tembok-tembok indonesia

Posted on Oktober 23, 2008. Filed under: islam indie |

(dibagi yaa…)

kemarin malam saya nonton film laskar pelangi.
sejujurnya, saya belum baca novelnya. entah kenapa saya ga kebawa trend novel itu. saya biasa saja. sehingga saya ya ringan-ringan saja ketika menonton filmnya. tidak seperti kebanyakan orang yang berkomentar soal begitu ga sama dan ga oke filmnya dibanding novelnya.

hehehe, saya sih sebetulnya lebih menikmati moment ngajak anak-anak bersama si mbak nonton di bioskop. memberi pengalaman seru gitu loh. apalagi si mbak mengaku seumur hidupnya itu belum pernah masuk bioskop. ya sudah… itung-itung buat pengalaman, saya ajak dia menikmati bioskop XXI di botani bogor.

komentarnya : wowww….

kebetulan siangnya suami saya libur, karena giliran pemadaman PLN tuk industri itu loh. walau pabrik tempat suami bekerja pake listrik swasta, tapi suplier dan costumernya tetap kena pemadaman. ya sama aja bo’ong kan?? maka libur tuh… dan walhasil, sabtu kudu gantiin hari libur karena pemadaman itu. ya sudah deh. maka kemarin itu saya dan suami jalan-jalan dan beli tiket laskar pelangi dari siang hari.

waduh… ketika sepulang sekolah anak-anak mendapati tiket filmnya sudah ada, mereka mulai deh mengatur pembagian tempat duduknya. terdapat kesepakatan tuh. urutan duduk menjadi : mami – mofa- papi – mbak adhin – si mbak.
– deal?
– deal!

maka sore hari kita berangkat dengan semangat… πŸ˜€

wah, ada waktu nunggu sebentar, mofa nyempetin main video game di XXI. main intial-D, itu tuh balap mobil tea.. seruuuu. mofa nyetir, papinya kebagian nginjekin gasnya. hehehe..

lalu kitapun nonton.

mofa ngerti ga ngerti, ketawa-ketawa aja sama saya dibagian yang memang lucu. dan dipertengahan film, mofa sudah mulai bosan.
– mami, kok lama yaaa??
– papi sekarang jam berapa??
halahh.. begini deh nonton dengan anak umur 5 tahunan..

lah, saya yang terharu pada beberapa bagian film, ya berusaha ga sedih-sedih amat ekspresinya. nahhhh, pas bagian ayah lintang wafat dan lintang jadi ga sekolah lagi, currrr… air mata ngalir juga.
halahhh… tissue tadi dimana yaa?
e, mofa santai bilang gini,
– mami kenapa nangis? ih, nonton aja kok nangis sih..
maka saya berbisik padanya,
– kan sedih. papinya lintang meninggal jadi lintang ga bisa sekolah lagi..
– ooo iyaa..
mofa terdiam, ikutan mikir kali yaa.– sediih kan?
– iya, tapi mofa ga kaya mami, gitu aja nangis..
eee…
trus dia ke papinya
– papi.. papi, mami nangis tuh.
papinya ya santai aja bilang gini
– ga papa. biarin aja..
ah, lelaki mah ga ngerti perasaan wanita.. 😦
– loh?

*

saya ga bermaksud membicarakan film itu. sudah banyak resensinya kan? juga sudah banyak yang baca novelnya.

saya hanya tertegun melihat betapa budaya feodal ala perkebunan dan pertambangan warisan penjajahan belanda, yang memisahkan kehidupan masyarakat kita, bahkan mengkelas-kelaskan kehidupan kita, ternyata tetap dipelihara meski indonesia telah merdeka yaa.

tuhan.. saya ga habis pikir.
maka benarlah kata sebagian orang, kalau indonesia dijajah oleh bangsanya sendiri. bukan oleh siapa-siapa. maka wajar pula, kalau indonesia belum maju sampai hari ini. tentu bukan salah siapa-siapa, selain salah bangsa indonesia sendiri.

dan saya semakin salut pada para pendiri negeri ini. salut pada pemikiran yang ditelorkan mereka tuk indonesia.

kemerdekaan yang diakui adalah hak segala bangsa. ketuhanan yang maha esa, dengan apapun agama yang ingin dianut didalamnya. kemanusiaan yang adil dan beradab, dalam apapun suku dan bahasanya. kebebebasan berpendapat dan berserikat yang dilindungi negara. dan dilaksanakan dalam sebaik-baik dan bijaksana dalam perwakilan. keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia, dimana segala yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai negara dan sebesar-besarnya tuk rakyatnya.

dst-dstnya….

yang terus diperdebatkan di kursi dewan itu tiada henti. dengan banyak penafsiran dan banyak alasan. seperti mentafsirkan ayat-ayat suci saja yaa…
padahal, cukup baca semua, resapi nilainya dan do it!

hehehe, kasian yaa negeri ini.
potensinya -baik secara fisik keseluruhan maupun secara pemikiran- yang luarbiasa itu, harus terasa sia-sia. setidaknya hingga hari ini..

jadi teringat kenalan saya. dia pemilik tempat peminjaman buku langganan saya. suaminya bekerja nun jauh disana, bahkan di tempat yang tak terlihat di peta dunia. suaminya bekerja di BP (british petroleum) dan kadang harus ke ujung dunia afrika sana.

alkisah dia pernah ikut ke angola -afrika sono. negara tempat suaminya ditugaskan. itupun masih harus kepelosok lagi. sekilas sih dalam camp pekerja BP, enak kok. roti, keju dsbnya mewah, walau khas pertambangan gitu.

nah, suatu ketika ada acara jalan-jalan deh, ibu-ibu dan anak-anak. wisata ke sebuah lokasi di negara itu. maka keluarlah kenalan saya itu dari camp-nya. mau tahu katanya?
– saya nangissss…

hmm, kebayang deh. dia yang merasa mewah dibalik dinding tebal sementara di luarnya, rakyat afrika itu tak berpakaian, kurus kering, mengais-ngais makanan di mana saja, dikeringnya udara wilayah sana.

katanya,
– saya ga kuat…
maka karenanya dia memilih tinggal di indonesia dan suami jauh disana.
– biar deh jauh dari suami. daripada saya sakit jiwa! terlalu kontras.

hehehe, saya hanya bisa membayangkan, tanpa bisa merasakan sebenarnya seperti apa. karena saya sendiri pernah merasa menjadi anak-anak termarjinalkan di indonesia. sebagai keturunan cina dan terbatas di lingkungan pecinan. tapi setidaknya indonesia masih lumayan saat saya kecil itu, tentu itu dalam skala saya waktu kecil itu ya. saya toh tetap bermain dengan banyak dan beragam kalangan. setelah besar dan memahami banyak hal, baru deh saya sadari kepincangan ini. terutama antara kota dan desanya indonesia..

bahkan katanya,
– saya heran sama ibu-ibu yang mereka rata-rata bukan orang indonesia. mereka kuat dan biasa-biasa saja. saya disebut cengeng ga kuat tinggal di camp..
hehehe, karena kita indonesia?

*

hmm..

pada dasarnya sebagai manusia, kita bisa hidup dengan siapa saja. kita makhluk sosial. dan kita bisa berbagi dengan siapa saja. sekali lagi karena kita makhluk sosial. kita tak akan pernah bisa hidup seorang diri.

ini bahkan dipatenkan dalam kisah nabi adam yang kesepian dan tak mampu sendirian. sepintas cerita nabi adam hanya seperti mengukuhkan kebutuhan akan pasangan. tapi lebih dari itu, -terlebih setelah saya menikah lebih dari 10 tahun ini- kebutuhan pertemanan dan saling berbagi sesungguhnya lebih dominan dalam berumah tangga. maka demikian pula kehidupan ini.

karenanya mengapa betah berlama-lama dalam keterjajahan dan penjajahan?

mengapa tidak kembali menjadi manusia, yang selalu bisa berbagi dan bersama siapa saja?

tembok-tembok pemisah itu, semakin hari semakin masuk ke jiwa. manusia makin egois dan hanya mementingkan kepentingan sendiri atau kelompoknya.

maka ga usah deh, bicara bertele-tele tentang pemerataan pendidikan, pemerataan kekayaan, pemerataan ini itu. temboknya dulu yang hancurkan. selama temboknya masih tinggi dan tebal dalam jiwa, trus memisahkan kita, maka semua terasa basi.

potensi fisik dan pemikiran yang luarbiasa dari para pendiri bangsa ini, bahkan up datenya dari mereka yang saat ini bergelar panjang, ya masih terasa sia-sia.
setidaknya hingga saat ini..
ketika tembok-tembok masih memisahkan manusia indonesia..

huh, kalau ada mofa pasti dia akan bilang,
– mami sedih yaaaa????

hehehe, semoga mofa dan anak-anak indonesia lainnya -ke depan- bisa hidup tanpa tembok pemisah yaa. apapun itu. selebihnya, manusiawilah tuk berbagi dan bersama yang lainnya.
amin.

*

setelah keluar dari bioskop, si mbak berkata gini
– bu, film itu ngajarin kita bersukur banget yaa.. saya biar anak petani, sempat sekolah di sekolah negeri sampai lulus smp.
hehehe, yup. semua harus sekolah.
hidup sekolah!

salam
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

10 Tanggapan to “tembok-tembok indonesia”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

yaoloh, ujung2nya anggota dewan mlulu πŸ™„ .

omong2 soal kluarga n jalan2, jd inget postingan sendiri waktu istri ultah ngajakin 20 sodaranya nonton LP, tp saia malah nonton Mamma Mia! sendirian. huahahaha….

bener aj, waktu masuk kantor abis libur lebaran, banyak rekan2 heboh crita2 dg penuh semangatnya.
Ya ya ya bener tuh, kebutuhan pertemanan dan saling berbagi sesungguhnya lebih dominan dalam berumah tangga.
Maka saia pun sempet komplen ke istri: “Tuh khaan… banyak rekan2ku crita2 LP, kok istri sendiri malah nggak crita sama sekali seeh??”. Jawabnya singkat n ketus: “nggak terimpres!”. 😯 wowww….

Mungkin krn kesian liat saia yg ter-bengong2, katanya lagi dg sebelnya: “Abis… jauh banget dr novelnya sih.” Yeah… kalo doi ud ngomongin soal bacaan, pa lagi novel2 ginian, aye mah pecayee boss, pecayeee… ….

tembok-tembok yg menyebabkan
manusia Indonesia kehilangan jatidirinya
sbg bangsa yg dikenal sll mengutamakan kebersamaan
sprtinya sudah sukar dihancurkan
tembok tembok itu akan terus berdiri kokoh
selama manusia Indonesia sll lbh
mengedepankan kpntingan ekonomi dan politik
di atas kepentingn bersama (kemaslahatan umat)

salam kenal bu…saya memang belum nonton film ini..hanya melihat berita di tayangan tv..malahan suami sy yg bujuk2saya buat nonton dibioskop…tp mungkin ketika sy nonton suatu saat pastinya sy akan terharu juga…

@mas JM
yo wis.. demi mas JM jadi caleg, saya ga akan sinis bin ga manis gitu lagi ke anggota dewan. hihihi πŸ˜€

huahhh, kalau dah baca nuvelnya emang konon gitu mas. ga impres lagi.. berhubung saya blum baca, ya santai aja. piss deh πŸ˜€ pada dasarnya saya sebagei wanita tidak suka membanding-bandingkan loh.. hehehe, naonn??

btw, mo sampe kapan hiatus mas? saya ga mau dititipi rumah lama-lama. ga enjoy ah. -loh?

@mikekono
betul mas. ketika kita telah tidak mampu percaya sepenuhnya pada Tuhan, maka refleksinya kita menjadi sulit percaya pada manusia. dan maka karenanya pula kita akan semakin meninggikan tembok itu. baik tembok secara fisik, juga tembok secara jiwa.

maka saya pernah dinasehati orangtuanya teman, katanya.. – anis, percaya sama Allah ya. siapa sih yang bisa menaklukan manusia kalau bukan Dia? jadi kita dalam hidup ini jangan khawatir yang berlebihan yaa. ikhtiarnya selalu, percayanya lebih perlu..

hehehe, iya sih. maka saya sering menarik nafas panjang, mengingatNya tuk sedikitnya menghilangkan banyak rasa cemas yang suka membayangi. doo…

@cutemom
duh, senengnya bisa sampai sini mbak. salam kenal, salam hangat.. πŸ™‚

nonton deh bersama suaminya tercinta, saya dukungg.. hehehe. itung-itung refreshing loh..
soal terharu, relatif yaa. saya emang dari dulu prihatin soal pendidikan negeri kita, jadi ya sedihnya dah dari duluuu… hehehe. tapi selebihnya film itu tetap menghibur kok sebagei tontonan.
sip deh.. selamat nonton yaa πŸ˜€

mungkin di angola afrik sana mirip dg di papua. pekerja2 di camp sejahtera. bak di surga serba ada n tersedia..
padahal di luar camp (alam realita), bnyk pribumi menderita..
mungkin lho, sy juga blm pernah ke papua. he..he..

nangiss bu..??
wanita!!

Saya masih belum nonton…
Tapi bukunya sudah saya baca sejak januari 2006,
ketika itu di gramedia gak laku diletakkan
tersembunyi…
Saya liat liat, baca baca dikit…ini buku apa ya…
baca bab satu…walah edian tenan kok dada saya sesak…
Akhirnya saya beli…
4 hari saya baca sampe saya belain cuti..
wah gila buku ini. Pasti bentar lagi meledak…

Perkara tembok menembok…betul kata
mas Wahyu, gak perlu jauh jauh.
Di papua dimana perusahaan milik Amerika
berada, sungguh jauh perbedaannya dengan
pribumi setempat. Ini sama menyedihkan…
Gak heran kalo GPK tumbuh subur…
Terlepas dari ada yang mengompori, kenyataannya,
pemerintah kita lebih suka membuat tembok itu tadi.

Kembali ke LP…
Walah nangis buk ?
kayaknya bakalan sama…
makanya gak nonton nonton…
tunggu sepi saja…

@mas wahyu
iya mas wahyu.. maka saya nulis gitu biar inget papua kita..
gitu-gitu, itu saudara kita loh, papua kita juga..

@mas datyo
sedih mas.. ga tega deh. jahat. ga adil. kasian. gemes. ga aci. huahhhh, jadi ingin merubah indonesia deh.
hehehe πŸ˜€

Saya tidak pernah membaca novelnya padahal saya sering mendengar riuhnya novel itu di negeri ini, paling saya tau dari acara Kick Andy di MetroTV. Berbekal dari nonton Kick Andy saya kok jadi penasaran ada apa sih di film Laskar Pelangi?
Trus saya nonton deh pas lebaran bersama keluarga dan ternyata ceritanya mengingatkanku pada cerita hidup Alm.Ayah&Almh.Emak di kampung halaman dulu tahun 70an (Desa Sipirok,Tapanuli Selatan-Sumatera Utara).
Ayah Kepala sekaligus guru STM Swasta Sipirok (Ayah mendirikan sekolah itu beserta beberapa orang temannya, setelah berdiri selama 13 tahun-tentu dengan segala suka dukanya- STM Swasta Sipirok akhirnya terpaksa bubar karena muridnya hanya tinggal beberapa)
Emak adalah guru juga di SKP (Sekolah Kepandaian Putri Negeri Sipirok) yang mencari uang dari keahliannya sebagai guru jurusan Tata Busana, sementara gaji PNSnya sbg guru habis buat bayar guru-guru di sekolah Ayah-ga mungkin ngarapin dari murid-muridnya karena bayarnya ada yang pakai beras, durian klo lagi musim hehehehe)
Sorry Mbak Anis kok aku jadi curhat sih??? Mbak koment ini boleh tak usah di muat ya karena kepanjangan hehehehe

Oya, menurutku adegan yang paling seru pada film LP ini adalah ketika Lintang harus “bertoleransi” dengan seekor Buaya ganas setiap mau ke sekolah….

@bang Syahrul
wah, makasih buat sharing masa kecilnya bang syahrul.
semoga pengalaman itu turut membangun jiwa kita tuk tulus mencintai negeri ini ya.
negeri yang tengah membutuhkan banyak putera terbaiknya. maksudnya putera yang baik hatinya, kokoh baja berjuang tuk negerinya… πŸ˜€


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: