pelajaran pertama tentang cinta

Posted on Oktober 7, 2008. Filed under: islam indie |

(dibagi yaa..)

pada akhirnya -atau minimal hari ini- saya tiba-tiba menyadari dengan sangat mendalam betapa agama ini atau apapun keyakinan ini, sepertinya nihil jika tidak bisa membangun apa yang kemudian dikenal sebagai moralitas. bersama dan universal. maka tak heran, kalau dikatakan tuhan telah mati. ketika beragama hanya sering menyisakan derita tanpa makna, penuh pemaksaan tanpa cela kemerdekaan, serta mengebiri dan membunuh nurani.

padahal, bukan Tuhan namanya – jika Dia tidak menginginkan selain kebaikan bagi seluruh manusia ciptaanNya. sederhanakan saja demikian. ya ga?

saya jadi terkenang pelajaran pertama tentang cinta yang begitu jelas penampakannya dalam pejam mata dan tersimpan rapi dalam ingatan. dari ibu saya, yang belajar melayani segala yang ada di sekitarnya.

adalah nenek buyut dari pihak papa saya, masih hidup sampai saya SD. usianya sampai 80an gitu deh. beliau seorang cina yang berpakaian khas kebaya encim. saya pikir beliau orang jawa, padahal dari pihak papa semuanya cina medok. tapi keriputnya dan terbakar kulitnya, tak menunjukkan kalau beliau aslinya keturunan cina. hehehe 😀

sebagai anak tertua dalam keluarga, maka papa saya ketempatan dititipi nenek buyut yang sudah mulai sakit-sakitan. ibu saya sebagai menantu, menerima dengan lapang hati dan pintu terbuka lebar. maka hiduplah saya kecil disamping nenek buyut dari pihak papa itu.

ah, asal tahu saja yaa..
kalau saya salah bersikap sedikit saja pada nenek buyut itu, maka ibu saya akan mendamprat. katanya..
– itu orang tua, anis ga boleh gitu!
pernah saya protes,
– kok lebih sayang sama nenek buyut dari anak sendiri sih?
jawab ibu saya,
– bakti itu ga boleh milih-milih. semua sama!
duh, ibu saya memang wanita idealis. 😛

nah, nenek buyut itu sakit diabetes. sebelum akhirnya wafat di rumah anak kesayangannya, alias adiknya nenek, beliau ya dirawat oleh ibu saya. saya melihat bagaimana ibu saya menyuapi, membasuh, bahkan membersihkan bekas pup dan pipisnya di kamar itu. lebih-lebih dari bayi deh rasanya. karena sudahkah rewel, orang semakin tua itu semakin aneh deh..

tapi ibu saya tuh sabarannnnn…
saya sampai iri lihat sayangnya ibu saya pada nenek buyut itu.
ketika nenek buyut wafat, ibu saya bilang gini..
– ah, lega deh. kalau inget dulu sudah sempat hidup bersama dan sempat turut merawatnya.
ihh.. ibu saya tulus gitu komentarnya yaa?? 🙂

padahal, saya tahu banget, betapa nenek buyut itu kurang menyukai ibu saya yang berkulit hitam dan berwajah lebih pribumi – padahal masih cina-cina juga, tapi cina peranakan jawa. hehehe, dari kecil saya sudah terbiasa dengan bentuk “diskriminasi kecil-kecilan” ala keluarga saya. ya itu.. ibu saya yang relatif hitam ga diaku sepenuhnya cina oleh keluarga besar papa saya..
hehehe ada-ada saja yaa.. 😀

tapi herannya, sebagaimana di dongeng-dongeng, justru ibu sayalah yang paling rela mengurus nenek buyut, yang bahkan anak kesayangannya saja sempat enggan. kalau tidak karena nenek buyut itu memintanya sendiri tuk sejenak bersama anak kesayangannya sebelum wafat.

saya suka mengamati, maklum saya kan di rumah saja. walau ibu saya jarang banyak menceritakannya, saya tahu ibu saya belajar melayani tanpa banyak teori.

atas nama agama?
hehehe, sejujurnya ibu saya sempat ganti-ganti agama. dari yang hanya ikut tradisi orangtua, sampai terakhir wafat dalam iman kristiani. ibu saya sendiri adalah si pencari tuhan. dari hal-hal kecil termasuk ketika melayani nenek buyut dari pihak papa.

saya menyadari ini, setelah saya sendiri menjadi sebagaimana ibu saya yang haus akan tuhan. mencariNya kesana-kemari. dan tiadalah ada Dia, selain di kebeningan jiwa. apapun agamamu!
– ketika kau bisa mencintai musuhmu sebagaimana kau mencintai dirimu sendiri
– ketika kau bisa memberi pada orang yang membencimu
– ketika kau bisa melayani manusia sebagaimana melayani dirimu sendiri

masih terbayang oleh saya, ibu saya yang dengan ringan membersihkan ranjang nenek buyut, memasangkannya dengan seprei terbaiknya. saya kecil dimintanya membantu memasangkan sarung bantal dan gulingnya. masih terbayang oleh saya, ibu saya yang dengan ringan menyisirkan rambut nenek buyut itu pelan-pelan dan menggelungnya. bahkan masih terbayang pula ketika ibu saya yang suka menjahit membuatkan kebaya baru tuk nenek buyut saya itu pergi ke gereja. nenek buyut saya itu penganut kristen pantekosta.

adakah yang lebih indah dari itu?

saya suka melihatnya. merasakan semangat ibu saya yang suka melayani banyak orang. walau saya sangat jauhhhhhhh… deh. saya baru menyadarinya akhir-akhir ini, setelah saya berumur segini! ah, kemana saya selama ini yaa?
mencari tuhan di buku-buku dan teori-teori?

padahal tuhan begitu dekat….

maka ada apa jika dalam beragama kita tidak mampu membangun moralitas dan kepedulian pada sesama? padahal basicnya kesadaran beragama adalah tuk kemanusiaan??

dari pengalaman sih, itu terjadi ketika beragama hanya berkutat pada teori dan pendapat-pendapat lalu terus berdebat tentangnya tiada henti. membuang waktu dan membuatnya tertinggal oleh banyak persoalan yang terus berkembang. bukan beragama yang nyata dan menjawab masalah aktual yang ada.

maka saya tak lagi banyak menegadahkan kepala ke langit dan membuka tangan memohon keatas. itu hanya sesekali saja, tuk membayangkan cakrawalaNya yang luas tak bertepi. selebihnya, saya lebih banyak menunduk dan terus menunduk. dan ingin memeluk juga dipeluk. oleh semua yang hidup di kehidupan ini..

cinta pada pelajaran yang pertama adalah melayani orangtua..
orang tua yang layak dan diridloi oleh semua isi bumi, yang tanpanya kita juga mungkin tak pernah ada dan berarti..

ibu saya pernah bilang gini..
– maafkanlah mereka yang tua-tua itu. ok?
tuk mata saya yang penuh tanya ketika sadari kasih hanya dibalas benci..

maka dimanakah tuhan?
tuhan ada di kebesaran jiwa..

termasuk tuk indonesia?
hahaha 😀

salam
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: