rasa kebangsaan itu (1) : dua sisi dia

Posted on November 14, 2008. Filed under: islam indie |

(di lepas yaa… demi inspirasi yang tak boleh henti, tuk jiwa-jiwa terus yang mencari. demi bahagia dunia dan akhiratnya. nyata diraga dan hatinya..)

membaca komentar semua di tulisan saya yang berjudul “Jangan Main-Main dengan Tuhan”, dari yang komennya kaget dengan tulisan yang seperti testing water itu, bernuansa negatif dan politik.. sampai yang komennya sulit tuk menerima saya –sebagai sebuah pribadi– tuk berpihak, setelah sekian lama saya sangat toleran dan siap bersama siapa saja..

hehehe, makasih yaa.. πŸ˜€

hal tersebut diatas, mengingatkan saya pada rasanya Muhammad…

sebagaimana kita tahu.. ketika beliau di Mekkah, islam tampak sangat toleran dan sangat mendalam di persoalan ketuhanan dan kemanusiaan. ayat-ayat turun disana, terasa lebih universal dan meraih semua kalangan. lalu berbeda ketika sudah di Medinah. beliau tampak mulai berpihak, dalam hal ini berpihak penuh pada kaum muslimin.

bahkan dalam keberpihakan itu, beliau harus berhadapan dengan semua yang berbeda termasuk dari ajaran-ajaran agama sebelumnya — yang seharusnya menjadi kontinuitas dari apa yang di istilahkan sebagai agama langit. walau disinyalir telah terjadi penyimpangan terhadap ajaran agama sebelumnya itu. Muhammad tak lagi meraih, malah berhadap2an tuk memenangkan apa-apa yang menjadi kepentingan bersama di tempat itu, saat itu, dan kondisi/konteks itu..

tentu Muhammad melakukan itu tanpa memanipulasi keadaan ya..
meski terkait ‘agama baru’ yang dibawakannya, tapi Muhammad tetap obyektif pada kondisi yang ada. sejarah membuktikan, yang konon tengah terjadi kemunduran peradaban yang luarbiasa buruknya. maka dijuluki zaman jahiliyyah.

maka saya bisa mengerti keberpihakan Muhammad itu sesungguhnya sangat tidak mudah…

teman saya yang non muslim, juga bisa turut merasakan kemungkinan kondisi yang sangat menyebalkan dari umat-umat lainnya di zaman Muhammad itu. terkait pada kondisi obyektif dari sejarah, bahwa –sebut saja– kristen sendiri mengalami kemunduran peradaban setelah berselingkuh dengan kekuasaan. bisa ditonton di film “Kingdom Of Heaven” itu deh..
walau disini, teman saya yang non muslim tetap tidak bisa mengimani Muhammad sebagai mesias setelah Yesus. karena ini sudah terkait kesadaran dan keyakinan personal yaa.. tapi minimal dia bisa turut mengerti konteks Muhammad waktu itu.

nah… saat ini, saya pribadi juga merasa harus mulai berani berpihak..
disetujui atau tidak, saya harus.. hehehe.. πŸ™‚

walau saya tahu, ini rasanya bak makan buah simalakama. paitt… apalagi di kondisi politik negeri ini. pilihannya semua beresiko tinggi. bahkan memilih satu selalu berarti harus mengorbankan yang lain.

maka memilih adalah keniscayaan..

dan pilihan saya adalah menjadi Nasionalis tanpa embel-embel.
saya memilih Indonesia jaya dengan dasar negaranya Pancasila dan UUD 45 serta semboyannya Bhinneka Tunggal Ika.
tanpa opsi lain diantaranya…
tanpa agenda lain di dalamnya..
dan jujur memandang kondisi obyektif di realitasnya

kenapa?

karena saya adalah Indonesia
Muhammad adalah ‘hanya’ mendalam sebagai kesadaran personal saya.
selebihnya, saya telah menterjemahkan konteks Muhammad dengan konteks saya hari ini. dalam bahasa dan citra rasa indonesia saya

lah, kenapa tidak milih partai islam?
hahaha… jawab saya pasti : tidak!

saya bukan apa agama saya. saya adalah bagaimana agama saya.

kesadaran saya bersama dan bernegara adalah sudah merupakan bagian dari kesadaran saya beragama. bukan lagi kesadaran saya beragama adalah bagian dari kesadaran saya bersama dan bernegara, sehingga agama harus saya bawa-bawa di ruang publik.
hehehe.. tidak lagi begitu deh. agama itu sudah menjadi in sajalah dalam diri ini, selebihnya adalah bagaimana menjawab realitas sebaik-baik seorang yang bersama semua yang berbeda dalam bernegara.

saya sudah ga butuh semua identitas personal itu tuk dikedepankan di ruang publik indonesia. sekalipun saya tetap menjalankan syariat Muhammad, saya bukanlah umat di zaman Muhammad. saya adalah umatnya dimasa kini, di indonesia ini dan di kondisi saat ini. termasuk dikondisi ‘islam’ telah dipolitisasi habis-habisan hanya tuk kekuasaan.

nah, karenanya maka wajarlah, sebagai indonesia saya siap bersama semua yang beragam didalam indonesia, dari mereka yang preman sampai mereka yang bangsawan..
dan wajar juga jika sebagai indonesia saya siap melawan segala upaya tuk memecah belah indonesia. sekalipun itu mengatasnamakan agama.

walau hanya sebatas wacana saya disini..
tentu saya juga tetap akan berbicara yang sama, dimana saja.

hidup akhirnya harus memilih
demi keadaan beralih
hidup akhirnya harus berpihak
meski pahit tak terelak

lalu perhatikan ini deh..
kenapa sih nasionalisme atau rasa kebangsaan kita (negeri ini) sering mencipta cela? menjadi mentah dan melempem melulu? membuat mereka yang memiliki agenda lain selalu bisa memanfaatkan dan selalu menyusup diantaranya?

bersambung yaa..

temui di tulisan Rasa Kebangsaan itu (2) : Dua Sisi Kita, setelah tulisan ini..

salam
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

2 Tanggapan to “rasa kebangsaan itu (1) : dua sisi dia”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

betul, banyak sekali yang harus kita terjemahkan dari apa yang disampaikan dalam kehidupan Muhammad. beliau sampai menangis ketika harus meninggalkan dunia ini dan tidak bisa mendampingi terus sampai ke zaman kita saat ini. karena beliau sudah menduga akan banyak penafsiran sejarah hidup beliau.

dan memang diperlukan penafsiran yang jeli dari sebuah tesis tentang cara menjalani hidup ini. saya pikir, salah satunya apa yang dilakukan mba anis ini.

dan sekarang kita memainkan peran beliau sesuai dengan apa yang kita yakini masing2. dengan episode yang kita jalani masing2. bahkan dengan memposisikan beliau ditempatnya masing2.

Muhammad punya cita rasa kebangsaan yang tinggi. beliau selalu berharap Makkah menjadi kota yang baik. beliau perjuangkan mati-matian agar tetap menjadi tempat yang indah untuk hidup siapa saja.

Ayo maju maju…ayo maju…maju…! untuk negeri tercinta.

Keberanian yang cerdas bagai gunung api, benih yang lemah tidak bisa tumbuh di dalam kawahnya.(Syaidina Ali ra)


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: