rasa Kebangsaan itu (2) : dua sisi kita

Posted on November 14, 2008. Filed under: islam indie |

(diteruskan ya…)

kenapa sih rasa kebangsaan di negeri ini terasa gersang dan kalah oleh zaman?
bangsa ini tak berjaya meski sudah 63 tahun merdeka. bangsa ini tak bertahan diterjang globalisasi dan neo imperialisme kapitalis. bangsa ini bahkan mau mengganti ideologinya hanya merasa tak mampu menjadi diri sendiri..

higs..
maka yukk, kenali baik-baik rasa ini..

*

saya yang wni keturunan, saya yang mantan katolik, saya yang masuk islam, saya yang menikah dengan lelaki jawa, saya yang masuk dalam pluralitas sejati negeri ini..
saya tak pernah keluar negeri, saya hanya di sini-sini saja.. saya tak memiliki rasa lain, selain rasa dari tumbuh kembang sebagai indonesia..

hmm, mau tahu apa persisnya yang saya dapat dari perjalanan menyelami pluralitas di keindonesiaan saya itu?
ternyata……
saya lebih banyak mengenali kelebihan dan kekurangan diri saya selama semua itu saya jalani. walau di satu sisi, sayapun menghafal kelebihan dan kelemahan semua diluar saya, termasuk lelaki disamping saya, tapi sesungguhnya saya lebih banyak belajar mengenali diri saya sendiri

yang akhirnya membuat saya bener-bener mengenali tuhan.
yang –maaf– sangat tidak sengaja…

berjalan bersama perbedaan yang begitu nyata, membuat saya tak mengkhianati setiap detail perbedaan itu. sehingga, saya tiba-tiba bersyukur dengan diciptakannya perbedaan ini..

tapi tentu tidak berhenti sampai disitu…

setelah mengenali kelebihan dan kekurangan, membuat saya harus bisa mensinergikan diri dengan orang-orang diluar saya. karena toh, saya bukan manusia yang sendirian di muka bumi ini. bahkan selama hidup ini kerjanya hanyalah bagaimana bersinergi dengan yang lain, dalam hal lain-lain, tuk bersama dalam keberagaman dengan yang lain-lain..

nah, perhatikan ini..
kadang kita sesumbar tentang kebhinnekaan kita. tapi kita tetap saja saling melemahkan langkah. atas nama kebebasan atau ego semata? membuat bhinneka tak bersinergi, membuat bhinneka tak bisa tunggal ika..

ini terjadi dalam proses kita bersinergi dengan yang lain, yang berbeda itu.
terkadang kita menterjemahkan perbedaan hanya tuk mendeskriditkan orang lain yang berbeda. perbedaan membuat kita menuding, meremehkan dan mendiamkan diri di dalamnya. bahkan kadang malah membuat kita mengantungkan diri pada perbedaan itu. kita mau dengan lebihnya tapi ga mau dengan kekurangannya.
membuat langkah yang seharusnya maju, malah henti di tengah jalan.

karena perbedaan tak bener-bener membuat kita mengenali kelebihan dan kekurangan kita. tak bener-bener membuat kita mau bersinergi dengan apa adanya.

contohnya : UUAP itu deh.
bayangkan saja, kita mau dengan kekayaan papua, tapi kita khianati kenyataan budayanya. atau kita mau dengan devisa Bali, tapi kita juga khianati kenyataan Bali dengan wisata pantainya dan budayanya nan eksotis.
oke, dalam UU itu ada pasal-pasal perkecualian. tapi disana sudah nampak sekat yang tak mau tuk benar-benar apa adanya. hanya karena merasa lebih bermoral dari saudara-saudara di papua dan bali?

dalam kelebihan moral, tentu bukan tuk mendeskriditkan yang lain. maka kalau kegalauan lebih pada distribusi barang-barang berbau porno, rasanya ga perlu sampai diturunkan pasal-pasal polisi moral.

atau contoh lain.
mau keturunan cina yang lakukan kegiatan ekonomi, demi pribumi di birokrasi. tapi tak benar-benar mau menerima kenyataan bagaimana keturunan cina itu ada dalam sejarah bangsa ini. kalau ada apa-apa lagi-lagi mereka dikambing hitamkan.

dalam kelebihan sebagai sang empunya negeri yang duduk di kursi-kursi birokrasi selayaknya bisa membuat ini harmoni. sebut saja cina di ekonomi, sebagian di tani, sebagian di nelayan, sebagian di industri, dst-dstnya saling mengisi dan berbagi.

itulah sejatinya sinergi..

sejujurnya, saya pernah mengalami hambatan serius dalam menjalani kebhinnekaan hidup saya yang nyata itu. ketika beda malah tuk mendeskriditkan, ketika beda malah tuk mempertajam gab yang wajar terjadi karena kebhinnekaan itu. maka opsinya ya mendekati bubar. baik bubar agama maupun bubar dari bersama..

itulah bhinneka. yang adalah wajar adanya. bukan tuk menjadi malaikat yang terus hanya bisa menerima perbedaan. juga bukan jadi iblis tuk terus memaksa menyeragamkannya. tapi tuk jadi manusia tuk bersama saling mengisi dalam kelebihan dan kekurangan dari perbedaan yang ada. maka bhinneka tetap boleh ada, dan tunggal ika

konon Muhammad itu pernah meminta tuk samakan saja hidup ini, ketika begitu resah dan sedih hatinya melihat mengapa begitu sulit manusia tuk bersama dalam berbeda. Muhammad begitu khawatir sehingga ingin semua sama dan seragam saja. nabi-nabi sebelumnya juga pernah. Ayub meratap, Nuh memohon, Ibrahim bahkan meminta dibunuh saja yang berbeda dan buruk adatnya.

tapi tuhan tak pernah mau mengabulkannya..
karena berbeda membuatmu bisa mengenaliNya..

dalam skala tertentu, itu juga tuk mengenali rasa kebangsaanmu dari yang lainnya. sehingga nasionalisme adalah harga mati tuk sebuah negara.

dalam skala saya pribadi, saya mengenali diri saya sendiri tuk bisa bersama semua diluar diri saya dengan baik. dalam skala saya sebagai yang beragama islam, membuat saya mengenali dengan obyektif agama saya tuk bisa bersama para pemeluk agama lainnya dengan harmoni. dalam skala saya sebagai penduduk pulau jawa, membuat saya mengenali lebih kurangnya jawa tuk bisa bersinergi dengan lebih dan kurangnya semua saudara-saudara di luar jawa, bahkan sampai ke papua. saya tak akan mengkhanati mereka meski saya hidup di jawa. tanpa mereka, jawa juga tidak akan begini adanya.
dan tentu sebagai sebuah bangsa, saya mengenali dengan baik rasa kebangsaan saya tuk berdiri sejajar sebagai sebuah bangsa dan turut menentukan peran negara saya di kancah internasional itu. tentu dengan obyektif dalam kelebihan dan kekurangan negara saya.

maka siapa bilang indonesia tidak bisa jaya?
kalau saja bhinnekanya bisa dikenali baik-baik dan sinergi dengan harmoni. bukan melulu ribut, melemahkan langkah masing-masing dan bak “menjajah” saudara-saudara di pulau lain, apalagi tuk menyeragamkannya…

Soeharto pernah menyeragamkan Indonesia. akui sajalah itu. sepintas kompak dan bahagia. tapi jujur, disisi lain banyak hal dikebiri oleh Soeharto, demi kita bisa terus seragam. mau tak mau, kekuasaan memang memiliki kekuatan tuk mengkebiri apa saja yang sedikitnya tak mau sama dengan kekuasaan itu.

nah, apakah hari ini, kita masih inginkan keseragaman seperti Soeharto waktu itu?
atau kita ingin benar-benar Bhinneka Tunggal Ika?

kalau memang ingin benar-benar Bhinneka Tunggal Ika, ya belajarlah mengenali diri sendiri. perbedaan jangan digunakan tuk mendeskriditkan. perbedaan jangan hanya mau baiknya tapi ga mau dengan kurangnya. dan maka jangan melulu saling melemahkan langkah masing-masing.
yukk bersinergi…
atau bubar saja negeri ini..

mengerti kan mengapa sekian tahun merdeka, selalu saja ada cela tuk mereka menyusup diantara kita? baik dari usaha berideologikan lain, sampai usaha mencuri kekayaan kita, bahkan juga sampai dijajah oleh nafsu sebagian dari kita juga.

semua karena kita tak bener-bener mengerti mengapa harus Bhinneka. semua karena kita tak benar-benar tahu bagaimana tuk Tunggal Ika..

dan pilihan saya adalah menjadi Nasionalis tanpa embel-embel.
saya memilih Indonesia jaya dengan dasar negaranya Pancasila dan UUD 45 serta semboyannya Bhinneka Tunggal Ika.

*

saya sudah siap tuk berbeda dan bersinergi
saya sudah siap tuk bhinneka dan bertunggal ika
karena saya sudah kenali siapa diri saya
maka izinkan saya saling mengenali siapa diri anda
dan kita saling mengisi lebih dan kurang kita masing-masing
kemudian berjaya bersama sebagai Indonesia apa adanya..

*

Muhammad adalah inspirasi dalam kesadaran personal saya. secara saya telah memilih menjadi umatnya. tapi saya juga –jujur– harus mau menerima kenyataan tentang banyak sekali upaya mempolitisasi islam –agama Muhammad ini.
ga cuma di indonesia bahkan nyaris dimana saja. membuat islam menjadi dualisme diantara cerita tentang kejayaannya dan di kenyataannya hari ini.

saya mulai mengerti mengapa. mau tahu?

— bersambung yaa..

dalam tulisan Rasa Kebangsaan itu (3) : Politisasi Islam. setelah tulisan ini..

salam
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

6 Tanggapan to “rasa Kebangsaan itu (2) : dua sisi kita”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

dari dulu aku tak mempercayai kalo di Indonesia ini ada WNI Keturunan, kalo aku percaya berarti aku juga WNI Keturunan dong dari Yunan Selatan?

Eh…ditunggu ya sambungannya hehehehe
“…ga cuma di indonesia bahkan nyaris dimana saja. membuat islam menjadi dualisme diantara cerita tentang kejayaannya dan di kenyataannya hari ini.
saya mulai mengerti mengapa. MAU TAHU?”.

http://WWW…Horas !!!

kadang saya bingung apa dan ke mana mau dibawa bhinneka tunggal ika oleh bangsa ini…. tapi secara pribadi saya setuju kalau setiap individu di negara ini bisa menghargai perbedaan dan memandang perbedaan itu sebagai sebuah cara untuk memperkokoh persatuan

Apakah “rasa kebangsaan” itu esensinya sama seperti yang disampaikan Muhammad SAW ketika berbicara soal piagam madinah. sudut pandang ini menarik dan harus ditelusuri untuk mendudukkan posisi Islam dengan tepat (diatas dan tidak bisa diatasi). dimana pemahaman itu membawa kondisi:
1. bersatunya perbedaan dari suku2 yang bertikai di yatsrib
2. bersatunya perbedaan di jazirah Arab
3. bersatunya perbedaan di sebagian wilayah bumi

Sehingga dengan rasa kebangsaan itulah kita bisa mengeluarkan diri kita atas pemahaman Islam yang sempit sebagai agama. Yang kemudian “nasibnya” harus dipersaingkan dengan agama lain. Menjadi pemahaman Islam yang benar dimana ia selalu memuaskan ideology apapun.

Sehingga mempelajari Islam adalah menemukan folder untuk file2 yang masing2 berbeda dan tidak bisa disatu file-kan.
Mempelajari Islam adalah menjadi arranger dari semua alat musik yang memang telah tercipta beragam dengan jenis suara yang dihasilkan extremely berbeda.
Mempelajari Islam adalah menjadi moderator atas pergolakan idealisme pemikiran dan berjuta jalan kebaikan yang mungkin ada.
Mempelajari Islam menjadi kesimpulan atau bahkan “executive summary “ atas pemikiran detail dari setiap bab yang kepentingannya berbeda-beda.

Sehingga kita mesti berpikir ulang, mungkin kita masih hadir dengan pemahaman Islam seperti mereka yang merasa kecewa dengan perjanijan Hudaibiyah. Yang merasa perjanjian itu merugikan umat Islam. Karena umat Islam memandang kita harus membela Islam.

Padahal Muhammad memandang hakikat Islam itu kuat dan tidak perlu pembelaan manusia. Kebenaran Islam ketika dibuktikan secara A-Z, atau Z-A, atau Q-S, atau B-W, semuanya akan tetap menunjukkan kebenaran. Karena Islam tercipta sebagai formula untuk mengatasi perbedaan yang ada. Perbedaan dibuat oleh Tuhan dan Tuhan pula yang berkenan memberikan cara menemukan sinergi atas perbedaan itu.

Tantangan untuk menjadi makhluk pengemban posisi “di atas” yang dianugerahkan Tuhan melalui Islam ini yang berat dan sampai sekarang belum ada orang atau pihak yang mampu merepresentasikannya. Dimana ia adalah wujud persatuan dari sejuta perbedaan. Begitu bukan mba???

Terima kasih buat mba anis yang telah membuat blog ini menjadi sarana menemukan kebenaran yang hakiki. Kebenaran yang bersumber dari lauhul mahfudz. Dan semoga mba anis diberikan sinyal yang baik untuk terus berhubungan dengan lauhul mahfudz sebagai pusat informasi kebenaran yang hakiki.

saya melihat posisi beragam yang mba anis temui sebagai modal untuk memurnikan lagi bagaimana posisi tepat yang dibangun Muhammad SAW untuk mempersatukan perbedaan2 yang tajam pada masa itu menjadi kebersamaan yang sehat dan maju sampai kita nikmati suasananya pada saat ini.

saya pun ingin berbagi sebuah sudut pandang sbb:

http://trendibandung.wordpress.com/2008/11/17/pesan-rahasia-perang-badar/


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: