sex : manusia indonesia

Posted on Oktober 30, 2008. Filed under: islam indie |

(huahhh… akhirnya sampe juga ke sini.. 🙂 )

dalam sebuah buku saya, dikatakan bahwa manusia indonesia -atau nusantara- ketika agama-agama berdatangan, terutama ketika islam datang, bukanlah manusia yang bar-bar.
bisa jadi saat itu tengah terjadi kemunduran peradaban, terkait jatuhnya kekuasaan -dalam hal ini majapahit dan beberapa kerajaan-kerajaan kecil di manapun di indonesia. maka, adalah salah jika memperlakukan manusia indonesia/nusantara hanya sebagai benda.

manusia indonesia memiliki jiwa dan spiritnya sendiri, terkait tanah, air dan udaranya.

semua suku di indonesia nyaris memiliki kearifan lokalnya tersendiri, sebagaimana manusia apapun di dunia ini.

maka banyak kritik terhadap agama -terutama agama monoties- yang dalam perjalanannya berpotensi mematikan budaya lokal. belum lagi dengan modernisasi. bahkan kemudian dengan militerisasi terkait pendudukan wilayah dsbnya.

terjadi culture shock sampai secara personal terjadi krisis identitas.

butuh proses panjang deh.
maka kemudian di era sekarang kita kenal dengan istilah sinkretisme yang dilawan dengan alasan pemurnian agamalah. atau santri dan abanganlah, dst-dstnya yang memilah-milah manusianya dalam proses tersebut.

padahal intinya cuma satu : jangan lupakan air, tanah, dan udara tempat manusia itu berpijak.
atau kerennya yang kita kenal dengan berbicaralah dalam bahasa kaumnya.

ini ga cuma persoalan bahasa secara verbal loh. tapi bahasa secara keseluruhan. kita tahu, bahasa sendiri ga cuma bahasa verbal. ada bahasa tubuh -maka kemudian ini ada tarian, ada upacara-upacara tertentu. lalu bahasa pergaulan -maka kita kenal setiap komunitas ada ciri dan istilah2/idiom2 tertentu dsbnya. lalu bahasa isyarat -yang kemudian kita bisa merasakan aura yang berbeda di setiap komunitas dan wilayah, dsb-dsbnya.

sehingga cara memperkenalkan rasa tuhan menjadi berbeda-beda dalam setiap komunitas tertentu.

sesuai bahasa kaumnya deh.. ekspresi islam di sumatera aja, beda dengan ekspresi islam di jawa loh.

karena itu sebuah proses yang panjang, yang kemudian membentuk peradaban di wilayah tertentu itu.
huahhh.. seru ya?? 😀

hidup ini ga ujug-ujug turun dari langit.

nah, terkait wilayah indonesia yang kepulauan, maka persatuan yang ada adalah kesadaran individu terkait wilayahnya tuk bersatu dan bersama dalam nama indonesia. Sumpah Pemuda itulah momentnya. dari sumpah pemuda sampai merdeka saja, perjalanan yang cukup panjang toh?
maka tuk negara dengan bentuk geografi, demografi bahkan topografi – yang gitu-gitu- seperti indonesia, memerlukan pendekatan yang khas. ga bisa disama ratakan dengan perlakuan kepada manusia di negara lain, dengan geografi, demografi, bahkan topografi yang berbeda dengan indonesia.

nah, sampai hari ini, saya masih melihat pendidikan dan pendekatan budaya sebagai satu-satunya jalan yang paling tepat tuk membentuk karakter bangsa indonesia. yang khas dan yang memiliki moralitasnya tersendiri. sebagaimana julukannya dari zaman dulu, bahwa indonesia adalah negara dengan perangai yang damai, baik dan santun, yang inilah yang harus terus dipelihara dan dikembangkan.

yang khas saja, contoh spesifik tuk agama islam ya, yakni : persoalan sunni syiah yang damai di indonesia.
ini bikin semua berdecak loh, terutama pengamat islam. hanya di indonesia nih, sunni syiah bisa berdampingan tanpa masalah berarti dalam kurun waktu sekian lama. kenapa? karena karakter dasar manusia indonesia yang memang damai. itulah kenapa dalam buku saya itu, dikatakan jangan menganggap manusia indonesia ini benda atau boneka yang bodoh. manusia indonesia ini dari cikal bakalnya sudah bagus. maka disinyalir gerakan islam wahabi-lah yang ingin merusak kedamaian di indonesia saat ini.

demikianlah singkatnya wawasan nusantara itu, halahh… 🙂

tuk yang seumuran dengan saya, yang masih menikmati penataran P4, tentu mengenal materi sifat-sifat dasar manusia indonesia terkait wawasan nusantara. maka cita-cita yang tertulis dari Pedoman Pengahayatan dan Pengamalan Pancasila itu adalah membangun manusia indonesia seutuhnya.
dalam islam ini namanya insan kamil.

insan kamil atau manusia indonesia seutuhnya itu bukan hanya yang beragama islam ya. sejatinya dalam apapun dan siapapun dia, jika dia indonesia maka dia sejati sebagai manusia indonesia yang memiliki karater unggul, memiliki ideologi dan pemahaman akan negerinya yang baik dan benar serta siap bersama siapa saja di dunia ini dalam mewujudkan kedamaian bagi kemanusiaan.

huahhh… semua itu tersirat di pembukaan UUD 45 tuh. aduh, ini seperti posting pelajaran P4 deh, maaf. hehehe. buat yang dulu dah ngelotok soal P4 ya lumayan deh buat mengenang-ngenang, buat yang ga ngalamin ya lumayan buat dinikmati ttg negerinya yaa… 😀

*

kembali ke topik, soal sex dan RUU anti pornografi di indonesia

ga bisa dipungkiri, kelemahan negara kita selama ini, terutama dalam kebijakan terkait pendidikan dan di tambah sikap yang korup dan cinta kebendaan, telah membuat negara kita luluh rantak semua persendiannya. membuat kita jauh dari cita-cita negeri kita sendiri.

ya begitulah. semua penjajahan selalu diawali dengan pembodohan.

seperti mengalami kemunduran peradaban yaa??

liat benda berbau sex, atau tayangan berbau porno, bawaannya kaya binatang. padahal, kita ini manusia toh?? 😉

maka tiba-tiba datanglah urgensi tuk membuat UU anti pornografi.

ada sebuah komen mas Dana di entah blog siapa, yang mungkin juga senafas dengan komen mas Budi, bahwa urgensi kita dalam hal pornografi lebih pada pentertiban peredaran barang porno itu. baik tuh gambar, vcd, dvd, dst-dstnya.

yang di sebagian orang -termasuk saya- merasa kalau untuk itu ya tinggal di maksimalkan pada penegakan hukum yang telah ada selama ini.

kemudian terhadap pasal-pasal tertentu yang berpotensi multitafsir, terkait kebebasan berekspresi yang kemudian juga akan menghambat bagi tumbuh kembang kebudayaan indonesia, apalagi dikaitkan pada agama tertentu -yang meski saya muslim, saya memilih tuk tidak menyetujui RAP tersebut.

saya mengedepankan kepentingan yang lebih besar deh. penolakan-penolakan yang ada juga sudah indikasi tuk dipikirkan lebih substansial lagi deh RUU itu. mari tempatkan segala sesuatunya sesuai tempatnya lagi, dan penuhi segala sesuatu sesuai haknya. jangan main paksa.

tolong perhatikan ya.
seperti saya singgung diatas, bahwa dalam sejarah perjalanannya –monoteisme, modenisasi, dan militerisme– berpotensi menghilangkan dan mematikan kebudayaan manusia setempat.

padahal kita semua tahu, budaya indonesia ini mahalnya minta ampun. malaysia saja, ga punya malu, ngaku-ngakuin budaya indonesia tercinta ini.

lah, apa kita akan turut menghilangkannya bahkan dilandasi hukum?
ok, ada pasal-pasal perkecualian, tapi sungguh, hanya manusia yang merdekalah yang mampu berkreasi dengan bertanggungjawab. bukan manusia yang dikukung dan dipasung.

selebihnya saya lebih menyetujui kalau persoalan ini lebih dijawab dengan pendekatan pendidikan dan budaya, bahkan pendekatan agama yang “berkarakter building”, yang menanamkan moralitas tinggi, yang sudah saya uraikan dirangkaian tulisan terkait sex ini.

buatlah manusia indonesia ini, dimanapun dan kapanpun dia berada, dia memiliki etika, estetika, kontrol dan tanggungjawab di dalam dirinya sendiri. sehingga, mau masuk dari perairan dan kepulauan mana saja suatu potensi yang negatif itu, manusia indonesia bisa menghadapinya dan bisa menfilternya dengan elegan.
cermin manusia terhormat,
cermin manusia beradab.

wah.. saya ngos-ngosan nih.. nulis rangkain ini.
saya paling ga kuat serius lama-lama..
😦

sudah ah, segini aja yaa..
ini ga diedit-edit.. yang penting lepas aja.
kalau ada salah-salah, koreksi deh.. jangan sungkan yaa..

eee… lupa…
saya mau ngebahas soal sex dan aliran sesat.
sedari tadi tulis-tulis ini, jadi inget itu..
masih bersambung deh..
boleh ya??
hehehe, terserah gimana yang punya blog kan???
😀

salam
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

6 Tanggapan to “sex : manusia indonesia”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

serius, kalo mau lebih ngos-ngosan lebih lama lagi.. harusnya judulnya:
saya memilih tuk tidak menyetujui RAP

makacyiiih…
(makin terheran-heran aja)

@mas JM
kadang emang cape gitu loh mas, ketika kita membicarakan hal yang kita lihat dengan nyata tapi orang lain enggan melihatnya.

yang saya tulis di atas kan bukan barang baru tuk kita semua di indonesia
saya ga merasa membahas sesuatu yang baru. wong itu sudah ada dari saya duduk di bangku SD menuju SMP. ketika sudah mulai belajar melihat sekitar selain di dalam rumah sendiri.. ketika sudah mulai belajar menghargai perbedaan sekitar dari di dalam rumah sendiri.. dan ketika belajar saling menghormati satu sama lain dalam semangat pertemanan yang seru..

tapi yaa… hehehe, ga tahu deh.
gitu loh yang bikin ngos-ngosannya mas.
ga heran lagi kan? 😉

@Anis
ah.. wanita memang suka tak peduli perasaan laki-laki

ya masih terheran-heran lah. keknya saia pernah heran berkali-kali deh, kok bisa yaa… apa yg di kepala saia dikopas disini (tanpa permisi lagi!). padahal keknya kita punya latarbelakang dan karakter yang jauuh… berbeda.
Au’ ah gelap. Skr gantian ketikan anis saia kopas aja dipostingan saia. Tanpa permisi dulu, hihihi…

@mas JM
itu yang namanya “nyambung” kali yaa mas?
SLJJ gitu.. sambungan langsung jarak jauh..
tapi apa coba bedanya telepati dan SLJJ? hehehe 😛

dan hebat tuh, kita “nyambung” tanpa melihat apapun latar belakang masing-masing. itu namanya Bhinneka Tunggal Ika, tan hana dharma mangrwa. berbeda-beda tetap satu jua, dan tak ada kebenaran yang diduakan. ciee.. 😉

oya, turut berduka tuk bude-nya ya mas..
salam buat keluarga semua.. 🙂

ehm..tampilan bahsanya ringan, lepas, lugas tapi isinya berbobot. mengedapankan akhlak, saya salut. Oh ya, terkait RUU pornografi saya menilai kok kita kesannya jadi mengkotakan diri ya. ada Blok yang mendukung dan ada blok yang menolak. saya heran padahal kalau mau di telaah lebih dalam kedua blok itu sama-sama menginginkan kebaikan untuk masyarakat pada umumnya. benar gak?kalau setiap blok menyadari kebenaran itu, saya yakin ada tidaknya RUU tbt semua sepakat zina dan segala thethek mbengeknya itu jelas tak beretika.Ayo sesama penyeru kedamaian kita dukung semangat persatuan dan kesatuan.Kalo mengedepankan cara pikir golongan, maka selamannya hanya yang segolongan saja yang akan mendukung.dan peranglah yang terjadi. Saya setuju kita (indonesia) adalah bangsa besar.

@tyo
makasih mas tyo..
mari kita sama-sama.. mau kan?
merdeka!


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: