kutipan : negeri ironi

Posted on Oktober 14, 2008. Filed under: islam indie |

pagi-pagi, tulisan ini di bikin saya tersenyum. tanpa nama yang menulisnya, tapi tetap layak di kutip di sini sebagai sebuah refleksi.

oya, kemarin malam saya ke gerai atm ditemani suami. mengantrilah saya seperti biasanya. lalu di depan saya berdiri dua anak muda sedang menarik uang. mereka -maaf- berpakaian kerja sebuah restoran waralaba terkemuka. terlihat dari lambang restoran itu saku celana seragamnya, walau bajunya sudah berlapis jaket. celana itu kotor selayaknya memang sudah jam pulang sehabis bekerja.

yang lucu, mereka berdikusi soal gaji. dan saldo akhir di layar atm itu terlihat hanya 54 ribu sekian, maka diambillah 50 ribunya. sambil memelas, wah.. padahal gaji belum masuk nih..
ah, saya kok ikutan prihatin yaa.. 😦

dan seketika mereka menyadari saya ada dibelakangnya, mereka minta maaf.
– e, maaf… mbak sudah ngantri lama yaa. maaf tadi diskusi dulu. hehehe..
seperti yang tiba-tiba sadar kalau diskusinya yang ramai itu bisa jadi terdengar oleh saya. hehehe.. saya hanya bisa membalas senyum, sambil berkata,
– ga papa, santai saja. ga terburu-buru kok.

lalu datanglah seorang bapak yang minta tolong ditranferkan sejumlah uang -tepatnya 200.000- tuk anaknya. katanya, beliau biasanya menyetorkan langsung uang cash itu lewat mesin setor uang yang ada di gerai atm itu, yang ternyata sedang rusak. maka ketika saya maju tuk melakukan transaksi di atm, bapak itu meminta tolong kepada kedua anak muda yang telah selesai bertransaksi atm tadi.
sontak kedua anak muda itu menjawab,
– wah, maaf pak. saldo masing-masing kami ga sampai sejumlah uang bapak. hehehe, kehabisan uang nih.
dalam batin saya, ya iyalahh.. dari 54 sekian ribu, sudah diambil 50 ribu toh tadi?

walhasil setelah saya selesai dengan transaksi saya pribadi, saya berkenan membantu bapak itu mentraksferkan sejumlah uang tuk rekening anaknya, dan saya menerima uang cash darinya.

ah, hidup. dari sekian nominal demi nominal yang ada. haruskah macet dan mandeg hanya kebiasaan dari kerakusan segelintir orang? negeri ini nyaris tak pernah bisa menghargai hal hidup manusia di dalamnya, bahkan dalam hal apapun. entah mengapa?

selamat menikmati dan semoga tetap menginspirasi..

***

Negeri Ironi
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/14/01021862/negeri.ironi

Selasa, 14 Oktober 2008 | 01:02 WIB
Ada ironi yang membuat saya kagok. Pertama, mantan Presiden Finlandia Martti Ahtisaari dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian 2008.

Anugerah diberikan berkat jasanya sebagai penengah perundingan perdamaian RI-GAM. Ia giat menjadi mediator konflik di mancanegara, tetapi prestasinya di Aceh menonjol.

Nobel Perdamaian 1996 dianugerahkan kepada Uskup CFX Belo dan pemimpin Fretilin Jose Ramos Horta. Saat itu Belo dan Horta memperjuangkan kemerdekaan Timor Timur.

Nah, inilah ironi yang membuat kagok. Sebab, seharusnya saya senang nama negara ini harum ke seantero dunia berkat anugerah Nobel Perdamaian.

Apa lacur, hadiah paling bergengsi sejagat itu direbut orang asing—kecuali Uskup Belo yang kala itu warga Indonesia. Uskup Belo pun sudah ganti paspor setelah Timor Timur merdeka.

Padahal, tak sedikit warga sedih Timor Timur lepas dari pangkuan Ibu Pertiwi. Pasti juga banyak yang sempat sebal perundingan perdamaian di Aceh dicampuri pihak asing.

Namun, di lain pihak saya mafhum ironi ini terjadi karena ulah penguasa yang menginjak- injak HAM bangsanya sendiri. Dan, Nobel Perdamaian menunjukkan rekor HAM penguasa terpuruk di bawah dua rezim brutal, Myanmar dan Afrika Selatan (Afsel).

Rezim militer Myanmar paling tidak masih bangga Nobel Perdamaian 1991 diberikan kepada warganya sendiri yang bernama Aung San Suu Kyi. Ia tokoh oposisi yang (tak seperti Belo) tidak ganti paspor dan (tak seperti Horta) ogah tinggal di luar negeri.

Atau bandingkan dengan rezim Afsel yang tetap dihargai walau mempraktikkan politik apartheid yang rasialistis. Sebab, Nobel Perdamaian 1993 tak cuma diberikan kepada Nelson Mandela, tetapi juga kepada Presiden Afsel FW De Klerk.

Saya akan lebih kagok kalau Nobel Sastra diberikan kepada Pramoedya Ananta Toer saat masih hidup. Sebab, ia tapol yang menulis karya tetralogi yang masyhur itu saat diasingkan ke Pulau Buru.

Ironisnya, tetralogi itu pernah dilarang terbit di sini. Padahal, ia menjadi bahan bacaan wajib perguruan tinggi di mancanegara.

Ironi lain menyangkut krismon yang mengguncang ekonomi global. Krismon yang berawal dari foreclosure (ketidakmampuan warga mencicil bunga kredit rumah) di Amerika Serikat menjalar ke Eropa dan Asia.

Bursa terguncang, pasar kredit mandek, perbankan ikut kena getahnya. Jika dana talangan 700-800 miliar dollar AS yang digelontorkan Pemerintah AS gagal menyembuhkan krismon, ekonomi global kena depresi.

Mari mengilas balik krismon 10 tahun lalu. Salah satu akibatnya Soeharto lengser ing keprabon Mei 1998 menyusul terjadinya kerusuhan yang membumihanguskan Jakarta.

Soeharto berupaya menyelamatkan ekonomi yang anjlok akibat runtuhnya nilai tukar rupiah dan rontoknya sektor perbankan. Salah satu langkah Soeharto adalah mencoba mematuhi resep penyelamatan IMF.

Selain merundingkan nota kesepakatan dengan IMF, Soeharto memprakarsai gerakan cinta rupiah, mengajak warga mengencangkan ikat pinggang, mengocok ulang kabinet, dan sebagainya. Setelah dikhianati sejumlah menteri, Soeharto menyerah.

Di senja kala kekuasaannya, Soeharto masih punya sense of crisis, apalagi fundamental ekonomi rapuh sehingga krismon di sini tak cepat pulih seperti di Korea Selatan, Thailand, dan Malaysia.

Sampai kini dampak krismon tetap terasa, antara lain dari nilai tukar rupiah yang belum turun sampai di bawah Rp 5.000 per dollar AS seperti sebelum krismon. Jumlah rakyat miskin dan penganggur bertambah.

Entah berapa puluh buku yang menelaah krismon yang diterbitkan, baik di dalam maupun di luar negeri. Pengalaman buruk krismon itu mestinya menghasilkan generasi pejabat/politisi yang layak bergelar ”pakar krismon”.

Namun, kenyataannya berbeda. Entah mengapa, krismon 1998 secara psikologis gagal menimbulkan efek traumatis pada diri tiap pejabat/politisi.

Pernyataan pejabat terkonsentrasi pada yang terjadi di pasar saham saja. Ada yang bilang bursa jangan ditutup, ada yang menyarankan di-suspend, ada yang berteori perlunya buy back, bahkan ada yang memancing di air keruh.

Terdapat kesan ekonomi hanya di bursa saham semata-mata. Padahal, dagang saham yang mirip perjudian itu cuma melibatkan kepentingan segelintir orang.

Tak ada pernyataan yang membumi, paling ”rakyat tak usah panik”. Ibaratnya, tak ada yang menjulurkan tali walau rakyat sudah nyaris masuk jurang.

Tak terdengar nasihat tentang, misalnya, bagaimana rakyat menyiapkan diri menghadapi kondisi perbankan. Padahal, banyak PRT panik ingin segera mencairkan tabungannya yang pas-pasan.

Lain lagi capres, cawapres, dan politisi yang mau meramaikan pesta demokrasi 2009. Krismon global dan berbagai dampaknya sesungguhnya tema menarik untuk kampanye yang sudah dimulai Juli lalu.

Namun, mereka bungkam seribu bahasa. Oh, mungkin sibuk dagang sapi sembari dagang saham, ya?

Di kala ekonomi global gonjang-ganjing, yang mereka ributkan cuma soal sepele, seperti ketua MK mundur, pembatasan usia pensiun hakim agung, atau undang-undang pemerintahan Yogyakarta. Memangnya rakyat peduli?

Itulah Negeri Ironi yang bermuka dua. Ia persis kayak simbol drama: yang satu wajah rakyat sedang menangis, yang satu wajah penguasa yang sedang tertawa.

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

3 Tanggapan to “kutipan : negeri ironi”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

solit sekali sy gak bilang tercengang dan logika sy mengatakan tak ada kebetulan di alam ini, tp entah bgmn lagi sy musti mengatakannya kok bisa2nya tertarik ke bacaan yg sama yaa?? padahal sy itu juarrang banget baca koran loh.

tiap orang or komunitas punya sense masing2 apa yg lebih dan kurang menarik, termasuk penulis tsb. tadi makan siang (rame2) pun sy terheran2 dg topik obrolan rekan2 kantor. Berdasar sumber yg sama yaitu guncangan bursa, etc, kok bisa2nya rekan2 ini ramai2 sharing info kalo psk impor cina harganya turun drastis dr 2 jutaan jd 500 ribuan saja. Herannya lagi, yg sharing info beginian ga cuman satu orang, mungkin cuman sy ama bos sy yg belom pernah denger berita ini.

Wuelleh welleh well well… leh leh leh… saya jadi terheran-heran. Ini sy nya yg ndak punya sense gaul ataukah mereka yg terlalu agresip nyari2 info beginian melulu??

(tambahan, tapi maaf dulu yaa..)

saking bengongnya, sy cuman bisa becandain: “steril gak tuh?”. Eeh.. ada yg langsung jawab dg yakinnya: “steril mas, bahkan susunya ga mengandung melamin kok”. Ya kami pun spontan gerrr 😆

@mas JM
hahahaha… komoditas tertua di muka bumi itu ternyata juga kena dampak lantai bursa yaa?
duh, ironi..

e, maaf ya. susu dari melamin itu saya pikir dari manekin. itu tuh patung yang ada di etelase. apa mereka itu sudah menghasilkan susu sekarang? hiiii… 🙂

mas JM, adakan lagu ironi? zaman dulu tuh.. duh, lupa-lupa inget. siapa ya yang nyanyinya?


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: