ga mati-mati

Posted on November 7, 2008. Filed under: islam indie |

(di bagi yaa…)

hehehe.. konon katanya, ekseskusi Amrozi dan kawan-kawan tidak terjadi dini hari ini. banyak hal yang harus dipertimbangkan.

saya kok geli ya bacanya..

takutkah pemerintah menegakan keadilan pada para “Mujahid” itu?

secara kemanusiaan saya sih, ga kebayang hukuman mati itu. hiiii…
kok rasanya saya bukan tuhan, tuk boleh membunuhmu
tapi…..
melihat amrozi dkk dielu-elukan sebagai “mujahid” atau sekelas pahlawan perjuangan islam, maka ya membunuh mereka akan terasa konyol. mengesankan pemerintah seperti penjahat bagi mereka.

buat saya sih, mungkin sebaiknya dinyatakan dengan tegas bahwa merekalah yang bersalah.
secara kemanusiaan mereka juga telah menghilangkan nyawa banyak sipil yang tak berdosa. dalam hukum perang, itu salah sekali. belum lagi saat pemboman, Bali bukan daerah konflik.

hehehe, agak-agak konyol memang yaa…
pemerintah dan rakyat indonesia ga bisa bedain mana yang benar dan mana yang salah. terutama semua yang berbau agama, seolah benar.

ah, begitulah jika tuhan sudah dibawa-bawa…

jadi teringat sama teman saya..
dia mengikuti sebauh jamaah -sebut saja demikian-. bertahun-tahun, dia memendam masalah yang sebetulnya dalam kaca mata umum sudah melanggar syariat agama yang bahkan dia elu-elukan sendiri. tentu sebagai bagian dari jamaah itu, dia boleh dong minta ketegasan atas permasalahannya.

lah, tapi tetap saja toh. jamaah tidak bertanggungjawab tuk masalah pribadi yang notabene harus dia jalani sendiri.
mulai deh dia memiliki friksi dengan jamaahnya.
secara dia anaknya pendiam, maka dia hanya diam tapi neorotik. suka gemetar karena keletihan mengalami depresi sendiri.

bertemulah dia dengan saya, dan curhat masalahnya.
haduhhh… saya nih ya merdeka-merdeka saja.

maka dengan ringan saya mengusulkannya tuk keluar saja deh dari jamaah itu. demi kesehatan jiwanya sendiri, lalu coba deh pake pendekatan kemanusiaan tuk selesaikan masalahnya.
agaar sedikitnya ringan menjalani hidupnya..
karena sebagai yang setiap hari dipaksakan tuk bersyariat ria, sementara hidupnya sudah menjauhi syariat itu sendiri, maka ya.. kontradiktif deh hidupnya. bilang A tapi B, bilang B tapi A.

mau tahu apa jawabnya, ketika dengan ringan saya usulkan itu..?
– anis, tapi itu kan agama. gimana kalau nanti masuk neraka??
hah????

duh, kalau soal surga dan neraka mah jangan tanya saya ya. tanya saja pada dirinya sendiri. ya ga? bahagia atau sengsara sih dia menjalaninya? itukan hanya dia yang bisa mengukurnya. saya secara pribadi, ya hanya mengusulkan.
maka dengan sangat respek saya tidak tahu deh, bagaimana dia saja.
hehehe…

dalam hati saya, duh… sulit ya menjadi diri sendiri dan melawan “tuhan”..

waktu berlalu, saya lama tak bertemu dengannya. begitu ketemu, dia bilang gini..
– saya akhirnya keluar dari jamaah itu nis.
– oya? ga takut masuk neraka nih?
– selama disana, saya malah tidak bisa jernih selesaikan masalah saya..
– hmm..
– selama itu juga saya kebingungan.
– lah, masalahnya sendiri bagaimana?
– saya tahu ini mungkin salah secara syariat agama. tapi banyak problem disekitar saya, sehingga saya harus menusiawi menghadapinya..
– ooo, bagus deh…

hmm…
seharusnya -dalam konteks syariat- dia sudah cerai dari suaminya yang -ternyata- mengalami penyimpangan ‘psikologis’. tapi banyak masalah di sekitarnya, maka butuh banyak waktu tuk ini bisa diselesaikan semua masalah itu dengan sebaik-baiknya.

saya hanya mendukung apa yang terbaik baginya..

.

ah, Tuhan..
mengapa Engkau begitu sombong
kemanusiaan kami harus mati
ketika Kau hadir bagai tirani
dan kami selalu tak mampu melawan
ketika Kau ditunggangi nafsu dan kekhilafan
membuat kami hanya mampu menjalani
dengan setengah hati

seperti “mati” yang ga mati-mati

salam
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

10 Tanggapan to “ga mati-mati”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

Sekali kali
Perkenankanlah Tuhan
Kami menggugatMu
Agar tak beku rasa manusia ini.

bisa jadi selama ini saia pingsan total, baru taunya bbrp tahun lalu ibu saia crita ada bbbrp murid SMA di jokja terjerat ama jamaah2 kontradiktif gitu. Saya terheran2 n nyaris sulit mempercainya, krn SMA tsb favorit yg terkenal top markotop murid-muridnya. Pendek kata saia yakin mereka akan mudah memahami agama dg belajar sendiri pun tanpa harus terpaksa bertingkahlaku kontradiktif gitu. kok bisa ya?? πŸ˜•

Barulah setelah kenal blog bbrp bulan lalu, lama2 saia baru nyadar (dr pingsan) trend beginian nie rupanya udah banyak terjadi di mana2. Ah… kayaknya asik juga ya bikin jamaah yg nyleneh2 gitu, hihihi… :mrgreen:

lho menurut saya Tuhan asyik-asyik aza koq
justru dia lagi melihat dengan santai dan tenang, bagaimana kita-kita yang lagi belajar dan sok tahu ini, berproses. masing2 dari kita mempunyai sudut pandang berpikir sendiri2. masing2 dari kita juga punya keyakinan2 yang kuat. padahal pada saat bersamaan masing2 dari kita juga sama konyolnya dihadapan ilmunya Tuhan.
bedanya ada yang komen ala malaikat, bertanya dengan maksud kritis namun tetep taat. ada yang komen ala iblis, bertanya tapi dengan maksud membangkang.

bedanya manusia apa?

manusia itu harus menjadi objek yang dikomen. karena dia pelaku yang mewakili Tuhan di muka bumi.

mesti dipisahkan antara kebaikan berjama’ah dengan kasus jama’ah yang bermasalah.

dari fitrah dasar manusianya sendiri, soal berjamaah sudah tidak bisa dipungkiri. sesendiri-sendirinya kita, seindividualis2nya kita, selalu tergerak untuk membentuk komunitas, selalu secara alami akhirnya tergabung dengan sebuah kelompok.
seseorang yang atas nama tidak sepaham dari kelompok pun, ketika berada di luar kelompok akan merasakan kerinduan berkelompok. kemudian ia akan merasa senang ketika ada orang yang sepemikiran dan sefaham dengan dia.

secara memperjuangkan keyakinan dan idealisme, logikanya, juga akhirnya menunjuk kepada kebutuhan membentuk kelompok. agar bisa segala idealisme kita bisa diekspresikan kedalam alam nyata.

perkara sekarang ada jama’ah yang aneh2, itulah tantangan dan ujiannya. bagaimana kita bisa memilih dan menemukan jama’ah yang bisa menjadi sarana percepatan kita menemukan hakikat hidup dan bertemu sang pencipta.

@mas dana

yup.. tuhan
perkenankanlah..

@mas JM
wah, kemana aja mas?? banyak loh modelnya jamaah2 itu.. dan masih terus berkembang hingga kini.
virus kali?? hehehe, becanda:D
dari masuk islam -tahun 90- saya sudah diperingatkan. tapi ya saya ga ngerti yaa mas.. kejaring juga deh via mentoring karisma.

mas JM sudah sempat baca ini blum?
https://mualafmenggugat.wordpress.com/2008/06/12/ketika-saya-harfiah/

hehehe, begitulah mas. sekuat tenaga deh saya berusaha keluar dari penjara jiwa atas nama agama, perlahan-lahan dan satu demi satu. ciee.. πŸ˜€

@kang trend
sepertinya beda level nih..
secara saya hanya biasa-biasa saja dibanding kang trend πŸ˜‰

saya nih ya mengalir saja kang, pada dasarnya kita akan bertemu kok dengan orang-orang yang sejalan dan sehati dengan kita. terlebih jika kita jujur, dan konsisten pada kejujuran itu..
gitu ga sih?

Bedilnya kerendem hujan jadi mampet bu…

@mas datyo
walah.. apa tunggu kemarau ya, mas? men ga kelelep.. πŸ˜‰

aslinya ga aneh sih kita aja yang cuma tahu sedikit aliran/ pemahaman, seperti yang anis bilang berulang ulang, bhineka ga cuma di indonesia di Islam juga ada. yang kita belum pada biasa kan menyikapi perbedaan. kalo ada orang yang kesannya rigid (kaku) ya diterima saja kenyataaanya begitu ada yang permisive ya terima saja kalo sudah ke ranah kriminal kan ada yang ngurus

@mas Budi
yup.. maka sering kali saya pikir, sederhananya kita hanya butuh Toleransi Tingkat Tinggi deh mas Budi tuk menjalani kehidupan dalam keberagaman kita yang luarbiasa ini. hehehe.

itu yang harus selalu dibiasakan dan dipropagandakan..

dan sangat disayangkan, kenyataannya negara kita masih tidak bisa tegas soal hukum.
sehingga meski sudah masuk ke ranah kriminalpun, tetep saja pemerintah tak bisa diputuskan dengan mantap. sehingga semua terasa rancu terlebih buat yang awam. karena semua orang akan relatif selalu mencari cela tuk maksud dan tujuannya masing-masing..

coba tegaskan deh..
berbeda tapi binasa itu salah
berbeda tapi bahagia itu tujuan kita..
gimana?

secara penciptaan, Tuhan memang selalu memberikan alternatif yang banyak sekali untuk menjadi jalan bertemu denganNYA. sebagai yang Maha Kreatif, Tuhan disamping memberikan alternatif jalan yang banyak juga membuat semua pilihan itu dengan suasana pemahaman akan keyakinan yang beragam pula.
ada yang merasa yakin dengan hancur2an fisik, ada yang merasa yakin dengan kompromistis penuh, kompromistis 1/2 dst., ada yang merasa yakin dengan kesempurnaan ibadah yang super aman, ada yang… banyak lagi.
semua warna itu, –yang kadang kita suka sebagian dan ngga suka sebagiannya lagi– adalah karena Maha Kayanya Kehendak atau Pengennya Dia. saya pikir dalam pandangan Tuhan semua perbedaan pendapat itu semuanya dibutuhkan untuk menunjukkan kebenaran yang akan kita temukan nanti.
jadi menurut saya, soal kebebasan bukan soal berada di dalam jama’ah atau bukan. karena fungsi jama’ah (yang benar) bukan mengikat, kitalah sesungguhnya yang memberi warna jama’ah itu. merdeka adalah soal kemampuan jiwa melepaskan dari keterikatan dan keterbatasan.
karena kebebasan dari keterikatan memilik nilai perjuangan dari pada kebebasan dari tanpa ikatan.
sekali lagi ini adalah bagian dari ide Kreatif-Nya Tuhan yang memberikan kita banyak misteri dalam game-Nya. siapa yang benar kita semua belum tahu. gitu ngga sih…


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: