kutipan : BerSufi dan Guru

Posted on Oktober 15, 2008. Filed under: islam indie |

teman saya -yang suka baca blog ini- bilang, saya kaya praktek sufi. hehehe, masa sih?
tapi rasanya saya dengan islam indie ini kadang lebih seperti sufidoo-fidoo dari sufi beneran. hihihi 🙂

tapi alhamdulillah, mas dana bisa menuliskannya dengan baik dari sedikit yang saya rasakan. makasih ya mas dana. yang kalau ditelusuri lebih dalam, di setiap detik dan tarikan nafas ini adalah Dia tengah mengajari. setiap tatap dan kenyataan depan mata ini adalah Dia tengah mengajari. Dia dan hanya Dia..

dan maka kadang tubuh saya seperti di guncang oleh kenyataan yang ada, yang seolah berkata – mau bagaimana lagi kau Kuajari?
IQRA’!

sehingga tiada hari bisa saya lewati tanpa mentafakurinya. tiada peristiwa bisa saya lewati tanpa saya terpana di dalamnya. dan reaksi spontan saya adalah cermin jiwa saya. cermin surga dan neraka saya..

membuat akhirnya hanya mampu menyebutNya terlalu pelan, bahkan tak terdengar. memejam mata dan hanya mampu merasakannya di segenap rasa dan pori jiwa. Dia ada dan nyata..
dan saya terlalu kecil bahkan hina di hadapanNya..

tuhan, engkau guru sejatiku…
tanpaMu, aku tak ada dan tak pernah ada
maka apakah aku masih perlu nama tuk apakah aku?

selamat menikmati
semoga menginspirasi

***

BerSufi dan Guru
oleh mas Dana
http://danalingga.wordpress.com

Ada yang menanyakan apakah belajar untuk menjadi seorang sufi itu wajib memiliki guru? Jawab saya adalah wajib. Sebab namanya orang belajar ya harus ada guru. Jika tidak dia belajar darimana coba? Adapun guru dalam pengertian saya disini adalah sesuatu atau seseorang yang mengajarkan berbagai hikmah untuk dapat membuat diri kita menjadi seorang sufi .

Guru tersebut bisa siapa dan apa saja. Semua hal yang kadang kita anggap kejadian sepele bisa menjadi guru bagi kita untuk menjadi seorang sufi. Sering saya sendiri mengalami sebuah pemahaman ketika berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai kalangan. Setiap kejadian, sekecil apapun itu, adalah guru bagi saya.

Betapa pada saat seseorang yang dikenal meninggal, maka disitulah saya kembali diingatkan tentang kesadaran akan kematian. Ketika saya melihat seorang yang sangat miskin menghadapi hidup tanpa mengeluh. Bahkan sempat menguatkan saya untuk lebih tegar. Maka disitulah saya belajar bagaimana untuk ikhlas pada hidup. Juga ketika melihat orang yang bergelimpangan harta, ternyata tidak juga merasa bahagia. Maka disitulah saya diajari untuk melihat kebahagiaan itu kembali ke dalam hati.

Ketika ternyata orang-orang yang dianggap telah sangat beragama, menghianati nilai-nilai luhur dari agama tersebut. Saya diajari betapa sikap munafik itu sungguh memuakkan. Maka ketika ternyata departemen agama pernah menjadi sarang korupsi yang sangat menggiurkan. Maka saya memahami bahwa seseorang itu dinilai bukan dari labelnya. Bukan dari sebutannya. Bukan dari apa yang dikatakan orang tentang dia. Melainkan dari dirinya sendiri. Telanjang tanpa apapun yang menutupi. Disitulah akan terlihat bagaimana sejatinya orang tersebut.

Jadi kesimpulan yang bisa saya dapatkan adalah bahwa bersufi memang diperlukan guru. Dan ternyata guru itu tersedia melimpah di alam semesta ini. Tinggal kita saja yang harus tahu bagaimana caranya untuk bisa menyadari pengajaran dari guru-guru tersebut. Dari pengalaman saya sendiri, maka memang seorang guru yang saya anggap mursyidlah yang telah membuat saya bisa untuk mengakses limpahan pengajaran guru yang ada di alam semesta ini.

Tapi tentu itu adalah jalan saya pribadi Mungkin jalan anda berbeda. Anda mungkin dapat langsung mengakses para guru-guru itu tanpa perlu ditunjukkan caranya oleh seseorang. Itu adalah keberuntungan anda. Saya sendiri mungkin karena bebalnya, ternyata sangat memerlukan seseorang yang menunjukkan caranya kepada saya. Setelah itu baru saya dapat berjalan sendiri untuk berusaha bersufi. Tentu saja bersufi dengan gaya saya sendiri.

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Satu Tanggapan to “kutipan : BerSufi dan Guru”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

ini ada tulisan bagus dari kang Jalal, tentang berguru ke sufi
Sects and Errors are synonymous. If you are a peripatetic and I am a
Platonist, then we are both wrong, for you combat Plato only because his
illusions offend you, and I dislike Aristotle only because it seems to me
that he doesn’t know what he’s talking about.
Voltaire, Philosophical Dictionary

“Aku tidak bisa melepaskan diri dari bayangan guruku. Ia masuk dalam
mimpi-mimpiku. Pada suatu malam aku pernah terbangun. Aku duduk dalam
lingkaran. Di situ ada guruku, Nabi Muhammad, Tuhan, dan Yesus. Guruku
menyebutku Hafshah, salah seorang istri Nabi Muhammad. Aku pernah melihat
Nabi Muhammad datang kepadaku; memanggilku dengan mesra. Pendeknya, kemudian
terjadilah pergaulan suami-istri antara Hafshah dan Nabi Muhammad. Beberapa
saat setelah itu, aku baru sadar bahwa Hafshah itu aku dan Nabi Muhammad itu
adalah guruku itu,” Helen, bukan nama sebenarnya, mengadukan nasibnya
kepadaku.

Helen sarjana dan profesional. Ia cerdas dan kaya. Ketika ia mulai tertarik
pada hal-hal spiritual, kawannya membawanya ke pengajian tasawuf. Ia
diperkenalkan kepada seorang ustad. Bukan ustad terkenal. Tampaknya ustad
itu tidak mengisi pengajian umum. Ia memusatkan pengajarannya pada komunitas
khusus dengan tema khusus. Di seluruh alam semesta, hanya dia yang mempunyai
pengetahuan khusus, ilmu makrifat. Ia mau berbagi ilmu makrifat itu hanya
kepada manusia-manusia pilihan yang ingin berjumpa dengan Tuhan. Dengan
mengamalkan ritus-ritus tertentu-berzikir, berpuasa, dan bersemadi-Helen
berhasil melihat Tuhan. Berkali-kali sesudah itu, ia mengalami “trans”. Ia
bukan hanya berjumpa dengan Tuhan. Ia juga dapat berkencan dengan para nabi.

Makin “dalam” pengalaman rohaniahnya, makin bergantung dia kepada sang
ustad. Helen yang cerdas kehilangan daya kritisnya ketika ia mendengar
kalimat-kalimat gurunya. Ia berikan apa pun yang dimintanya, mulai waktu,
uang, kendaraan, rumah, sampai kehormatannya. Ia sudah menjadi sujet di
hadapan juru hipnotis. Semua dilakukannya di bawah sadar, sampai ia
disentakkan oleh salah satu kuliah psikologi. Sebuah buku dengan judul
Saints and Madmen menyadarkan dia bahwa gurunya dan juga dia bukan orang
suci, tapi orang gila. Ia bukan mengalami pengalaman rohaniah, tapi gangguan
mental. Sayangnya, kesadaran itu muncul setelah ia kehilangan banyak.

Tak terhitung banyak orang seperti Helen. Manusia modern yang jenuh dengan
materialisme gersang. Ia merindukan pengalaman rohaniah. Ada yang kosong
dalam jiwanya. Kekosongan itu tidak bisa diisi dengan seks, hiburan, kerja,
bahkan ajaran-ajaran agama yang dianut oleh kebanyakan masyarakat. Ia ingin
getting connected dengan Yang Ilahi. Ia sudah kecapaian dengan logika dan
angka. Ia ingin meninggalkan dunia yang dingin dan kusam menuju alam yang
hangat dan cemerlang. Ia ingin mendapat-sebut saja-pencerahan rohaniah. Ia
tidak mendapatkannya dalam institusi-institusi agama.
Dalam kerinduan spiritual itu, muncullah guru. Ia menawarkan pengalaman
rohaniah yang “instan”. Kalau kamu sudah kecapaian dengan logika dan angka,
masuklah bersama guru ke dalam dunia rasa dan percaya. Bunuh rasionalitas
dan tumbuhkan spiritualitas (seakan-akan keduanya bertentangan). Dengan
memanipulasi ajaran-ajaran esoterik dalam setiap agama, guru
menegaskan-sambil mengutip Rumi-“di negeri cinta, akal digantung”.

Kalau akal sudah digantung, terbukalah peluang bagi guru untuk memanipulasi
pikiran para pengikutnya. Aku menemukan bahwa teknik-teknik menggantung akal
yang dilakukan para guru itu sepenuhnya melaksanakan nasihat Dostoyevsky
dalam The Brother of Karamazov: “Ada tiga kekuatan, dan hanya tiga, yang
dapat menaklukkan dan melumpuhkan semangat para pemberontak ini. Yang tiga
itu ialah mukjizat, misteri, dan otoritas.” Tentu saja hampir tidak ada di
antara para guru itu yang membaca Dostoyevsky.

Mukjizat sebenarnya adalah kumpulan dari halusinasi, ilusi, dan delusi. Guru
menciptakannya dengan “merusak” otak pengikutnya melalui ritual yang
aneh-aneh. Salah satu teknik yang paling populer dan paling efektif adalah
pengurangan waktu tidur (sleep deprivation), apalagi bila dibarengi dengan
tidak makan (food deprivation). Dalam keadaan normal, otak kita
mensintesiskan “pil tidur alamiah” sepanjang waktu bangun kita. Sesuai
dengan ritme biologis, kita tidur pada waktu malam. Karena deprivasi tidur,
pil tidur alamiah itu berakumulasi dan bermetabolasi menjadi produk-produk
beracun. Lalu timbullah mula-mula gangguan mood-pergantian antara euforia
dan depresi. Menyusul gangguan mata yang menimbulkan halusinasi (melihat
cahaya dan benda-benda bergerak), delusi, dan puncaknya disorganisasi
pikiran (sederhananya, gangguan jiwa). Seperti pengurangan tidur, guru juga
menciptakan pengalaman rohaniah dengan upacara, seperti latihan masuk kubur,
gerakan kolektif yang berulang-ulang, atau penggunaan obat-obat kimiawi.
Murid mengira mereka mengalami pengalaman gaib. Ahli neurologi menyebutnya
kerusakan otak (brain damage).

Karena pengalaman rohaniah yang mereka alami, mereka merasa dibawa ke alam
gaib. Di sekitar kehidupan guru berkumpul berbagai misteri. Guru pemilik
ilmu-ilmu yang sangat rahasia. Guru malah mengembangkan bahasa sendiri.
Istilah-istilah agama diberi makna baru. Perjalanan bersama guru adalah
perjalanan menyingkap tirai-tirai kegaiban. Murid tidak bisa menyingkap
rahasia itu tanpa bimbingan guru. Seperti kata Dostoyevsky, dengan
menggabungkan mukjizat, misteri, dan otoritas, bertekuklah jiwa-jiwa kritis
ke kaki sang Pembawa Pencerahan.
Helen sekarang sadar bahwa ia telah jatuh kepada perampok di jalan Tuhan.
Hati-hati, dalam perjalanan menuju pencerahan jiwa, Anda akan disabot oleh
apa yang disebut Jean Marie-Abgrall sebagai Soul-Snatchers, para pencuri
jiwa. Helen masih berjuang menyembuhkan luka-luka jiwanya; sebenarnya
kerusakan dalam otaknya. Aku menganjurkan dia untuk berobat ke psikiater. Ia
menolaknya.

Lama aku kehilangan Helen. Secara kebetulan, aku menemuinya dalam satu
acara. Aku menanyakan mengapa ia tidak lagi mengontak aku. Ia menarik aku ke
tempat sepi. Dengan muka yang penuh ketakutan, ia berbisik: gurunya sudah
tahu bahwa ia telah melaporkan keadaannya kepadaku. Ia mendapat ancaman. Ia
diperingatkan agar memutuskan semua hubungan dengan masyarakat di luar
komunitasnya.

Bersamaan dengan hilangnya Helen, Juliet Howell, peneliti sufisme urban,
muncul lagi di hadapanku. Lebih dari sepuluh tahun yang lalu, ia
mewawancaraiku perihal tasawuf di masyarakat kota. Waktu itu aku
menyelenggarakan kelas-kelas tasawuf di daerah elite. Kali ini ia bertanya
tentang pengalamanku membina tasawuf. Ia juga bertanya tentang yayasan
kajian tasawuf yang aku kelola. Aku bilang aku sudah tidak lagi berurusan
dengan tasawuf. Ia bertanya tentang muridku yang paling “sufi”. Aku jawab, “Ia
sudah mencapai makrifat setelah belajar dikuburkan hidup-hidup.” Howell
mendesak bagaimana caranya membedakan gerakan tasawuf yang benar dengan
gerakan para perampok di jalan Tuhan. “Gunakanlah ukuran UUD dan UUS,”
jawabku, “apabila Anda menemukan gerakan itu ujung-ujungnya duit atau
ujung-ujungnya seks, Anda sudah disimpangkan dari jalan Tuhan. Ada dua juga
yang membedakan saints dengan madmen: bila setelah mendapat pengalaman
rohaniah, Anda merasa diri Anda rendah dan bergairah untuk menyebarkan kasih
ke seluruh alam, Anda adalah orang suci. Bila Anda merasakan diri Anda lebih
saleh daripada semua orang dan Anda hanya bergairah untuk mengasihi guru
Anda, Anda adalah orang gila. Anda sudah masuk perangkap Soul-Snatchers.
Gitu aja, kok repot!”


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: