tentang pajak, kita sama-sama ngga tau berapa besarnya pajak penghasilan, PBB, PPN, dll. Saya juga belum begitu paham zakat dan pajak meskipun sudah koleksi buku tebal tentang mereka. Cuma sedikit saja yang saya mengerti.
Jadi menurut saya belum saatnya penyamaan substansi pajak dengan zakat itu keluar. Kalo cuma buat pikiran sendiri sih boleh.Namanya juga mikir, sering bolak-balik. Sering berubah.
Mengenai negara mengurusi agama saya kira perlu supaya lebih bersepadu. Tapi di Indonesia mungkin sudah terlambat. Sudah terlalu banyak perbedaannya sehingga diurusi pun sudah susah hehehe. Masing-masing ijtihad sendiri. Kalo dari sisi membangun bangsa, saya ngga tau kapan hasil pembangunan dari perbedaan itu akan muncul. Kalo di Malaysia ngga ada berita penyerangan Ahmadiyah oleh yang lain, karena memang ngga boleh ada Ahmadiyah, LDII, dan sejenisnya. Semua sama diurusin oleh negara. Yang boleh minta sedekah juga harus ada izin dari negara. Bikin mushola aja harus ada ijin. Hmm…apalagi ya. Nanti aja deh. Kepanjangan.

melihat judulnya, dan memang ini dipakai sama dirjen pajak, kemarin malam ketemu sama yang punya nya, pak haji (dedi mizwar). ketika ditanya, gimana kata2nya dipake sama pajak. dia jawab dengan enteng, ya asal untuk kebaikan silakan saja. bahkan sinetron2 yang dia bikin (isinya dakwah) juga ga terlalu kepikiran untuk ngambil profit ketika diputar TV. asal ditayangin buat dia sudah jadi kebaikan dan dakwah buat dia.
semuanya sederhana dan penuh dengan keluasan hati untuk menyerahkan segala sesuatu kepada ALLAH…
kalau masyarakat kita didukung oleh orang2 seperti ini maka akan sedikit kita menggunakan peraturan. tapi semua atas kesadaran dan niat ingin berbuat baik.
mba anis, saya perhatikan selalu mengajak orang taat kepada aturan atas dasar tergeraknya urat-urat kebaikan kita.
gitu bukan mba…

@semua
saya coba jawab ya..
selama ini saya menjadi bendahara tuk harta suami saya πŸ™‚ saya selalu diminta tidak lupa mengeluarkan zakat. 2,5% toh? sedikitnya, saya mengerti soal zakat. walau saya akui, saya bukan orang yang itungan, saya bebas lepas dalam berpikir dan berbuat. jadi ya tidak tunggu setahun, tidak dikurangi kebutuhan atau apalah, kalau saya mau memberi ya saya beri.

kebetulan milik suami saya ya ga banyak-banyak amat. maka kadang kalau pakai pakem zakat itu, pertanyaannya apa kita sudah layak berzakat nih? tapi saya ga bisa kaku ya, kalau sudah niat memberi ya sudah beri. masuk ga dalam hitungan atau bahkan itu yang berhak atau tidak, ah.. lepaskanlah. namanya zakat, sedekah, infak.. pokoknya kalau dah niat kasih ya kasih. sudah. juga ga diinget-inget.

maka kemudian saya suka melihat ini berpotensi tumpang tindih. ulama sendiri banyak pendapatnya ttg zakat ini. bahkan ada yang bilang zakat profesi itu bid’ah. juga ada yang berpendapat si miskin non muslim dilarang menerima zakat dari muslim. nah.. cape kan melihat begitu banyak beda pendapat kaya gitu? kalau sudah gitu, saya lebih suka berkaca pada nurani sajalah. toh, hidup ini penuh kebersamaan bukan tuk sendirian. manusia dasarnya makhluk sosial.

tapi bahwa ini mau diatur kembali oleh negara, terkait pemberdayaan kekayaan umat islam, ya silakan saja πŸ˜€

hanya saya sempat berpikir kalau dikaitkan pada peran negara, dan agar sangat bisa menjangkau lebih luas ya itu dengan apa yang dinamakan pajak. selama bisa dimanfaatkan sebesar-besarnya pada kemashlahatan rakyat. di sini, konteks saya indonesia ya.

saya bukan tidak tahu, kalau islam sangat rigid(entah kenapa?). kebebasan berpikir sangat dibatasi pada mereka yang menguasai nash, ayat dan sebut saja ulama. saya sendiri di sini, hanya berpendapat yang beranjak dari kenyataan. saya tidak melebih-lebihkan soal ini. justru hanya karena terdorong agak pajak ini bisa bener-bener dioptimalkan lagi, baik dalam pembayaran dan pemanfaatannya, maka saya mensupport pengertian pajak ini. jauh melebihi zakat, agar negera bisa optimal dan jangan meremehkan apalagi mengkorup soal pajak ini.

– jadi sikap sodara Islamy yang demikian, saya maklumi.
saya bukan sekali dua kali diperlakukan demikian oleh orang islam. hehehe… sering deh. sangat kasar juga pernah. maka saya ngeblog, agar kebebasan saya dalam berpikir dan berpendapat tetap tersalurkan. soal setuju atau tidak, saya tidak mewakili siapa-siapa dan tidak berkekuatan hukum. jadi merdeka saja juga tuk tidak setuju dengan saya.

tapi dalam hati terdalam, saya memendam rasa prihatin ya.
mengingat akan banyak mualaf yang akan terangsang tuk terus berpikir. lah, mana mungkin bisa taklid di kondisi Islam yang penuh perbedaan di dalamnya begini? sebut saja seperti Jeffry Lang di Amrik sono. Jeffry Lang beruntung jadi mualaf di Amrik, yang masyarakatnya memiliki budaya menghargai kebebasan berpikir. hehehe.. πŸ™‚

– tuk mas budi. ini hanya berawal dari berita di metro tv mas. terkait kasus zakat maut itu, maka DPR merasa perlu tuk membuat UU zakat. melihat reaktif demikian, maka saya menulis ini. hehehe πŸ˜€

– tuk kang tren..
ya kurleb memang gitu. saya bicara hanya dari hati, tidak lebih πŸ˜€


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: