agama di dunia penuh benda

Posted on Oktober 24, 2008. Filed under: islam indie |

(buat mas Muhammad Mulia Darmawan nih… tentang korelasi uang dan agama dimasa sekarang ini. tapi maaf kalau dari sudut yang berbeda dan dalam suasana yang santai ya, saya ga bisa serius lama-lama sih.. hehehe 😀 )

alkisah..
* ada masa saya sedang suka-sukanya dengan polo shirt merk beneton, dengan warna-warnanya yang pastel keren saat itu – di lampung pula, wah.. rasanya itulah pertama kali saya mengenal merk. sebelumnya saya ga peduli dan ga kepikiran. itu kurang lebih saat awal smp deh. belum lagi ditambah dengan arlojinya, dsb pernak-pernik merk beneton saat itu, rasanya kerennn… 🙂

maka rada merengek dong pada ibu, saya kepingin polo shirt merk itu. ya pertamanya dibeliin. lah, keduanya.. mulai deh dinasehatin banyak hal. katanya gini..
– nonn.. segala sesuatu itu tuh mahal atau ga, gimana orangnya.
– maksudnyaaa???
– kalau badannya bersih, pake apa aja indah. kalau sikapnya sopan, bawa apa aja juga indah.
– hmm. ga ngerti ah..
– kalau ada orang pake merek ini itu, tapi sok. enak ga?
– ga donggg..
– kalau orang pake barang bekas, tapi baik dan tetap sopan. enak ga?
– ya, jadi tetap enak dihargai..
– kalau orang kere, jelek adat. enak ga?
– wah, makin sebel laaaah..
– lah, kalau orang pake barang kerennn, trus baik banget. enak ga?
– itu asyik bangettt…
– maunya sih begitu, tapi itu jarang nonnn… makin tinggi gaya hidup, makin sulit melihat kebawah.
hehehe, maksudnya apa sih?? blum mudheng tuh. paling sih itu berarti ga akan dibeliin gitu deh. ya ga?

– maka, apapun itu memang bergantung gimana orangnya. orangnya tetap baik atau ga? orangnya tetap asyik atau ga? ya kan?
– ooo, ya iyaaa.
– nah, sekarang… kalau ternyata segala itu gimana orangnya, maka apakah perlu terlalu berlebihan?
– ooo gitu maksudnya. tapi kan keren, ma.. ke-ren!
saya ngotot dongg. 😛
– iya, kalau semua barang yang mahal itu ternyata hanya tuk keren, itu bukan sesuatu yang mendasar toh? kalau cuma tuk keren, maka ga perlu terlalu maksain diri kan?
hehehe, ibu saya membangun logika saya tentang materi tuh.

* lalu saya ini suka sekali membaca. kutu buku banget deh. lah, ada sepupu -yang menurut saya tuh- maunya enak aja. masa’ saya yang baca, dia mintanya diceritain aja. sebelkan?? maka saya emoh deh main sama dia. sampai ibu saya tahu dan saya ditegur.
– non, jangan gitu lah.. diakan anaknya ga suka baca. emak bapaknya juga jarang beliin buku. ya diceritain dikit yang udah dibaca, ga papa kan?
– wah, ga mau ah…
– jangan gitu.
– ya, dipinjemin aja deh bukunyaa, ok?
– karena dia ga suka baca, ya percuma dipinjemin. maka diceritain aja.
– kok gitu sih?
huh, saya tukang protes banget yaa?? maap… 😦
– non.. pinter ga nya seseorang itu, bukan dari banyak ilmu yang dimilikinya. tapi dari seberapa banyak ilmu yang bisa disampaikannya. percuma banyak-banyak baca kalau disimpen tuk diri sendiri aja!
– hmm..
masih cembetut gitu deh.. ga rela. hihihi 😛

maka saya pun -kalau lagi ademmm- ya cerita deh ke sepupu saya itu. konon karenanya, saya jadi terbiasa menyimpulkan bacaan saya, merangkumnya -bahkan dengan gaya saya sendiri- tuk kemudian menceritakannya kembali, agar tetap menarik sebagaimana bukunya kalau dibaca sendiri. maka pula saya jadi suka bercerita seperti di sini.
hehehe, sesuatu yang ga sengaja yaa… 😀

* trus, ada nih sepupu perempuan. oya, sepupu yang seumuran saya tuh banyaknya lelaki, perempuannya dikit dan itu umurnya lebih tua dari saya. sepupu saya itu orang kaya loh. lebih kayaaaaaa dari keluarga saya. hmm, tapi orangnya jadi pendiam, jaim, dan teratur gitu, dibanding saya yang apa adanya gini.
so pasti… saya jadi suka bosen di dekatnya. maka kalau ada acara keluarga dan ada dia, saya suka jadi kagok. bahkan waktu tante saya yang bungsu menikah, saya dipasangkan dengannya sebagai pager ayu gitu.
haduhhhh… tersiksa deh 😦
diemmmm aja. trus jaimmmmm banget. trus ga asyik deh. kita jadi diem-dieman, kaya pengantinnya gitu deh, jaga imej. senyumnya teraturrrrr… 😛

ibu saya ya menyadari dong, katanya gini..
– emang ga enak ya di dekatnya? sabar deh. namanya juga jadi pager ayu..
– hmmm…
cembetut dongg.. mendelik lagi loh. 😦
emang orang tuh baru kerasa hangat engga-nya kalau dia udah berbicara nonn. kita jadi tahu kalau dia ada.
– iya, biar keren, biar cantik, biar kaya, kalau diem… seperti di kuburan!
hoalahhh… saya kumplain, protesss, bosennnnn.

maka ketika saya dapet suami pendiam, ibu saya bilang gini..
– ga salah jatuh cinta nih nonn? kayanya nih kualat deh..
– yeeeyyyy…
tega deh ibu saya.. 😦
– makanya nonnn… ayo bikin dia jangan kaya kuburan!
grrrrr… sebel deh sama ibu saya. masa kualat sih?

(e, jujur nih, suami saya mengaku kok suka takjub setiap melihat ibu saya berbicara. ya gitu, blak-blakan. dan hiiii… kena deh! kena tembak :P)

* kembali ke topik..
sampai kadang saya pikir wajar tuh apa yang diungkap Ayat Kursi dalam Qur’an. Dia yang dikatakan ga pernah tidur dan selalu sibuk mengurus makhluknya.
ya gimana tidak??? kalau ga gitu, tuhan ga akan dirasa adanya ga disadari hadirnya.
maka saya juga sibuk nih 😀
sibuk bikin suami saya tahu, kalau saya ada dan dorong dia tuk bikin saya tahu kalau dia ada! tentu dengan segala sesuatu yang bisa membangun rasa ada.
hehehe… maksa 😀

maka alhamdulillah ya, kita bisa bicara, merasa, melihat, meraba dsbnya. semua itu untuk kita tahu bahwa sesuatu bahkan semua ini ada..

* nah, bagaimana dengan benda-benda itu?
benda-benda itukah yang bikin kita ada? termasuk jika benda itu bernama uang?

saya pernah menangis, ketika begitu banyak buku dan crayon, tetap tidak membuat ayah saya terasa ada. dia sibuk dan sibuk dengan dirinya sendiri, sehingga sering bertengkar dengan ibu saya. sedihhh… higs 😦

saya pernah menangis, ketika begitu jauh saya melangkah memilih agamaNya, tapi saya kehilangan rasa dari semua yang pernah menjadi keluarga dan membesarkan saya. pemikiran sempit telah merengut rasa bahwa semua itu pernah ada dan boleh selalu ada walau sudah berbeda akidah, sedihhh lagi… higs 😦

saya pernah menangis, ketika letih memenuhi maunya orang lain yang bergitu banyak dan tak pernah ada habisnya. saya jadi kehilangan diri saya sendiri bahkan kehilangan banyak waktu. hanya karena mereka lebih memiliki uang dan benda dari saya yang saat itu sebatang kara. aargh sedihhhhh… 😦

saya juga pernah menangis ketika sedih ingin ada yang meluk, tapi peluk itu ga mau ada. huhuuuuu… 😦

* nahhhh..
maka saya paham, kalau dalam agama dikatakan, dunia hanyalah perjalanan. ambillah bekal secukupnya. selebihnya dunia melenakan dan membutakan hati. dunia memisahkan manusia dari rasa tuhannya. dunia meletihkan.

maka saya juga ngerti, kalau dunia hanyalah permainan belaka. memperdaya manusia sehingga mereka lupa semuanya. bahkan lupa sesamanya. hanya benda yang terlihat, hanya uang yang nampak. hati dilewati bahkan disakiti.

lalu saya juga sangat menerima, kalau dunia tetap diperlukan tuk ditata agar semua sejahtera. tentu ditata oleh manusia-manusia yang bener-bener mengenali sifat dunia dan sangat paham bagaimana menatanya. karena saya tetap hidup di dunia bersama yang lainnya. manusia yang khalifah.. agar bahagia terasa oleh semua, bahkan oleh saya.

dan akhirnya saya sangat bisa menerima, kalau disatu sisi agama menginspirasi sampai jauh ke dalam jiwa manusia. agar manusia bisa mengendalikan nafsunya, demi berdamai dengan dunia. demi bisa menata dunia.

tentu agama yang memahami kelemahan dan kelebihan manusia. agama yang mengenal bagaimana manusianya. maka dia dinamakan agama fitrah, karena sesungguhnya dia memahami manusianya.

maka kemudian saya bisa memaklumi ketika melihat agama itu mengatur tata cara agar manusia itu mau berbagi/bersedekah demi dirinya terasa ada bagi yang lainnya. atau bahkan agama sampai mengatur bagaimana manusia itu berpuasa agar dia tidak berlebih-lebihan demi dia terasa hadir dan sahaja dengan yang lain yang tidak seberuntung dirinya.. dst-dstnya

bukan agama yang dijadikan alat tuk malah memanasi-manasi nafsu manusianya, akan kekuasaan atau arogansi. yang ujung-ujungnya berbau kekuasaan atas yang lainnya, dan ujung-ujungnya ya hanya dunia tujuannya.

maka jangan salah memahami syariat. syariat agama seharusnya menjadi bentuk dari pengendalian jiwa. bukan dijadikan alat tuk memaksakan kehendak, terlebih kehendak mayoritas pada minoritas. agama bukan alat tuk melegitimasi kekuasaan.

agama dan kebendaan sebenarnya saling melengkapi, saling mengisi. manusia membutuhkan benda tuk berkarya, bahkan kembali menghasilkan benda dalam berkarya. dan agama mengajari dan mengajak manusia tuk berkarya. karya tujuannya, bukan sekedar bendanya. sehingga karya itu bisa sesuatu bersifat benda bisa pula sesuatu yang lebih dari sekedar benda, yakni rasa ada..

inilah yang kemudian sering kita temui saat ini, yang istilah kerennya adalah asketisisme.
tawaran yang diberikan adalah asketisisme dalam kekuasaan. mampukah pelaku kekuasaan mensahajakan dirinya? sebagaimana bahkan para nabi itu diceritakan.
ketika kebendaan telah terbukti hanya angka-angka dan tak melulu terasa adanya, bahkan tak melulu terasa kemajuannya.

lebih jauh, ketika nilai saham berjatuhan di krisis ekonomi amerika yang saat ini mulai terasa efek dominonya, mampukah pula pelaku bisnis mensahajakan dirinya? yang bahasa kerennya mengencangkan ikat pinggang..?

hehehe, begitulah dunia. agama telah menginspirasi dari awal, kalau dunia itu melenakan dan hanya sementara..
maka saya tetap suka beragama, walau agama tuh hobinya masih aja ribut satu sama lain, hahahaha 😀

persoalannya kemudian, lupakan lah cerita tentang agama yang terjebak dalam dunia yang penuh benda dan kemudian saling menumpahkan darah. sudahilah itu. sudah bukan masanya lagi yang begitu…

liat aja dunia sudah mulai kehabisan benda-bendanya. energi menipis, hutannya gundul, airnya mengering, udaranya kotor, ozonnya bolong, lautnya tercemar, tanahnya sempit dan gersang.
yang beredar saat ini -termasuk uang- ya tinggal yang itu-itu saja. lalu yang baru.. banyaknya sintetis, susupun pake melamin. mau dikejar sejauh apa sih??

maka berhentilah sejenak, dalami dan resapi. bukan melulu ekspansi, coba intensifikasi. maka mereka yang disebut negara maju itu sudah memulai dengan recycle, reuse, dan reduse. bahkan tambah replant dan hehehe, maaf.. rethink -mendalami hal-hal yang ada di masa yang telah silam…
see? sampai segitunya deh.. termasuk diratakan/didistribusikan kembali apa-apa yang telah terkumpulkan secara sepihak.

karena kalau orientasinya hanya diri sendiri, semua memang seolah tak ada habisnya. memperkaya diri sendiri itu ga ada selesainya.
tapi coba liat sekitar… dan berorientasi lebih terbuka. sadari deh, dunia mulai kehabisan banyak hal. yang dikumpulkan sepihak, hanya akan membuat semua tersendat bahkan hancur luluh rantak. maka mereka yang memahami hidup memilih terus berjalan, terus bergerak, terus mendistribusikan sebagian tuk sebagian yang lain, demi hidup terus berputar..

maka, sudah cukuplah semua ini hancur karena nafsu akan kebendaan dan kesesaatan. dunia sendiri telah keletihan..

***

dulu… saya pernah diminta teman mengisi acara mentoring anak-anak di masjid dekat rumahnya. kebetulan saya dari pembinaan anak-anak masjid salman. hari itu saya datang kesana, padahal uang yang ada hanya tuk ongkos saja. saya belum menerima ongkos kerja saya. mengisi acara begitu kadang dikasih uang loh. lumayan deh buat saya makan, begitu pikiran saya saat itu.

lalu setelah acara mengisi mentoring itu selesai. saya mendapat bingkisan. sebuah pigura asma ul husna, yang sejujurnya indah. tanpa sepeserpun uang tentunya. saat itu saya mikir, – hmm.. rasanya dulu saya pernah mengingini pigura sejenis deh. dan saat ini sudah ada ditangan saya, gratis pula. saya inget, rasanya dulu pinginnnnnn banget. abis hampir semua teman saya yang muslim punya yang seperti itu loh.

saya jadi bertanya-tanya dalam hati.. – tuhan, apa sih sebenarnya yang saya inginkan? ketika sesungguhnya Kau begitu baik tuk menggabulkan yang kuminta, kok aku yang malah suka salah mengerti mauku sendiri yaa.
hehehehe…
maka, meski saya tidak makan malam itu, tapi saya seneng banget. memandang pigura asma ul husna yang pernah saya inginkan, yang entah kapan sampai saya lupa. dan baru sadari hadirnya ketika saya telah tak begitu menginginkannya. saya tersenyum dan merasa malu deh sama tuhan.. sadari ternyata tuhan ada dan pernah mendengarkan keinginan saya.

ah tuhan, plis deh… saya memang cuma manusia biasa.. saya suka adaMu, bukan bendaMu… 😀

maka tuk semua disinipun, meski maya insyaAllah terasa adanya..

***

demikianlah apa yang saya pikirkan dan rasakan dari pertanyaan mas MM Darmawan.
kalau soal dalil tentang agama memandang dunia, cari sendiri aja deh mas. banyak bukunya, dan banyak ustad yang bisa menerangkannya. ini mah dari saya, dari yang nyata-nyata saja.

saya hanya ingin bilang, indah kan beragama itu?
dia mengajak manusia menemukan banyak hal dari sekedar yang terlihat oleh kasat mata ini. menemukan banyak rahasia dari apa yang bisa dimiliki secara fisik ini. maka agama dibilang urusan akhirat. urusannya hati. bahkan urusannya berbakti pada hidup ini…

sehingga kalau agama masih terjebak dalam uang dan dunia, memaksakan dirinya atas nama kekuasaan, itu tanda beragamanya juga masih sebatas dunia, masih sebatas benda…

sebagaimana katanya hidup itu seperti roda yang berputar.
itu artinya hidup ini mengalir. serakah berarti menyendat, menyendat berarti mendiam, mendiam berarti berhenti, berhenti berarti mati. maka itulah maksud dari yang dikatakan mereka yang serakah itu sesungguhnya mati dalam hidup ini..

agama menawarkan sesuatu yang mengalir, menawarkan hidup yang hidup. tetap boleh mengambil bekal hidup, selebihnya bayar pajak, zakat, sedekah, berbagi, bahkan bikin usaha bersama, maju bersama, sejahtera bersama. hidup tetap mengalir dan tidak jadi miskin karenanya. maka agama mengatakan manusia yang mulia adalah yang banyak bermanfaat bagi sesamanya. itulah yang dimaksud dengan hidup yang hidup. hidupnya dapet, rasanya juga dapet.

agama dan uang
agama dan kekuasaan
seharusnya bisa saling mengidealkan diri
bukan memancing benci dan iri hati
apalagi memupuk rasa dengki
maka siapakah lagi yang pantas disebut beragama?
selain dari mereka yang tau diri?

piss 😀

salam
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

4 Tanggapan to “agama di dunia penuh benda”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

tentu agama yang memahami kelemahan dan kelebihan manusia. agama yang mengenal bagaimana manusianya. maka dia dinamakan agama fitrah, karena sesungguhnya dia memahami manusianya.
apakah berarti:
1. kita mengejar profil ideal yang diinginkan agama yang pasti berisi tantangan dan jelas ada berat2nya waktu kita akan mengejarnya
2. kita mencari ajaran2 yang secara nyaman bisa kita kerjakan dan bahkan cencerung menjadi seadanya, bisa jadi lalai atau bahkan ngga mencapai sasaran penciptaan
????????

subhanallah =)
saya baru main ke sini nih. suka mbak baca tulisannya.. saya suka penjabarannya. touching.
keep on writing =)

kalo saya lebih suka dibilang agama = kedamaian diri 🙂

Saat saya mampu merasakan kedamaian dalam diri,pasrah dengan mau-NYA terhadap saya… heehhehe intinya gitu, Mbak… gak mau terlalu pusing soal agama yang ber”materi” :p hehehhehe kayaknya saya mau enaknya aja ya Mbak? 😀

@kang trend
maaf ya, kalau bikin terpaku sama bentuk agamanya, padahal saya mau mengajak melihat nilai-nilainya yang universal dan bisa diterima siapa saja.

saya ambil contoh lain ya, sudah pernah saya tulis disini, tapi saya ringkas deh.
waktu saya kecil, saya sudah dinasehati tuk hidup jangan setengah-setengah.
katanya ibu saya,
– jadi orang tuh jgn setengah-setengah. mau baik, baik sekalian. mau jahat, jahat sekalian.
spt, kalau memang baik dan mau memberi ya kasih selapangnya hati dan jangan itungan. atau spt, kalau memang bejat suka main perempuan, ya silakan main perempuan di tempat prostitusi sana. jgn ganggu anak orang.

nah, yang bisa sekalian baik dan yang bisa sekalian jehat itu katanya tuh jumlahnya dikit.

banyaknya yang setengah-setengah. suka korupsi tapi ga mau diadili, maunya dibilang baik mulu. atau suka membunuh tapi ga mau dipenjara, maunya dibilang mulia. buat ibu saya, itu sikap yang ga sportif. lempar batu sembunyi tangan. berani berbuat ga berani bertanggungjawab.

nah, ketika saya islam dan pertama kali baca al Qur’an. tepatnya di QS al Baqoroh 1-20, saya tertegun tuh. takjub! itukan sama seperti nasehat ibu saya.

tentang mereka yang iman, yang kafir dan yang munafik. yang iman dan yang kafir tuh ayatnya dikit. lah yang munafik itu ayatnya banyak banget. persis banget deh ‘nilai’ atau ‘substansi’nya dengan nasehat ibu saya soal jangan setengah-setengah itu.

padahal ibu saya tuh ga pernah baca qur’an. dirumah ga pernah ada qur’an. trus ibu saya jg bukan orang yang taat beragama, biasa saja, asli produk manusia indonesia era 60an. nasehatnya lebih karena pengalaman hidup aja. banter karena kearifan lokal yang ada dimasyarakat kita ini.

maka apa itu keidealan agama?
hehehe, menurut saya sih, mau seperti apapun agamanya, tetap gimana manusianya. karena agama itu bukan benda. agama itu nilai yang selayaknya hidup, bukan teks-teks belaka. maka saya bilang agama yang mengenali sejati siapa dan bagaimana manusianya. lebih kurangnya. manusiawi gitu deh. sehingga bisa membawa manusianya menjadi baik.

gitu ga sih?

@ushmrkstv
salam kenal mas/mbak.
makasih ya.. 🙂

@darnia
hehehe, santai aja mbak darnia.
saya setuju jika agama itu jadi moral pribadi aja deh. buktikan dia bermanfaat bagi kehidupan kita dan sekitar kita. hidup sebagai manusia yang makhluk sosial.
saya menulis ini juga karena teringat pertanyaan mas MMD 😀

selebihnya merdeka sajalah.


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: