kutipan dan pernyataan sikap

Posted on Oktober 25, 2008. Filed under: islam indie |

saya yang dengan sadar dan atas keinginan sendiri -di tahun 1990- memilih islam sebagai agama saya, dan pernah menghabiskan banyak waktu tuk menyelami islam dan bahkan pernah cukup lama beraktivitas di masjid Salman ITB, maka saya merasa sangat prihatin dengan ekspresi beragama yang semakin hari semakin menuju praktek sektarian dan berpotensi besar tuk memecah belah indonesia.

maka dengan ini saya menyatakan sikap sebagai seorang Indonesia. apapun agama saya dan siapapun diri saya.

buat saya, apalah artinya tuhan jika negara saya hancur berantakan??

saya menulis ini untuk indonesia
saya mau berjuang untuk indonesia
saya tidak berjuang untuk tuhan
karena Tuhan ada di dalam hati saya
karena Tuhan ada di dalam jiwa indonesia saya
maka Tuhan tak perlu diperjuangkan
Tuhan tak perlu dipertahankan
karena sesungguhnya Tuhan kekal
Tuhan tak tersentuh kefanaan semu berdalih agama

dan sesungguhnya saya begini karena saya sangat percaya bahwa Tuhan pulalah yang telah membimbing saya tuk mencintai indonesia, -negeri saya- apa adanya..

saya bangga sebagai indonesia.

saya mencintai dan menghormati negara saya, setulus hati dan sepenuh jiwa raga. saya berterimakasih tuk air, udara dan tanah indonesia ini. yang saya dilahirkan dan dibesarkan di sini, tuk kelak mungkin dimakamkan pula di sini.

saya tidak akan mengerdilkan negara saya, di tengah praktek mengkerdilkan Tuhan di atas nama kepentingan pribadi dan kelompok.

saya serius menyatakan komitmen saya pada nasionalisme Indonesia.

saya siap dan bersedia bersama siapa saja -yang juga indonesia- dalam keberagaman yang sejati ada dan mengakar di indonesia. saya tidak akan mengingkari keindonesiaan saya dan saya tidak akan mengkhianati cita-cita para pendiri negara indonesia. sebagai bagian dari indonesia muda saat ini, sebagai ibu rumah tangga indonesia, yang melahirkan anak-anak tuk indonesia, saya akan terus memupuk rasa kebangsaan ini, dimanapun saya berada.

saya adalah indonesia.
dalam apapun agama saya, kemarin, hari ini dan esok nanti..

hidup boleh menawarkan banyak hal
kita hanya perlu menentukan sikap
termasuk menentukan sikap sebagai indonesia

pepatah bilang : hanya mereka yang merdeka yang mampu memerdekakan
merdekakah kita?

merdeka!

***

Tegaskan Lagi Komitmen pada Nasionalisme
http://cetak.kompas.com

Sabtu, 25 Oktober 2008 | 00:27 WIB
Jakarta, Kompas

Dalam arus dan tarikan arus dunia dan terpuruknya semangat kebangsaan di Indonesia, semua elemen bangsa diharapkan kembali menetapkan komitmen mereka pada nasionalisme.

Dalam konteks itu, segala perbedaan yang ada selayaknya dipandang dalam kesadaran sebagai warga bangsa. Penegasan itu menjadi penting karena kinerja politik tampak gagal merealisasikan cita-cita Indonesia sebagai bangsa.

Demikian mengemuka dalam diskusi yang digelar bersama oleh Lingkar Muda Indonesia dengan harian Kompas, Jumat (24/10) di Jakarta.

Hadir sebagai pembicara dalam diskusi itu, dosen Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Herry Priyono, Pemimpin Redaksi Liputan 6 SCTV Rosiana Silalahi, sineas Garin Nugroho, dan Kepala Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Paramadina Yudi Latif.

Yudi menegaskan, jalan untuk kembali membangun kebangsaan Indonesia adalah komitmen kepada cita-cita kebangsaan sebagaimana digagas dalam Sumpah Pemuda. Dalam peristiwa yang terjadi 80 tahun lalu itu, lokalitas dan basis-basis etno-religius yang bersifat lokal dan fragmentaris ditautkan dalam komunitas politik impian yang bersifat lintas-kultural bernama Indonesia.

Proses itu merupakan demistifikasi ikatan warga yang penuh simbol primordial. Seiring dengan itu, fantasi kebangsaan dihidupkan berdasarkan konsepsi kewargaan yang bersifat teritorial, yang menjalin solidaritas atas dasar kesamaan tumpah darah. Yudi mengatakan, pada waktu itu pemuda-pelajar sepakat merumuskan konsepsi baru ideologi politik perjuangan sebagai bangsa.

Komitmen itu nyata menyatukan pelbagai posisi, determinasi, dan aliran kultural ke dalam suatu blok nasional. Namun, sayang, akhir-akhir ini komitmen terhadap kebangsaan itu mulai goyah.

Muncul tarikan dari politik identitas yang mengancam cita- cita kemanusiaan dan keadilan. ”Gerakan pemuda saat ini hanya pandai menjebol dan kurang pandai membangun,” kata Yudi.

Dalam diskusi yang dipandu oleh pakar komunikasi politik dari Universitas Indonesia, Effendy Ghazali, itu, Herry Priyono berpendapat harus ada keberanian untuk dengan sengaja melahirkan lagi cita-cita kebangsaan itu.

Menurut dia, diperlukan kedewasaan untuk menghidupi tegangan dan tarikan yang ada saat ini. Kematangan kolektif itu, kata Herry, diperlukan untuk membangun kewarganegaraan yang tidak sektarian.

Dalam proses itu kehadiran para cerdik pandai diperlukan untuk membantu.

Mereka, menurut Herry, diperlukan untuk menunjukkan bahwa nasionalisme itu diabdikan untuk kebangsaan, keindonesiaan. Tidak hanya itu, Garin Nugroho berpendapat perlu pula strategi kebudayaan untuk mengaktualisasikan cita-cita kebangsaan Indonesia tersebut.

Hal itu, menurut dia, penting untuk mempertemukan antara gagasan filosofis para pendiri bangsa dan produk praksis seperti hukum yang diterapkan saat ini. (jos)

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Satu Tanggapan to “kutipan dan pernyataan sikap”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

Science for the sake of struggle !

Untukmu Indonesiaku….


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: