mata-mata

Posted on September 23, 2008. Filed under: islam indie |

(sudah pernah cerita ini blum yaa..? maaf kalau berulang. saya mungkin pernah menceritakannya pada orang lain..)

alkisah..
waktu pertama saya mengenal bangku kuliah, arsitektur. saya ikut mata kuliah mekanika tanah. perkenalan pertama dengan dosennya, pembicaraan berkutat seputar fondasi. maka mata kuliah mekanika tanah perlu diketahui tuk menghitung kekuatan fondasi. begitu teorinya..

dalam pembicaraan ngalor-ngidul itu, dosen mengambil cerita tetang fondasi di tanah miring. memperkenalkan metode terrasiring. dan tidak lupa mengaitkannya dengan aliran air di atas permukaan tanah miring. beliau melukiskan bagaimana diperlukannya tanah resapan, tuk mengurangi volume air permukaan dan menjadikannya terserap sebagai air tanah, yang kemudian bermanfaat sebagai sumber hidup.

karena jika volume air di permukaan meninggi, resiko segala yang dipermukaan tersapu air akan semakin tinggi pula. air yang tadinya bermanfaat, mendadak malah merugikan. terutama pula, tuk permukiman landai di bawah permukiman sepanjang kemiringan tanah itu. permukiman landai memang selalu menjadi resiko sebagai kubangannya air permukaan. maka perlu sekali disedikan apa yang dinamakan resapan air di setiap kemiringan dengan metode terrasiring yang sebut saja : buffer.

hmm.. kuliah itu asyik yaa πŸ˜€
tapi, gusti..
selama kuliah mekanika tanah itu, mata saya melihat penjelasan dosen ttg fondasi terrasiring itu sebagai konsep zakat!

kok bisa?

pada akhirnya, zakat memang tidak bisa hanya diperlakukan sebagai air permukaan. dia perlu diresapkan menjadi apa yang lebih produktif dan bermanfaat panjang seperti layaknya air tanah. menjadi sumber kehidupan.

sangat baik jika zakat bisa menjawab permasalahan tidak sekedar apa yang ada dipermukaan. sebut saja tidak sesederhana kalau lapar maka dikasih makan. atau kalau miskin maka dikasih uang. tapi bagaimana lapar atau miskin lalu bekerja dan berpenghasilan tetap sehingga bisa makan dengan jerih keringatnya sendiri. lalu kalaupun sudah bisa bekerja, akses kerja seperti jalan, transportasi, sirkulasi, dsbnya juga lancar. sehingga keterkaitan dunia kerja dan usaha atau proses berkarya ini lancar. menjadi sebenar-bener sumber kehidupan. berputar dan terus berputar.

zakat menjadi lebih sebagai sumber kehidupan yang panjang dan memberdayakan.
lah, maka disini, ada otoritas yang diperlukan tuk memberdayakan zakat ini.

maka dalam konteks negara, di mata saya zakat ini mejadi seperti pajak –secara substansi loh. pembangunan infrastruktur, pelayanan masyarakat, mensupport UKM-UKM, bahkan jaminan pembelanjaan negara yang terkait sebesar-besarnya tuk kesejahteraan bersama, ya itulah ketika zakat ini telah menjadi produktif atau sumber kehidupan. sekali lagi secara substansi yaa..

lah, bahwa tetap diperlukan sekian persen sebagai air permukaan, ya itulah kemudian apa yang dikenal sebagai infak, sedekah dan derma. rezeki dadakan dan tidak wajib. hehehe πŸ˜€

sehingga, hari itu saya keluar dari kuliah mekanika tanah itu, dengan mendapat dua pelajaran. kasat – tentang fondasi terrasiring, lebih dalam – tentang zakat.

jujur yaa..
sejak awal saya masuk islam, saya memang tidak bisa leterlek membaca banyak referensi islam, bahkan ketika membaca qur’an sekalipun. rasanya mata saya memang berbeda saja. ada mata yang lain yang menembus ke kedalaman. sekilas ini mungkin bagus ya, tapi sejujurnya pula, saya sering kesulitan dengan mata yang begini. buat sebagian teman, katanya saya seperti menghubung-hubungkan. padahal ya memang sekedar begitu sajalah adanya di mata saya.. πŸ™‚

ini mungkin kebiasaan atau mungkin memang begitu sajalah saya, entah yaa.
besar dalam budaya cina, dari kecil saya terbiasa diajari melihat hikmah dari banyak kejadian alam, bunga, ini dan itu. semacam kearifan lokal juga kali. hehehe πŸ˜€ saya terbiasa dibacakan hikmah-hikmah oleh ibu saya. seperti katanya, gini..
– jangan iri pada bunga yang bermekaran di musim semi. karena selalu ada yang berbeda, yang mungkin terkesan tertinggal dari mekar bersama yang lainnya. padahal mekar terlambat itu memang selalu ada, tuk membuat musim semi tak terasa habis segera seperti dalam sekejab mata.

ciee… πŸ˜‰

maka… maafkan saya yaa.
kalau saya suka melihat dari mata yang berbeda.
semoga saja bisa mengkayakan
selebihnya saya pribadi mengerti bagaimana manusia kerap butuh sebuah kepastian bahkan argumentasi yang jelas tuk banyak hal dalam hidupnya.

mari kita saling menyeimbangkan diri..

salam
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

2 Tanggapan to “mata-mata”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

hmmm saya dulu kok gak dapat mektan ya…
πŸ™‚

@mas datyo
saya dapet kok mas.. ntar deh dibuka2 lagi catatan saya.
gini deh kalau kuliahnya ga ditamatin, jadi ga inget dan ga dipikirin bener-bener.
tapi pengalaman dg dosen itu saya inget.. πŸ˜€

mad datyo arsitek ya??
wah, asyik nih kalau ketemu mas datyo.. πŸ˜€


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: