kutipan : Altar di Ladang Rakyat

Posted on November 6, 2008. Filed under: islam indie |

saya suka kutipan ini. merasa sehati, sejiwa dalam rasa.
anis bangedddd deh..
dan menjadi sama esensinya seperti kata si mbak kemarin -yang saya ungkap di tulisan berjudul Berubah-, tentang “bertani lebih penting dari mengaji”

nyaris terasa letih saya menggugat tuhan. menggugat agama yang terlalu dipolitisir. selain saya mengkhawatirkan eksistensi dari institusi agama itu sendiri, rasanya juga letih melihat kehidupan beragama yang menjauh dari realita. tuhan terasa kaku dan tak mau tahu.

padahal wacana beragama sudah mengemukakan bahwa kerja adalah ibadah, makan adalah ibadah, bahkan tidurpun adalah ibadah. hidup adalah ibadah. tapi entah kenapa, terasa tetap tak afdhol jika tanpa ayat diselip disana-sini kali yaa..
ya, begitulah wajah dari era pencitraan… bungkus lebih penting dari isi. 😉

dan sudah lama loh, menyoal kesholehan sosial seperti ini digugat. dari karya Runtuhnya Surau Kami – AA Navis, hal ini sudah dikemukakan. tapi manusia memang sukanya berandai-andai dan terus berandai-andai dengan pikiran-pikirannya. hehehe.. mungkin – tak terkecuali saya.. 🙂

kemarin teman saya menyoal polemik seputar ayat-ayat qur’an dan hadist. saya sampai bilang padanya, mengapa harus begitu sulit dan terjebak dalam dalil-dalil? menurut saya, jika saja kita bisa dan mau hidup dg sejujur kehidupan yang ada, maka sesungguhnya kita akan paham semua itu kok. bukankah basic agama ini adalah iqra’? maka buat saya, kitabNya dan nabiNya adalah inspirasi dan motivasi, utuh dan tak terpisahkan. hidup dan terus berjalan.
walau beda rupa, beda masa dan tak harus selalu sama..

oya, konon ani-ani : alat tuk memotong padi di jawa, adalah hasil karya dari sunan Kalijogo. hehehe, sekelas wali memang menjawab tantangan yang ada dengan nyata yaa..
tak bersorban dan tak berjubah putih, cukup blangkon dan sorjan lurik sebagaimana rakyat kebanyakan. kerennn…! e, konon itu karena sunan Kalijogo asli Indonesia dan tidak demam arab. hahahaha.. maaf, becanda 😀

mari berubah dengan nyata
jangan ingkari fakta
yang sesungguhnya ada
membumi hidupku di nusantara

selamat menikmati
semoga menginspirasi

***

Altar di Ladang Rakyat
http://cetak.kompas.com

Jumat, 7 November 2008 | 00:58 WIB
Rikard Bagun

Altar dan mimbar yang selalu diagungkan di tempat yang tinggi telah diturunkan jauh ke bawah, ke ladang rakyat, ke tengah permukiman kumuh perkotaan dan lingkungan petani gurem di banyak negara Amerika Latin. Luar biasa!

Ayat-ayat suci pun dibahas dalam kesederhanaan bahasa rakyat di bawah pohon singkong, jagung, jeruk dan pisang, tidak jauh dari rumpun tomat dan sayur-sayuran sebagai tanaman kehidupan dalam arti sesungguhnya.

Percakapan tentang ayat suci, yang menjadi acuan utama dan pertama neososialisme Amerika Latin, semakin menggairahkan karena bersentuhan langsung dengan tanah sebagai ibu (motherland), ayah (fatherland), rumah (homeland), yang memiliki watak kesucian (holy land), sumber impian (dreamland), sumber nafkah yang sangat menjanjikan (promised land).

Ajaran agama benar-benar dibumikan. Namun, tantangan juga muncul karena tanah menjadi isu sensitif oleh struktur kepemilikan tidak adil seperti fenomen latifundista (kepemilikan tanah di atas 100 hektar), yang menjadi gejala umum di berbagai negara di Amerika Latin. Sekadar ilustrasi, 77 persen lahan Paraguay dikuasai hanya oleh 1 persen dari 6,5 juta penduduk.

Kontras dengan kehidupan para tuan tanah yang eksklusif, petani kecil dan gurem terus menghimpun diri dalam komunitas basis, berbincang tentang nasib dalam perspektif iman.

Tanpa harus menyebut neososialisme, anggota komunitas basis menjalankan prinsip kebersamaan, kepedulian, solidaritas, dan saling membantu, yang dalam budaya Indonesia disebut gotong royong.

Prinsip dasar, yang paralel dengan ajaran agama itu diikat kuat pada komitmen kegiatan harian pribadi dan kelompok pada lingkungan komunitas basis.

Spiritualitas keagamaan ditransformasikan menjadi praxis (refleksi dan praktik) sebagai pergulatan yang bersifat pragmatis untuk melawan kemelaratan dan kemiskinan.

Gerakan perlawanan terhadap kemiskinan dan kemelaratan pun dimulai dengan upaya memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, yang bagi masyarakat pedesaan tidak bisa lain harus melalui usaha menanam.

Pengaruhnya luar biasa. Anggota komunitas basis dapat menghasilkan sesuatu untuk dikonsumsi dan mengonsumsi apa yang dihasilkan. Kemandirian ekonomi pada level elementer pun terbentuk, yang bersinggungan langsung dengan peningkatan kesadaran iman pada kelompok alas rumput.

Orientasi yang begitu kuat pada tindakan, pragmatisme, dan praxis dalam kehidupan beragama di Amerika Latin membuat para agamawan meninggalkan retorika dan khotbah berpanjang-panjang. Ritual keagamaan di rumah-rumah ibadat berlangsung singkat, tetapi kuat menyapa kepentingan masyarakat.

Kecemasan tentang kemurnian ajaran agama tetap dianggap penting, tetapi lebih diperlukan lagi sensitivitas terhadap realitas kehidupan orang miskin dan menderita.

Lama sebelum terpilih menjadi presiden Paraguay tahun 2008 ini, Fernando Lugo pernah menggugat, mengapa kaum agamawan begitu cemas dengan ”rok mini”, tetapi tidak sensitif terhadap kemelaratan dan kemiskinan yang sangat menyiksa lahir batin rakyat.

Altar kurban

Ajaran agama telah menjadi sesuatu yang organik, hidup, dan dinamis dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di banyak negara Amerika Latin, lebih-lebih belakangan ini.

Sudah terlalu lama, bahkan sampai ratusan tahun, ayat-ayat suci cenderung dimanipulasi sebagai retorika yang hanya menimbulkan gaung besar dan keasyikan bagi pemuka agama, tetapi kurang memberi makna bagi kehidupan rakyat banyak.

Arus balik terjadi tahun 1960-an saat kalangan agamawan menyadari betapa makna kehidupan beragama akan terancam, hambar, dan terasing jika masyarakat terus dikepung oleh kemiskinan, kesenjangan sosial, dan ketidakadilan.

Perubahan kesadaran itu tidak datang tiba-tiba, tetapi sebagai antitesis terhadap situasi tertekan yang berlangsung puluhan tahun, bahkan ratusan tahun, sejak zaman kolonial.

Namun, perkembangan itu tidak bisa dibayangkan jika tidak dikelola para agen perubahan yang berada di garis depan gerakan Teologi Pembebasan sejak awal tahun 1970-an.

Teologi Pembebasan antara lain bertujuan menyadarkan masyarakat bagaimana melepaskan diri dari kemiskinan. Namun, gerakan itu sempat menimbulkan kecurigaan di kalangan elite dan penguasa pada era Perang Dingin, lebih-lebih karena gugatan terhadap kesenjangan sosial, ketimpangan ekonomi, dan kemiskinan.

Bahkan, terkenal ucapan Dom Helder Camara dari Brasil, ”Ketika saya memberi makanan kepada orang miskin, saya dianggap orang baik. Tetapi, saat saya mempersoalkan kenapa mereka miskin, saya dituduh komunis.”

Camara dan para agamawan lainnya tergerak turun ke bawah, menyatu dalam pola hidup sederhana dengan masyarakat miskin dan menderita. Sikap pembelaan dan pemihakan terhadap kaum miskin dan terpinggirkan begitu jelas dan nyata.

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

4 Tanggapan to “kutipan : Altar di Ladang Rakyat”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

bisa jadi sunah para wali diikuti oleh para penebar kebaikan dan kebenaran versi agama lain (non islam), tp — maaf, terus terang aja — metodologi dakwah merakyat ala para wali ini, tidak hanya dilupakan, tapi juga justru suka dipertentangkan oleh para juru dakwah islam sendiri di masa kini

@mas JM
hmm, buat saya mas..
dakwah itu.. (ciee..) tetap merupakan sentuhan tersendiri. sentuhannya pada hati.
boleh saja sekarang cara itu diperdebatkan, tapi buat saya justru itu unik dan berkesan. waktu baca ani-ani itu ciptaan sunan Kalijogo, rasanya luarbiasa deh.

secara saya mungkin kurang afdhol dalam beragama ya mas, ga tahu juga deh. hehehe.. saya suka pada hal-hal kecil dan sederhana. rasanya seperti sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. perlahan tapi mantap.. 😉

sederet pertanyaan, bahkan mungkin hujatan, akan bermunculan ketika melihat kehadiran agama di tengah masalah kemanusiaan, seperti kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, konflik, peperangan, ketertindasan, dsb. dst.

1. buat apa beragama jika hanya mengundang konflik, bahkan perang, di kalangan intern dan antar agama?
2. buat apa beragama jika tidak berdaya mengatasi masalah kemanusiaan? tidak mampu menggerakkan para pemeluk dan pemukanya.

pertanyaan lain bisa kita tambahkan dari kondisi ketimpangan pesan ajaran dan kenyataan di lapangan.

anda bisa berkilah: yang salah adalah pemeluknya, bukan agamanya. ajaran agama baik dan suci.

ya, tapi ajaran yang diimani baik dan suci itu ternyata tidak berdaya. tidak membumi, tidak fungsional. hanya indah dalam khotbah atau ceramah dan dalam lembaran tulisan para pemukanya.

john lenon pun menyindir dalam alunan lagu “imagine”. bayangkan indahnya kehidupan jika tanpa negara dan juga tanpa agama.

lenin pun teriak, agama hanya candu. yang meninabobokan kaum proletar untuk bermimpi tentang sorga di hari nanti. padahal para kapitalis menikmati sorga dunia. disini dan kini.

dalam sejarah kita saksikan ketika syarikat islam (si) terpecah antara “si merah” dan “si putih”. ternyata banyak kalangan islam yang ikut barisan “si merah”. diantara analisa tentang ini, karena “si merah” lebih bisa menawarkan konsep idoelogi (komunis) yang lebih konngkrit dan membumi. sadar akan hal ini, sampai sampai tokoh si putih pun (tjokroaminoto) menulis buku tentang sosialisme islam. buku yang berupaya untuk mengimbangi idoelogi komunis saat itu yang ternyata laku dipasaran ide yang terbuka sebagai pilihan.

jangan heran jika “kelompok sempalan” semacam mosadek, islam jama’ah, lia aminuddin dan sebagainya bisa laku di kalangan masyarakat islam sendiri. menarik untuk menyimak salah satu analisa terhadap fenomena ini, yaitu karena di kelompok semacam ini mereka merasa nyaman. solid dalam suasana persaudaraan dan lebih menjanjikan untuk keselamatan serta kelangsungan hidupnya. mereka seakan menemukan oase di tengah kehidupan yang invidualis, kompetitif, impersonal, kering, dan tidak lagi punya rasa solidaritas sosial. kita bisa merasakannya kalau tengah berkendaraan di jalanan.

mereka tidak lagi menemukannya di antara jamaah mesjid, mushala, majlis ta’lim, atau pengajian zikir. Hal ini sempat disindir almarhum kuntowijoyo, kalau mesjid sering kali telah menjadi semacam terminal/pasar. tempat lalu lalang orang yang tidak lagi saling mengenal.

dalam konteks inilah, saya kira kita diingatkan dengan hadist nabi: bahwa kefakiran mendekatkan pada kekafiran. fakir materi, fakir ilmu, fakir tokoh panutan, fakir rasa aman, fakir rasa nyaman dan fakir lainnya.

belum lagi kalau kita cerita tentang korupsi dan gaya hidup para petinggi pemuka agama atau partai yang mengusung nama islam. sangat ironis. jauh panggang dari api.

saya kira semua itu menjadi pe er dan bahan introspeksi bagi kita, yang mengaku beragama. agama apapun.

tak cukup beragama hanya dengan kesalehan individual, tapi harus diimbangi dan punya dampak pada pengembangan kesalehan sosial. bertaburan ayat al-quran dan hadis yang mewajibkan untuk menyantuni dan berbuat baik bagi sesama. dan Rasulullah menegaskan untuk mulai dari diri sendiri (ibda binafsik) tak perlu menunggu komando atau menunggu rombongan beramai ramai untuk berbuat sesuatu bagi perbaikan lingkungan kehidupan di sekitar kita.

seorang cendekiawan muslim pernah bilang (kalau tidak slah kang jalal), dalam islam tidak perlu menyusun konsep telogi pembebasan seperti bergaung di amerika latin (dan sekarang mulai menggeliat dengan model sosialismenya). dalam islam sudah jelas dan gamblang tentang perintah untuk beramal shalih (amal kemanusiaan) yang selalu digandengkan dengan keimanan. (lihat surat al-‘ashr, atau surat al-ma’un, surat favoritnya k.h. ahmad dahlan, pendiri muhammadiyah).

inti dari teologi pembebasan, dengan simpel diungkap ignas kleden, sebagai pandangan: panggilan bukan hanya untuk membebaska manusia dari dosa, tapi juga dari penyebab timbulnya dosa.

semua ini mengusik kita untuk menengok keberagamaan kita. untuk membumikan ajaran agama yang kita anut bagi amal usaha yang konkrit bagi kemanusiaan. sekecil apapun dan sesederhana apapun, sesuai kemampuan kita.

kedatangan nabi dan rasul dengan ajaran agama yang dibawanya adalah untuk menghadapi masalah kemanusian pada masanya.
ketika agama tidak lagi menghadapkan dirinya dan mandul untuk menghadapi masalah kemanusiaan, apalagi jika malah menjadi bagian dari masalah kemanusiaan, apakah masih berhak menyandang nama sebagai agama atau sebagai pemeluk agama?
orang yang tidak peduli lagi dengan masalah kemanusiaan, seperti kemiskinan (meskipun dia mengaku beriman), dalam quran surat al-ma’un, Allah menilainya sebagai pendusta agama.

Wallahu’alam.

wassalam

@rozan
makasih sharingnya mas.
kenapa ya kesholehan sosial selalu mengalami kebuntuan. padahal setiap agama yang hadir nyaris semua tuk memdobrak status quo yg ada yang membelenggu kebersamaan sosial. Sidharta Gautama jelas demikian, ketika melihat keadaan di luar istananya, maka beliau mencari jawabannya. Muhammad pun sama, Musa, Yesus, bahkan seorang Gandhi.. dstnya. mendobrak keadaan yang sering tak memihak kaum lemah.

e, lagi-lagi dalam sekian kurun tertentu, agama kembali terjebak tuk kepentingan segolongan orang saja. orang-orang yang merasa pantas menjadi tuhan di muka bumi.. dan menguasai mereka yang lemah. ah…
sejarah tak minta di ulang, tapi manusia selalu mengulang sejarah

maka terasa sekali, jika ada jeda sejenak, sesungguhnya realitas ini satu dan satu saja.. itu dan itu saja. kekal… 🙂


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: