fitri

Posted on September 27, 2008. Filed under: islam indie |

(akhirnya..)

maka kadang saya merasa mungkin seharusnya islam itu mudah yaa…
sebagaimana pesan Rasul, permudahlah dan jangan di persulit.
karena ketika menyadari makna fitrah yang suci atau alami, saya merasa ya cukup dengan jadilah seadanya manusia maka kita akan sebenar-benarnya mengerti islam itu.

karena ketika dulu saya mati-matian mengenal islam, saya malah pusingggg.. selalu dibilang salah, dibilang ga iman, dibilang ga islami. hehehe.. dan bukan saya lagi namanya, kalau ga ngotot dengan diri saya sendiri. karena saya ga bisa lama-lama menjadi orang lain atau menjadi seperti mau orang lain.. 😦

maka kadang ada sindiran cukup halus, walau tetap wee.. sindiran. katanya saya kekanak-kanakan. hehehe, ya mending deh daripada selalu disalahkan dan dibilang ga iman.
kalau ga iman, ngapain saya sampai melawan orangtua saya sejauh itu coba? ya toh?

dan sehingga akhirnya saya juga ga bisa mengklaim diri terhadap islam ini. lihat saja, mengaku mualaf katanya sudah usang, mengaku muslim katanya ga iman, mengaku apa dong? hehehe.. mengaku di KTPnya islam deh.

tapi banyak manfaatnya juga tuh, diragukan dan diremehkan banyak orang gitu. saya menjadi berteman dengan tuhan lebih dari yang saya kira. saya jadi mendekat padaNya, karena sadar manusia tak ada yang bisa -sepenuhnya- menerima sejatinya seorang manusia – minimal seperti saya- selain tuhan.
dan di begitu seringnya saya terkendala demikian, maka di kedekatan semakin dekat itu, saya menjadi merasa cukuplah hanya tuhan buat saya. yang lain…. ngontrak. hehehe. πŸ˜€ ga ding, yang lain saya ga bisa memaksakan.

nah, jadilah saya mengerti kalau dalam Rasul itu sampai berkata laa ikra ha fiddin. bahkan lebih jauh sampai berkata untukmu agamamu, untukku agamaku. terlepas konteksnya apa, rasanya saja yang jelas dan satu. rasa tentang – betapa saya tak mampu memaksa. sungguh deh, saya bisa merasakan sulitnya memaksakan sesuatu dari dalam hati kita pada orang lain. maka menikahpun, kita mengajukan lamaran. melewati janji setia atau ijab kabul. demi sah dan bisa mantap tentang kebersamaan itu. karena cinta saja yang indah kita rasakan, tak mampu kita paksakan. ya ga? apalagi agama?

lalu saya pun tetap manusia biasa, kadang bosen berteman hanya dengan tuhan. sepi. hehehe, kerinduan pada manusia membuat saya sadar akan silaturahmi, akan persaudaraan, akan pertemanan, akan kebersamaan, akan jalinan sosial tanpa embel-embel. sehingga meski saya suka tuhan dengan kesadaran hanya tuhan yang bisa menerima saya apa adanya, saya tetap manusia yang ingin dan butuh bersosialisasi dengan manusia lain.
Tuhan terasa lebih membahagiakan ketika saya bisa berbagi dengan manusia lainnya, tiba-tiba tuhan terasa merefleksi dimana-mana. walau kadang dalam interaksi itu saya juga menemukan manusia yang menjelma tuhan, sok kuasa dan maha daya. menguasai dan perlahan menjajah. ah, takut 😦

maka saya dapat memahami yang dikatakan bahwa Allah itu maha halus. dan mereka yang nabi itu digambarkan halus budi. bukan semata soal karakter ya, karakter beda dengan budi, apalagi dengan mas budi.. ;). ngerti deh, karena mengenali refleksi tuhan itu butuh kehalusan rasa. mengingat ya halus sekali gitu rasanya adaNya. jadi, meski gunung harus berguncang dan muntahkan marahnya, atau langit harus runtuh menimpa kita, tuhan tetap terasa hadir dengan halus. kerena Dia datang di hati. dibaca hadirNya dengan hati. tentang segala yang adalah buah dari perbuatan, tentang segala yang adalah peringatan tuk perbaikan.

hehehe.. seru ya beragama itu?
saya jawab : seru..

dan ritual?
ah, kalau semua manusia tidak malas, tergesa-gesa, keluh kesah dan pelupa, tentu tak perlulah semua ritual itu. ya ga?
maka ritual, dalam agama apapun, kadang hadir hanya tuk sejenak kembalikan manusia mengingat tuhan. mengendapkan diri, mengistirahatkan jiwa, mengheningkan cipta. tak lebih tak kurang. dan diukur dengan yang wajib, selebihnya atur sendiri deh sesuai kebutuhan manusia itu tentang tuhannya. lah, yang butuh ritual toh manusia, bukan tuhan. ya ga?

saya pernah marah pada begitu banyak ritual yang harus saya jalani. hehehe.. waktu itu saya berada di antara manusia yang mengharuskan saya sholat malam, ini itu banyak deh. awalnya, saya melakukannya dengan semangat tapi entah kenapa makin hari makin hampa. mereka bilang saya kurang iman. berkali-kali begitu, maka saya banting sajadah dan mukena itu. rasanya ingin deh berteriak pada Tuhan..
– inikah yang Kau ukur dari aku tuhan?
– inikah bukti kesetiaanku padaMu?
– aku sudah meninggalkan keluargaku untukMu, dan hanya inikah ukuranMu untukku? yang kalau tidak aku lakukan maka aku dibilang tidak iman padaMu? Kau merendahkanku!
hehehe, boleh dong sesekali marah sama tuhan.. πŸ˜€

karena ingin deh bilang sama tuhan, gini..
– ah, kalau saja Engkau tahu kalau aku memperjuangkanMu dengan jiwaku, maukah Kau mengenalku lebih dekat tuhan? maka ritual itu bisa kita bicarakan di belakang? beri nafas buatku mengaturnya sesuai diriku, gimana?
hehehe, sama tuhan kok nawar…?? πŸ˜›

sampai akhirnya saya menjalankan semua ritual itu sesuai kapasitas saya. berusaha mendahulukan yang wajib. dan saya malah malu jika disuruh mengaji atau ritual di depan banyak manusia. bukan karena tidak bisa, tapi karena saya menjadi terbiasa berduaan dengan tuhan, sambil merenung-renung. memikirkan tuhan menjadi lebih nikmat dari sekedar ritual fisik. membuat tuhan yang diinget ketika sholat juga ada ketika sedang baca koran. membuat tuhan yang diinget ketika ngaji juga ada ketika menulis blog. membuat tuhan yang diinget di masjid juga ada ketika di mall.. dst-dstnya.

termasuk saya juga akan sakit, ketika memberi saja dibatas-batasi. boleh ga kalau saya mau beri ya beri saja? banyak hitungan membuat saya malah ga ikhlas. udah keburu cape ngitungnya, jadi semangat memberinya sudah ilang duluan. hehehe, kelamaan ngitung bikin ngantuk.
saya memang ga suka berhitung sama tuhan. lah, tuhan saja tidak berhitung sama saya. oksigennya itu dihitung? airnya itu dihitung? saya digerakan tuk menulis ini di hitung? ah, lepaskan saja lah. jangan bikin saya malah pusing.. πŸ˜€

dan selebihnya, saya ya bereaksi dalam hidup ini sealaminya aja. tergantung konteksnya, selama saya sadari dan bisa mempertanggunjawabkannya. idealisme saya menjadi beranjak dari kenyataan saja. tentang hidup yang indah dan hanya perlu di tata.

hehehe, maaf ya..
eksplorasi saya tentang tuhan, emang sudah ga karuan-karuan deh. eittsss, jangan dibayangin yang aneh-aneh, saya ga ikut pengajian apapun. saya hanya suka mikir yang merdeka dan bersikap mandiri tok.
kalau di blantika musik kita, saya merasa seperti The Cangcuters.. atau kadang merasa seperti Melly Goeslaw dengan lagu asyiknya saat ini, yang hanya I Just Want to say I love U.. dari awal sampai akhir lagu.
break the limit..

tentu dengan tanpa mengurangi rasa hormat saya pada saudara-saudara saya yang beragama dengan yang selama ini ada. atau apapun deh alirannya, mahzabnya, tarekatnya, bahkan apapun agamanya. hehehe πŸ˜€

maafkan lah saya yang begini yaa..
tapi insyaAllah, saya merasakan kehadiranNya dalam keterbatasan saya ini. merasakan hidayahNya, dan bahkan merasakan peluk sayangNya.

dan cukuplah itu yang paling penting dalam perjalanan keberagamaan saya ini. ya ga?

semoga semua juga dapat merasakan hadirNya dalam kapasitas masing-masing ya. karena setiap orang itu unik. πŸ˜€
aminnn…

***

dengan ini saya mengucapkan Selamat Idul Fitri buat semua.
semoga puasanya mencapai fitri, suci dan kembali alami..
dan bagi yang tidak berpuasa, semoga tetap penuh jiwa kealamian πŸ˜€
Mohon Maaf Lahir dan Batin yaaa..

atas begitu banyak ekspresi merdeka saya di sini, yang mungkin mengganggu kenyamanan banyak pihak. ga ada yang sempurna selain saling memaafkan dengan tulus, tuk kemudian kembali bersama saling mengingatkan dan saling mengkayakan.. mengisi hidup dengan banyak hal indah.

ps. besok saya mudik ke rumah mertua di Bandung. selamat mudik buat yang juga mudik yaa. hati-hati di jalan, semoga selamat dan sehat selalu. dan selamat berlibur juga buat yang ga mudik.. πŸ˜€

salam sampai nanti πŸ˜€
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

6 Tanggapan to “fitri”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

hehehe, boleh dong sesekali marah sama tuhan..
jadi inget diskusi kita soal “MENGANCAM ALLAH” di tulisan mba anis sebelumnya…
http://trendibandung.wordpress.com/2008/09/12/mengancam-allah/

mudik ke bandung mba…
selamat datang di kota bandung, salam buat semua keluarga. semoga keluarga kita adalah keluarga yang membawa kita surga dan berkumpul lagi bersama-sama di sana…
tapi, saya tidak akan mengatakan

MENYAMBUT KEMENANGAN…

saya hanya ucapkan semoga amal ibadah kita tetap diterima ALLAH SWT. maaf kalau saya bernada pesimis, kita tidak layak menyambut akhir Ramadhan ini dengan menyambut kemenangan.
kata-kata itu sungguh sudah melenakan kita dari kondisi sesungguhnya…
mudah2an ini Ramadhan terakhir kita menderita kekalahan

http://trendibandung.wordpress.com/2008/09/26/menyambut-kekalahan-0-3/

selamat Idul Fitri for you too

satu bulan qt blajar, latihan dan memperbanyak istighfar utk minta maaf kpd Tuhan atas sgl kelemahan kita dlm menahan godaan2 dosa selama ini.
kalo menahan perbuatan n makanan yg halal2 aja bisa, seharusnya stl puasa ini qt semakin mampu menahan dosa, minta maaf dan memaafkan orang lain. begitu juga anis, meksi sy udah lamaa… sekali gak kesini harusnya juga bisa langsung memaafkannya lahir batin dg amat sangat mudahnya. πŸ˜€

Selamat menikmati kefitrian mbak.

@kang tren di bandung
saya datang ke bandung nih. kota masa sekolah yang saya suka..
seperti saya yang juga mau datang ke blognya kang tren di bandung πŸ™‚

hahaha.. rasanya beda ya mengancam dan marah. marah ya marah saja, rasanya saya tak mengancamNya. saya hanya terdorong ingin bisa memilikiNya lebih dari yang ritual itu.
seperti kalau memiliki kekasih, saya ingin bener-bener yakin kalau dia menginginkan saya. doo.. maksa. πŸ˜€

@mas JM dan semua

saya yang harus berterimakasih pada mas JM dan semua di sini, yang dalam kesibukannya, masih sempat-sempatnya membuka blog ini dan menemani saya di sini.
duh, itu kan sangat tak bisa saya lukiskan rasanya.. : bahagia!

merasa dimiliki itu memang membahagiakan yaa? membuat punya banyak alasan tuk selalu ada. ciee… saya senang memiliki mas JM dan banyak saudara di sini.

semoga semua di sini juga ringan-ringan saja tuk memaafkan banyak khilaf saya yaa.. dan janji, besok-besok tetap mau menemani tumbuh kembang saya di sini. mau kan?? hehehe, maksa πŸ˜€

@mas dana
sama-sama mas dana.. semoga mas dana juga menikmatinya inginnya semua detik dalam hidup ini adalah fitri. hehehe πŸ˜€

Setiap orang adalah unik, hehe, setujuh. Maka janganlah keunikan itu diseragam-seragamkan yah, karena jadi hilanglah keindahan hidup ini, doo… Met mudiks… Btw beberapa kali mau komen gagal wae yeuh….


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: