“sektor riil”

Posted on Oktober 13, 2008. Filed under: islam indie |

(saya ingin berbagi inspirasi tentang ekonomi ini dalam perspektif yang lain yaa. bukan analisa ekonomi seperti di banyak media. berbicara sekapasitas saya saja.. subyektif saya deh, hehehe… 😀 )

sebagai keturunan cina, yang masa kecilnya tinggal di kawasan pecinan pusat kota, maka saya terbiasa sekali melihat aktivitas ekonomi. hanya papa saya saja, yang pernah dan nyaman menjadi orang gajian. hehehe 🙂 selebihnya, hampir semua keluarga saya adalah pelaku ekonomi dalam arti harfiah, yakni adalah pewirausaha.

contoh dari pihak ibu. meski berstatus cina jawa, tetap lebih dominan cinanya. nah, adalah dulu sebuah jalan selepas stasiun KA pasar bawah bandar lampung, sederet ruko berdiri. dengan dinding masih berupa papan tersusun tegak khas ruko zaman dulu. di sederet ruko itu berhadap-hadapan dan bersebrangan jalan, ada toko kakek saya yang berdagang hasil bumi berupa kopi. lalu ada toko tante saya berdagang hasil bumi berupa kacang kedelai. lalu ada toko paman saya yang mejadi agen grosir barang-barang kelontongan. dan paman saya lagi yang memiliki toko besi.
maka kebayangkan..? saya hanya cukup di satu jalan itu saja tuk berkunjung ke keluarga pihak ibu. selebihnya ya berkumpul di ruko kakek saya itu. agak jauh dari jalan itu ada juga paman saya yang memiliki butik baju-baju impor dari taiwan dsbnya.

lalu dari pihak ayah, lebih banyak memiliki toko emas dikawasan pasar tradisional bambu kuning dan toko alat-alat listrik. bahkan seorang paman malah menjadi toko serba ada pemasok segala kebutuhan di sebuah daerah di lampung tengah. lalu ada pula adik dari nenek saya yang berjualan makanan ringan dan kue basah, memiliki etelase di depan toko emas paman saya. lalu masih saudara sepupu ayah, yang memiliki toko alat-alat olah raga dan toko alat-alat seperti pacul, timba, sampai topi caping dsbnya berupa kebutuhan petani dan pertukangan gitu.

seputar itu-itu saja deh.
ga sampai di situ, karena pernikahan pun kebanyakan masih seputar profesi dagang itu juga. ada tante saya yang menikah dengan anak pemilik dealer aneka pakan ternak di kota lampung. lalu mereka dimodali toko sepatu. ada pula yang menikah dengan anak pemilik toko alat-alat kue. mereka kemudian membuka toko emas. lalu ada juga yang menikah dengan anak pemilik toko besi, toko kain dst-dstnya.
dagangggggg semua…..

sampai ketika ayah saya yang mengalami phk karena pemutihan perusahaan tempatnya bekerja maka ibu sayapun memulai bisnis catering. bisnis jasa. berawal hanya seputar keluarga sendiri yang minta dipasok makanan kerena seharian mereka sibuk berdagang hingga terus ke catering tuk perkawinan. acara-acara tertentu dsbnya. ayah saya juga berbisnis jasa angkutan barang antar pulau jawa-sumatera.

terbiasalah saya dengan segala berbau kegiatan ekonomi walau saya sepertinya lebih suka menulis dari berdagang, hehehehe… saya ga bakat dagang. walau saya melihat dan menikmati sekali romantika jatuh bangun keluarga saya itu.

dan yang namanya juga dagang, kadang untung kadang buntung..

nah, romatika jatuh bangun berbisnis itu kadang membuat saya terenyuh loh.
misalnya.. pernah suatu saat, ketika butuh modal tambahan sebagian dari saudara saya itu melego setifikatnya sebagai jaminan pinjaman bank. lalu perhitungan bisnisnya tidak selancar yang diharapkan, maka mereka ngos-ngosan membayar tagihan bunga bank itu.

tapi jika bisnisnya sedang lancar, mereka bisa melakoni banyak bisnis. sebut saja dengan bisnis memiliki kendaraan umum tuk angkutan kota, main di properti -investasi di tanah dan rumah- sampai menginvestasikan langsung di barang dagangannya. seperti ketika harga kedelai bagus, tak segan-segan mereka turut menginvestasikan keuntungan ke petani kedelai agar lebih meningkatkan produksinya. asal di pasok ke toko paman saya itu. investasi yang terkait barang dagangannya sih lebih diminati karena lebih mendukung bisnisnya secara langsung.

seperti ibu saya, ketika bisnis cateringnya sedang bagus, pernah kecil-kecilan ikut menginvestasikan dana ke petani sayur dan pengrajin tempe tuk pasokan sayuran dan tempe ke cateringnya. ini bersifat insidental. dan biasanya pula nih, kalau lagi bagus, banyak karyawan yang dikaryakan. baik yang insidental tuk acara-acara catering tertentu, atau memang dijadikan pekerja tetap. sama saja, ketika paman-paman saya yang memiliki toko itu sedang untung besar, ga tanggung-tanggung akan mengekspansi bikin sebuah toko cabang. yang pastinya banyak pula karyawan yang direkrutnya..

bahkan nih, ada supirnya kakek saya yang kemudian dipekerjakan oleh paman saya di angkutan kota dan terus begitu ga putus-putus. sampai ketika sepi, berganti bisnis jual beli mobil, supir itu menjadi makelar tuk paman saya. hehehe.. duh, rasanya ga ada yang ga yang dijadikan bisnis deh. tapi ya itu, asal keuangan dan prospek terus memungkinkan.

soal asal memungkinkan tuk berputar ini, saya salut sekali loh..
bayangkan, pernah suatu ketika ibu saya harus mengantar family yang sakit. maka bisnis cateringnya di titipkan kepada pembantu yang senior deh. sudah bisa dipercaya dan selama ini terbukti teruji. lah, ndilala.. hari itu menu makanan beruapa ikan tidak dibuang isi perut ikannya! walahhh…., komplain dong semua pelanggan masakan ibu saya.. 😦

yang namanya musibah itu memang datang kebetulan yaa, bisa-bisanya pas ibu saya pergi masak ikan dan tidak diperiksa. biasanya dari penjual ikannya sudah bersih.. apa ada yang sentimen pada ibu saya? hehehe.. berlebihan deh.:)

walhasil paniklah..setengah dari pelanggan catering ibu saya berhenti!

dan apa ada kesempatan buat ibu saya berkeluh kesah dalam denyut bisnis yang terus berkelanjutan itu?
jawabnya : tidak..
begitu pulang, ibu saya langsung melobi beberapa pelanggan setia, seandainya bisa memaklumi insiden itu. kemudian memberi hidangan bonus beberapa waktu sebagai kompensasi dari kelalaian itu. wah, bayangkan ibu saya malah harus nombok demi agar tidak kehilangan pelanggannya. sampai kondisi bisa kembali normal dan baru kemudian kembali mencari pelanggan baru. karena sulit tuk menarik pelanggan yang sudah angkat kaki, ada resiko tuk ditinggalkan pelanggan karena hilang kepercayaan itu biasa deh.

wah, saya melihat sekali ibu saya ngos-ngosan membangun kembali bisnisnya. pembantu senior itupun sampai malu hati dan menangis. dia bener-bener tidak menyangka, hari itu dan kali itu kok bisa-bisanya lalai. dan tentu ketika itu terjadi, banyak dari karyawan maupun pihak yang terlibat dengan bisnis catering ibu saya yang juga turut sedih. tukang sayur, dan semua pemasok bisnis ibu saya turut meresakan dampak negatif itu.

dan solusi yang ada ya sikap saling membantu. bahkan ada tukang sayur yang mensuplai sayuran tuk ibu saya dengan sistem bayar di belakang. padahal dulu ibu saya membayar di muka demi tukang sayurnya sendiri mengekspansi usahanya.

begitulah bisnis..

dan ada yang lucu nih..
adalah satu serifikat tanah milik ayah saya bisa menjadi berputar-putar antar keluarga. sebut saja paman saya pinjam sertifikat tanah itu tuk jaminan pinjaman bank demi ekspansi binsnisnya. selang waktu dia lancar melunasi pinjaman itu, maka sertifikatpun keluar. lalu dipinjam lagi oleh paman yang lainnya. sama tuk dijadikan jaminan pinjaman ke bank. nah, karena sudah terbukti track sertifikat itu lancar, maka nilainya pun meningkat. seperti dapat rekomendasi gitu deh. terus begitu, sampai suatu ketika bunga bank tiba-tiba tinggi, pasar lesu, yaa… akhirnya setifikat tanah itupun disita bank. hehehe, hilang deh sebuah alat penjamin pinjaman dan rekomendasinya.

seru yaa?
seru..
😀

maka.. melihat perekonomian indonesia dengan tingkat penggangguran tinggi, meski kemarin-kemarin pemerintah sempat sesumbar perekonomian secara makronya bagus. saya tuh ya rada ga ngeh deh.. 😀

saya hanya melihat realitasnya saja. karena saya terbiasa melihat aktivitas ekonomi yang melibatkan banyak pihak. melihat kegiatan ekonomi yang sarat dinamika. sama seperti beragamanya saya, saya cenderung melihat realitasnya. ga muluk-muluk di wacana. yang kalaupun saya berwacana, pastikan itu juga berangkat dari realitas yang ada.

bahkan nih, ketika paman-paman saya itu melek main saham. mereka tetap bukan pialang begituan. mereka tetaplah pedagang. sedikit sekali mereka yang suka menyimpan hartanya. mereka lebih terbiasa memutar hartanya. untung itu buat mereka tidak perlu terlalu besar. yang penting muter. bahkan tuk memutar bisnis saja mereka rela nombok dulu. sehingga jika pun mereka main saham, itu tidak dengan meninggalkan bisnis aslinya mereka.

seperti.. pernah saya menjaga toko paman saya, menjual barang seharga 45 ribu. padahal di toko lain harganya 60 ribu. maka saya bertanya-tanya, berapa untung yang diambil nih? padahal modalnya sendiri katanya 43000. cukup 2000 saja? padahal di tempat lain untungnya 20000? katanya, kondisi saat itu barang sejenis sudah banyak di toko-toko lain. maka ya lebih baik barang ini habis. nanti kita ganti barang lain, maka ya sudah, kita hanya perlu habisi dan sediakan yang lainnya. bukan menjatuhkan pasarnya orang lain, bukan. itung-itung ini diskonlah dari kita.

duh, buat mereka yang terbiasa dengan bisnis itu dibilang seninya berbisnis. mereka handal dan terlatih tuk bersakit-sakit di situ. maka kadang saya pikir bisnis itu ga semudah yang dibayangkan.. perlu kehandalan dan seni tersendiri

nah, maka pula karenanya kalau media suka sesumbar mengenai sektor riil ini, ya sungguh-sungguhlah mengutamakan sektor riil ini. bagaimanapun, sektor riil inilah yang memang lebih menyentuh kepentingan rakyat banyak. bukan melulu panik karena bursa. inipun kalau pemerintah itu punya komitmen tuk kepentingan rakyatnya..

seorang kyai, bertahun-tahun memberdayakan santrinya tuk bercocok tanam. lalu dengan sistem kemitraan dengan supermarket tertentu -dulu berinisial H dan cina indonesia deh pemiliknya-. kyai belajar mengejar produksi dengan standar konsumen supermarket tersebut. walhasil, meski sebagian hasil sayurannya tetap dipasok ke pasar tradisional, tetap kualitas pertanian binaannya baik dan berkelas supermarket. kemitraan tersebut bahkan termasuk kucuran dana segar dan alih teknologi pertanian. maka pertanian kompos kembali dimarakkan di wilayah pesantren tersebut.

see..?
sektor riil..
ini mungkin cuma satu dari sekian banyak contoh sektor riil.
mau sampai kapan diabaikan??

nb: itulah yang membuat kadang saya suka miris melihat cina indonesia sering dijadikan kambing hitam dari banyak gejolak di negeri ini –terutama atas banyak kegagalan penyelenggara negara ini mengurus negerinya-. tak mengutamakan rakyat, malah menimbulkan dan memanasi-manasi kecemburuan di kebe-ragam-an rakyatnya. karena saya tahu persis, membangun bisnis itu membutuhkan keringat dan airmata, yang tidak sedikit juga gagal dan mati. sejujurnya, kadang para birokrat negeri ini hanya tahunya minta upeti dari mereka demi agar bisnisnya bisa terus dan selamat. sehingga sering saya merasa budaya sogok itu sebenernya sangat bisa ditiadakan dari budaya negeri ini, karena bisnis itu sebenarnya akan menemukan sendiri siapa pemain handalnya.. tak memandang siapapun dia.
gitu ga sih?

salam
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

5 Tanggapan to ““sektor riil””

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

@semua
kawasan ruko di daerah KA itu sekarang sudah berubah jadi Ramayana pasar bawah deh -kalau ga salah 🙂 paman dan tante saya pun, satu demi satu juga sudah mulai banyak yang tutup usia. sepupu2 saya banyak yang menjadi karyawan dari yang meneruskan menjadi pedagang..

alhamdulillah, ALLAH menunjukkan dan menempatkan saya berada di industri dan perdagangan. padahal dulu pilihan saya ini tidak ada menarik2nya. apalagi ada kesempatan2 lain yang lebih menarik.
ada suasana bathin tersendiri, ketika bisa menjalankan roda sektor riil ini dan kemudian menghidupi sejumlah orang…

@kang trend
semoga lancar ya kang..
bismillah..

Blog yang bagus…..
Semoga sukses….

@agen grosir
makasih.
sukses juga yaa… 😀


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: