rasa kebangsaan itu (3) : politisasi Islam

Posted on November 17, 2008. Filed under: islam indie |

(dilanjut yaa.. maaf, sempet padam listrik lama, jadi baru di posting nih.. :D)

sebelumnya tuk kembali mengingatkan saja yaa, bahwa beberapa tulisan saya yang berbau politik di edisi kebangsaan ini, lebih karena rasa nasionalisme yang tergugah. melihat praktek-praktek politik yang kain hari kian membusuk di negeri ini. selebihnya, masing-masing kita merdeka dalam memilih apapun pilihan politik kita. ok?

saya tertarik pada politisasi islam, karena konon agama2 yang lebih tua dari islam, sudah pernah merasakan benturan demikian dan bahkan sebagian telah punah akibat politisasi itu. kalaupun bertahan hanya nilainya, tak lagi kuat institusinya. de-sakralisasi agama. kalau tak mau menyebutnya sekuler. padahal islam menawari hal lain.. setidaknya menurut saya. ๐Ÿ™‚

*

dari pertama masuk islam th 90, lalu dengan kepolosan mualaf terjaring demam jamaah kala itu. saya sudah merasa pusing dan… —diam-diam— memendam sebuah tanda tanya yang besar.

bayangkan, ketika teteh murobi itu berkata,
– yang ini islam ini yang itu islam itu. jamaah itu sempalannya ini, yang itu sempalannya itu
dalam hati saya, poloss… yang kita ini, sempalan yang mana nih?

lalu ada teman yang bilang,
– kalau mau ttg hati, datang aja ke pengajian Agym. kalau mau yang lebih rasional, datang aja ke pengajian pak Jalal.
dalam hati saya… wuih, apalagi tuh???

dan bahkan ada teman yang saling bicara bilang gini
– itu menurut NU. saya mah Muhammadiyah.
– ee.. dia mah Persis.
dalam hati saya… haolahhhh… yang islam yang mana sih?? ๐Ÿ˜€

begitulah saya diawal keislaman saya.
dan ga sampe disitu…

sebut saja kewajiban tentang haji yang bla-bla-bla. tapi tiba-tiba dibilang, ada cerita yang bekal hajinya tuk membantu orang yang kesusahan, dibilang setara haji mabrur. atau sebut juga tentang agama yang damai dan rahmatan lil alamin, tapi juga berperang dan mengangkat pedang. walau buntutnya, konon itu tuk mempertahankan diri.

atau sebut saja saat ini deh, ada yang fundamental, militan dsbnya.. e, ada juga yang liberal.
hehehe…

maka saya, sebagai mualaf seperti terhenyak dari mimpi tentang agama yang sempurna. saya seperti tersadar pada kenyataan agama yang -maaf- nyaris bertolak belakang, bahkan dalam setiap literasinya.

maka saya tidak heran, kalau agama ini dikutip sebagian, maka akan ditemui pula model dari sebagian yang lain yang tak terkutip. atau bahkan apa yang diinginkan, ya selalu ada dan bisa di ada-adakan.
ya karena begitu paradoksnya islam — minimal dimata saya.

sebut saja, kasus iklan PKS itu.
teman saya yang PKS membela diri dengan berkata, itu tuk rekonsiliasi. dan itu ada dalam islam, namanya musyarokah.
hehehe, saya bilang padanya.. – apa sih yang kamu mau yang ga ada dalam islam? tuk yang haram saja, diperbolehkan jika darurat. ๐Ÿ˜‰

persoalan buat saya, bukan ada atau tidak dalam rekonsiliasi itu dalam islam. bahkan bukan ada atau tidaknya strategi bahkan kong kalikong dalam islam. saya lebih melihat integritas didalamnya. bukan sekedar mengesankan hanya mau jika ada maunya aja.

wuih, sudah sejauh itu saya berjalan yaa.. keluarkah saya dari islam?
hehehe ternyata sampai hari ini, masih islam yaa..
sejujurnya, saya sangat berempati di tengah polemik seperti ini. karena minimal tuk diri saya sendiri, saya penasaran… –yang mana sih yang bener??
dan harus ada yang bener!
kalau tidak, tentu islam yang agama ini tidak akan pernah sampai pada satu titik terbaiknya, dan menjadi sangat unik sebagaimana yang pernah digambarkan tentang generasi pertama di sisi nabinya. dan tentu tidak akan pernah bisa bertahan hingga saat ini.. walau sederhana, jawab saja. mungkin tuhan yang maunya begini. hehehe ๐Ÿ™‚

*

perhatikan ini deh,
jika adalah samudra di sisi-sisinya adalah tepian. maka islam saat ini terkutub-kutub di masing-masing tepian itu. begitu meng-gab satu sama lain. bahkan meng-klaim satu terhadap yang lainnya.
maka wajar, jika selalu ada celah yang bisa dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingannya tersendiri. bisa terus dan mudah di adu domba kan paradoks demikian itu?? itulah kemudian yang menghasilkan politisasi islam.
dari politisasi secara sederhana seperti Syekh Puji sampai sekelas Taliban di belahan dunia sono.

see.. ini dimana saja, di belahan dunia yang ada islamnya.

sebut saja konflik di Palestina.
pada akhirnya apa sih yang sebetulnya ada disana? Israel sendiri -sebagai musuh dengan niat pendudukan wilayah- mungkin bingung apa maunya Palestina itu. diajak damai dg perundingan –katanya rekayasa, dibom –katanya ga berperikemanusiaan. Palestina sendiri terbagi dua kubu.
jadi jauuuuh sebelum mau melakukan perdamaian atau melawan mati-matian Israel, satu suarakan dulu deh Palestina itu.
sederhananya itu dimata saya..
saya ga bela Israel. Israel sebagai musuh ya tetap akan begitu. maka kembali pada kebulatan sikap Palestina dong. ya ga? atau ya mengantung terus saja begitu, dan tentu tetap bisa mengundang simpati dunia kok. hehehe.. maka buat saya, ngapain ngurusin Palestina?? wong itu semua tinggal kembali pada sepenuhnya sikap Palestinanya. ๐Ÿ˜‰

nah, jujur nih… saya pribadi dalam gab paradoks islam yang begitu mengkutub itu, justru tertarik dengan ruang kosong yang ada ditengahnya.
saya justru memilih melepaskan tepian-tepian tuk pegangan itu. saya — yang aslinya ga bisa berenang– memilih tuk nyemplung aja deh ke samudra itu.

maka bayangkanlah saya jatuh di ruang kosong yang hampa. tanpa dimensi ke manapun arah memandang. ruang tanpa ekspektasi, ruang tanpa interest lagi. melayang dan menjadi air itu sendiri.. saya sudah letih dan bahkan muak dengan tepian yang hanya wujud dari ketakutan manusia pada umumnya saja.

hehehe… konon katanya, siapa yang mau dan bisa mempolitisasi dia yang sudah tak ada apa-apanya lagi?

mau korupsi? tuk apa? toh korupsi itu relatif.
kamu bisa menyebutnya biasa di dunia jaman sekarang, bisa menyebutnya itu laba yang layak tuk kamu nikmati sebagai tanda jasa, bahkan kamu bisa menyebutnya hadiah…

mau kaya? tuk apa? toh kaya itu relatif.
kamu bsa menyebutnya kaya itu keluar negeri dengan segala yang bermerk, bisa juga menyebutnya kaya dalam hati, bahkan bisa menyebutnya kaya karena memberi.

mau mati? siapa juga takut? toh mati itu relatif.
kamu bisa menyebutnya mati sia-sia itu dibunuh. mati mulia itu ditanam dimakam pahlawan, bahkan kamu bisa menyebut mati itu matinya rasa kemanusiaanmu.
maka mau apa lagi sih?

saya sih hanya mau kehidupan ini damai. biarlah manusia mendapat apa-apa yang menjadi haknya dalam hidup dan jalankan sebaiknya kewajibannya dalam hidup. jalani apa yang menjadi tanggungjawabnya, dalam kebaikan bahkan dalam keburukan sekalipun.
selebihnya harmoni deh. itu aja.. karena apa lagi sih tujuan akhir hidup ini? kaya dan bahagia?
hehehe… relatif.

maka dalam kerelatifan itu.. yuk, “menengah” lah…
yang standar-standar aja dimasa kini, harus bisa kita bagi rata. sandang pangan papan dan pendidikan yang layak deh. itu aja.. ga muluk-muluk kan?
apa itu juga masih sangat susah? perlu agama seperti apa tuk memerdekakan manusia yang hanya tuk berbagi segitu aja susah?

jangan naif..
buat apa sih dipolitisasi agama itu?
tuk menarik simpati bak candu?
tuk banyak-banyak pendukung?
tuk yang katanya sempurna?

jangan berangan-angan,
jangan berilusi…
manusia tetaplah manusia, saudara-saudaraku.
apapun agamanya…

ya ga?
hahahaha… ๐Ÿ˜€

.
ooops.. percaya ga Muhammad itu kadang hanya seperti sebuah cerita epic bangsa arab yang terlalu dikultuskan dan dilebih-lebihkan oleh sejarah. sehingga hilang kepahlawanannya di tangan manusia yang terlalu kerdil memahaminya. kebesaran yang dipolitisasi. mau tau?

salam
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

6 Tanggapan to “rasa kebangsaan itu (3) : politisasi Islam”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

mbak anis, ane blm sempat baca `utuh` postingannya. Dari kemaren2 asiq dgrn orasinya mbak :-)…

Hmm kalo saya milih partai aceh en ga nyoblos parnas, gmn?
Alasannya simple aj–>banyak yg aneh2 dlm proses berdirinya partai tsb en terus terang ane pun rasa2nya suka yg rada nyeleneh ^^

mode partai susah di off kan

Sebenarnya inti Islam kan berserah diri puncaknya hanya pada Allah swt. Artinya meskipun kita bangkrut, super bingung, super heran, tetapi tidaklah menjadikan kita semua terpuruk (berserah) pada kebangkrutan, kebingungan dan keheranan itu sendiri. Tetapi dalam hati haruslah berpikir bahwa pastilah akan ada yang terbaik dari Allah yang akan terjadi, meskipun apapun yang kita lakoni dalam detik detik ini merupakan anugrah yang terbaik untuk tiap2 pribadi.
Bingung itu terbaik? pastilah ya, karena kalau si-bingung tidak menyerah pada kebingungannya pastilah nantinya bisa mengristalkan pemikiran-pemikiran tersebut menjadi suatu kesimpulan yang mencerahkan.
Pada saat terjadi kejenuhan berpikir kan ada instrumen shalat, sahalat tahajjud di tengah malam yang bisa untuk ‘menyerahkan diri’, dan memohonkan keinginan apasaja, kepada Allah, sampai hati merasa plong. Kalau sudah plong baru cari-cari/ mikir- mikir lagi. Logikanya kalau tiap hari shalat tahajud pastilah dosis shalat tersebut sisa banyak untuk mengobati kebingungan hari ini, kalau sisanya banyak sekali temtunya secara logika bisa mengatasi kebingungan di hari akhirat nanti, hingga tumbuh perasaan tidak takut mati, mati kan menumui kekasih (Tuhannya) kenafa mesti takut, kalau udah nggak takut mati mestinya ngadepin hiruk pikuk dunia terasa enteng…..
Itulah Islam yang saya kenal, sedangkan dunia ini secara sunatullah teruslah berubah bergolak, naik turun, silih berganti tiap bangsa mengalami kejayanan, musnah,konflik dan damai…sampai akhir zaman.
Spirit Islam yang mencintai Tuhannya itulah yang akan bikin individu-individu
merasa damai.
Sebenarnya standar ‘rohani’ Islam bisa mengatasi ‘standar kebutuhan duniawi’, mulai dari tingkatan sufi yang asketis/zuhud (serasa nggak butuh harta dunia) sampai Nabi Sulaiman yang menguasai kerajaan,menguasai bangsa jin, kayaraya, megah dll, semuanya dilalui dengan hati damai….
Sedangkan hati yang nggak mengenal Allah swt, kalau miskin serasa susaaah, kalau kaya merasa kuuraang, tambah pelit, orang datang dikira mau minta-minta dll.

salam

mba anis, kalau saya membagi kematangan seseorang itu ke dalam 3 tahap sesuai yang Tuhan maksud.

Benar, Berbuat dan Bijak.

Pada tahap โ€BENARโ€, kita akan bertemu dengan berbagai teori. Tentang suatu hal yang serba segala sempurna. Pada tahap ini kita akan melakukan internalisasi nilai2 yang benar. Sehingga kemudian kita menyebut ini benar, ini salah, itu harus, itu tidak boleh, dst.

Pada tahap โ€BERBUATโ€, maka semua teori itu akan dipertaruhkan dengan kemampuan kita dalam mengelola alam ini. Seberapa besar kebaikan itu bisa dijalankan? Seberapa besar pengaruh kita dalam memperbaiki keadaan? Atau sederhananya bisa memberi pekerjaan kepada berapa orangkah kita? Disini pasti kita jatuh bangun untuk membuktikan setiap poin keyakinan.

Pada tahap โ€BIJAKโ€, maka diposisi kita berserah diri. Artinya kita mengerti betul bagaimana membuat kesejahteraan itu berjalan ditengah manusia. Ia mengerti betul semua peran yang ada dan berbeda ditengah masyarakat ini, kemudian mencipta sinergi yang menenangkan semua pihak.

Mungkin masyarakat kita sebagian besar belum masuk ke tahap benar karena pendidikan yang lemah. Dan sebagiannya lagi masih di tahap benar dan kemudian disini mudah dan sering ribut, diadu domba, dst. Dan sedikit saja yang mencoba naik ke tahap berbuat. Dan mungkin belum ada yang masuk kepada tahap bijak.

Saya jadi ingat, Tuhan sempat sampaikan, jangan dulu berperang lakukan dulu shalat dan tunaikan dulu zakat. Artinya, beginilah ributnya peperangan dari mereka yang belum membenahi cara hidupnya sebagaimana Muhammad menemukan isra miโ€™raj sebagai pembentuk sudut pandang yang tepat terhadap hidup ini. Artinya, beginilah hiruk pikuknya peperangan dari mereka yang ekonominya masih amburadul.

Politisasi itu segala sesuatu muncul karena salah menyalurkan fitrah masyarakat ini. Seharusnya disalurkan kepada sektor riil yang produktif yang dengan logika sederhana memberikan makanan, pakaian, dst. Yang ada sekarang segenap perhatian dikerahkan ke politik. Akhirnya cari makan di politik. Dan hajat masyarakat ini adalah politik. Dan budaya besar kita adalah politik. Segala sesuatu dipolitisi. Begitu bukan mba. Sekedar mengingatkan saya link ke artikel…

http://trendibandung.wordpress.com/2008/10/20/krisis-amerika-menegur-politik-di-indonesia/

mbak anis selalu keren kalo masuk yang kegini-ginian, ๐Ÿ˜€
pakabar mbak? maap dah lama ga berkunjung
๐Ÿ˜€

@aryf
ga papa mas aryf. santai aja. saya demokratis kok, hehehe..

@uhuik
senang deh boleh tau islam dalam persepsinya.
melihat dari bagaimana orang lain melihat..
makasih..

@kang trend
eksplorasi kang trend semakin dalam nih.. sudah mulai menyimpulkan banyak hal..
hehehe..

@rajawalimuda
naaaaaaah nih dia yang kemana aja…
cerita dong gimana hasil bertapanya? hehehe..
mas rajawali… komen dong soal krisis ini, gimana nih? adakah tips-tips tuk melihat permasalahan ekonomi lebih jernih? atau hanya yang saling menyelamatkan diri sendiri-sendiri?

selamat kembali yaaa mas rajawali ๐Ÿ˜€


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: