“sufidoo-fidoo”

Posted on Oktober 16, 2008. Filed under: islam indie |

(tuk mas budi nih. tertarik dengan komennya yang panjang…)

sudah lama saya ingin mengkritisi hal seperti yang mas budi tulis. alhamdulillah, ada tulisannya mas dana dan ada komentarnya mas budi. dan maka ditengah trend pengajian yang banyak dan marak, baik yang militan dan fundamentalis, termasuk pula trend sufisme yang digemari saat ini, saya tetap memiliki pendapat saya tersendiri. maka saya selalu bilang saya sih sufidoo-fidoo.. hehehe.
asli, saya merasa bukan sufi beneran.. bukan pula militan πŸ˜€

alkisah, datanglah kepada saya seorang teman yang mengikuti sebuah tarekat sufi. silaturahmi. tentu saya senang sekali dan mendengarkan apa yang ingin disampaikannya.

pembicaraan pertama dibuka dengan pernyataannya bahwa semua agama adalah benar.
– kristen itu benar, budha itu juga benar. semua benar.. bahkan semuanya sama

hmm…

* gini ya.. pada prinsipnya, —dimata saya— secara spirit memang semua agama itu benar. semua agama memiliki semangat mengajari kebenaran dan kebaikan yang sama. itu ditingkat spiritual. namun -maaf-, saya bukan orang yang akan dengan tiba-tiba dan serta-merta menyatakan bahwa semua agama itu benar dan sama. terutama tuk menyatakan semua sama – saya tetap harus jujur melihat realitas, bahwa dalam berekspresi setiap agama itu memiliki perbedaannya.
di sini sih sederhananya, saya hanya ga mau bohong sama kenyataan kita yang beragam. tetap ada yang berbeda, baik itu sekedar beda persepsi maupun ekspresi.

agama bukan sebuah benda, yang karenanya bisa sama dan sebangun. agama adalah sebuah kontemplasi individual, yang karenanya tetap memiliki dinamikanya bersama para manusia pengikut dan pengamal agama itu sendiri. agama tidak mengkhianati siapa manusianya, manusia tidak mengkhianati apa agamanya. kalau kemudian terdapat kesamaan dengan mereka yang berbeda ya itulah apa yang dinamakan universalitas agama tersebut. dan itulah tanda tercapainya spiritualnya agama tersebut.
kita harus mau tahu kalau agama itu ada ritualnya dan ada materi/ajarannya. ada aktualnya dan spiritualnya. ada syariat dan hakikatnya. selayaknya ini memang harmoni dan universal. gitu-gitu deh.. πŸ™‚

seperti sering saya bilang, saya beragama beranjak dari realitas saya dan realitas yang ada. subyektifitas pribadi dan obyektifitas nyata bersatu dalam apa yang dinamakan laku kritis.

– lalu..
pembicaraan terpusat pada tokoh yang disebut oleh teman saya itu sebagai guru. bahkan sangat dominan menurut saya. begitu ‘tinggi’ tapi juga begitu ‘dekat’ sampai teman saya itu bisa merasakan gurunya hadir di setiap aktivitasnya tuk membimbingnya. sangat mistis yaa. tapi dia serius menyatakan kalau semua pejalan spiritual memang membutuhkan guru.

saya ya sontak bertanya,
– hadir secara fisik?
– iya, terasa ada sosok yang hadir dan itu jelas berbentuk gurunya.
hmm, halusinasi ga sih?
saya dibantahnya dengan cerita tentang mereka yang bisa terlihat berhaji di tanah suci, padahal sosoknya sendiri ada di rumah yang nun jauh di tanah air.

bahkan teman saya ini sangat antusias dengan mimpi. semua mimpi menjadi harus diterjemahkan dan memiliki orang-orang tertentu dalam kelompoknya yang bisa dalam arti dinyatakan sudah layak menterjemahkan mimpi siapa saja. itu tidak sembarangan sih, begitu katanya..

hmmm… πŸ™‚

*gini yaa.. saya menghormati ekspresi dan persepsi manusia dalam beragama, termasuk teman saya yang mengikuti tarekat demikian. hanya saya secara pribadi – tetap mengkritisinya dan sangat tidak memilih tuk demikian.

guru – maka kenapa saya selalu katakan guru saya adalah tuhan. buat saya pribadi, realitas adalah guru yang sempurna. yang saya sendiri tidak akan bisa lari daripadanya. sehingga pemikiran-pemikiran yang menjauhi realitas adalah sekelas dengan apa yang disebut : angan-angan.

beragama kan tidak boleh menturuti angan-angan πŸ˜€
halusinasi, ilusi dan delusi sendiri masuk dalam ruangnya angan-angan.

maka pesan awalnya adalah IQRA’ – baca atau renungkanlah. artinya ada sesuatu yang harus dibaca dan direnungkan. apakah itu? tuk saat itu ya realitasnya Muhammad.
yang karenanya mekanisme wahyu menjadi tidak lepas dari konteks realitas seorang Muhammad. disini, wahyu menjadi bekerja menjawab tantangan-tantangan Muhammad dan umatnya saat itu. seperti dalam hadist diceritakan suatu ketika ada peristiwa yang katanya harus menunggu apa wahyu seputar peristiwa itu.

sangat kontekstual dan sangat-sangat bagaimana kanyataan yang ada..

maka karenanya, tanpa mengurangi rasa hormat saya pada teman yang mengikuti tarekat demikian, saya adalah orang lebih suka memberdayakan diri saya sendiri dalam membaca realitas yang ada. sebut saja seperti disini, saya lebih suka melihat banyak masalah dalam konteks indonesia. termasuk dalam berislam, saya islam indonesia.

* lalu tentang kehadiran guru dan cerita-cerita berbau mistis nan sholeh seputar agama.
saya menerima bahwa agama -di titik tertentu- adalah medium mengenal tuhan maka -sekali lagi secara spirit menyangkut energi kesemestaan- dia akan memiliki dimensi ghaibnya. pada titik spirit, ada persoalan energi yang dimainkan bahkan diperankan, tentu dalam kerangka seatas izinNya.

nah, apakah saya sekelas untuk itu? jawab saya -jelas- : tidak!
tapi saya bisa merasakan hal itu. saya tidak menafikannya, walau saya tidak fokus ke sana.

terkait dengan kontemplasi kehadiran berupa guru, bahkan dengan sosok guru yang nyata di dunianya ini, sekali lagi saya sangat kritisi.
kenapa?
karena bagi saya, guru bukanlah manusia yang satu. semua disini bahkan adalah guru untuk saya. yang jelas, saya tidak mau terjebak pada pengkultusan. sudah bukan zamannya lagi hal yang begitu.
kemudian saya lebih suka memberdayakan kemampuan saya pribadi dan memberdayakan kemampuan semua disekitar saya dalam menjawab banyak hal. saya lebih suka pada kreativitas -termasuk di dalamnya kreativitas berpikir, saya juga suka pada inovasi -termasuk didalamnya mengupdate pemikiran sesuai realitas masanya.

sebagaimana sering lewat tulisan masa kecil saya, saya sudah akrab dengan cara hidup demikian. dan bagi saya, tuhan tidak akan meninggalkan manusianya yang kritis. karena bukankah itu adalah salah satu bentuk menghargai dan mengoptimalkan akal sebagai karunia tuhan pada manusia?

saya mengkritisi ini tidak hanya tuk teman yang sufi yaa..
ini berlaku juga tuk teman-teman saya yang beragama dengan sangat militan, konservatif dan bahkan menjadi fundamentalis
. πŸ˜€

maka kadang beragama itu terasa seperti memiliki batas atas dan batas bawah. dan maka pula balance aja deh, dengan sikap kritis itu.

* lalu tentang mimpi.
hmm, entah mulai kapan saya jadi suka bermimpi. tapi tidak bisa saya prediksi kapan saya akan bermimpi. seperti kemarin, lebaran dan liburan anak-anak rasanya bener-bener meletihkan. awalnya sih saya enjoy. lama-lama mulai error juga melihat anak-anak belum sekolah, sementara papinya sudah kerja. duh, masa’ mau jalan-jalan mulu ya?? maka melayani dan menemani anak-anak liburan di rumah, lama-lama suntuk jugaaa… pikirannya : main apa lagi nih??
walhasil bermimpilah saya.
mau tahu mimpinya?
saya mimpi sakit sampai diinfus!
hahahahaha πŸ˜€
cermin saya kecapean kali yaa…

maka mimpi ada yang internal dan eksternal. ada yang memang cerminan bawah sadar, ada yang memang merupakan pengembaraan jiwa. gimana bedainnya? ya kritis lah.. ya ga?
istimewakah mimpi itu? biasa saja deh… santai aja. saya lebih suka melihat bagaimana realitasnya –dari mimpinya sendiri. walau kadang, jujur.. kadang mimpi itu terjadi. πŸ™‚

* terkait tulisan mas budi yang konon gurunya dibayar dsbnya, itu sekali lagi saya kembalikan pada manusianya masing-masing.
tapi saya ini kok ya percaya, bahwa kalau memang ada manusia sekelas guru itu, tentu pasti beliau tidak bisa dihargai dengan materi yaa. dunia pun tak mampu membayarnya deh. sehingga, yang bener-bener guru tentu tidak akan minta dihargai demikian.

maka lihat kalimat akhir saya pada pengantar tulisan mas dana itu.
tuhan, engkau guru sejatiku…
tanpaMu, aku tak ada dan tak pernah ada
maka apakah aku masih perlu nama tuk apakah aku?

jika tuhan adalah sumber segala sumber, termasuk sumber ilmu yang maka tuhan adalah guru sejati, dan kita -manusia- yang kemudian menjadi pintar tentu karena tuhan dan atas izin tuhan, maka masihkah kita perlu nama tuk apakah kita? termasuk apakah kita masih perlu tuk dinamakan guru? atau dia -yang mungkin hanyalah manusia sebagaimana kita- maka kita namakan dia guru?

eeee… ini menyoal spiritual yaa.. bukan ilmu dunia itu. karena di rana spiritual rawan pengkultusan. πŸ™‚

kemudian saya tegaskan lagi, kalau saya itu lebih suka jika beragama mampu memberdayakan manusianya. menjadikannya mandiri dalam beragama dan bisa mengendalikan dirinya dalam semangat ketuhanan. banyak berbuat kebaikan dan selebihnya kisah-kisah kasih yang terkadang mistis itu, hanyalah bumbunya hidup deh.
saya pribadi bisa menerima dan merasakannya walau tidak ingin terjebak di dalamnya. sama, dengan militansi, yang saya bisa menerima dan merasakan semangatnya, tapi saya juga tidak mau terjebak di dalamnya.

saya kritisi saja keduanya, saya ingin merdeka menjadi diri saya sendiri. πŸ™‚

satu deh visi dan misi hidup saya..
menjadi pemimpin yang menata dalam kapasitas saya dan mewujudkan kedamaian juga dalam realitas saya. santai-santai saja dan biasa-biasa saja.. hehehe.. πŸ˜€

jujur, saya nih ga bisa yang lama-lama khusyu’ atau gimanaaaaaaa gitu..
saya pasti akan mikir ini itu
hihihi.. jail otaknya.

cerita yaa..
sekali-sekalinya duluuuuuu.. sebelum aGym terkenal, saya pernah diajak teman ke daurut tauhid tempat pengajiannya. duh, saya sulit tuh mengikuti pengajian ala aGym. terlebih di bagian menangis selama mendengarkan tausiyahnya. yang lain berhuhuhuuuuuu… saya hanya bisa menutupi wajah dengan jilbab sambil kesal sendiri..
– duh, gimana nangisnya nih???
saya ga biasa nangis di depan orang banyak. malu…
maka saya hanya bisa pasang wajah sendu gitu. hehehe, ga tahu deh pantes atau ga nya tuh.
lah, ketika pulang, teteh pengajian saya pada sedih. mata merah dan membahas nasehat-nasehat aGym. saya hanya bisa diam. pura-pura menyimak. padahal otak saya kosong.
duh, saya nih keras hati atau lemah iman atau apa yaa? kok ga terharu-harunya mendengar nasehat aGym.

walhasil saya ga bisa mengikuti ritual kaya gitu deh 😦
dari pada saya jadi bohong dan tersiksa?
selebihnya, saya suka menyimpan sendiri ibadah saya. doo..
hehehe… buat saya, enak loh merahasiakannya hanya dengan Dia, yeeey… πŸ˜€
orang lain cukup rasakan dan lihat saya dalam aktivitas hidup yang biasa-biasa saja deh. ya ga??

kesimpulan :
saya -sebut saja- sufidoo-sufidoo..
ga bisa yang begitoo-begitoo
tapi saya hormati apapun ekspresi keberagamaan orang lain
semoga dalam tumbuh kembangnya, itu terus menujuNya
cuma itu yang bisa saya pikirkan dan rasakan
termasuk tuk diri saya sendiri
lewat jalan saya pribadi
selebihnya saya suka mandiri
doain yaa..
semoga semua di sini juga mandiri
πŸ™‚

sekali indie tetap indie
demi kritis itu selalu ada
dan nyata-nyata saja

salam
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

11 Tanggapan to ““sufidoo-fidoo””

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

saya ingin menggaris bawahi tulisan tebal realitas adalah guru yang sempurna. demikian ciri manusia akhir zaman ini adalah realitas. perjuangan dan keberhasilannya ditandai dengan tanda awal realitas. sebagaimana tercantum dalam doanya, berikan keselamatan di dunia dan keselamatan di akhirat.
keselamatan dunia adalah keselamatan dalam realitas dunia dengan segala dinamika kesemestaannya. apakah itu bisnis, kekuasaan, dll.

@kang trend dan semua

kelemahan dari pengajian-pengajian yang dibakukan bentuknya adalah pada merigid dan menginstitusi. sehingga manusia didalamnya menjadi statis, dan yang kalau bergerakpun hanya sekedar mengikuti plot yang ada.
menjadi tidak banyak berpikir dan sekedar mengikuti saja.

realitas di sini juga tidak sekedar sebagai korban pencitraan loh kang. hehehe πŸ™‚
dibutuhkan kejujuran tuk belajar memahami realitas secara utuh. bukan sekedar melihat sebelah mata saja.

tiap orang pasti ada bedanya yaa.., kalo saya sih jelas2:

sekali ngeyel tetap ngeyel
demi kritis itu selalu ngeyel
dan ngeyel-ngeyel saja

pokoknye ni ye: hidup ngeyel!!!
huahahahahaa…. πŸ˜†

@mas JM
berarti kita seagama mas.. πŸ˜›

dan kalau boleh saya ingin melanjutkan tentang realitas ini dengan tulisan mba anis tentang sektor riil. pangkal dari kelemahan ummat Isalam adalah tidak memasukakan bisnis dalam agenda ibadahnya. padahal referensi bisnis itu ada pada Muhammad, tauladannya.
kalau ada waktu mungkin saya ingin buat tulisan tentang itu mba anis. boleh ya, semoga itu menjadi stimulus untuk memperbaharui pandangan beragama yang terlalu mistis, terlalu dogmatis, terlalu fundamentalis, dan terlalu lainnya. menuju keberagamaan yang moderat sesuai dengan fungsi dihadirkannya Islam ke dunia ini.

@kang trend
boleh banget kang. ditunggu… πŸ™‚

non, itu bukan tulisan saya, itu karya kang jalal (KH Jalaludin Rakhmat )
hehehe i’m not that good

nambahin aja, mbak. saya setuju dengan tetangga, pak gentole bahwa beragama haruslah otentik. kalo yg terjebak tarekat sugesti begitu barankali akibat menjadikan agama sebagai pelarian. selingan di antara kesibukan di dunia.

@mas budi
hehehe, iya.. lupa. maaf. tidak teliti. maksudnyaaaa… : komen berupa tulisan pak Jalal yang dikutip oleh mas budi
lengkap deh.. πŸ˜‰

@mas siti jenang
pelarian itu kadang ga sekedar hanya karena kesibukan dunia loh mas. banyak juga karena keresahan jiwa.. gitu ga sih?

keresahan jiwa lantaran apa? salah satunya terlalu sibuk dalam urusan dunia. *ngeles mode* :mrgreen:

siti jenang
konon karena bingung mana islam yang bener. hahaha… πŸ™‚
banyak orang beragama seperti berdagang mas. menawarkan menu-menu specialnya.


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: