cuci bersih

Posted on Oktober 7, 2008. Filed under: islam indie |

(tentang bebersih di sela-sela hari fitri..)

coba tebak…
– apa yang paling sering saya lakukan di sejenak moment bernama idul fitri selama saya menjadi muslim??
bermaaf-maafan?
hehehe, itu formalnya.. seremoninya, dan itu sebentar saja. 🙂
selebihnya ga gitu kok..
– loh?
hehehe, mau tahu?

sebelum saya menikah, saya suka diajak para pekerja di tempat saya menumpangkan diri -sejak masuk islam- tuk berlebaran bersama keluarga mereka. dalam rasa ingin menghargai dan ga enak hati telah merepotkan, maka saya berusaha turut berpartisipasi meringankan moment lebaran yang cukup hiruk pikuk itu dengan……. mencuci piring!
ya minimal piring bekas makan saya. hehehe.. 🙂
walau kadang mereka ga mengizinkan saya mencuci piring itu. tapi saya lebih ga enak jika hanya ikut berlebaran tanpa bantu apa-apa.

nah, kebiasaan ini berlangsung pula setelah saya menikah.

sejujurnya, saya nih -hmm- butuh ga butuh dengan tradisi lebaran. saya masuk islam ga berpikir harus berlebaran dsbnya. masuk islam ya masuk saja. tapi ya namanya menikah, saya ya harus mau turut kebiasaan keluarga suami saya. termasuk soal berlebaran. eeitts, ini sih judulnya dengan siapapun saya menikah, saya tetap akan beradaptasi dan berpartisipasi dengan kebiasaan keluarga suami saya. ini alami loh.. ya kan?

nah, disanalah… baru deh saya tahu, kalau lebaran itu sibuk sekali.
bikin ketupat, opor, rendang, lodeh, belum lagi karena keluarga suami pernah lama kerja di medan, maka tak lupa masak kikil dengan tauco medan plus cabe hijau keriting yang super pedassss. lalu setelah bapak dan ibu mertua mengurangi makan jeroan, maka sambel goreng ati berganti dengan kering kentang bumbu sambel goreng, yang di bandung bernama mustofa.
jangan tanya kenapa masakan itu bernama mustofa. saya juga penasaran… hehehe 😀

hmm, jangan dipikir saya ini pinter masak yaa. saya nih kan cuma ikutan saja. selain bukan saya yang punya dapur, ibu mertua adalah primadona dapurnya di setiap lebaran..

maka apa lagi yang bisa saya lakukan coba tuk berpartisipasi aktif dalam moment lebaran itu? kalau bukan : (lagi-lagi) ……cuci piringgg!!
hahahaha 😀

hmm, ada sih hal lain yang lebih keren dari sekecar cuci piring. kadang ikutan ngulek bumbu rendang, kadang motong-motong aneka hal tuk lodeh, kikil dsbnya. sibuk dehhh.. tapi yang paling aktif ya cuci piring itu. gantian sih dengan kakak dan adik ipar -yang semuanya perempuan .

ketika anak-anak masih kecil, moment lebaran menjadi super cape buat saya. disatu pihak harus ngurus anak, di lain pihak ya turut bantu-bantu. di lain pihak harus turut kesana-kemari ikut acara lebaran keluarga suami, di lain pihak ya harus tetap turut beres-beres termasuk beberes barang keluarga sendiri.

duh, ternyata lebaran itu ribett. jujur, di rasa cape yang pekat gitu, saya ga tahu deh rasanya lebaran itu selain cuma cape saja.. higs..

nah, suatu ketika..
ini berbau curhat yaa..
kami harus bergegas silaturahmi ke luar kota, tepatnya ke utara kota bandung. lalu sehabis sarapan pagi, tanpa sempat cuci piring, kita harus segera pergi. pulang sudah lewat jam 8 malam, macettttt…. tahu sendiri deh utara kota bandung di waktu liburan gitu. dan ternyata cucian piring di rumah itu belum di cuci juga, padahal ada orang kok yang ga ikut jalan-jalan. padahal ada orang di rumah. kenapa tidak berkenan mencucikan bekas makan sarapan itu yaa? padahal itukan ga banyak?

ditambah lagi kita belum pada makan malam. entah kenapa, kalau saya sih suka yang praktis-praktis saja. kalau bepergian, saya lebih suka makan di luar. biar pulang tinggal tidur.. hehehe 😀 suami saya sih hafal kebiasaan saya itu, tapi namanya ikut acara orangtua, ya nurut deh.

walhasil mau makan malam di rumah, piring kurang dsbnya. ya akhirnya, saya yang ga tegaan, ya mencucikan piring2 itu dengan rasa cape dan sebal. belum lagi anak-anak ya tahunya laparrr… sementara yang lainnya hanya sibuk mandi dan beberes dirinya masing-masing.
duh, cuci piringnya jadi klontrangan deh, bete! sedih, higs! 😦

saya ga tahu deh, kenapa begitu yaa??
emang sih orang yang sedari pagi tadi ada di rumah itu segera minta maaf pada saya, tapi sudah terlanjur sebal deh hati saya. belum hilang hangatnya maaf-maafan lebaran, sudah sedih dan tersakiti lagi nih rasanya.. hehehe 😀

maka apa sih lebaran itu??

dalam kemarahan saya mempertanyakan lebaran itu pada tuhan. dalam hati yang mendidih dan rasa yang letih yang tumpang tindih. kalau tidak karena rasa hormat pada tuhan dan keluarga besar suami, tentu saya lebih suka membuat lebaran itu praktis dan membahagiakan. membuatnya ringan, tidak perlu banyak atribut dan segala basa basi..

karena toh manusia lebih suka membuat lebaran itu begitu nihil.
termasuk saya yang mendidih dalam letih, tanpa bisa mengendalikan diri sehingga kelontrangan mencuci piringnya.

padahal terngiang kata ibu saya, – jangan kelontrangan kalau cuci piring. kerasa loh, ga ikhlasnya tuh cucian..
ah.. bikin merasa bersalah dalam diri sendiri deh😦

maka saya pun hanya bisa mengendapkan dan terus mengendapkan peristiwa itu. mengendalikan diri dan emosi. melawan letih juga rasa dengki yang saya kenali mulai merasuk dan menguasai. mengingat tuhan, dan memohon pertolonganNya tuk hati saya yang dilanda kesempitan saat itu.
aaarghhhh, ingin deh berlari kepada tuhan, minta tolongggg…

sampai tibalah hari-hari di idul fitri berikutnya, dimana saya sudah bisa memilih tuk asyik mencuci piring tanpa banyak menghitung lagi.

saya sempat, ya saya cucikan. sempat tak sempat saya berusaha mengingat dan mengerjakannya. dan saya menikmatinya.
saya sadari, hanya itu kok yang bisa saya beri di hari fitri itu pada semua. saya tak membawa apa-apa ketika masuk dalam agamaNya, maka hanya diri dan seluruh persembahan itu -yang jika memang untukNya- tak perlulah banyak hitungannya lagi.

sehingga nih…
hmm, saya suka mencuci piring sambil menikmati rasa kesat jika jari di gosokan ke piring itu. bayangkan saya seperti iklan sabun cuci piring yang settt-sett.. keset. hehehe, jangan dengan merek sabun cuci piringnya yaa, ntar jadi promosi gratis deh.. 😀

itulah ketika tiba sebuah rasa
yang bayangkan dia berbunyi
horeeeeee….
itulah idul fitri buat saya.

ketika letih menghinggapi
tidur setelahnya terasa seperti diselimuti
oleh kasih..
dari Dia yang terkasih
Dia yang hakiki
membuat saya bertanya
kemana perginya rasa letih itu yaaa?

begitulah saya belajar menjalani keislaman ini
dari hari demi hari
menemukanNya di sisi-sisi hati
yang terkadang sepi
juga terkadang geli
sendiri…

salam
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

4 Tanggapan to “cuci bersih”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

soal suasana lebaran yang ada dibudaya kita memang saya merasa tidak pas. tentu saja ini bermula dari pemahaman Ramadhan-nya yang juga belum pas. kalau Ramadhan ini dirindukan kenapa bergembira ketika berakhir.
kalau pemahaman sebagian muslim terhadap Ramadhan ini sudah benar, mungkin akan berbeda suasana yang terbentuk ketika mengakhirinya.
kembali pada akhirnya, bagaimana gejolak iman itu bisa mendapatkan suasana yang kondusif untuk semakin merasakan kedekatan yang intim denganNYA.
gitu bukan ya mba?

@kang trend
hehehe, sebetulnya tidak seperti itu yaa..
ini romantika beragama di area aktualisasi. banyak dari kita hanya mengejar hal-hal besar dan menyepelekan hal-hal kecil. begitu banyak teori beragama di telan, tidak salah sih.. sungguh tidak ada yang salah. tapi sering kali terasa nihil di kenyataannya. maka karenanya sering kita temui hal-hal yang sangat jauh dari nilai beragama itu sendiri..

dan saya..??
saya berjuang tuk menghargai hal-hal kecil. meski saya tahu mungkin tidak semua orang menyukainya. tapi biarlah.. toh, keberagamaan saya ternyata lebih melihat hal-hal kecil itu.
saya ga bisa terlalu jauh, juga tak bisa terlalu tinggi, dalam berteori ttg agama.. saya hanya beranjak dari keseharian saya saja.

ini hanya keterbatasan saya kali yaa 😀
begitulah kang sederhananya tentang perjalanan islam saya sampai hari ini.

@kang trend
nambah:
sesungguhnya saya menikmati tradisi. ga ada yang salah dari tradisi.

yang salah jika perayaan itu melupakan kita akan hal-hal yang seharusnya bisa memberi nilai tambah dalam tradisi itu sendiri. maka kenapa tradisi sering ditinggalkan, ya saya rasa karena kita hanya mau melihat di hal-hal yang besarnya saja dan malah melupakan hal-hal kecil yang sebetulnya justru sangat mendukung tradisi itu sendiri..

saya suka terharu kalau melihat orang-orang tua yang asyik memasak khas tuk perayaan2 tertentu. nah, seringnya kita tuh hanya mau terima beres dan tidak bener-bener turut mau merasakan semua tentang perayaan itu sendiri. termasuk jika itu hanya tuk sekedar cuci piring atau apalah..
gitu ga sih?

ah, mungkin ini karena saya tergolong “partai buruh” kali yaa.. saya menikmati kebersamaan dari hal-hal kecil. hehehe 😀

hal yang besar dan hal yang kecil adalah realita. kita harus menerima semuanya, apakah itu hal besar ataupun hal kecil. karena itulah integritas. tapi ketika kita belum bisa melakukan semuanya, maka itu menjadi materi muhasabah kita dengan pencipta. menjadi penegas lemahnya kita dihadapanNYA. tapi Tuhan akan mengerti dan kita boleh menikmati tahapan pendewasaan penghambaan itu.


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: