gado-gado

Posted on Oktober 8, 2008. Filed under: islam indie |

(hehehe… )

pernah ada seorang teman lewat imel bertanya,
– lu islam ga sih nis?
hahahaha.. šŸ˜€

menurutnya saya ini lebih berjiwa seperti Isa as.
karena saya pernah kristen?
ahh..
boleh saya jawab sekalian di sini yaa..

begini,
saya tidak mau banyak berdebat soal ini.
satu yang pasti, dulupun saya juga bukan dari keluarga kristen yang taat. keluarga saya cenderung liberal dalam soal agama, walau tetap dianggap aneh dan nekat kalau melawan mainstream keluarga. saya lebih banyak mengenal kristen di sekolah dan masih kanak-kanak saat itu. lalu di usia kelas 5 SD, saya sudah mempertanyakan tuhan. lalu di umur 18 tahun saya masuk islam, pernah jadi sangat militan dan terus bergumul dalam proses keislaman saya sampai saat ini.

secara historis, ya begitulah..

nah, saya mau bilang begini.
saya pernah bertemu dengan seorang kyai, -tentu beliau muslim- yang mempertanyakan hal yang mendasar buat saya.
– anis itu beragama untuk apa? masuk surga?
hmm.. lemot deh otak kalau ditanya beginian.. šŸ™‚
maka saya hanya terdiam..
lalu kata beliau begini,
– jika surga itu sebuah taman, tentu lebih indah jika kita bertemu dengan yang punya taman bernama surga itu. ya ga?
ya iyalahh.. ditaman sendirian, ntar malah bengong aja. trus pastinya akan penasaran melihat keindahan surga dan mempertanyakan gimana bikinnya, gimana meliharanya, gimana.. gimana.. yang lebih enak jika dijawab oleh yang punyanya. maka ketemu sang empunya, pasti suatu yang menyenangkan..
hehehe.. itu yang ada dalam benak saya.

maka saya menemukan jawaban sejati dari keberagamaan saya. ya untuk bertemu dengan tuhan itu sendiri. itu bahasa agamanya. sederhananya ya tuk menjadi sejatinya dan semurninya diri saya sendiri. sebelumnya, dari awal saya sudah meyakini – di kebeningan hati, Dia berdiri..

nahhhh..
maka karenanya saya menjadi tak lagi perlu banyak argumentasi sekunder, dooo.. istilahnya. maksudnya saya tidak lagi memerlukan banyak argumentasi dari banyak pula pendapat yang ada dalam penafsiran agama, yang jika itu hanya malah akan membuat saya kehilangan orientasi awal tentang keberagamaan saya itu sendiri.

kemudian, perhatikan ini..
jika tuhan adalah tujuan dari keberagamaan -apapun agamanya- ya maka wajar jika banyak pertemuan nilai bahkan ekspresi. berupa kepedulian, empati, bahkan sampai berupa rasa cinta itu sendiri.

dan tolong teliti soal ini..
maka tak lagi perlu merasa aneh, kok yang islam jadi seperti kristen? atau kok yang kristen jadi islami? atau kok yang kristen dan islam jadi seperti budha? jadi welas asih dsbnya. disini, jika memang tuhan tujuan kita bersama, ya maka kita menjadi seperti umat yang satu.

see… dari awal umat yang satu kemudian kembali menjadi satu pula.
kenapa? karena tuhanlah tujuan kehidupannya.
menjadikan kita manusia yang manusia..

pernah suatu waktu, suami saya menjual mobil pertamanya kepada seorang tua bernama pak Koswara. beliau muslim. kami mengenalnya lewat seorang chinesse pemilik warung. sekalinya saya bertemu dengan pak Koswara itu, entah kenapa tiba-tiba beliau bercerita banyak dan bilang begini..
– neng, si neng harus belajar melayani Allah. gimana caranya? ya dengan tulus melayani suami, tulus melayani anak-anak, tulus melayani semua orang.

asal tahu nih, pak Koswara ini juga penjual mobil bekas. beliau kehilangan anak bungsunya yang terkena kanker tulang. beliau bercerita bagaimana semua harta dan bendanya habis tuk mengobati si bungsu. masih dengan sedikit berkaca-kaca, padahal peristiwa itu sudah berlalu sekian tahun. beliau cerita bagaimana anaknya harus menjalani kemoterapi, yang sakitnya tak dapat dilukiskan. dari anaknya itu mengerang, melawan sampai terdiam. pasrah.
maka ketika melihat mofa berlari-lari, beliau berkata
– seumur itulah neng, awal anak bapak sakit.
aaargh… saya lihat mofa kejang sampai harus dirawat dan diinfus waktu itu saja, sudah serasa hancur dunia, apalagi kemoterapi??

satu pesannya,
– kehilangan anak membuat bapak dan istri menyadari arti melayani Allah neng. maka makasih si neng dan suaminya mau menjual mobil itu pada bapak. semoga jadi rejeki tuk si neng dan jadi rezeki juga tuk bapak.
hmm..
saya ya hanya bisa menjawab,
– semoga cepat laku lagi ya pak…

demi rezeki yang terus berputar dan mengalir tiada henti

nah, apakah bapak itu jadi seperti kristen?
karena meminjam bahasa dan mengajari melayani tuhan?
sebagaimana saudara-saudara kita yang kristen suka menyebutnya demikian?
jangan terlalu arab deh.. hehehe maaf. šŸ™‚

saya menemukan dan bisa merasakan, makna dari akhlaq Muhammad yang mulia. dalam konteks masyarakat arab saat itu, saya dapat membayangkan bagaimana Muhammad sangat halus budi. di sini, kita memang terkendala rasa dan bahasa bahkan selera dengan bahasa dan budaya arab. tapi saya bisa mengerti rasanya.
karena rasa akan tuhan, konon memberdayakan jiwa spiritual. yang itu membuat perangai menjadi halus dan penuh estetika.
konon katanya loh. hehehe.. šŸ™‚

maka apakah akan aneh jika Isa as sangat halus budi yang dirinya adalah rasa tuhan itu sendiri?dan juga bahkan kehalusan itu ada di pengikut ajarannya?
kemudian bukankah demikian juga dengan sidharta gautama atau budha? dan maka wajar pula jika para pengikut ajarannya pun halus budi? dst-dstnya..

satu deh, sebelum masuk ke wilayah politik, agama memang terbukti menghaluskan perangai dan memperlihatkan kepemimpinan yang melayani umat manusia tanpa terkecuali. selebihnya, tak bisa dipungkiri dunia politik membuat keberagamaan mendapat tantangannya dengan sangat serius dan butuh kehati-hatian tinggi. yang sesungguhnya juga tak mesti membuat keberagamaan dan politik itu menjadi dualitas yang berbeda. sesungguhnya satu, selama bisa dilihat konteksnya, melihat kenyataannya. bukan sekedar ributkan wacananya.

maka kita harus mau melihat keberagamaan itu secara utuh.
jangan dipilah-pilah, jangan sepotong-sepotong.

dan selebihnya, saya lebih suka jujur saja pada diri saya sendiri. saya nih beragama untuk apa? termasuk menuliskan blog ini untuk apa? saya mengenali rasa-rasa dari niatan itukan?? termasuk jika saya memiliki udang dibalik batu atau memiliki batu dibalik udang. dan akan berbeda pula jika saya terlatih dan terus berlatih tuk meluruskan niatan. memelihara konsistensi dan konsekuensi dari semua tentang saya.. di sini dan di mana saja.

mari beragama dengan nyata
menemukan banyak cita-cita yang sama
dengan mereka yang sekalipun berbeda

salam,
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: