ironi di tengah ironi

Posted on November 20, 2008. Filed under: islam indie |

(di bagi yaa…)

Alia, mbak yang membantu di rumah, lulusan smp. bekerja pada saya sejak th 2005. sebelumnya, dia bekerja di pamannya. di Gaya Baru Lampung Tengah.
kemarin, ibunya harus ke Lampung karena pamannya itu akan pergi haji.
saya pun bertanya,
– haji lagi? bukankah tahun lalu katanya sudah berangkat haji?

karena tahun lalu, seingat saya ibunya juga harus ke lampung tuk persiapan haji pamannya itu. ibunya harus memasak tuk acara syukuran berangkat haji. ibunya sendiri dari Comal – Pemalang.
mau tau jawabnya?
– sudah 4 kali haji dengan yang ini kok, bu..
4 kali??

Alia ini kerja beberapa bulan ikut pamannya yang terkaya itu. ga betah. klise deh, ikut saudara suka serba salah. pamannya memiliki toko klontongan dan sawah ladang di lampung tengah. transmigran sukses ceritanya tuh. salut kan?
tapi 4 kali haji??
saya pun bertanya,
– wah, keren dong 4 kali naik haji?
– iya bu. setiap haji, sama menantu dan anak2nya. berempat setiap tahunnya.
– hebat ya??
– tapi pelit bu..
– apa?
kok jadi curhat??

– kayanya bisa berangkat haji ya kalau pelit bu.
– loh?
– iya, jadi tabungannya banyak.
– hmm, iya juga ya, mau kaya harus menabung. lah, padahal lumayan ya kalau paman itu turut biayain Alia sekolah. supaya ga cuma tamatan SMP. bisa kuliah. kan kaya raya pamannya.
saya berguman tuh..
– aahhh, ga mungkin mau bu. wong anaknya aja cuma sampai sma. anaknya tuh foya-foya aja. tapi ya emang bangga kali ya bu, jadi sepupu yang terkaya dan sudah haji pula.
– hmm..

tiba-tiba..
– ibu sih kayanya ga bisa cepet haji deh, bu. ga akan mampu-mampu.
– ee, kok gitu?
kaget…
– iya, ibu terlalu royal sih. suka bantu ini itu, suka ngasih ini-itu ke saudara dan orang ga di kenal. ibu suka kasih lebih ke yang kerja. yang bisa haji itu kalau agak pelit, bu. karena harus kuat nabung.
duh, polos nih.. begitu pelitkah pamanmu, sampai pelit adalah cara tuk haji?

atau apakah karena menolong manusia itu tidak wajib hukumnya ya? tidak sewajib haji?
ah, tuhann….

jujur, saya memang sangat boros. saya sampe suka minta maaf sama suami. suka menghabiskan uangnya. punya atm isinya juga cepet abis. saya suka ga tegaan.. kalau dah mau kasih, ya kasih aja, suka ga banyak mikir. sampai saya minta suami saya saja yang atur keuangan…
kalau dapet rezeki lebih, yang kepikir : kasih siapa nih? bukan beli apa nih?
sampai satpampun, ga lupa dibeliin martabak malam-malam. demi bagi-bagi rezeki.

maka pernah dapet rezeki, tapi ga ada sedikitpun bentuknya..
duh, maaf ya suamiku… maafkan istrimu ini. 😦

maka sudahlah,
saya hanya mengkiritisi.
bukan menghakimi
apalagi sebuah agama
selebihnya
saya saja yang begini
ironi saya ini
ironi ditengah ironi

mertua saya pernah marah pada saya. yang suka memberi makanan, baju dan apa saja ke si mbak yang bantu di rumah. terlebih dulu, yang bantu saya cuma pulang setengah hari. yang hanya bersuami tukang bangunan, atau bahkan tukang becak. saya sampai ditakut-takuti oleh beliau. katanya, nanti kurang ajar pembantunya, kalau dia sudah pernah pakai baju bekas majikannya.
– ah, masa sih?

kalau suami sih, sampai pernah bilang gini
– jangan dikasih semua, nanti mami sendiri yang ga punya baju.
hehehe, iya sih. saya sampai suka pinjam kaos suami. saking bajunya itu-itu saja. dan suami saya cuma bisa melotot saja. πŸ˜›

suatu ketika, saya pernah duduk di sebuah masjid kecil di gunung, milik sebuah pesantren dengan kyainya yang baik hati. dari pertama ke tempat wudlunya, saya ingin deh membersihkan kuning-kuning yang menempel di dinding itu. begitu selesai sholat, mendengarkan pupujian, saya malah terpaku memandang masjid yang kubahnya bocor. keropos disana-sini. ah, ingin ya membantu memperbaiki itu.
lah, keluar dari masjid, ada dua nenek-nenek senyum-senyum menghampiri saya. menyalami dan mengusap-usap pipi saya. menawari saya mampir ke rumahnya di kampung dekat sana. saya senyum dan seperti biasanya saja, sambil berpikir kayanya selama beberapa kali saya ke sini, tidak pernah ada dua nenek itu deh.

lah, ketika bertemu kyai, tiba-tiba aja beliau bilang gini..
– anis, bisa-bisa kamu ga makan kalau begitu. ambil sedikit, ga papa.
hah???

*

ah, tuhan..
rasanya belum pernah aku memberi dengan yang terbaik
maka apa bisa aku mengambil walau sedikit?
segini saja, rasanya aku sudah tak tahu bagaimana berterimakasih
takut seandainya lupa karena terlalu menikmati

dan tentu, jika beragama itu tak untuk diri sendiri..

PS : lucu nih. Alia meminta sekiranya saya bersedia mempercepat gajinya bulan ini. ibunya sudah harus membayar tukang rumput yang membersihkan sawah garapan. sudah mau masuk musim tanam, sawah sudah mesti di gembur dan disemai kembali tanahnya. hehehe, saya hafal ini. karena tani itu memang memiliki ritmenya tersendiri yaa.. seru juga loh, menjadi bagian dari alam ini.

salam
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

3 Tanggapan to “ironi di tengah ironi”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

temen saya (chinese-katholik) yang punya beberapa pabrik cukup besar. kali ini dia memberangkatkan 5 orang pergi haji. saya nanya, kamu naikin haji mereka, apa merekanya siap/mampu? ya iya dong, saya kan naikin haji mereka yang sudah lama berkomunikasi dengan mereka. jadi saya kenal mereka.

bagaimana soal karyawan yang lain, apa mereka sudah cukup penghasilannya? jangan2 kamu bikin jurang yang jauh antara mereka. jawaban yang membuat saya kaget, saya kemarin sudah memutuskan karyawan di pabriknya, yang tidak punya skill mendapatkan UMR, sedangkan yang skillnya lebih tinggi, tentu lebih tinggi.

untung tuh alia, gak ditanyain maksudnya yg 4 kali itu pamannya naik haji ato naik (bu) haji?

hecgkhsz! apaan nih, wah.. kayaknya aku lagi konslet nie, makin malem makin ngaco n ngawur aj ngomen2nya. dah ah bobo aja deh

@kang trend
πŸ™‚

@mas JM
hushhhh!!
hehehe… πŸ˜›


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: