sex : godaan dan tanggungjawab

Posted on Oktober 30, 2008. Filed under: islam indie |

(sik-sik-sik.. kok rada bingung buat ngelanjutin tulisan tema ini yaa… hihihi 😛 )

dilanjutt..
hmm, hmm, hmm..

alkisah..
Yusuf ganteng nan rupawan. Julaeha cantik nan jelita. wah, semua tahu dong kisah ini. pokoknya, Yusuf tidak terganggu meski Juleha itu buka-bukaan dan menggoda imannya, secara sexual.
konon semua itu karena Yusuf inget pada Tuhannya.

nah, jiwa spiritual atau jiwa dimana ada kesadaran tentang tuhan, adalah jiwa dimana etika dan estetika menguat dengan sendirinya.

kesadaran tentang tuhan seperti seorang Yusuf, tentu bukan sekedar hafalan ayat-ayat, kutipan kisah-kisah atau ritual-ritual belaka.
kesadaran tentang tuhan adalah kesadaran tentang tanggungjawab.

ga percaya?
diurai dikit ya..
– sadar tentang tuhan sederhananya adalah berpikir bahwa kita ini ada yang menciptakan dan ada yang mematikannya. atau kausa prima itu.

– sadar tentang tuhan sederhananya adalah berpikir bahwa ada ubi ada talas, ada budi ada balas. semua perbuatan ada balasannya. balasan itu boleh bernama surga dan neraka, boleh bernama bahagia dan sengsara. pokoknya setiap perbuatan ada balasannya. termasuk yang bernama perhitungan dan kiamat sebagai kalkulasi perbuatan dan kebangkitan kesadaran.

– sadar tentang tuhan sederhananya adalah berpikir bahwa hidup adalah perjuangan. (duh, soetrisno bachir pisannn.. plis, saya bukan simpatisan PAN :P) maka ada godaan yang dia benama setan atau nafsu. dan dalam hidup semua inginnya kebaikan. semua ingin hidup baik. maka ada ilham dari malaikat melalui pikiran dan perasaan. gitu-gitu deh..

– sadar tentang tuhan sederhananya adalah juga berpikir tentang pengendalian diri. bahwa kita diajari melakukan ritual-ritual tertentu -sebut saja sholaat, puasa, zakat, dstnya- tuk pengendalian diri itu. sehingga kita merasa tenang dan senantiasa waspada pada kehidupan bak terawasi oleh tuhan.

semua diatas sederhananya dalam islam adalah apa yang kemudian dinamakan Rukun Iman, Islam dan Ihsan. saya percaya dalam agama-agama lain juga ada konsep kesadaran akan ketuhanan demikian, walau tentu bebeda bahasanya. seperti tentang terang kristus, tentang moksa dsbnya.

jadi..
pelajaran agama sekiranya adalah bentuk dari bagaimana memberdayakan jiwa spiritual itu.
tetapi, karena seringnya pelajaran agama yang ada selama ini hanya terbatas pada “pengetahuan” agama, maka pelajaran tersebut harus diiringi dengan pelajaran moral atau budi pekerti.

-setidaknya- saya bersyukur, dulu saya masih sempat mengenyam pendidikan moral pancasila (PMP) yang berisi tentang toleransi, gotong royong, menghormati yang tua dan menyayangi yang muda, sampai nasionalisme atau rasa kebangsaan dan kebanggaan sebagai bangsa.. dst-dstnya.

sehingga..
sekolah menjadi tak hanya institusi pendidikan keilmuan tapi juga menjadi institusi moral atau budi pekerti, bahkan lebih jauh menjadi institusi budaya dan kebangsaan.

dan terasahnya jiwa spiritual itulah -lewat pendidikan formal informal- yang kelak akan melahirkan manusia-manusia seperti Yusuf. yang kontrol kemanusiaan itu tumbuh di dalam jiwanya sendiri.

sehingga mau dunia jumpalitan di depannya, mau ada atau tidak guru di dekatnya, mau kelihatan atau tidak tuhan dimatanya, kontrol itu ada dengan sendirinya, karena dia ada didalam jiwa manusianya.

inilah sebetulnya konsep dari setiap diri adalah pemimpin. kontrol itu ada didalam manusianya sendiri.
kontrol yang kemudian kita rasakan sebagai wujud tanggungjawab.
bukan melulu di undang-undangkan. 😉

ketika kontrol diri itu sudah ada dalam setiap diri manusia, maka ia akan bisa mengedepankan kepentingan yang lebih besar. lalu, pada saat semua manusia bisa mengedepankan kepentingan yang lebih besar, maka disinilah terjalin apa yang dinamakan : kebersamaan. atau dalam islam itu bernama ukhuwwah.

selama manusia itu masih terpaku pada dirinya sendiri dan golongannya, maka akan sulit baginya tuk bisa mendahulukan kepentingan yang lebih besar, sulit tuk bersama yang lain bahkan sulit tuk berkorban bagi bangsa dan negaranya. kalaupun mau berkorban ya sebatas tuk kepentingan diri dan kelompoknya saja.

nah, jiwa spiritual yang terbina dan terlatih demikian, tentu akan meliputi semua aspek hidup , termasuk terkait instrumen manusia yang bernama sex.

gimana detailnya?
bersambung.. dongg

hihihi, jadi seru pake bersambung-sambungan ya? 😛

salam
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

2 Tanggapan to “sex : godaan dan tanggungjawab”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

perbedaan adalah salah satu kenyataan alam semesta alias takdir tuhan.
iman memudahkan menyadari dan menerima kenyataan, dengan atau tanpa alasan.
rasa syukur atas anugrah iman diekspresikan lewat ikhtiar2 membuat perbedaan menjadi indah dan menebar kebaikan2 bagi perbedaan2 tsb, bukan menghilangkannya atau malah mengingkarinya.

wuiiih… kayaknya saia lagi kumat ngawurnya nih 😕

@mas JM
terharu deh kalau mas JM lagi kumat begini.. 🙂


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: