kutipan : Kemampuan Pikiran Manusia Itu Terbatas, Jangan Makin Dibatasi Pula

Posted on September 25, 2008. Filed under: islam indie |

curhat nih..

sungguh, saya paling sakit jika dibilang ‘hati-hati dengan akalmu’ seperti yang kemarin di katakan oleh seseorang yang komen di blog ini. saya boleh puasa dan tak pernah berbuka. saya boleh sendiri dan tak berteman apapun.
tapi tidak berpikir??
rasanya setengah hidup saya mati meski dalam nyatanya saya masih bernafas. buat saya tidak boleh berpikir sama saja dengan mati deh.

maaf ya, betapa sejak pertama saya mengenal islam, saya selalu terbentur dengan kemerdekaan berpikir ini. sampai kadang saya merasa saya begitu tak pantas jadi orang islam. karena dari semua teguran senada yang saya dapat dalam keislaman yang panjang ini, membuat saya merasa seperti pendosa hanya karena telah berpikir.

sering membuat saya merasa lebih baik keluar dari islam dari pada tidak boleh berpikir. juga sering membuat teman karib saya yang muslim, turut sakit melihat kebebasan berpikir saya -yang dikenalnya sejak kecil- harus terus diserang oleh begitu banyak batasan. membuat kami menyesali kalau kami terlahir di budaya yang memberi kebebasan berpikir. terasa sia-sia guru-guru di sekolah dulu yang selalu meminta kami -muridnya- tuk berpendapat. bahkan selalu bilang tuk jangan takut salah.

ah! saya sampai selalu tidak boleh lupa berkata, – maaf kalau salah yaa. hanya tuk sekedar menyatakan pikiran yang terlintas. yang kalau saya lupa, maka habislah saya. padahal kalau tidak setuju, ya kita tinggal diskusikan lagi. saya memang telah agak trauma tuk soal ini. maaf.. 😦

karenanya ketika menemukan tulisan kecil ini di blog bang toga, rasanya seperti dapat air di tengah padang gersang. saya tahu kok tuhan tidak akan berkurang kemuliaannya oleh pikiran-pikiran saya. bahkan jika saya salah berpikirpun, tuhan tak tersentuh sedikitpun oleh saya. entahlah.. tolong tanyakan pada tuhan deh. hehehe 😀

apapun itu, selamat menikmati..

Kemampuan Pikiran Manusia Itu Terbatas, Jangan Makin Dibatasi Pula
http://nesia.wordpress.com

Salah satu kritik paling umum yang saya terima di blog ini adalah, terlalu mengagungkan pikiran, padahal katanya pikiran itu terbatas kemampuannya.

Lha saya malah bingung jadinya. Sudah tau kemampuan pikiran itu terbatas, kok malah dibatas-batasi pula? Geber dong sampai batas kemampuannya.

Ini sama dengan ungkapan hidup ini sudah sulit, ngapain pula makin dipersulit?

Ada kesan seakan keagungan Tuhan di “atas” sana, akan “terganggu” karena kebebasan berpikir itu. Yang menghina Tuhan itu sekarang siapa sih? Bukankah pikiran seperti itu justru sudah mengerdilkan keagungan Tuhan, seolah-olah Dia bisa diganggu oleh keliaran pikiran manusia?

Seperti parasut, pikiran hanya bermanfaat ketika ia terbuka. Seperti mesin, pikiran mengeluarkan output power terbaik dalam RPM tertinggi.

Namun tentu saja, kebebasan berpikir harus juga disertai dengan pengakuan akan kebebasan berpikir orang lain. Kutipan dari Voltaire – atau menurut koreksi dari Pak Dosen, sebenarnya kutipan dari Evelyn Beatrice Hall, penulis biografi Voltaire – berikut sungguh sangat sedap.

“Aku tak setuju pada apa yang kau katakan itu. Tapi akan kubela sampai mati, hakmu untuk mengatakannya”.

Nulisnya segini aja dulu. Mo mikir lagi soalnya…

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

12 Tanggapan to “kutipan : Kemampuan Pikiran Manusia Itu Terbatas, Jangan Makin Dibatasi Pula”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

* sotoi mode : on*

Mba Anis yang baik…

Orang-orang yang komen di blog ini juga punya idealisme masing-masing, punya batasan masing-masing dalam berpikir. Dan katanya kebanyakan orang sukses adalah yang mampu mendobrak batasan yang ada, namun dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab.

Mbak Anis dari awal bikin blog kan memang sudah bertekad untuk membuat tulisan-tulisan yang menunjukkan cara berpikir Mbak Anis, kecintaan Mbak Anis tentang Islam dan Indonesia ini.. dan terutama yang ada kaitannya dengan agama.. Mbak Anis memang “berani” untuk meneriakkan kebebasan berpikir. Bagi banyak orang agama memang masalah sensitif karena unsur fanatismenya, jadi jangan “mundur” hanya karena satu dua komentar yang nggak senada. Nyenengin semua orang memang bukan hal yang mudah, tapi bukan berarti kita kudu ngikut ideologi orang lain kan?

Kalo nggak salah ada kok ayatnya di al-Qur’an : “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (Q.S Al Mujaadilah: 11)

Nulis terus, Mbak Anis 🙂 kalo dikecam, bukan karena mereka benci tapi akankah lebih baik kita mundur sejenak buat belajar lagi, sehingga bisa berpikir lebih bebas yang konsekuensinya nggak akan bikin kita sakit 😉

*sotoi mode : off*

@mbak darnia
makasih yaa.. seneng diingetin nih..
itu cuma curhat loh. 😀

sebenarnya bukan masalah berbedanya ya mbak darnia. saya siap kok tuk berbeda. bukankah masuk islam itu sendiri cermin saya siap berbeda? bahkan berbeda ideologi dari keluarga saya sendiri.

tapi sejujurnya, memang selalu ada rasa sakit ketika kebebasan berpikir ini di bendung dg ukuran islami atau tidak islami. bener atau salah dalam islam. dstnya. padahal jauh sebelum itu islami atau tidak, bener atau tidak, buat saya berpikir itu adalah proses kreativitas. bagian dari proses tumbuh kembang kita sebagai manusia. dan saya meyakini, berpikir malah sangat disupport dalam qur’an, maka sering di serukan “bagi mereka yang berpikir”

lalu di mata saya, proses berpikir ini sendiri membutuhkan kontinuitasnya tuk kelak dapat menemukan titik tanggungjawabnya. sederhananya proses berpikir dan bertanggungjawabnya itu terbangun bersamaan. tanpa berpikir, bagaimana seseorang bisa bertanggungjawab? atau tanpa tanggungjawab, bagaimana seseorang itu terus mengembangkan pikirannya?
maka saya suka minta maaf bahkan minta izin dulu jika ingin sejenak keluar dari pakem. wujud saya ingin bertanggungjawab atas kreativitas berpikir saya tsb.

nah, saya bukan sekali dua kali, mengalami kendala dalam hal ini.
pernah suatu ketika saya datang ke pengajian. ustadnya bilang, “manusia dilarang berpersepsi. itu pekerjaan setan. ini kaya Allah loh, ayatnya ini dan ini. bukan kata saya”.
maaf ya, ayat2 yang dikutip itu -buat pikiran saya- terasa comot-comot dan atas intepretasi sepihak. duh, sakitnya saya mendengar itu. padahal tuhan sendiri bilang bahwa “Aku sebagaimana persangkaan hambaku”. persangkaan di sini adalah persepsi. persoalannya, ada persepsi yang baik dan yang buruk. disinilah proses bertanggungjawab itu dikembangkan. tapi saya yang interupsi malah dibilang JIL. diperingatkan tuk hati-hati dengan akal saya. duh, padahal saya bukan JIL dan kenal juga tidak dengan JIL. di kejadian berbeda, saya malah pernah dianggap sesat. saya sampai harus mengakui kebodohan saya, hanya tuk hentikan proses berpikir itu. hehehe 😀

saya akui, saya beragama hanya atas realitas yang nyata. maka saya sering bertanya melihat prilaku yang demikian. bagaimana umat ini bisa tumbuh bertanggungjawab jika berpikirnyapun dibatasi? kalau bukan ulama kesannya tidak boleh berpikir. sangat strict sekali. maka ya jangan heran, islam menjadi banyak masalah gini. yang dikembangkan hanya ketaklid-an. padahal ulama sendiri manusia, bisa saja salah toh? ya ga?

ini loh yang sangat saya kritisi, atas nama kecintaan saya pada islam dan terlebih pada negara kita. kita semua tahu deh, sebuah negara itu bisa maju pastinya karena di dukung oleh proses berpikir yang terus menerus dan penuh tanggungjawab.

dan buat saya ngeblog itu bukan soal benar atau salah. nge blog adalah belajar mengemukakan pendapat tuk kemudian menumbuhkan tanggungjawab. maka saya menulis ya terus menulis saja. kalau saya salah, tolong dong diingatkan tapi bukan diperingatkan.. bedakan?? kurleb gitu deh mbak..

makasih yaa.. maaf, kadang memang terasa letih mencinta yang begini. hehehe 😀

@mbak darnia
@semua
rasa sakit ini mungkin karena saya terlalu cinta pada agama dan negara ini.. 😉

maaf ya atas curhat ini.. terutama buat yang secara tidak langsung saya maksud 😀
izinkan sejenak saya melepaskan sakit ini, tuk kemudian semangat kembali membangun kebersamaan yang sehat dalam keberagaman kita di indonesia.

salam makin hangat:D

Dalam islam boleh kok berpikir asal kita tahu dasar hukumnya.Bukan asal njeplak dalam menafisrkan suatu ayat.Layaknya orang sekarang yang baru bisa menerjemahkan (secara harfiah)satu ayat sudah menganggap itu sebuah tafsir.Padahal utk menafsirkan sebuah ayat perlu pengetahuan lengkap.

yupp betul non, dijaman kita sekarang kita tidak akan dibelahkan laut untuk diyakinkan akan eksistensi tuhan karena wahyu telah putus, akal yang dipakai untuk memikirkan mikro dan makro kosmos lah yang menunjukkan eksistensi tuhan.
Jangan berhnti mengkplorasi karena kita bukan orang bodoh yang tidak tahu batas
di quran berulangkali disebutkan “apakah kamu tidak berpikir”

@indra
tul mas indra. makasih yaa..

@mas budi
iya ya, saya kan ga mungkin nunggu mas Budi membelah selat sunda supaya saya bisa pulang ke lampung dengan jalan kaki.. hehehe 🙂 paling mungkin, saya dibuatkan terowongan kereta bawah laut oleh mas budi dkk di sini, cermin kemajuan negeri kita.. ciee.

nah, bikin terowongan itu juga salah satu bentuk berpikir yang penuh tanggungjawab. bukan bualan toh? karena tekonologinya pun ada dan bisa terus dikembangkan. hanya memungkinkan tidaknya secara dana dan secara kondisi selat sunda itu sendiri. demi kelancaran angkutan barang dan jasa kedua pulau tsb, mengingat itu termasuk jalur perekonomian yang gemuk. doo… hehehe. nanti kali yaa, kalau indonesia kita sudah bisa membereskan hal-hal yang lebih mendasar.

so, ayo dong… boleh dan budayakan berpikir.
agar indonesia kita maju.. ya ga?
dan supaya jangan lagi terbuai bualan seperti super toy dan blue energy itu. itu cermin berpikir yang ga tahu batas deh. gitu ga sih? hahaha.. kok malah mikir kemana-mana ya? hanya karena teringat membelah laut. maaf, mas 😀

nahhh…(lagi), berpikir menjadi nabi baru atau menjadi amir/pemimpin sekelas nabi, rasanya juga cermin berpikir yang kelewat batas deh. di kehidupan kita saat ini, rasanya bukan lagi yang begitu pola kepemimpinannya. zaman kita hari gini sudah lebih mengutamakan kepemimpinan dengan demokrasi yang sehat. gitu ga sih, mas budi? 😀

sebenarnya budaya berpikir di Islam sudah berkembang pesat,renaissance eropa juga dulu nyontek dari perkembangan granada dan baghdad. Ibnu rusyid dulu salah satu “gegedug” nya. Saya sih mikir, kalo memang ada argumen yang berbeda ya dialog ajah.. namanya juga ijtihad. Bisa bener bisa salah makanya manusia dikasih akal untuk berpikir, dan rasa untuk merasa. Berpikir untuk adu argumen, dan memilki rasa untuk menerima perbedaan dan menerima kealpaan.

Tak sengaja saya menemukan blog anda.
Pemikir rupaya.. 😀
Manusia memang harus berpikir. Karena pikiran inilah yang kita gunakan untuk memahami ayat2 Allah.
Tapi satu yang harus kita ingat, pikiran kita harus dipimpin oleh hukum syara’, bukan kebalikannya, hasil pemikiran kita malah mengacak-acak kaidah hukum syara’. Ketentuan2 yang sudah jelas dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits yang sifatnya Qath’i janganlah diganggu gugat, karena itu sama saja memperdebatkan kebenaran firman Allah Ta’ala.
Saya kebetulan fokus dikajian kristologi, disana saya temukan pola melogikakan ayat secara liberal (kalau saya bilang sih ‘se-enak-nya dan sekenanya saja) sering dipakai untuk mendebat Islam. Saran saya, coba baca sesederhananya tafsir ibnu katsir, seketika logika itu pun terbantah.
Dikalangan islam sendiri, mulai dari saya yg junior hingga senior2 saya sering menemui tafsiran aneh dari kalangan muslim sendiri. Saya ingat dulu salah satu senior saya di Republika uring2an di milis gara2 penerbitan buku kontroversial by JIL dkk. Isinya sungguh mengacak-acak dan memperkosa kaidah ushul fiqh. Belum lagi statement2 mereka yang bikin gereh dan sampai2 menuai fatwa dari MUI.
Saya kasih sedikit contoh. Hasil logika yang sangat menggemparkan dari salah seorang cendikiawan muslim Prof.Nurcholish Madjid (alm)
“Iblis kelak akan masuk surga, bahkan ditempat yang tertinggi karena dia tak mau sujud kecuali hanya pada Allah saja, dan inilah tauhid murni.”
Nah.. Kalau dilogikakan mungkin benar ‘karena iblis hanya mau sujud pada Allah lantas dia tak mau sujud pada Nabi Adam AS. Tapi apa iya tidak sujudnya iblis karena kemurnian tauhid-nya? Bukannya Allah sudah memerintahnya untuk sujud pada Adam, tapi mengapa ia tak patuh. Inti dari wujud keimanan adalah kepatuhan terhadap perintah2 Allah. Selain itu dalam Al-Qur’an Allah bersabda :
Iblis menjawab, “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.” “Kemudian saya (iblis) akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” Allah berfirman, “Keluarlah kamu (iblis) dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semuanya.” (QS. Al-A’raaf, 7: 16-18)
Jadi tak mungkin iblis masuk surga. Iblis sesat karena kesombongannya, merasa dirinya lebih mulia dari Adam sampai2 menentang perintah tuhannya untuk sujud pada Adam. Itu pun hasil logika Iblis bahwa menurut dia Api itu lebih hebat dari tanah. Ngapain suduj sama mahluk dari tanah? Gitu kan logika iblis waktu itu.
Maka berhati-hatilah dengan logika, persepsi dan pemikiran kita.
Sesungguhnya Allah bersabda :
“Sebagian diberi-Nya petunjuk dan sebagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka. Sesungguhnya mereka menjadikan setan-setan sebagai pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk.” (QS Al-A’Raf: 30)
Kalau ada pertanyaan lebih lanjut silahkan tinggalkan pesan di buku tamu blog saya..
Salam ukhuwah saya ucapkan, semoga Allah mempersatukan kita diJalan-Nya 😀

@Widiya
salam kenal mbak widiya.. seneng nih dikayakan kaya gini.
tapi seperti semua disini tahu, blog ini hanya tempat saya menuangkan apa-apa yang saya pikirkan secara alami, beranjak dari kejujuran saya melihat keadaan sekitar dan terutama beranjak dari pengalaman2 nyata saya selama berislam.

saya belajar tuk memiliki pendapat saya sendiri, dalam kapasitas saya, bahkan dalam proses pembelajaran saya. rasanya letih jika hanya “harus” menurut pendapat si anu dan si itu, sekalipun itu ulama-ulama besar.

saya ingin -dalam sekecil dan sehina apapun- saya tetap boleh menjadi diri saya sendiri. belajar mengolah semua ilmu dan pendapat2 itu dalam semampu kejernihan pikir dan rasa saya. tentu dengan berusaha sebisa mungkin tidak menyalahi syariat atau -sederhananya dan aktualnya- tidak menyalahi moral yang berlaku secara umum.

saya menulis di sini tidak untuk mengutak-atik islam yang dipahami oleh sebagian besar umat. ini hanya dari satu sisi pemahaman saya, dalam kejujuran saya. jadi tidak untuk diyakini, cukup di nikmati dan kali-kali menginspirasi. namanya juga nge-blog.. hehehe 😀

cuma itu kok, maaf kalau tidak berkenan ya mbak..
salam hangat 😀

@rajawalimuda
lebaran dimana mas rajawali?
gimana? masih merasa stag?
hehehe, jangan bertapa kelamaan ahhh. ga enak kan kelamaan sendirian..?? ayo ditunggu nulisnya lagi 😀

Islam membuka berfikir manusia seluas-luasnya karena ilmu Allah sangat luas dan Allah tidak membatasi pemikiran manusia selama manusia berjalan sijalan yang benar
janganlah sbg umat islam yg terbelenggu dalam pemahaman tertentu

dengan akal kita diberi nikmat
dengan akal kita diberi siksaan
tinggal pilih yang mana


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: