sia-sia

Posted on November 10, 2008. Filed under: islam indie |

(walau dalam hidup tak ada yang sia-sia… soal pasca ekseskusi Amrozi dkk nih..)

melihat respon masyarakat, terutama yang secara langsung terlihat di acara liputan seputar pemakaman jenazah Amrozi dkk, saya merasa tiba-tiba ada sesuatu yang terasa sia-sia.. -minimal tuk sesaat melihatnya-

lah, bagaimana tidak sia-sia?
mereka yang terpidana malah disambut bak “pahlawan”. bahkan disebut “Mujahid”.

jauh sebelum ekseskusi dijadwalkan, saya sudah terlibat diskusi dengan teman saya. kebetulan teman saya itu anti hukuman mati. menurutnya, apa kita harus sama seperti Amrozi dkk? yang dengan sengaja menghilangkan nyawa manusia?

hmm…
dulu, saya pernah mengulas soal mati.
bahwa secara prinsip mati itu memerlukan cara/jalannya. ada yang lewat sakit, celaka, musibah dsbnya. manusia punya kontribusi tuk tentukan caranya mati.

tidak jaga kesehatan lalu sakit, maka beresiko mati.
menebang hutan sembarangan, bikin banjir, juga beresiko mati.
termasuk berbuat kejahatan, harus di hukum, beresiko kena hukuman mati
selebihnya, banyak kematian yang diluar dugaan seperti kecelakaan -menurut kacamata kita-.

itu yang prinsip…

kemudian terkait persoalan Amrozi dkk.

secara pribadi saya merasa sangat tidak cukup bisa dan mampu tuk mewakili hak tuhan dalam menghilangkan nyawa manusia – ciptaanNya. karena saya mensyukuri apapun ciptaanNya.

persoalannya, kita tidak sedang santai dan bisa terus berandai-andai semoga hukuman mati dihilangkan saja dari negeri ini. ada fakta dan kenyataan aktual, bahwa baru terjadi sebuah eksekusi mati terhadap terpidana bom Bali.

sehingga, saya tidak mau terlalu mengedepankan harapan semoga hukuman mati itu ditiadakan.

karena apapun bentuk hukumannya, baik itu hukum mati atau seumur hidup, yang utama adalah kejelasan status terpidana di mata umum. bukan malah dianggap dan diperlakukan sebagai “pahlawan”.
sebagaimana yang berkembang di masyarakat dari eksekusi mati Amrozi dkk ini.

saya pikir, seharusnya pemerintah sebagai otoritas, bisa memberikan keterangan sejelas-jelasnya, kalau perlu didukung oleh pendapat-pendapat ulama karena ini terkait pemikiran tertentu dalam agama, tentang ketegasan status terpidana Bom Bali ini. baik di mata hukum negara maupun di mata hukum agama.

Jihad harfiah seperti perang itu, tetap memiliki kode etiknya tersendiri kok. dan itu dipraktekkan oleh Rasulullah. seperti menghindari sebanyak-banyaknya korban dari pihak sipil, memiliki lokasi perang tertentu, dst-dstnya. yang sejauh ini selaras dengan hukum perang di zaman modern ini.
apalagi dalam strategi perang sun tzu, hehehe 😀

dalam konteks Bom Bali..
pertama, korban yang dituju malahh warga sipil.
kedua, Bali bukan daerah konflik atau daerah perang.
sehingga jelas-jelas, jikapun peristiwa pengeboman itu disebut tuk jihad perang, itu sudah jauuhhhhhhh menyalahi kode etik jihad perang itu sendiri deh.

maka sebagaimana pengakuan Amrozi dkk, bahwa mereka memang yang melakukan pengeboman, ya jelas mereka adalah salah, dan telah melakukan tindak pembunuhan massal. dan -tolong catat- tidak tergolong jihad perang.

pemerintah dan ulama harus berani menegaskan duduk persoalan ini pada masyarakat umum. bukan malah membiarkannya berkembang liar dan malah dianggap sebagai “pahlawan”.

oke. masyarakat boleh bersimpati dan turut berkabung atas wafatnya Amrozi dkk. saya juga turut berduka cita kok setiap ada yang wafat. tapi tentu diringi semangat tuk tidak mengulang kejadian yang demikian lagi deh. ambil hikmahnya istilah kerennya mah.. 🙂

sungguh deh, saya agak-agak menyesali sikap pemerintah yang malah membiarkan opini terkait hal ini berkembang liar. alih-alih memberikan efek jera, malah memilitansi pemikiran Amrozi dkk. wong mereka malah dianggap dan diperlakukan sebagai “pahlawan”.

kenapa sih takut menyatakan mereka bersalah secara terbuka? termasuk menyatakan salah dalam kaca mata agama? karena mereka bawa-bawa nama Allah? lebih bersemangat melawan kezaliman menurut kasat mata mereka?
hehehe..

saya kok meyakini bahwa Allah itu maha rahman dan rahim.
jikapun ada mereka yang masih salah dan maksiat, tentu bukan dengan dibumi hanguskan toh? serulah mereka dengan cara yang maruf. ajak pada kebaikan dengan cara yang baik pula. bukan malah dibunuhin dongg..

saya lebih takut pada tuhan, tuk sikap yang membiarkan keadaan terbolak-balik. yang salah jadi benar, dan yang benar jadi salah.
toh, hidup memiliki mekanismenya sendiri, memiliki sunnatullahnya. ga mungkin matahari boleh terbit dari barat, itu sih “kiamat”..
kiamat yang diciptakan sendiri oleh manusianya.

pemerintah seharusnya berani dan memiliki kepentingan tuk menjelaskan keadaan yang sejatinya -minimal- tuk stabilitas negeri ini.
atau mau melulu memakai cara lama? dengan mengalihkan masalah?
sebut saja menghibur yang berduka dengan menurunkan harga BBM seharga 500 perak?
hehehe, cara demikian itu selalu menyisakan cela tuk dimanfaatkan pihak-pihak yang tidak puas atau yang bermaksud buruk atas keputusan terkait, dan terus memberi perlawanan.

memang hidup tidak akan bisa melulu satu kata, tapi sikap terbuka setidaknya bisa membuat semua pihak mau mengerti keadaan.

kehidupan kita memang sudah terlalu meletihkan ya. membuat sebagian besar rakyat tak lagi mampu bersabar, sehingga mudah diprovokasi. termasuk tuk mengikuti pemikiran-pemikiran garis keras demikian.

saya yakin, kalau saja presiden indonesia bisa dan mau tuk terus berbicara pada rakyatnya, mengayomi, mengajari, memberitahu, mendampingi termasuk memobilisasi tuk kemudian secara konsisten dan terbuka bersama mencari banyak solusi tuk kebangkitan negeri ini, pemikiran-pemikiran ekstrim seperti Amrozi dkk begitu bisa diminimalis..

saya yakin sekali itu..

kita hari ini adalah bangsa tanpa kepala
centang perentang ga karu-karuan

memang hidup ga ada yang sia-sia.
semoga hal ini bisa menjadi pembelajaran yang nyata
dan sederhana tuk dipahami banyak pihak
tentang negeri yang butuh otak
bukan negeri sejuta citra
nan sia-sia

salam
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

12 Tanggapan to “sia-sia”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

cannot agree more than this. 😉

Terimakasih mb anis telah mewakili unek2 saya paska eksekusi para teroris tersebut.

ya aslinya pemerintah ga bisa disesali mungkin karena tangannya terikat pada pasal “freedom of speech” kebebasan bicara. Mungkin karena over expose sama media sehingga opini publik terbentuk, liat aja 3 minggu ini TV one dan metro TV habis-habisan meliput padahal ga penting kan , juga jarak antara vonis dengan eksekusi terlalu lama juga dibanding dengan dukun usep atau tibo, sehingga makin banyak image terbentuk. cape dehhh
Yang perlu diliput oleh media itu seperti korban bom mariott, kedutaan australia , sekarang anak2nya korban meninggal siapa yang biayain sekolahnya seperti kata beliau bertiga bilang kalo orang Islam meninggal menjadi korban bom masuk surga tapi kan anak mereka yang hidup mah perlu sekolah-perlu makan …ngga perlu surga sekarang

@agiek
wah, sehati dong kita mas..
ini juga sekedar mengeluarkan rasa hati.. 🙂

@mas budi
media mungkin menghadirkannya terlalu berlebihan. tapi itu sah-sah saja kok mas.
dan sah-sah juga, kalau otoritas mau memberikan pernyataan2 dari pihaknya.
kita ‘perang wacana’ aja..
dan jangan takut..

soal kepedulian pada korban pengeboman. sama aja.. kalau saja pemerintah care, menyatakan keprihatinannya secara terbuka, tentu juga akan berubah suasananya..

kenapa takut tuk berbicara kalau anda sekelas pemerintah? negara tetap harus diarahkan toh?
memang sudah bukan masanya serba di belenggu, tapi kemerdekaan juga tetap harus diiringi dengan tanggungjawab. bagaimana tuk bertanggungjawab? ya diarahkan.. diajari..

saya ga mau seperti pak harto ya yang menggunakan istrilah “bereskan”. dan dibiarkan pada masing-masing orang tuk mengintepretasikannya sendiri. cukup arahkan, beri statement yang jelas. pemerintah toh terdiri dari banyak mereka yang lebih terpelajar. rakyat emosi ya harus di tenangkan dongg..
gitu ga sih?

speak up deh. buatlah dirimu ada dan terasa.

tuhkan kamu bisa.
dan tidak sia2 kok 🙂

*make ur own coding`

dari tulisan mba anis: saya lebih takut pada tuhan, tuk sikap yang membiarkan keadaan terbolak-balik. yang salah jadi benar, dan yang benar jadi salah.
>>>
saya lebih takut sama mba anis yang tidak sabar melalui keanehan yang sementara hadir. dimana keanehan itu justru kreativitas Tuhan yang sekarang masih misteri.
bukan apa2 lho mba, saya pertama masuk ke sini yang saya pelajari respon yang santai dari mba anis yang lugas dan tidak memvonis. dan saya pikir itu bagus untuk diterapkan kepada semua pihak yang berbeda-beda pendapat itu. sehingga fungsi negara kesatuan yang mengayomi semua warganya semakin mudah terjadi.
saya bukan ingin membela amrozi cs lho… tapi saya ingin kearifan kita muncul ketika melihat kasus itu ada sebagai cara belajar menjadi bangsa yang sangat toleran. rasanya ini bahasa mba anis juga. itu artinya, kepada pihak yang merusakpun kita bisa bersikap toleran. karena merekapun bagian dari diri kita yang harus dibenahi.
terus terang, mba… saya banyak belajar bersikap santai dan sangat toleran dari blog mba anis ini. mohon maaf kalau komentar saya ngga pas. namanya juga lagi belajar.
gitu khan mba…???

@tren di bandung
“saya lebih takut sama mba anis yang tidak sabar melalui keanehan yang sementara hadir”

Iya saya juga merasakan hal yang sama…smoga ini hanya pikiran2ku sesaat.

@kang trend
@Aditya – Merauke

wo wo wo..
kok malah jadi mengkhawatirkan saya nih? 😀
saya biasa saja kok.
pada dasarnya orang indonesia itu gampang lupa. jadi kalau sesuatu hal dibiarkan saja, juga ntar lupa.
tapi… resikonya ya kondisinya juga akan gini-gini aja. ya kan?
karena hidupkan sebab akibat, kau terlantarkan ya terlantar. kau urus ya terurus. simpel deh.

lantas dimana kesabaran itu?
jelas sabar itu bukan nrimo ya. sabar itu progressif. islam sendiri agama yang dinamis, manusia itu dinamis. bukan makhluk stagnan.

maka sabar dalam mengurus itu lebih baik dan utama dari sabar dalam menelantarkan.. agar terurus dan bukan dilupakan karena ditelantarkan.

persoalannya, indonesia terbiasa diem aja sih. masyarakatnya pasif. plegmatis. ya terserah. indonesia ga cuma saya toh?

hmm, please.. saya berterimakasih jika memang bisa turut menginspirasi semua disini. menginspirasi sikap damai dan toleran. tapi saya tetap manusia biasa seperti juga semua di sini. jangan terlalu banyak berharap pada saya, termasuk berharap saya akan baik dan manis selalu. hehehe.. maaf.

mari kita belajar tuk tidak mengkultuskan manusia.
tuk tidak berharap terlalu banyak pada manusia, apalagi hanya yang sekelas saya. mari kita mandiri. rong-rongan yang selalu berharap agar seorang manusia itu harus sempurna, adalah hal yang mengurangi kemanusiaan itu sendiri.
maka maaf ya, di titik-titik tertentu islam sendiri tampil keras dan tegas. bukan apa-apa, ya begitulah hidup. mengalir tapi harus tetap diarahkan, mensemesta tapi tetap harus diskalakan.

nah, dalam skala-skala tertentu, ada hal-hal yang tetap harus ditegaskan. demi cita-cita kemajuan itu sendiri. sederhananya begitu. selebihnya, ya tergantung respon diluar kita. maka kemudian ada istilah kalah atau menang. bahkan ada istilah kemenangan yang tertunda.

hidup adalah usaha.. hidup adalah perjuangan
hidup bahkan seperti layang-layang
harus bisa tarik ulur agar tak lepas dan menghilang

salam
anis

Dalam kaca mata netral, pemerintah sudah ‘kalah’.
dengan dihukumnya amrozi cs, yang tujuan awalnya adalah untuk menghukum, memberikan efek jera, menunjukkan kesalahan, sekarang malah memberi kesan mereka sebagai ‘pahlawan’.
Amrozi-isme jadi semakin menguat dan berani terbuka.
Hukuman Amrozi cs bukannya membuat pelajaran, tapi malah menjadi ajang promosi gratis yang efektif. Hukuman yang sia-sia.

Ya !!!
pada titik-titik tertentu islam sendiri tampil keras dan tegas!

Ya !!!
pada titik-titik tertentu islam sendiri HARUS tampil keras dan tegas!

Hey, ini malah kesannya ingin menunjukkan sesuatu yang baik, tapi… malah buruk menurut pandangan orang lain…

Bukan soal apa yang Amrozi cs perbuat, bukan pula pemerintah…

Mereka ingin menunjukkan sesuatu yang baik dimata mereka, tapi… mereka tidak sadar, didunia ini ada banyak sudut pandang mengenai apa yang mereka perbuat. Apalagi, ini negara multi.

Ya, ini mungkin efect bila kita, tidak pernah merasa dalam satu pikirin, satu visi dalam menanggung beban tanggung jawab untuk kemajuan negeri bersama2x.

Coba mereka sadar akan fungsi dan tempat mereka masing2x secara ikhlas, Mungkin dunia ini tak pernah ada selisih.

semoga Arwah mereka diterima di SisiNya.


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: