antara kasih dan supremasi

Posted on Oktober 9, 2008. Filed under: islam indie |

(dilepas yaa..)

dulu, saya pernah membenci orangtua saya.
hehehe 🙂
namanya juga anak-anak. bencinya juga benci khas anak-anak loh, maksudnya sih maunya protes aja.

mau tahu kenapa?

hmm, bapak dan ibu saya tuh rasanya lebih baik dan ramah sama anak orang dari anaknya sendiri. rasanya kalau ke anak tetangga dan sepupu, mereka tuh sayang dan baik hati. lah, giliran ke saya dan kakak, kok dikit-dikit selalu diomelin plus diceramahin mulu..??
ini dalam kacamata saya loh… sebelll…😦

contoh : pernah suatu ketika, kakak saya main dan bertengkar deh dengan anak tetangga tuk persoalan khas anak-anak. seperti kalah main, tapi ga mau ngaku.
e, melihat keributan kami yang anak-anak ini, ibu saya malah bilang ke saya dan kakak gini..
– sudah. sesekali kasih dia menang juga ga ngerugiin kita kok..
yeeeey? kok gitu sih?

bapak saya malah lebih nyeleneh komentarnya,
– segitu aja kok nafsu. kaya ga bisa menang lain waktu aja. sudah, santai aja.. kalah menang itu biasa dongg..
ih, orangtua kok tidak ngerti perjuangan kami yang sudah berusaha bermain tuk memang itu. hehehe 🙂

maka proteslah saya pada ibu saya.
– kok gitu sih? marahnya sama anak sendiri aja?
lah, jawabnya gini..
– nonn.. itukan anak orang. mama tidak bertanggungjawab tuk pendidikan anak orang. mama juga ga ngerti bagaimana dia diajarkan di rumahnya. maka ya cuma itu yang bisa mama sikapi. biarlah orangtuanya yang ngajarin anaknya dan dengan kebijaksanaan dari orangtuanya sendiri. kewajiban mama ya ngajarin anak mama. termasuk ngajarin anak mama tuk kalau sekedar main itu ya jangan mau menang ajalah. gantian sesekali kalah, lumrah toh. namanya juga cuma main..
ih.. kok gitu yaa? grrr… 😛

bahkan pernah suatu ketika, ibunya teman -masih tetangga jadi bicarain hal buruk tentang kakak saya. perkaranya sepele. kakak saya tuh suka olah raga. segala jenis olah raga dia bisa. maka wajar kalau main basket, voley atau bahkan main benteng, kakak saya itu suka menang. lah, teman kami itu kalah terus dan nangis.
eeeee…, kakak saya disalahkan. kata ibunya teman itu, – main aja kok serius..?? sok sekali.
so pasti, kakak saya dimarahin abis sama ibu saya.
kata ibu saya,
– cuma main aja kok sampai ribut sama tetangga sih?
bla-bla-bla.. di omel panjang gitu deh..

saya yang suka mengamati, jadi ya mikir.
nih yang salah orang tua atau kita yang anak-anak yaa? kok sepertinya hidup ini ga adil.

bapak saya sih pernah bilang gini
– kalian itu masih anak-anak. lihat masalah juga masih segitu-gitu aja. belajar lihat dunia deh, ribut sama tetangga itu ma-lu-ma-lu-in. kaya ga ada kerjaan lain aja. nih, sekarang lebih baik mikir deh gimana kalau kita bisa bikin lemari ini bagus dan bernilai jual..
hehehe 🙂
bapak saya memang hobi bikin-bikin perkakas dari kayu. kalau lagi serius, bikin lemaripun dilakonin. yang menurut ibu saya – mbok beli aja di toko furniture. tapi beliau memang suka prakarya gitu. jadi ibu saya hanya bisa maklum..

begitulah,
kadang saya ingin marah kalau saya yang malah disalahin dan disuruh mengalah oleh orangtua atas tingkah laku anak tetangga –yang secara sepihak– menuduh ini itu, yang saya – juga secara sepihak– ga merasa gitu.
masing-masing memang punya alibi dan sudut pandangnya sendiri-sendiri. tapi kesannya orang tua saya itu kok lebih sayang sama anak orang. ya ga?

tapi ada suatu peristiwa yang buat saya sadar kalau sikap orang tua saya itu benar.

alkisah, kakak saya lagi suka tarik-tarikan pake motor – zaman itu masih ngetopnya honda astrea- dan kena razia oleh polisi. halahhh…, dia dan teman-temannya ditangkap dan diomel-omelin sama polisi. walhasil, orang tua saya dan beberapa orang tua lainnya yang dipanggil ke kantor polisi.
nah, bapak saya menerima salah dan bersedia melakukan prosedur hukum tuk peristiwa itu. termasuk melihat kakak saya digaplok sama polisi.
duh! 😦

beberapa orangtua yang lain malah ndumel di belakang polisi melihat anaknya dikasari oleh polisi. bahkan ada yang sok marah-marah, tapi ga berani di depan pak polisinya.
dan bapak saya bilang gini,
– jika sudah jelas salah, ya sudah resiko. sekalipun sebagai bapak, saya terima dan akan turut bertanggungjawab. saya ga bisa meyalahkan polisi tuk hukuman itu. ini masih mendinglah, kebayang kalau anak-anak itu disuruh nginap di kantor polisi dan ketemu sama pelaku kejahatan lainnya. ini sudah lumayan tuk anak-anak itu sadar diri deh.
ucapan bapak saya itu, cukup membuat orangtua yang lain diam dan tidak lagi ndumel menyalahkan polisi.

disitu saya baru tahu, mengapa mereka yang sungguh-sungguh mengasihi kita itu lebih memilih tuk mendidik dan bukan selalu memenangkan kita

sesungguhnya itu ya demi kedewasaan dan bekal jiwa kita juga. karena betapa banyak hal dalam hidup ini yang ga bisa dilihat hanya dari satu sudut mata kita saja. juga membuka mata saya, akan betapa banyak hal yang belum saya ketahui seluruhnya.

maka karenanya,
maaf… jika di blog sini, saya bersikap sangat toleran pada saudara-saudara saya yang berbeda keyakinan. itu semata karena saya memang tidak mengerti benar bagaimana ajaran mereka. sekalipun saya pernah kristen, toh saya sudah tidak memperlajari ajaran kristiani. sudut pandang dan rasa sayapun sudah berbeda. sehingga tak ada yang bisa saya lakukan selain memilih tuk sangat menghormati perbedaan itu.

dan maaf sekali, kalau saya –akhirnya– harus bersikap tegas pada saudara-saudara saya sesama muslim yang ‘fanatik buta’ bahkan -maaf lagi- mentafsirkan agama secara sepihak dengan penuh semangat permusuhan. itu semata karena saya merasa selayaknya tidak begitu. betapa saya menemui dari banyak ulama kita yang juga sangat damai kok dalam berislam.
maka kalau pandangan yang fanatik itu ternyata hanya pandangan yang bersifat sepihak, yukk mari kita belajar lebih jernih lagi dalam beragama kita…

kata ibu saya,
– kalau tidak karena cinta, ya ga akan diajarinlah. biarin aja mau ngapain kek. ya ga?

karenanya tentu sangat berbeda, antara sikap kritis yang mengatas namakan cinta dengan yang mengatas namakan nafsu tuk menghancurkan. ya kan?

naaaaahh, alkisah..
setelah saya dan kakak belajar bertetangga dengan penuh intrik kecil khas anak-anak itu, yang atas bimbingan orangtua bisa dilalui dengan baik dengan penuh semangat persahabatan, maka ketika masing-masing dari keluarga kami dan tetangga itu mengalami musibah, kami semua saling peduli, saling menolong dan saling mengasihi selayaknya bersaudara..

karena sesungguhnya, masing-masing kita akan memiliki ujian hidupnya sendiri-sendiri. tak ada satupun dari kita yang sempurna.

maka..
jika tidak ada manusia yang sempurna
termasuk dalam beragama dan bernegara
mengapa kita selalu bersilang kata?
membenarkan pendapat kita semata
dan terus berkubang dalam petaka
padahal kita hanya perlu tuk bersama
dengan sebaik-baiknya cita-cita
di indonesia tercinta
tidakkah itu bisa?

salam
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

5 Tanggapan to “antara kasih dan supremasi”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

Sungguh,. Kisah Kasih yang Indah..

Ah, iya jadi inget, dulu saya juga suka marah kalo tidak dibela ama orang tua. Ternyata begini toh hikmahnya. *manggut manggut*

duh.. Mbak Anis ni paling hebat kalo bikin artikel yang bikin mikir 🙂 makasih banyak sharing kisah masa kecilnya dan hikmah-hikmahnya 🙂

btw.. ini agak OOT, saya nemu artikel bagus di sini: http://www.assyaukanie.com/articles/salman-rushdie-dan-citra-islam

artikel lama sih.. tapi mungkin bisa buat wacana 🙂 maaf kalo sebelumnya Mbak Anis pernah baca 😀

suka banget…
salam kenal…^^

@fullnetter
@mas dana
pasti punya pengalaman yang sama, maka terasa indah.. hehehe 😀

anak-anak saya juga suka protes kalau saya cereweti mereka. nah, saya paling suka kalau ada adegan ibunya nobita cereweti nobita dan doraemon, saya pasti akan bilang pada mereka gini..
– tuh kannnn, ibunya nobita juga cerewet. dimana-mana yang namanya ibu-ibu itu sama. sama-sama cerewet. yeee..
anak-anak saya biasanya akan cembetut tuh.. hihihi 😛

hmm, dimana-mana orang tua memang relatif bersikap sama yaa sama anaknya..

@mbakdarnia
makasih mbak.
tadi saya sudah kesana, keren blognya..
hmm, hanya saja saya memang lebih suka beragama tanpa banyak alasan. karena iman sulit tuk diceritakan. selebihnya, saya kok percaya kalau hidup kita ini (bisa) indah.. hanya kita belum tahu rahasianya. ciee.. 😀

konon sih (stt.. ini rahasia ;)) karena tuhan sebetulnya ada di hal-hal kecil, mbak.. Dia merefleksi bahkan dalam hati kita, si manusia yang sangat kecil dalam hidup ini.

sekali lagi, makasih yaa.. tuk turut mengkayakan saya. jangan bosen. 🙂

@penjahat cupu
salam kenal..
seneng juga loh.. ada ‘penjahat’ yang bisa sampai ke sini. cupu lagi..
hehehe, becanda.. 🙂


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: