kutipan : Tantangan Berat Nasionalisme

Posted on Oktober 26, 2008. Filed under: islam indie |

semalam saya bersama suami keluar malam tuk suatu keperluan di dekat rumah. ketika akan pulang, saya minta padanya tuk lewat jalan-jalan kampung di sekitar kompleks kami. saya suka berkeliling demikian dan suami hafal kebiasaan saya itu.

hmm… naik motor berduaan. malam dan dingin. 😉

berjarak hanya sekitar 200 meter dari kompleks kami deh, suasana malam di jalan sekitar kampung masih khas. orang-orang duduk-duduk di pos siskamling, atau warung atau bahkan di teras-teras rumah. kongkow-kongkow berkelompok. kata suami, orang kampung sih tidak ada yang suka diem di rumah saja. beberapa anak menyalip kami, berlarian sambil mengalungkan sarung di badannya. di bagian jalan yang sepi, hanya ladang atau tanah kosong masih terdengar krik-krik-krik suara jangkrik. bahkan masih ada balong ikan dengan suara airnya gemericik.

khas sekali deh… alhamdulillah, jalan kampung yang kami lewati relatif bersih, walau disana-sini masih ada sampah dibuang sembarangan. kami masih bisa mengucap, – “punten..” permisi setiap melewati mereka yang masih kongkow-kongkow di pinggir jalan. dan jawabannya juga masih terdengar ramah, – “mangga….”

dan miris memang bahwa sebagian dari mereka masih hidup di rumah berdinding gedhek, berlantai tanah. padahal ini bogor loh.. bahkan di sebagian rumah yang terbuka pintunya, tampak itu hanya rumah petak yang disitulah memasak dan di situlah tidur bahkan semua aktivitasnya. sebagian juga ada yang berdinding batako tanpa plesteran. suram dengan penerangan yang minim. walau beberapa rumah di kampung juga ada yang besar dan mewah. dan yang pasti, dekat dari situ adalah kompleks perumahan kami.

banyak dari mereka yang saya kenali sebagai satpam, tukang ojek dan bibi pulang hari yang bekerja di kompleks kami.

saya merinding loh.. 😦
merinding bukan karena dinginnya udara malam. saya merinding mengingatNya, di tengah potret nyata kehidupan sekitar kita. rasanya ada yang miris, entah apa…
saya suka pembangunan. pembangunan yang memberdayakan dan membahagiakan banyak pihak. bukan pembangunan yang melulu meninggalkan mereka yang lemah di belakang.

dan kemarin bogor baru selesai melaksanakan pilkada tuk walikotanya. saya ikut memilih, hasilnya masih 33% “kemenangan” ada pada golput.

potret di atas dan kutipan dibawah adalah tantangan nyata..

selamat menikmati
semoga menginspirasi

***

Tantangan Berat Nasionalisme
http://cetak.kompas.com

Kemiskinan, Korupsi, dan Kepentingan Golongan Ancaman bagi Nasionalisme
Senin, 27 Oktober 2008 | 02:13 WIB

Jakarta, Kompas – Fenomena positif pascatumbangnya Orde Baru adalah pergulatan untuk membentuk nasionalisme kerakyatan yang lebih unik, yang lebih mencerminkan kondisi bangsa ini.

Namun, pada saat bersamaan, ancaman terhadap keberagaman terlihat dari semakin menguatnya politik aliran dan dominasi kaum mayoritas.

Demikian topik yang mengemuka dalam perbincangan dengan sejarawan dari Universitas Negeri Padang Mestika Zed, Ketua Program Magister Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma Yogyakarta St Sunardi, penggerak pendidikan kebinekaan dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Sutan Iskandar Muda Sofyan Tan di Medan, pemimpin Forum Persaudaraan Umat Beriman Yogyakarta Kiai Haji Abdul Muhaimin, dan seniman teater Butet Kartaredjasa tentang refleksi 80 Tahun Sumpah Pemuda dan 100 Tahun Kebangkitan Nasional.

St Sunardi menilai, saat ini dimensi nasionalisme menjadi lebih rumit daripada sekadar kesamaan sejarah, suku, bangsa, atau budaya.

”Namun, globalisasi dan nasionalisme tidak harus saling mematikan. Buktinya, negara-negara yang terdepan dalam menyemarakkan globalisasi justru punya nasionalisme tinggi. Sebut saja Amerika Serikat atau Jepang.”

Rakyat membutuhkan nasionalisme yang lebih konkret daripada itu, yaitu jaminan keamanan, kesejahteraan, dan masa depan. Namun, sejumlah kebijakan pemerintah justru bertolak belakang dengan nasionalisme: investasi asing yang berlebihan, dan tidak diseimbangkan dengan kebijakan yang memihak perekonomian rakyat.

Praktik otonomi daerah juga mencerminkan kemunduran nasionalisme karena dilakukan dengan semangat kesukuan ”hanya putra daerah yang boleh jadi pemimpin”.

Sejarawan Mestika Zed mengemukakan, nasionalisme yang kedodoran terlihat dari semangat para politisi yang individualistis dan terjebak dalam kepentingan ekonomi, seperti urusan balik modal, pencitraan saat kampanye, dan pengabaian kepentingan publik.

Rumah besar nasionalisme

Ketua Dewan Pembina Yayasan Sutan Iskandar Muda Sofyan Tan mengemukakan, kesenjangan yang tajam antara si kaya dan si miskin menjadi ancaman rumah besar kita: nasionalisme. Karena itu, membahas nasionalisme tanpa berbicara tentang kesejahteraan adalah omong kosong.

Perjuangan nasionalisme Indonesia kini adalah memperkecil kesenjangan kesejahteraan agar tak muncul perpecahan. Salah satu akar persoalan kemiskinan adalah merajalelanya korupsi.

Kiai Haji Abdul Muhaimin menilai nasionalisme yang dibangun para pendiri bangsa—dalam konteks pengakuan dan penghargaan atas keberagaman—tetap relevan hingga saat ini.

”Konflik yang sepertinya ditunggangi agama, menurut saya, sering kali sebenarnya ditunggangi kepentingan politik, ekonomi, dan subyektivitas individu,” katanya.

Pemimpin Pondok Pesantren Nurul Ummahat Kota Gede Yogyakarta itu menyatakan, setiap komponen bangsa seharusnya memberikan ruang yang memadai kepada setiap kelompok tanpa memperhitungkan besar kecilnya massa. Perbedaan teologi harus didialogkan supaya tetap memberikan kontribusi kepada negara.

Butet Kartaredjasa mengemukakan kekhawatirannya tentang krisis dan kondisi berbangsa kita. Ia menyebut sejumlah kasus yang mencederai semangat kebinekaan, seperti sidang kasus Monas yang diwarnai insiden dan rencana penetapan Undang-Undang Pornografi yang terkesan memaksakan kehendak.

Semangat kebinekaan dan keberagaman seharusnya dihayati kembali dan masyarakat harus bisa bersikap kritis dalam menyikapi segala sesuatu. Jangan mudah terjebak dalam semangat golongan atau kelompok apa pun. ”Intinya, masyarakat harus yakin dengan landasan founding father dalam mendirikan negara ini,” ujar Butet.

(ANG/ENY/IRE/ENG/PRA/ WKM/ART/NDY/JON)

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: