skala

Posted on Oktober 6, 2008. Filed under: islam indie |

(tentang ramadhan yang sering terasa berlalu begitu saja..)

ini pengakuan yaa..
saya pernah dengan sengaja tidak berpuasa ramadhan.
oopsss.. maaf-maaf-maaf. ini jujur loh, boleh kan?
suami tidak mengetahui hal ihwal ini, karena waktu itu kami masih tinggal terpisah. dia di jakarta, saya di bandung. lalu kalau wiken suami pulang, saya ya pura-pura puasa. sahur dan berbuka bersama, walau jika tidak ada dia, saya ya minum biasa saja..

kurleb itu terjadi di tahun ke 5 pernikahan saya, atau di tahun ke 12 saya menjadi muslim. waktu itu saya merasa sampai di titik jenuh dalam rutinitas beribadah yang demikian. di saat semua orang berlomba menambah ibadah, saya malah tertegun memandang kosong, tanpa rasa – tanpa kata..
entah kenapa?

dosa?
hmm, saya pikir tuhan tahu saya akan mempertanggungjawabkannya.

gimana kalau keburu mati tanpa sempat membayar puasa yang sengaja ditinggalkan?
hmm, saya rela deh di apain pun oleh tuhan. daripada saya puasa dengan kemalasan dan kemarahan, apalagi dengan ketidakpahaman tentang puasa itu sendiri..

aaargh, sudahlahhh…
jangan bilang saya akan masuk neraka oleh kenekatan saya meninggalkan puasa itu. hitungannya gini deh. yang muslim sejak lahir saja, mungkin pernah bolong puasa tanpa pernah membayarnya. nah, hitunglah kenekatan saya itu sebagai kalau saya muslim sejak lahir dan sengaja yang -sedikitnya- pernah meninggalkan puasa dalam hidupnya. gimana?

higs! sampai segitunya yaa kejenuhan itu menyergap saya…😦

laluuuuu…
saya hanya bisa memandang sedih melihat suami sahur. meski saya menemani dan turut sahur bersama, dalam hati – duh.. saya berbohong nih.
atau saya juga suka tertegun lama memandang acara buka bersama di telivisi. dalam hati – saya sedang berbohong nih..
so pasti, saya juga sedih setiap menyiapkan makanan berbuka. dalam hati, – ah.. saya bohong nihhhh..

sehingga, rasanya saya lebih sedih bukan pada ga puasanya. saya lebih sedih pada telah berbohongnya.. huhuhhuuuuuuuu.. 😦

saya lebih merasa berdosa dan bersalah karena telah berbohong dari telah tidak berpuasa.

saya merasa ga enak dan serba salah telah menyembunyikan sesuatu berupa kebohongan. soal puasanya sendiri, saya merasa Tuhan Maha Tahu kalau saya ga mungkin bohong padaNya. dan itu semata karena saya jenuh dengan rutinitas ibadah. tuhan tahu saya siap membertanggunjawabkannya, sekalipun itu masuk neraka.. higs. rasanya tuhan paham kok, bukan anis namanya kalau ga nekad.
duh, tuhan.. pisss yaaaa… piss dongggg πŸ˜€

begitulah saya..

dan dari kenekatan itu, saya belajar bertanggungjawab. akan puasa yang hanya Dia dan saya yang tahu. juga tentang tuk tidak menyembunyikan sesuatu dalam jiwa dan berlagak yang sebaliknya.

saya belajar apa adanya, saya belajar ga munafik..

yang kemudian dengannya, saya belajar mengukur puasa saya. akan mampukah puasa itu yang sampai ke jiwa saya? dan ternyata itu sulittt…

maka saya maklum saja deh melihat kejahatan masih berlangsung meski di bulan puasa, bahkan dilakukan oleh mereka yang sedang berpuasa. seperti FPI mengobrak-abrik rumah makan di bulan puasa? hehehe..
jangan naif..
saya ga buta kok akan rasanya kehidupan πŸ™‚

sehingga akhirnya, saya lebih suka belajar menjalankan puasa pada hal-hal kecil saja dalam jiwa ini. saya ga lagi sok mengejar yang tinggi-tinggi yang saya sendiri –sejujurnya– tak sebenar-benar membutuhkannya.

seperti jika marah ya saya lepaskan. dari pada saya menahan dan pura-pura tidak marah. sampai suatu ketika terasa marah itu tidak lagi perlu dan jiwa saya lebih bisa memenej-nya. atau seperti ketika saya malas mengaji, ga perlulah saya paksa-paksakan mengaji dihadapan manusia tuk agar layak terlihat luarbiasa sholehah di bulan puasa. saya biasa saja. kalau saya mau mengaji ya saya akan mengaji, ada atau tidak ada orang lain. walau kalau ringan, ya saya akan berpartisipasi di acara tadarusan.

perlu latihan yang panjang tuk saya menata diri tanpa kehilangan spontanitas dan keaslian saya.

sejujurnya, saya menjadi lebih menikmati ibadah itu ketika saya melayani orang lain. ketika hanya menyiapkan tikar tuk yang tadarus, walau sayanya sendiri ga ikut tadarus. atau ketika saya bisa memberi sesuatu pada orang lain, walau itu tidak seberapa dan tidak ada apa-apanya.
tentang saya dan Tuhan, ya biarlah itu diatur oleh saya dan tuhan. selebihnya saya ingin bisa hidup bersama siapapun dengan baik dan damai. gitu deh hasil saya meninggalkan puasa waktu itu..
hehehe.. πŸ˜€

skala..
itulah puasa dalam skala seorang seperti saya.
kadang terasa hina ga sih ya saya begini? ketika semua orang berlomba beribadah, saya kok malah santai saja. atau ketika semua orang merasa sholeh dengan amalannya, saya kok malah cuek saja. yang terasa oleh saya hanya satu : saya ga bohong kok tentang semua ini.
itu saja bahagianya saya tentang puasa dalam keterbatasan ini..
saya merasa tuhan tahu saya ga bohong terlalu banyak.. hehehe πŸ˜€

loh?
hehehe, ya iya dongg… saya tetap boleh memiliki rahasia pribadi loh. tentang sesuatu yang ga bisa saya utarakan semuanya di sini. karena pastinya, semua tidak akan percaya kalau diceritakan semuanya. ya toh? tuhan tidak vulgar, walau tuhan sangat terbuka.. dan saya berpuasa tuk tidak menceritakan semuanya. demi kalaupun ga dipercaya, ya demi tidak disangka narsis akuttt.. hehehe πŸ˜€

sehingga hidup memang asyik jika tetap memiliki misterinya.
membuat hidup seru tuk dijalani.
dan dalam sekian banyak kejujuran yang ada, yang konon tetap menyisakan sesuatu atau satu tuk tersimpan rapat, ya sudah sangat luarbiasa tuk dijalankan bersama-sama.. ya ga?
termasuk jika yang tersimpan itu bernama puasa -yang hanya saya dan tuhan, yang paham rasanya, maknanya sampai hasilnya.

so, ramadhan..
tidak harus terlewatkan begitu sajakan?

ketika tuhan ada di hal-hal kecil..

salam
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

13 Tanggapan to “skala”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

Tuhan selalu memperhatikan anda,

Salam.

Wih, Mbak Anis πŸ™‚

memang awal-awalnya berpuasa sampai ke hati (ciyeh.. istilahnya) memang terasa berat. Saya yang dari lahir sudah Islam saja mengalami, apalagi Mbak Anis yang seorang mualaf πŸ™‚

Saya yakin, suatu hari nanti Mbak Anis akan bisa berpuasa dengan sepenuh hati, 100% dengan hati, karena Mbak Anis memang mencintai Tuhan jadi Tuhan pasti mencintai balik πŸ™‚

Minal Aidin wal Faidzin , Mbak Anis
Maaf telat ngucapinnya πŸ™‚

rambu-rambu itu berarti ketika kita ngebut dan melaju kencang. mungkin agak grasak-grusuk dan berani. kita akan memahami arti sebuah larangan ketika di titik nadir bahaya.
kita tidak akan merasa perlu dengan aturan ketika sangat terlalu amat jauh dengan bahaya itu. resiko segaris dengan rezekinya (risk = rizq).
ketika kita berada pada dosa dan kehinaan, terasa penghambaan kita kepada ALLAH. ketika kita berada di bibir kesalahan, maka akan terasa makna beribadah. ketika berada di gerbang wilayah salah, selalu meningkat semangat mengabdi ketika kembali. namun selalu siapkan jalan untuk pulang sebagai bukti kesungguhan kita, ALLAH lah yang lebih mengenal kita.
itulah hakikatnya ALLAH menghadirkan keburukan ke tengah-tengah kita, untuk memberikan rasa nikmat atas sebuah kebaikan.
gitu bukan mba?

@imankristen
makasih mas/mbak..
salam hangat πŸ˜€

@darnia
hehehe, mbak darnia..
itu cuma ketika saya mencari-cari sesuatu yang bisa menghangatkan hati.. πŸ˜€
makasih buat keyakinannya tuk saya, semoga jadi doa yang indah yaa.. juga buat mabk darnia. minal aidin juga dan maaf lahir batin juga..

@kang trend
saya mengalir saja kang… πŸ™‚

bukankah kalau mengalir itu terus ke bawah???
mba saya ngebahas sedikit tentang risk vs rizq, tapi dalam bahasan dunia kerja.

http://trendibandung.wordpress.com/2008/10/08/resiko-besar-rezeki-besar/

@kang trend
ah, masa?
perbedaan tekanan juga membuat udara mengalir kan?
mengalir tak selalu air..
gitu ga sih?

salam kenal….yang susah adalah setelah ramadhan itu berlalu,,apakah perasaan yang sangat menikmati ibadah dan semangat ibadah yang menggebu-gebu selama bulan puasa bisa kita terapkan di 11 bulan ke depan,…

saya hanya khawatir, ketika mengalir kita tidak punya lagi semangat, gejolak, akselerasi,ledakan, dsb. yang mungkin itu bisa hinggap menjadi jenuh. ingat waktu mba anis merasa perlu melanggar berpuasa? saya khawatir itu muncul karena mengalir. coba kalau kita memiliki gejolak, mungkin akan selalu ada yang bisa kita nikmati. ini juga pemikiran saya saja mba

@kala senja
hmm.. justru itu mas. saya menikmati hal-hal kecil di ramadhan dan lebaran. agar tak hilang di sebelas bulan kedepannya..
sederhananya demikian. bukankah yang sedikit lama-lama menjadi bukit?

tapi betul, saya pun ramadhan ini juga saya termasuk yang mulai menemukan kenikmatan menikmati hal-hal kecil, sederhana, dan bersahaja. yang sebelumnya saya menganggap hal kecil dan remeh ini tidak perlu. seperti sms-an tentang hal sederhana dengan istri, membelikan istri hadiah, dsb.
saya pikir dalam kemengaliran itu pun tetap ada gejolak. saya melakukan hal sederhana dengan istri saya itu ternyata membuat perasaan yang luar biasa. tidak ada yang sia-sia dari penciptaan Allah.
kita sama-sama saling mendo’akan saja, semoga perjalanan kita mencari Tuhan, selalu dalam bimbingan hidayahNYA.

@kang trend
kadang kita memang memerlukan momentum tuk sebuah percepatan atau bahkan perubahan -sebut saja begitu. hehehe, maaf kalau secara fisikanya salah nih.. πŸ™‚
tapi yang pasti, saya -sebagai yang pernah mengalami momentum dalam hidup dan keberagamaan- ingin bilang bahwa itu tidak selalu sehat dan tepat. kadang sangat sakit. tapi tentu, saya tidak bisa mencegah jika memang tuhan mengajarinya demikian.

sehingga, rasanya memang bijaksana jika kita belajar tanpa harus banyak merasakan kesakitan itu. maka kenapa mereka yang bernama nabi itu tidak banyak.. hehehe πŸ˜€

sebut saja, ada seseorang yang dulunya sangat militan, inginnya negara islam. lalu setelah berusia 60 tahunan dia baru menyadari kalau indonesia ini lebih indah dari apa yang dia bayangkan ttg negara islam. bahkan bisa berkata indonesia ini luar biasa. pluralitas indonesia ini sangat natural tuk bahkan menerapkan nilai-nilai islam secara substansif. dan dia fair mengakui bahwa dia pernah sangat terkukung oleh jebakan keinginan ttg negara islam itu.
hehehe.. duh, kita ga perlu sampai usia 60 tahunan dong tuk merasa indonesia ini indah dan mulai juga terus memperjuangkan kebhinekaanya.. ya ga?

maka kita butuh inspirasi dan tuhan selalu menginspirasi.

kesini-sininya, saya lebih suka jika momentum itu bernama inspirasi deh. maka jika dia bukan berupa ledakan, dia tetap mampu merubah dan mempercepat kemajuan kita. saya cinta damai nih.
gitu ga sih?

hehe, ini juga cuma pemikiran loh.. ya kan? πŸ˜€

kalau diijinkan, saya ingin menambahkan,
β€œmari kita niati sekolah, kuliah, kerja atau apa pun aktivitas kita sebagai ibadah… perbedaan ibadah & bukan, terletak pada niat…”

terima kasih sharingnya…

sebagai tambahan, saya membuat tulisan tentang “Benarkah Kita Hamba Allah?”
silakan berkunjung ke:

Benarkah Kita Hamba Allah?
(link di atas adalah tulisan ke-1 dr 2 buah link benarkah kita hamba Allah?)

Apakah Allah juga mengakui bahwa kita adalah hamba-Nya?

semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…

salam,
achmad faisol
http://achmadfaisol.blogspot.com/

@faisol
salam kenal mas..

silakan di lengkapi.
dan terimakasih πŸ™‚


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: