rasa indonesia itu

Posted on Oktober 14, 2008. Filed under: islam indie |

(dilepas yaa.. warna ini mungin sangat subyektif di keluarga saya saja. entah yang lainnya… tapi semoga tetap bisa dinikmati.. )

sewaktu ibu saya wafat, sambil menunggu hari akan dikremasi, maka jenasah dalam peti mati itu disemayamkan di rumah duka budi luhur – bandar lampung. selama tiga hari itu, keluarga dan sahabat bisa menghaturkan bela sungkawa atau berdoa. yang dalam tradisi yang ada, diberikan tempat tuk duduk-duduk setelah berbela sungkawa beserta kacang kulit dan minuman teh hangat. maka sebagian keluarga dan sahabat lama bisa bersilaturahmi.

oops, asal tahu jenasah tentu telah diawetkan dengan formalin supaya tidak berbau sekian lama itu. ini tradisi yaa. saya ga mau berdebat tentangnya..

suami saya yang asli jawa dan muslim sejak kecil, ya agak-agak kagok disana. komentarnya, kok seperti di negeri antah berantah yaa. hahaha.. 😀

bayangkan tiada tangis dan airmata sebagaimana layaknya ada yang meninggal. cuma diawal ketika peristiwa duka itu tiba. bahkan tidak ada pembacaan ayat-ayat suci sebagaimana orang tahlilan. yang ada hanya sesekali diadakan kebaktian pelepasan lalu tuk tutup peti dan keberangkatan jenazah saja. ibu saya bukan katolik, beliau kristen protestan.

hmm, kadang saya pikir ini memang budaya kami yang keturunan cina deh. dari kecil, kalau ada saudara yang wafat, malah jadi ajang kumpul keluarga. memang sebagian ada rasa duka, tapi lebih banyak tertawa dan diskusi ini-itu melepas kerinduan. karena kadang memang hanya disaat-saat jika ada pernikahan dan kematianlah, saudara-saudara yang jauh bisa bela-belain datang dan berkumpul. sedikit banyak juga membicarakan baik dan buruk yang wafat, tapi selebihnya ya bernostalgia dianara kita-kita dan membicarakan masa depan. bahkan kalau perlu bertransaksi bisnis.

hehehe, suami saya hanya bisa menggeleng-geleng… 😛

lah, ketika saya ceritakan keanehan suami saya itu pada salah seorang paman saya, jawabnya ringan..
– yang sudah mati ya biarlah mati… kita memang wajib mengurus segala sesuatu tentang kematiannya sebaik mungkin, juga jalankan amanat terakhirnya. selebihnya ya mari berpikir gimana ke depannya deh.
halahhh… santai sekali komentarnya. saya sendiri yang anak dari yang wafat saja sampai bingung, harus sedih atau apa nih? hahaha…

maka ketika dikabari oleh ibu mertua kalau anak saya yang pertama rewel dititipi padanya, suamipun saya relakan tuk segera pulang duluan ke bandung tuk menengok anak. saya sendiri saat itu sedang hamil mofa 4 bulan. lagian kasian juga suami saya yang tercengang-cengang mulu melihat prosesi kematian yang santai dan dibuat logis-logis saja itu. 😛

nah, adalah tante saya. termasuk terkaya deh di keluarga.
e..sebelumnya penting nih… menyela sebentar, dalam keluarga saya tuh ada prinsip yang berbunyi walau kita satu rahim, rezeki kita berbeda 😀
sehingga segala usaha saling membantu saudara-saudara dalam berbisnis, tidak akan melawan kodrat kalau secara rezeki kita sangat boleh berbeda. tidak semua harus sama. maka dalam keluarga saya, si miskin dan si kaya bisa bertemu dan biasa-biasa saja. egaliter deh. hehehe, membuat anti KKN juga loh prinsip begitu.. hehehe 🙂

kembali..
maka tante saya ini sudah pernah berangkat ke negeri leluhur bernama RRC itu. jelas sebagai turis dari indonesia dongg. komentarnya,
– biar dibayar, gua ga akan mau deh jadi orang cina di negeri cina sono.
sontak kita-kita yang muda ini jadi bertanya-tanya,
– kok? katanya hormat leluhurrr… ???
– ya gimana dongg… disana itu ga ada sayur asem dan semurrr..
hahahahaha, kacau deh… 😀
– e, serius… ga enak deh.
tante sayapun ngotot. kita ya bingung mau mengomentarinya, ga ada satupun dari kita yang muda ini yang pernah ke sana toh? hihihi..

sambung tante saya, yang anak pertamanya sejak sma bahkan sudah sekolah di australia. dan banyak dari keluarga suaminya yang tinggal di luarnegeri, sebut saja hongkong, singapura dan amerika, masih sama..
– ga enak lagi tinggal di luarnegeri itu. lebih enak bau got indonesia deh.
hahahaha.. 😀

begini..
kata tante saya sih, walau sama-sama cina, atau sebagai keturunan cina -kami ini menglobal karena keturunan cina ada dimana saja dibelahan dunia ini. tapi tetap rasanya beda. kita tetap merasa sebagai cina indonesia. biar kata anak-anak sudah dibiasakan tinggal di luarnegeri dari kecil, tetap aja beda. rasa indonesia-nya itu ga ilang-ilang.. feel at home gitu loh sama indonesia mah… malah tante saya mengaku tertipu bisnis sama konon yang katanya masih saudara semarga dengan warga RRC sana.
duh, tuk urusan duit mah ga ada saudara deh, begitu becandanya..

RRC memang asyik, pemandangan dan budayanya luarbiasa, tapi itu sebatas turis. kalau tinggal lama, tante saya sih mengaku lebih baik tinggal di indonesia dan melanjutkan bisnisnya di indonesia..

maka saya bertanya.
– gimana kalau indonesia rusuh, yang seringkali cina indonesianya yang jadi kambing hitam?
pengakuan dari tante saya sih ya paling banter lari ke singapura. tunggu suasana adem lagi tuk berpikir lanjutkan bisnis di indonesia atau tidak. nah, kondisi indonesia yang ga menjamin kenyamanan tuk berbisnis -seperti biaya tinggi dan ga stabilnya politik-, juga yang membuat beberapa teman tante saya termasuk dirinya, akhirnya belajar menginvestasikan uang di luarnegeri. yang nota bene, menjadi pemain saham. padahal aslinya ya hanya pedagang biasa. membuat indonesia kehilangan banyak rupiahnya. tapi konon yang begini ya sedikitttt… dalam arti yang mampu tuk begitu termasuk tuk pergi dari indonesia saja. kebanyakan sih ga bisa lari dan hanya termanggu menunggu keadaan aman tuk bisnis kembali. seperti banyak juga dari keluarga saya yang lainnya, yang hanya bisa pasrah..

see..? ini memang mata rantai yang saling terkait bak lingkaran setan.

tapi tante saya juga hanya sesumbar, selebihnya -katanya- tanya aja sama paman saya – suaminya- yang memang mengerti dan menjalankan bisnis. saat itu suaminya masih di australia. datangnya pas ibu saya dikremasi. jadi saya ga sempat berbicara dengannya, karena setelah itu saya sudah harus kembali ke bandung lagi. itupun paman saya itu hanya bisa memandang bingung saya yang berjilbab. hehehe, sejak masuk islam, baru kali itu saya bertemu lagi dengannya. padahal waktu kecil, saya suka diajak jagain toko sepatunya..

sehingga saya pernah berpikir, seandainya indonesia memang bisa memegang komitmen terhadap keberagamannya dan terus membenahi diri. menjadi lebih fair, terlebih jika indonesia memiliki kepemimpinan terpercaya tanpa embel-embel, wah.. rasanya semua yang merasa indonesia bisa turut membantu dan membangun indonesia deh..

dan jika indonesia bisa konsisten menghadirkan wacana nasionalisme yang berbhinneka tunggal ika, dengan semangat inklusif, meraih semua pihak. rasanya tak lagi perlu terlalu banyak sikap mendiskriminasi deh. fair saja kalau semua dari kita layak membangun negeri ini.

selebihnya, mari sadari kita ini hanyalah sekumpulan manusia di sebuah tanah bernama indonesia. membicarakan baik dari sebagiannya tentu tidak berarti tidak ada jeleknya. dan membicarakan jelek dari sebagian lainnya tentu tidak berarti tidak ada baiknya..

manusiawilahh… ya ga?

sebagaimana dikatakan dalam agama, apa yang kamu anggap baik belum tentu baik di mata tuhan, dan sebaliknya apa yang kamu anggap buruk, belum tentu buruk di mataNya.
sederhananya itukan berarti manusia itu ada baik dan jeleknya. membicarakan baiknya tidak berarti tidak ada jeleknya. dan membicarakan jeleknya tidak berarti tidak ada baiknya. santai deh..

mari belajar mengambil baiknya dan membuang jeleknya. atau kerennya nih, mari mengoptimalkan potensi positif diri dan meminimalis potensi negatifnya. ciee.. 😀

pembicaraan saya di sini juga dalam rangka tersebut persis di atas ini. atau bahkan di titik tertentu kalau perlu belajar dari jeleknya tuk jangan ditiru.. manusia adalah makhluk pembelajar..

nah, kesimpulan..
saya sih masih merasa marilah sama-sama kita jaga pluralitas negeri kita. mari belajar adil dan belajar kembali menempatkan segala sesuatu pada tempatnya serta penuhi segala sesuatu sesuai haknya. agar semua elemen bangsa ini terangsang tuk membangun negeri –yang telah melahirkan dan membesarkannya– secara bersama-sama tanpa embel-embel dan dengan semangat berjuang dan berkorban tuk menjadi lebih baik buat generasi berikutnya.

mungkin ga yaa?

salam
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

2 Tanggapan to “rasa indonesia itu”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

walau rezeki kita berbeda, rasa indonesia itu dari satu rahim

mungkin ga yaa?
saya juga ndak tau, hanya dugaan aja, dari rahim yg sama rasa itu dikopas (kopi paste). Mungkin aja waktu proses kopas itu saya pas error, shg sy ga bisa menuliksan rasa itu

@mas JM
saya yang nulis, mas JM yang menyimpulkan nih..
setuju, pada dasarnya kita semua dari rahim yang sama, rahim ibu pertiwi.. dan dari bapak yang sama, bapak indonesia.

btw, mereka masih barengkan? atau dah bercerai? hehehe 🙂


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: