runtuhnya langit abad 21

Posted on Oktober 28, 2008. Filed under: islam indie |

( gi mengenang-ngenang dan mikirin up datenya kiamat tuk zaman kita nih.. hiii… 😛 )

ketika lampu di kota masa kecil saya itu lebih banyak padamnya dari nyalanya, kehidupan terasa lebih sunyi dan tenang.

bayangkan saja, sudahkah acara hanya dari TVRI, mati lampu pula. maka kongkow-kongkow di depan rumah beratapkan langit, main catur dibawa sinar lilin lebih nikmat dari sekedar layar kaca. air pake pompa tangan dan tidur lebih awal.

adegan menyalakan lampu petromax, lebih seru dibanding gosip tetangga. bayangkan, pake spirtus, lalu pompa minyak tanah di tangki bawah sebagai bahan bakarnya dan tidak lupa itu tuh…. kain tuk bola lampunya yang begitu rapuh jika disentuh, yang dulu suka saya main-mainkan. dan rasanya waktu itu merknya adalah butterfly deh.

langit tampak lebih terang kala semua padam dan gelap..

bintang sempurna terlihat dan bulan penuh cahayanya, serasa langsung menyentuh bumi tanpa penghalang sinar apapun yang bisa mengalahkannya. di saat seperti itu memandang langit memang lebih indah dari kesibukan apapun di muka bumi.
langit seolah banyak berbicara.

berbeda ketika lampu nyala, hingar bingar dan hiruk pikuk di pengeras suara dan layar kaca, belum lagi di jalan raya dan pusat-pusat belanja…
wah, langit terlupakan begitu saja.

jujur, saya memang suka memandang langit.
ketika siang, dari bawah ribun pepohonan. terasa indah cahaya matahari yang mengintip di cela-cela dedaunan. bikin wajah saya suka jadi kemerahan. 🙂
dan malam hari, dari cela jendela baik mobil atau rumah, meski di sekitarnya sibuk dan penuh ramai suara. atau bahkan melihat bebas di udara lepas depan rumah atau sambil berjalan kaki atau muter-muter pake motor. bikin suka diingetin suami tuk bersihin muka sebelum tidurr 😛

*

naaahhhhh, kebayang ga kalau dunia ini kembali gelap?

huahhh.. kompi mas JM bakal jadi sarang laba-laba, gitar listrik ala rocker mas Datyo berlumut, hape mas Budi senyap tanpa sinyal, om google say babay ke mbak Darnia, buku-buku saya pake sablon stensilan yang diputer itu lagi deh. higss…

kita semua ga lagi bisa ada di sini.. 😦

ga sampe di situ, pompa bensin yang digital, stop. harus manual lagi kali ya pake pompa tangan. swalayan juga stop, rumah sakit nih yang ga tega bayanginnya. masa’ gelap dan ga bisa suplay listrik ke ventilator tuk yang terpaksa koma di ruang ICU ya? lah, atm dan credit card?? aduh, rush ga sih? semua jadi cash lagi..

semua berhenti total.
ekspor impor, bursa, penerbangan, dsbnya.. termasuk ac, rice cooker, mesin cuci, microwave, coffe maker, blender… dst, dstnya.

ga kebayangkan??

sejujurnya dimata saya, mati listrik adalah kiamatnya dunia modern model kita saat ini.
ga usah jauh-jauh ngebayangin kalau kiamat itu adalah ketika matahari mendekat ke bumi dan langit runtuh ke atap kita.

mati lampu total aja, itu tuh kiamat deh.. ya ga?
hehehe.. 😀

semua orang panik, saling menyalahkan, berbantah-bantahan. kamu sih kebijakannya kaya gitu..
atau kamu sih ga hemat.. atau kamu sih ga mikirrr.. atau kamu sih ga ngerti..
wuihh, krodit deh. mau demo pun ga akan menyelesaikan masalah.

maka saya pernah tulis, kalau kita perlu mengutamakan cadangan bahan bakar tuk suplay listrik, mengingat listrik adalah sumber vital pergerakan dunia di era digital saat ini. harus mau meredakan nafsu berkendaraan, jika tidak ingin bahan bakar tuk suplay listrik ini terus terkuras tuk kendaraan pribadi.

di sinilah, pentingnya mengatasi diri sendiri dengan merasa cukup itu.

kalau berpikir jangka panjang, marilah peduli pada kehidupan bersama yang lebih luas. seperti mari berkendaraan umum, mari kembali ke pasar tradisional, mari kembali mensederhanakan hidup.

kalau mau serakah sendiri ya, jangan heran kalau kehabisan cadangan energi dan apesnya rame-rame juga.
contoh saja, soal pemadaman listrik pada industri itu.
waduh… itukan sudah pertanda yang buruk toh?

maka nih, mau sampai kapan bertahan hidup sangat individual gitu?

padahal kita hanya perlu tuk peduli, mau berbagi kelayakan hidup dengan yang lain, lalu mau mengedepankan kepentingan bersama. bukan kepentingan bersama yang melulu kalah oleh kepentingan individu.

tapi kalau bertahan tuk melulu mengedepankan kepentingan individu, ya wajar dalam satu dekade ke depan sangat mungkin hidup kita kembali gelap…

nah, trus siapa nih yang beruntung dalam kiamat demikian?
ya tentu adalah mereka yang terbiasa menahan nafsunya. yang mungkin pernah kita sia-siakan dan abaikan hidupnya selama ini.
sederhananya ya yang bisa dan biasa menahan nafsu kebendaan yang gila-gilaan saat ini.

dan lihatlah, berlian sekian karat juga ga akan laku dibanding satu generator lengkap dengan solarnya di saat seperti itu. atau sebut saja barang-barang bermerk ini itu juga ga akan dimintati di banding lilin-lilin kecil di saat demikian.

maka barulah kita pahami,
dunia itu semu dan hanya permainan belaka..
atau bahkan baru kita mengerti, kalau amalan mereka yang ingkar hanyalah seperti angan-angan belaka.

selain mereka yang terbiasa hidup sederhana.

saya sendiri -jujur- juga ga bisa membayangkan hal itu. maka saya pikir kita harus mulai merencanakan kehidupan yang berpotensi panjang, memberdayakan banyak pihak dan jangan berprilaku yang bisa menyebabkan langit tiba-tiba runtuh menimpa kita.

walau katanya ditemukan cadangan minyak di beberapa tempat, atau dicarikan solusi energi alternatif, tetap deh berhemat itu sangat dibutuhkan. kalau kita tidak mau terjadi kehidupan yang liar dan brutal sebagaimana para pemburu minyak dan energi menghalalkan segala cara hanya demi mempertahankan hidupnya. yang sepertinya ini sudah mulai menggejala nih..

selagi masih ada waktu

*

maka saya suka memandang langit.

membayangkan cahaya bintangnya yang lebih terang dari apapun di muka bumi ini. yang terhalang oleh banyak nafsu manusia. akan hiruk pikuk pengeras suara dan layar kaca. akan keramaian jalan raya dan tempat-tempat belanja.

padahal cahayanya indah
dan menenangkan jiwa
setidaknya tuk sederhana
dan mau berbagi pada sesama

kadang kita suka rumit ya menterjemahkan agama
Tuhan diperjuangan membabi buta
padahal hidup ini adalah kitabNya yang nyata
apapun rupa dan bahasa zaman yang ada
masihkah kita enggan percaya?

salam
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

4 Tanggapan to “runtuhnya langit abad 21”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

betul, ternyata semua kerumitan yang ada sekarang ini bisa menjadi urusan yang sangat sederhana hanya karena KIAMAT, atau semuanya diakhiri, tidak diteruskan lagi, sudah sajalah, cukup disini.
baru kemudian kita kembali berpikir secara basic, sederhana dan hakikat.

saya masih bisa ngerock pake ukulele kok 🙂

saia lebih sulit ngebayangin kalo gak ada temen2 (dan warung indomi jugak sih bwat nongkrongnya) drpd gak ada kompi or listrik

@kang trend
@mas datyo
@mas JM

walau mungkin kita akan bisa tetap beradaptasi, karena selama hayat masih di kandung badan tentu manusia akan terus beradaptasi.. saya tetap merasa -sedikit-nya kita akan kesulitan kalau listrik padam total.

saya berempati tuk semua saudara-saudara saya yang masih mengalami kesulitan listrik dimanapun di wilayah indonesia tercinta ini. satu deh, ingin rasanya saya bisa berbagi terang ini. agar hidup tak melulu meninggalkan mereka yang tidak seberuntung kita.
cita-cita nih judulnya.. 😀


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: