kutipan : Diskriminasi Ras dan Etnis Diharapkan Berakhir

Posted on Oktober 29, 2008. Filed under: islam indie |

otak saya nih sedang error atau salah tangkap ya membaca ini? mohon pencerahan dongg..

bayangkan, di tengah RUU Pornografi yang dianggap -sedikitnya- sebagai bentuk pelanggaran hak-hak dasar kemanusiaan, dan ini – yang kemudian akan ditelurkan RUU Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis. yang konon diharapkan mempertegas komitmen bangsa Indonesia terhadap penghormatan hak-hak dasar kemanusiaan.

ada apa dengan negeri ini yaa?

teman saya bercerita, ketika dia main ke plaza senayan dan kelapa gading mall. hoalahh.. katanya lebih banyak saudara-saudara dari keturunan tionghoa yang memakai celana pendek. duh nis, sudahkah putih, mulus-mulussss…
tapi sepertinya ini hanya akan tinggal kenangan dengan RUU pornografi itu nis. begitu katanya.
hehehe πŸ˜€

lah, ada teman lagi yang ayahnya sedang penelitian di papua. katanya, duh nis… kata bokap yang pakai koteka dan bertelanjang dada, keluar masuk mini market dengan santai dan polos. kebayang ga sih lu?? miris nis…
mungkin yang ini ga kena RUU Pornografi dengan alasan budaya.
hehehe πŸ˜€

lah, kemarin di acara Bali Beach Festival, suami saya asyik nonton voley pantai putri yang notabene two pieces gitu loh pakaiannya. suami saya memang penggemar fanatiknya olah raga voley. lah, katanya ini atas nama olah raga… dan itu kan bali gitu loh.
hehehe πŸ˜€

hmmm…

ga ngerti deh saya. pada realitasnya, semua ini tuh berpotensi tumpang tindih deh. gitu ga sih? alih-alih mau mengurai benang kusut, apa ga makin kusut yaa??
atau saya yang sedang keblinger sendirian nih?

duh, kalau ga inget saya dah janji sama mas JM tuk ga melulu ngomelin orang-orang di DPR itu, yang harusnya mbok koordinasi semua dulu kek sebelum bikin RUU ini itu. saya tentu sudah mencak-mencak nih. tapi kayanya lebih enak serabi solo dengan teh manis anget kalau bogor gi dingin kaya gini deh, hehehehe πŸ˜€

maka jangan naif dongg.. banyak alasan orang dalam berpakaian, selain secara mendasar tuk menutupi tubuh, bisa tuk seadanya atau modis, bisa tuk kebiasaan budaya atau etnisnya, bisa tuk mengikuti trend, bisa tuk memamerkan merk, juga bisa tuk menempatkan diri sesuai tempat dan waktunya, tergantung kecerdasan dan kesadaran orangnya

dan maka kalau menurut saya sih, soal moralitas mah ga usah diundang-undangkanlah. bangun sungguh-sungguh lewat pendidikan dan berkomitmen tinggi memberi contoh yang baik. secara berkesinambungan tentu akan membentuk kebiasaan yang baik pula. dan kebiasaan yang baik ga usah dilabel-label, biarlah tuk bisa dimiliki semua orang. jadikan itu sebagai moralitas bersama yang universal.

indonesiaku sayang
indonesiaku malang
maka siapakah gerangan
si dia yang tersayang
yang mencinta terang-terangan
dan memimpin dengan perhitungan
yang mengutamakan kebersamaan
mengupayakan keserasian
mengentaskan kemiskinan
mengutamakan pendidikan
menghormati kebudayaan
yang.. yang.. yang.. mampu mengedepankan kebijaksanaan
dan yang mampu mengintegrasikan

ah, siapakah gerangan
si dia yang tersayang??

selamat menikmati
semoga menginspirasi

***

Diskriminasi Ras dan Etnis Diharapkan Berakhir
http://cetak.kompas.com

RUU Pertegas Komitmen Bangsa
Rabu, 29 Oktober 2008 | 00:21 WIB

Jakarta, Kompas –

Perlakuan diskriminatif diharapkan berakhir dengan disetujuinya Rancangan Undang-Undang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis dalam Rapat Paripurna DPR, Selasa (28/10) siang. Penyelesaian RUU tersebut diharapkan mempertegas komitmen bangsa Indonesia terhadap penghormatan hak-hak dasar kemanusiaan.

Dalam RUU, antara lain, diatur jaminan, setiap warga negara berhak mendapat perlakuan sama untuk mendapatkan hak sipil, politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Selain ancaman pidana bagi pelaku, setiap warga negara juga berhak mengajukan gugatan ganti rugi melalui pengadilan negeri atas perlakuan diskriminatif yang merugikan dirinya.

RUU juga menugaskan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mengawasi segala bentuk upaya penghapusan diskriminasi.

Untuk memberi efek jera sekaligus upaya preventif, ada tambahan pemberatan hukuman sepertiga untuk setiap tindak pidana yang sudah diatur dalam KUHP untuk pelaku tindak pidana ras dan etnis. Juga diatur pidana tambahan berupa restitusi atau pemulihan hak korban diskriminasi ras dan etnis.

Bahkan, jika pelaku pidana adalah korporasi, denda diperberat tiga kali dari denda yang dilakukan perseorangan. Korporasi juga dapat dikenai pidana tambahan berupa pencabutan izin usaha dan pencabutan status hukum. Tindak pidana dianggap dilakukan korporasi, antara lain, jika dilakukan orang yang bertindak untuk dan/atau atas nama korporasi atau untuk kepentingan korporasi.

Menurut Ketua Panitia Khusus RUU Murdaya Poo (Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Jawa Timur I), penyelesaian RUU ini merupakan langkah maju untuk menjamin persamaan hak warga negara.

Embrio penyusunan RUU ini sebenarnya sudah dimulai pada DPR periode 1999-2004. Namun, baru pada September 2005 naskah RUU disetujui sebagai usul DPR. Pembahasan RUU bersama pemerintah hampir mentok menyangkut klausul penggunaan pidana minimal khusus kepada pelaku tindak pidana diskriminasi ras dan etnis. Akhirnya disepakati bahwa pemidanaan bukan termasuk pidana minimum khusus, tetapi ada pemberatan untuk menimbulkan efek jera.

Menurut Menteri Hukum dan HAM Andi Mattalatta dalam sambutannya, pengesahan RUU mendorong pemerintah untuk senantiasa melindungi warga negaranya. Selain itu, RUU juga memberi landasan hukum yang kuat bagi Komnas HAM untuk mengawasi terjadinya praktik diskriminasi dalam segala bentuk. (dik)

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

10 Tanggapan to “kutipan : Diskriminasi Ras dan Etnis Diharapkan Berakhir”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

jadi inget postingan Mbak Anis yang lama yang temanya : Indonesia ini negara “nanggung” …

emang bener-bener nanggung semuanya πŸ˜€

ada hal yang juga membingungkan saya , kenapa setiap membicarakan RUU pornografi orang mesti lari ke koteka, ke bali -padahal definisinya sudah bilang Pornografi adalah materi seksualitas (yang mengandung ketel…ngan, seng…., alat …, penyimpangn sek…. ) dalam bentuk gambar. sketsa. ilustrasi, foto, tulisan kartun, suara , bunyi percakapan, syair , gambar bergerak gerak tubuh (masih didebat PDIP) atau bentuk lainnya nah ini yang penting .. catet MELALUI MEDIA KOMUNIKASI ATAU PERTUNJUKKAN DI DEPAN UMUM yang dapat membangkitkan hasrat seksual atau melanggar nilai-nilai kesusilaan masyarakat

kalo pengertian saya sih berarti ga boleh jualan DVD, VCD ,gambar, cerita stensilan, ngirim 3gp porno lewat bluetooth dll pokoke media komunikasi dan perlu diundang2kan karena UU yang sekarang dendanya cuma rp 4500- ya berani kalo cuma segitu mah untungnya dari jualan barang-2 porno ribuan kali lipat dari dendanya . bagus kan secara sekarang anak-anak SMP sudah tau gambar porno bukan lari ke masalah ngatur cara orang berpakaian.Orang di sana make koteka ya wajar saja , ngga ada hubungannya sama pornografi, tapi coba orang berkoteka disuruh menghadap presiden pasti disuruh berpakaian formal karena di sini adatnya juga gini , dulu waktu itu ungu dilarang paspampres masuk istana karena make jeans ngga ada yang protes atas nama kebebasan berekspresi, jadi adat mah mengikuti tempat , seperti tulian siapa yang nurut kalo mau masuk ke pura apa gitu harus make selendang atau apa saya lupa
soal diskriminasi memang mungkin perlu dulu aja ivana lie udah juara di mana-mana belum punya katepe punyanya skbri (CMIIW), hendrawan juga, kasus 98 juga karena rasa diskriminasi masih tinggi di sebagian masyarakat kita, ada juga yang diskriminasi terbalik asal nama depannya habib aja dihormati padahal dia belum tentu sholeh,
kenapa mesti di undang2kan ??contoh kasus singapura dia jadi tertib karena hukumnya kuat bukan karena kesadaran/pendidikan masing-masing. Di perusahaan saya sering make vendor orang singapura ya kalo di sini dia juga sembarangan ngeroko ngeludah dll, juga orang indonesia bisa tertib kok kalo di singapura karena takut hukumnya kuat, kalo sekarang kurang kuat, ya ganti aja rejimnya di 2009 gitu aja kok repot ..

Saya yakin bener deh….kalo suami disuruh sama istrinya di hari minggu untuk bersihin kamar mandi…..pasti enggan bahkan nggak akan dibersihin. Padahal tanpa disuruhpun sebenernya tiap hari minggu kamar mandi dibersihin sama sang suami. Arogansi suami atau fitrah manusia yang selalu ingin membantah perintah sekalipun itu undang-undang…..?? Terus terang saya sangsi RUU itu efektif. Mendingan biarkan manusia Indonesia belajar dari sejarah….

@mbak darnia
πŸ˜€

@mas budi
saya ga mau jawab yang melulu membuat kita terjebak di situ-situ saja ya mas.. soalnya saya juga sudah ‘bertengkar’ dengan suami tuk jawaban yang sama seperti mas budi nih, hehehe πŸ˜€

gini mas..
cina itu boleh luas.. tapi daratan. amerika boleh gede dan rasis, tapi daratan. singapura boleh mengaku multietnis, tapi relatif daratan yang cuma segitu-segitunya. malaysia saja antara semenanjung dan serawak-sabah nya sudah beda. lah.. jepang boleh kepulauan tapi ga segede dan seberagam kita.

catat mas.. indonesia ini adalah negara kepulauan terbesar di dunia, dengan beragam etnis dan budaya di dalamnya. maka memperlakukan indonesia ga bisa sama dengan memperlakukan yang lain itu.

bayangkan, memilah-milahkannya bisa berpotensi pecah, dan menyamaratakannya juga ga mungkin.

saya setuju dengan kang Aom,
kalau indonesia ini perlu belajar dari sejarah bangsanya sendiri.

saya yakin, indonesia bisa untuk bermoral dan beretika tinggi. indonesia terbukti adalah negara dengan spiritual yang baik. bahkan (pernah) menjadi antitesa tuk islam ala timur tengah yang ribut mulu di jazirahnya sampe hari ini.

yang -maaf-maaf saja yaa mas- selama ini indonesia hanya dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab dan yang hanya mementingkan kepentingannya sendiri atau golongannya. dan yang saat ini makin ingin di gerogoti oleh ekspresi yang mengatasnamakan mayoritas.

saya jamin, ga akan efektif..
malah berpotensi merusak kebersamaan kita.

indonesia hanya perlu di pimpin oleh orang jujur yang ga naif.

soal sikap personal singapura yang ga respek sama kita, itu sih akibat kita sendiri yang ga bisa menghargai diri kita selama ini. di mana bumi di pijak, disitu langit di junjung.

@kang Aom
sepakat kang..
mari kita berdoa tuk indonesia πŸ™‚

apa membuat RUU juga bagian dari proses belajar???

ya semuanya sedang belajar. saya belajar, dia belajar, mereka belajar. ya, kita semua belajar. —kita semuanya ini— yang harus disadari dan dijadikan pijakan berpikir. menjadi dewasa bersama-sama.

maka ini adalah peluang buat kita untuk belajar cepat. ini adalah kesempatan kita untuk belajar cepat. banyak ilmu yang kita temukan dalam kondisi ini. bagi yang ingin lulus dengan cepat dan segera meraih hasil, ya belajar lebih cepat.
mereka yang belajar cepat tidak mungkin mnghabiskan waktu dengan ngomentarin org lain, mencela org lain, ngurusin org lain.
tapi dia akan sibuk bebenah diri sendiri. bikin prestasi amal sendiri. dan segera memberikan manfaat, manfaat dan manfaat terus…

@Anis
yee… jangan salah sangka dong. bukan orang2 DPRnya yg saia persoalkan, tapi ngomel melulunya itu lo. Mungkin ini gara2 saia udah terlalu kebanyakan denger or baca omelan kali’yaa..

jujur aja, barusan aja saia juga dapat omelan. entah, dapat bisikan syaiton dr mana, istri saia tiba2 tumben ke kompi saia pas baca kata2 di postingan mother, how are you today. katanya, itu pembunuhan karakter, ngesanin doi gualak banget. untunglah, semuanya bisa dimusyawarahkan untuk mufakat, dan saia gak jadi disuruh menghapus blok. huuh… alhamdulillah. mang ennak.. denger omelan?!

boleh ngomen panjang gak ya disini? ah, mo diomelin lagi kek, biariiin… πŸ˜›

@Pak Budi
yap, soal RAP, meskipun saia punya segelintir dalil detil yg mungkin bisa memelntir dolah-dalih bbrp argumen diatas tapi males terjebak ke yg itu lagi… itu lagi. bosen ah.
secara personal, meskipun saia juga berpandangan bhw masyarakat indo belum tentu mampu belajar mandiri meningkatkan kesadaran namun….. “kebetulan” (wess… jarang2 nie) saat ini saia sedang setuju ma tulisan anis diatas. top of the top-nya masih buanyaaak urusan yg hukumnya wajib diprioritasisin sebelum ngomongin soal moralitas dan etika gini.

Contohnya, ya misalnya pinjam contoh kasus singapore itu yg bapak bilang bisa jadi tertib karena hukumnya kuat bukan karena kesadaran/pendidikan masing-masing. egriii boss, egriii…. ini nih salah satu contoh yg wajib diprioritasin, tertib hukum.
bisa dimulai dr realitas se-hari2 laa.. misalnya cara2 tilang ala singapur. dont pungli laa.. dengan ato tanpa alesan (daripada repot, buru2, darurat, etc.).
eh btw, setau saia nie, di singapur tuh ngrokok bebas2 aja kok dijalanan bahkan banyak disediakan asbak besar sepanjang jalan, malahan suka ada bangku disampingnya, yg dilarang itu biasanya di tempat2 publik spt mall2, mrt, bis, dll.

kembali ke tertib hukum, spt kasus syech puji itu, scr personal saia heran kok bisa2nya orang2 pinter petinggi parte nanggepinnya malah soal dolal-dalil keyakinan gitu sih?? lah kalo semuanya dibawa ke keyakinan yg so pasti di-agung2kan masing2 individu gitu yaa… repot laa.. ini soal tertib hukum. (titik). eh eh.. maap, gak boleh (kebanyakan) ngomel2 yaa..

kalo soal diskriminasi kayaknya kita boleh sesekali belajar hukum2 soal beginian dari malesia jugak deh. disana jelas2 sudah lama tertulis ada diskriminasi, sedangkan di indo, cek aja sekolah2 negri ato ptn spt ui, ugm, itb, its, berapa sih mahasiswa cina, india, dll? mana sih undang2 ato peraturannya yg ngatur soal beginian? apa betul mereka dikit banget yg minat sekolah negeri? silahkan renungkan sendiri n tarik kesimpulan sendiri yaa..

tariiik maaaang……

@kang trend
duhhh.. atuh terlalu mahal kang proses belajar yang beresiko mengorbankan kebersamaan di seluruh negeri ini. ya ga?

@mas JM
ketauannnn… ngeblognya di omelin istri yaaa??? hihihi πŸ˜€
saya mah ngeblognya tuh minta izin dulu mas… sama suami, anak-anak dan si mbak. pokoknya tuk rela dan direlakan deh… muthma’inah, cieee.. hehehe. -becanda- πŸ˜‰

lagian mas JM sihhh… ngaku ga lulus-lulus dari S2 TI – ITB.
itu memang terasa seperti pembunuhan karakter istri loh, merusak citra diri dan membuat kehilangan orientasi (naonn…??).
mas presiden kita itu kan sudah mencontohkan. kalau terjadi pembunuhan karakter, itu harus di tuntaskan dalam waktu sesingkat-singkatnya. kalau perlu lapor ke mabes polri, seperti persoalan dengan zainal ma’arif itu. halahh… kok malah ditambahin omelannya..
biariiinn.. πŸ˜›

mas JM mo ikutan ngomel? boleh dongg.. πŸ˜€

trus, tuk soal malaysia yang disinggung sama mas JM
hmm.. saya ga suka ah sama malaysia. katanya wanita tidak boleh berdandan tomboy ya disana? haduhhh mas, gini yaa… saya punya celana jeans, sengaja tuh kalau jalan di injek bawahnya, biar ada robek dikit gitu. pengen deh punya satu jeans yang bawahnya robek. sama suami sudah disuruh beli yang modelnya emang ada robekan di bawahnya. kan ada tuh.
yaaa, ga seruu… hidup kan perjuangan. butuh waktu lama loh buat robeknya alami. lah, masa sih ga boleh dipake dan di undang-undangkan pula?? padahal, saya tetap merasa wanita sejati kok biar ngejeans..
-loh? kok curhat?? πŸ˜›

saya ga mau tinggal di malaysia!
halahh.. siapa juga yang nyuruh?? hahahaha πŸ˜€
saya cinta indonesia!

tiba-tiba banggaaaaaaa sama pak Karno dan pak Hatta. saya bangga punya bapak bangsa kaya doi-doi.
jeniusss.. keren.. mereka bisa memerdekakan indonesia yang beragam ini. yang hari ini saja, saya bingung mikirinnya. πŸ™‚

@Anis
bahasan saya utk malesia ga sampe seglobal gitulah, cuman sampe UU ras dan etnis di bidang pendidikan doang

@mas JM
hehehe, itu cuma curhat kok mas
bukan anti malaysia..
hanya merasa ga kebayang aja tuk begitu πŸ™‚

lucu gokil hahahaa


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: