kedua tentang kasih tak pernah letih

Posted on Oktober 7, 2008. Filed under: islam indie |

(dibagi lagi yaa..)

saya hanya ingin menginspirasi. saya kan suka berkunjung ke blog semua di sini. nah.. saya sadari sekali kalau semua di sini memiliki hal-hal bernilai dalam hidupnya. yang kalau ditelusuri sebenarnya telah turut membangun pribadi kita semua sampai hari ini.. ya ga?

maka dari sekedar mengenang-ngenang ini, semoga bisa mengingatkan masing-masing kita kembali tentang nilai-nilai yang telah membesarkan kita dan semoga kita tak melupakannya. tak menserabutnya dari jiwa kita yang terdalam.

pelajaran kedua yang saya dapat dari rumah masa kanak-kanak saya adalah tentang kasih yang tak pernah letih. ini hanya bahasa saya saja yaa.
intinya ini masalah konsistensi..

ketika papa saya pailit, maka ibu saya sigap mengantikan peran memegang perekonomian keluarga, sambil menemani papa saya bangkit kembali. seperti pernah saya tulis, ibu saya melakoni bisnis catering kecil-kecilan.
nah, meski memiliki minimal 4 sampai 6 orang pembantu, ibu saya tetap mengkaryakan saya -anak perempuannya yang hanya anak rumahan ini.
mau tahu apakah itu?

pernah suatu ketika ibu saya mendapat pesanan panganan otak-otak ikan tenggiri sampai 500 potong. dan ga tanggung-tanggung, sayalah yang disuruh beliau tuk membungkus semua otak-otak itu dengan daun pisang dan biting yang sudah disediakan sampai : 500 potong lebih! konon harus lebih sebagai bonus.
aduh.. ga salah nih??? pengen nangis deh..

dan itu ga bisa ditawar. setelah memberi petunjuk bahwa besarnya harus segini-segini, maka saya ditinggal sendirian membungkus semua adonan ikan tuk otak-otak itu. nanti pembantu ibu saya akan membakarnya, dan ibu saya siap memadu adonan tuk bumbu kacangnya. betenya lagi tuh, ibu saya akan menyuruh saya mengulangi lagi membungkus otak-otak jika ukurannya berbeda dari sample contoh ukuran darinya. ga boleh ada satupun pembantu yang mengantikan tugas saya itu. alasan ibu saya, beda tangan nanti beda lagi ukurannya..
ibu saya kejam deh, lebih kejam dari ibu tiri..😦

dan herannya saya ya kok mau aja..??
hehehe.. πŸ˜€

maka dengan asyik saya akan melakukan tugas itu sampai terkantuk-kantuk. pegal dan ancur deh rasanya badan hanya dengan begitu. hanya dengan membungkus 500 otak-otak ikan tenggiri sendirian. kadang ada sih si mbak yang kasihan melihat saya yang paginya harus sekolah tapi semalaman harus membungkus begituan. selama tidak ada PR atau ulangan, ibu saya lebih suka menyuruh saya tuh. walhasil, ya percuma si mbak kasihan sama saya, tetap saja ibu saya ngotot harus saya yang melakukannya..

kebayangkan satu demi satu saya melakukannya sendiri. terus dan harus konsisten ukurannya.

lulus soal otak-otak ikan tenggiri, saya pernah lagi diminta membungkus pesanan kue bacang! menggunakan daun bambu itu loh. duh, kali ini bentuk dan cara membungkusnya harus berbentuk limas gitu, dan didalamnya harus diselipi osengan daging cincang tuk isi bacangnya. dan itu ratusan pesanannya.

lagi-lagi hanya saya sendirian yang diminta ibu tuk melakukannya. dan lagi-lagi saya mau saja melakukannya! dengan tingkat konsistensi yang tinggi secara ukuran dan pengerjaannya sampai semua selesai terbungkus. belum lagi, saya juga harus memperkirakan habisnya aronan nasi tuk bacang beserta daging tuk isinya. harus konsisten banyak isiannya dan pas selesai semua-semuanya!
sampai terkantuk-kantuk deh..

lulus membungkus bacang, saya diminta ibu saya menggulung rolade ikan. duh.. sama, ratusan tuh pesanannya. saya pun terbiasa mengatur jumlah adonan dan lapisan telur tuk bungkusnya.
hand made gitu loh.. hehehe πŸ˜€

seringnya saya menerima pelajaran tentang konsistensi yang demikian, membuat saya dalam jatuh bangun, tawa dan airmata, tetap berusaha konsisten dengan apapun pilihan hidup saya.

sampai ibu saya pernah berkata sinis diawal keislaman saya,
– wah, islam dapat didikan terbaik mama nih..
hahaha, maaf ya ibu saya ge-er tuh..
aslinya beliau menyesalkan saya yang memilih islam dan merasa telah rugi membesarkan saya yang malah membangkang padanya.

saya memang sudah bersalah pada ibu saya. tapi betapa saya ingin sekali katakan bahwa saya islam bukan untuk saya atau untuk islam. tapi untuk manusia semuanya.. termasuk untuk ibu saya yang telah berjasa membesarkan saya sedemikiannya..

maka jika membangun jiwa manusia itu memerlukan kasih yang penuh ketelatenan dan konsistensi yang tinggi, maka ya inilah pelajaran tentang kasih yang tak pernah letih..

yang saya baru sadari itu melekat ketika tuk sebuah peristiwa saya di tes psikologi tentang personality. ditemukan bahwa konsistensi saya sangat tinggi. bahkan psikolognya bilang, dalam tangispun saya akan tetap bisa bekerja.
hah?? masa sih?

padahal jujur, di tengah rasa letih yang suka tumpang tindih, kadang saya ingin mengundurkan diri. hehehe πŸ™‚

maka kalau membaca kisah tentang perjalanan manusia di muka bumi, baik yang hanya primitif lalu sampai yang berperadaban tinggi dan membawakan agama-agama langit ini, saya terkagum-kagum sama tuhan yang menciptakan dan menggerakkannya..
betapa tuhan telah begitu telaten dan konsisten mengajari manusia. sebagaimana adam diajari banyak hal.

maka nikmat mana lagi yang kau ingkari?

termasuk tuk indonesia?
hahaha πŸ˜€
kali ini dengarkan saya berbisik, pelan dan dalam
ayo bangun wahai indonesiaku..

salam
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: